
Wina dan Fariz sudah menolak apa yang akan mengancam perusahaan. Wina dan Fariz mengetahui jika perusahaan yang di pimpin oleh Mr. Smit terlalu banyak mafia di dalamnya. Oleh karena itulah Rojali malas untuk berurusan dengan perusahaannya.
Wina dan Fariz pulang ke rumahnya, tanpa sepengetahua mereka. Rupanya Yohanes dan Imey membuntuti Wina dan juga Fariz. Dari belakang. Dengan menggunaka taksi online.
Wina dan Fariz tak menaruh curiga pada mobil di belakangnya. Karena mereka memang tak pernah berfikiran negatif pada orang lain. Wina dan Fariz masuk ke dalam rumah mereka dengan santainya, namun tidak dengan kedua temannya.
Imey dan Yihanes di buat terkejut dengan apa yang di lihatnya. Perlahan Imey dan Yohanes turun dari mobil dan menyusuri pekarangan yang tak terlalu luas itu. Fariz yang masih duduk di sofa ruang tamu pun terkejut ketika Yohanes dan Imey melongok ke dalam pintu rumah yang sangat mewah itu.
“Yohanes, Imey?” Fariz langsung menegakkan duduknya yang semula sedikit merebahkan diri pada punggung sofa.
“Ini, ini…?” pertanyaan yang tak tau harus di rangkai dengan kata apa lagi.
“Sayang,” Panggil Fariz pada Wina yang ke dapur membuat minuman untunya.
“Iya….” betapa terkejutnya Wina kedatangan tamu tak di undangnya itu.
Hanya saling diam dan mengamati satu sama lain, keempat orang itu sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Hmm, kalian mau apa membuntuti kami?” Tebak Fariz tepat sasaran.
“Kami penasaran aja, kalian ini selalu kemana mana bersama. Terus juga kamu selalu bilang kalau pulang telat, pasti Wina marah. Jadi kita putuskan buat buntutin kalian,” jawab Yohanes jujur.
“Ya ampuuuunnnn kirain apa. Nah sekarang kalian kan tau kalau kami tinggal bareng, terus kalian mau apa?” Tanya Fariz dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Ya gak mau apa apa, cuma gak menyangka saja kalau kalian itu sudah tinggal bersama.” jawab Yohanes yang hilang keberaniannya melihat Fariz yang seperti seorang singa tengah terusik tidurnya.
“Hahahaha, ya sudah, sepertinya memang kalian perlu tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kalian bisa jaga rahasia kan?”
Fariz mulai menceritakan semua dari awal sampai saat ini. Imey dan Yohanes tak menyangka semua itu terjadi pada Fariz. Benar benar sudah seperti cerita sinetron saja kehidupan temannya itu.
Setelah menceritakan semua itu pada sahabatnya. Berarti tak ada lagi yang perlu di sembunyikan dari hubungan suci mereka. Kini kehidupan Fariz seakan semakin ringan dengan membuka semua rahasia yang ia tutupi selama ini.
Hari hari berikutnya, Wina dan juga Fariz seakan tak sungkan lagi menunjukkan kemesraan mereka di hadapan teman temannya.
Seperti saat ini kejadian di kantin yang membuat jengah Rojali dan juga Yohanes. Mereka berdua memang seperti mengejek para jomblo dan juga teman temannya yang masih di tahap pavcaran.
“Sudah apa kalian ini, ya Tuhan ampunilah dosa iblis macam mereka yang menggoda iman kami,” rancau Rojali yang melihat Fariz terus menyandarkan kepalanya pada pundak Wina.
Bahkan saat makan pun Fariz minta di suapi oleh istrinya. Entah sejak kapan Fariz menjadi seperti anak umur lima tahun seperti ini. Mungkin hanya outhor yang tahu perubahan Fariz dari si garang menjadi si garing.
“Makanya, kalau kalian ingin kaya aku juga. Yaaa segerakan di halalin itu pasangan. Kasian kalo di anggurin, iya gak sayang?” Tanya Fariz setelah memanas manasi sahabat sahabatnya.
“Eh kamu jangan provokasi ya. Udah tau aku gak mau terikat sama kerjaan dulu,” gerutu Rojali.
“Terus sampek kapan aye bakalan di halalin Bang?” Tanya Arin di bikin se menderita mungkin.
“Sabar sayang, restu papamu sudah di tangan. Hanya saja itu si jomblo akut yang jadi penghalang kebahagiaan kita,” Rojali menyindiir sambil melirik orang yang ada di sebelah Wina.
“Ngapa pada liatin aku gini sih? Salah apa aku sama kalian?” Tanya Arvy merasa tak berdosa.
“Kakak sadar gak sudah menjadi batu krikil di hubungan kami?” rengek Arin pada Arvy yang belum sadar juga.
“Tunggu Maria pakai teng top,” Jawab Arvi ngasal.
Pertanyaan apa jawaban apa dan itu jawaban juga tak mengerti maksudnya apaan. Geram Arin pada kakaknya pun memberi pengumuman.
“Halooo adik adik kakak kakak, ada yang mau sama jomblo kelas eksklusif seperti dia? Di jamin gak akan mengecewakan,” Teriak Arin dengan menunjuk ke arak kakaknya.
“Sekalian saja Rin bilang sekilonya cuma lima ribu!!” ucap Arvy jengkel.
__ADS_1
“berasa kek baju obralan saja aku tu,” gerutu Arvy lagi.
Sedangkan yang lainnya hanya tertawa dengan apa yang di sampaikan oleh kedua orang kembar itu. Kembar tapi tak ernah akur sama sekali. Selalu saja ada yang di ributkan, dan itu terjadi sejak mereka masih kecil.
“Ide bagus itu kak,” sahut Arin lagi.
Dalam kekacauan yang di bikin oleh kelakuan anak kelas dua belas itu membuat adik kelas risih. Anak yang baru merasakan di namakan dewasa membuat keberanian mereka seolah terpacu.
“Kak, kira kira kakaknya mau sama aku apa enggak?” pertanyaan yang tak pernah di sangka sangka.
“Sialan kau Arin, tunggu di rumah pembalasan dariku,” ucap Arvy sebelum menjawab pertanyaan adik kelas yang termasuk dalam jajaran siswi paling cantik di sekolah.
“Mau, asal kau berani mengajak orang tuamu langsung melamarku kerumah. Adikku sudah gatel pengen nikah katanya,” teriak Arvy menjawab ucapan Wulan dengan candaan.
“Waduh, minta di pinang di cowok. Kebalik brow,” kini Olivia berkomentar.
“Gak ada yang terbalik sayang, di dunia itu semua bisa terjadi,” ucap Arvy menjawab ucapan adik kelasnya.
“Gila ini percakapan apaan sih?” Wina menyela pernyataan yang membuat kantin hening semenjak Arin mengeluarkan pengumumannya.
“Arvy kamu menantang mereka, sama dengan menyatukan papa kamu dengan sahabatnya kembali. Asal kamu tau papa kamu dengan papa mereka itu bersahabat di kehidupan lampau.” jelas Fariz yang mengerti sedikit cerita itu langsung dari Levin saat bertemu di cafe Cinta milik kakek mertuannya.
“Asem, takdir apa ini yang membuat semua muter kek kentut dalam celana aja,” perumpamaan yang di lontarkan Arvy sungguh sangat sulit untuk di artikan.
“Kalo kami ke rumah kamu, berarti kau sanggup mengambil kombo lengkap,” ucap Wulan dengan senyum manisnya.
“Maksudnya?” kini Arvy yang malah tak paham di bikin oleh kedua adik kelasnya.
“Kami kembar, dan kami gak pengen terpisahkan.” jawab Olivia.
“Gila, kalian mikir apa malah nantang kucing dengan dendeng daging?” ucapan Arvy terdengar oleh Mustafa yang tak sengaja mendengar saat membeli kopi.
“Akui anda kalah mister,” ucap Fariz menanggapi ocehan gurunya.
“Tapi aku menang dalam satu permainan,” ucap Mustafa lagi.
“Maaf, saya hanya kalah start saja, dan di finis akulah pemenangnya.” dengan senyum smirk nya Fariz menantang setiap ucapan mustafa.
“Itu yang membuatku salut padamu. Tapi jangan ajarkan adik iparku buat sepertimu,” Fariz tercengang mendengar kalau dirinya mengajari adik iparnya.
“Sialan kau Arvy, aku kan yang kena.” gerutu Fariz sambil melempar sampah plastik pada temannya itu.
Memang semua sahabatnya itu tau cerita dirinya dengan sang guru BK. Namun jika dengan istri guru BK itu yang tahu hanya Rojali dan istrinya saja.
“Sepertinya dia masih belum tau kalau dirinya sudah kalah telak dari kamu Fariz,” bisik Rojali yang juga di dengar oleh Wina dan Yohanes.
“Jangan bahas itu, biarin aja. Itu urusan dia sama istrinya. Aku gak ada sangkut pautnya dengan itu lagi,” ucap Fariz menutup mulut Rojali dengan bakpao yang tesedia di meja mereka.
“Asem kau Fariz, perutku sudah penuh ini,” gerutu Rojali.
“Aku yang bayar semua makanan yang kalian makan. Sudah jangan mikir lagi makan saja,” ucap Fariz membuat semua temannya seneng.
Setelah seharian berkutat dengan pelajaran dan juga try out dari sekolahan. Kali ini Fariz harus pusing dengan pekerjaan kantornya. Karena di tinggal lagi oleh mertuannya, akhirnya Fariz lah yang mengambil alih kepeminpinan di perusahaan ini. Memang sih, Fariz di bantu oleh Vani dan juga Yuga,
Tapi Stevano kali ini lebih banyak mengambil kerjaan yang ada di perusahaan yang di wariskan oleh keluarganya. Wia kadang juga membantu, karena dialah pewaris yang sah perusahaan BIRMA.
Wina terlihat sangat lelah ketika masuk kedalam ruangan Fariz. Sebagai perwakilan resmi sang papa, Wina lebih sering menemui clien di luar kantor. Semanja manjanya Wina, sebagai putri tunggal Billa dan Revan.
Wina sudah memiliki bakat dalam bisnis secara alami. Mampu menghandle semua kerjaan luar yang di limpahkan padanya.
__ADS_1
Hanya berbekal ponsel untuk menghubungi papa atau mamanya. Wina mampu meyakinkan para investor yang akan berinvestasi pada perusahaannya.
Bahkan Wina juga tak segan segan untuk menggelontorkan sejumblah rupiah, hanya untuk menanam saham. Papanya selalu mendukung dan melindungi setiap keputusan yang di ambil putrinya.
Wina benar benar putri tunggal Billa dan Revan dalam teori teori pengembangan. Wina selalu melimpahkan pada suaminya untuk meneruskan apa yang sudah di sepakati.
Kadang Faris menggeleng gelengkan kepala dengan apa yang di keluarkan istrinya. Tapi dia akan tercengang dengan hasil yang di dapat dalam hitungan bulan saja. Itulah bakat yang di sembunyikan Wina dari keluarganya.
“Kita pulang yuk, aku ngantuk sekali ini,” Wina mengajak Fariz yang masih larut dalam pekerjaannya.
“Ya sudah kalau kamu ngantuk, kamu tidur saja disana dulu nanti aku bangunin. Tinggal dikit lagi nanggung,” ucap Fariz yang memang masih kurang sedikit lagi.
Wina menuruti Fariz dengan tidur dulu di sofa ruangan itu. Benar benar tak lama, Fariz sudah selesai mengerjakan kerjaannya. Jam masih menujukkan di angka sebekas malam, Fariz tak mau membangunkan istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Perlahan Fariz mengangkat Wina, dan membawanya ke mobil dengan keadaan masih tidur pulas. Masih saja tidak bangun, Wina pulang dalam keadaan tidur, sedangkan Fariz enggan untuk mengganggu tidurnya. Sesampainya di dalam rumah, Fariz kembali mengangkat Wina ke dalam kamar.
Pertama Fariz pergi mandi ke kamar mandi, setelah Mandi di lihat istrinya semakin tenggelam dalam tidurnya. Fariz mengambil air hangat untuk mengelap istrinya. Setelah bersih, baru dirinya tidur di samping sang istri.
Di dalam lelapnya tidur, tiba tiba WIna terbangun. Memandang keadaan yang sudah gelap, Wina langsug bangun. Merasa ada tangan yang melingkar di perutnya oun, Wina menoleh ke arah saming.
Di lihat wajah damai suaminya di bawah sinar temaram lampu malam. WIna membelai pucuk kepala Fariz sebelum menciumnya. Dan kembali tidur di sampingnya melingkarkan tanganya pada badan yang tak mengenakan baju bagian atasnya.
Perlahan tapi pasti Wina menyusul Fariz mengarungi mimpi malam ini, dan menyambut hari esok.
Pagi menyapa mereka dengan segudang rutinitas dan juga aktifitas yang akan di lalui hingga malam. Jadwal padat yang di miliki oleh Wina hari ini sungguh membuat gadis itu hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. Fariz merasa kasihan dengan istrinya yang harus diam saja di rumah menikmati hasil kerjanya.
Tapi, karena dia adalah pewaris sah BIRMA jasi mau tidak mau harus turun tangan sendiri. Banyak yang dari para clien lebih suka berhadapan dengan Fariz karena lebih akrab. Tapi Wina kadang juga mengajak Fariz untuk melobi orang orang yang terlalu fanatik dengan Fariz.
Seperti pertemuan saat ini dengan perwakilan AIRA. Ilham rupanya memang lebih nyaman jika bertransaksi dengan siswanya, bukan siswinya.
Awalnya Wina kaget, namun setelah di jelaskan dia bisa mengerti. Dan Fariz juga menjelaskan keberadaan Wina saat ini untuk perusahaan BIRMA.
“Baiklah bapak, untuk kerja sama kita yang sudah lama dan kita sudah seperti keluarga juga. Bagaimana kalau investasi saya tambah, dan bapak juga harus menambah pasokan barangnya?” Tawar Wina.
“Tunggu dulu nak Wina. Ini masih ada kejanggalan yang di tulis oleh pihak AIRA,” Vano yang juga mendampingi merasa janggal dengan proposal yang di ajukan oleh pihak yang mengajukan investasi.
“Fariz sudah mengecek ini yah, dan memang adanya kejanggalan. Maka dari itu saya mau menaikkan dengan modal yang mereka ajukan, tapi saya minta pasokan di tambah sesuai perhitungan saya.” tegas Wina.
“Hahaha, rupanya buah tak pernah jauh jatuhnya dari pohon.” Ilham tertawa dengan apa yang di lihat oleh Wina.
Peluang untuk melihat kesempatan besar dalam pemasokan barang yang termasuk laris di pasaran. Jika Billa yang melihat ini, mungkin akan melakukan penawaran yang lebih sadis lagi. Yaitu dengan menurunkan angka investasinya namun menaikkan produksinya.
“Bagaimana? Apa anda setuju dengan apa yang saya tawarkan?” Wina mulai bernegosiasi.
“Baiklah, berapa persen yang anda minta dalam hal ini?” Tanya Ilham.
“Berapa yang akan bapak kasi pada perusahaan kami? Ingat pak, barang yang di pasarkan oleh BIRMA itu gak akan pernah gagal pasar.” Ingat Wina dengan nada mengancam.
“40%” jawab singkat dari Ilham namun masih belum bisa mengena di benak WIna.
“45% atau gagal kerja sama dan BIRMA menarik semua investasi,” benar benar pengancaman yang sadis.
“Seruju,” tanpa melewatkan sedetik pun Ilham menyetujui kerja sama yang hasil hampir setengah di berikan kepada BIRMA.
Prosentasi pemberian biasanya akan naik di titik 40% secara mornal. Tapi karena pihak AIRA yang melakukan kecurangan terlebih dulu, maka Wina memanfaatkan itu.
Dari kejadian ini Fariz benar benar melihat Billa pertama kali membawanya untuk bertemu clien Jepang. Billa dengan bahasa yang tak di mengerti oleh Fariz, dan dirinya menemukan kecacatan kontrak. Maka ibu satu anak itu memberikan pilihan dengan penawaran menurunkan atau memberikan kontribusi yang jauh lebih besar lagi dari pada yang bisa mereka produksi.
Benar benar sebuah kolaborasi yang sangat sangat pas jika ketiga orang itu di padukan. Bapak yang tak segan mengambil keputusan, emak yang selalu memberikan penawaran menjebak. Sedangkan sang anak mencari celah yang bisa di manfaatka dengan ancaman kekejaman papanya.
__ADS_1
Berhubungan dengan keluarga Alibaba Sahid sama dengan berhubungan dengan malaikat maut memang kalau memiliki niat buruk.