Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Sahabat


__ADS_3

"Kenapa dengan Arief?"


"Apa kamu gak merarasa bahwa dia menaruh perasaan terhadap kamu?" Affandi menjelaskan.


"Mana ada, kita itu cuma temenan. Sama kaya Riska juga Ridge. kenapa kakak tanya seperti itu? Apa kakak cemburu?" Vindya menggoda suaminya yg tengan duduk di sofa yg juga ia duduki.


"Kakak katakan sama kamu, Arief menyukaimu dia berharap kamu membalas perasaan sukanya terhadapmu dengan semua kebaikannya terhadapmu. dan sikap kamu itu seakan memberi harapan lebih terhadapnya. Kakak saranin kamu mulai menjaga jarak dengan dia." Kini Affandi beranjak pergi menuju kamarnya.


Vindya memikirkan apa yg telah di katakan Affandi. Setelah di ingat ingat perlakuan Arief memang sedikit berbeda dari teman teman lainnya. Arief yg lebih perhatian terhadapnya di bandingkan dengan Riska.


Vindya mengambil hp yg ada di dalam tasnya. Dia mencari nama Arief di aplikasi whatsap miliknya. Vindya mulai mengetik sesuatu yg akan di kirim ke nomer tersebut.


Vindya: Rief boleh gue tanya sezuatu?


Arief: Boleh lo mau tanya apa Vind...?


Vindya: Lo suka sama gue? Sorry gue kepedean.


Arief: Emang kenapa Vind? Gak boleh gue suka sama lo?

__ADS_1


Vindya: Bukan gak boleh tapi di larang.


Arief: Di larang kenapa?


Vindya: Ya karena gue sudah bersuami.


Ucapa Vindya berhasil mematahkan hati Arief sebelum mengutarakan. Arief merasa seperti tersetrum oleh aliran listrik 10.000 kwh. Kini dia merasa hidup tak hidup matipun masih bernapas. Arief hanya melihat chat dia dengan Vindya tanpa membalas.


Lelaki tinggi berbadan proporsional itu merasa ada sesuatu yg hilang di dalam dirinya. Arief ingin tak percaya itu, namun kabar itu di sampaikan sendiri oleh Vindya.


Di sekolah Vindya ya Vindya dia tidak berubah sedikitpun. Dia bersikap seperti tidak terjadi apa apa. Ya memang tidak terjadi apa apa pada dirinya. Tapi kenyataan ini sangat memukul Arief.


"Ogah ah, mungkin dia lagi banyak pikiran. Biarin saja dia, kalo dia udh merasa baikan juga bakalan kaya biasanya." Vindya menanggepi dengan santai. Karena dia memang sedikit menjaga jarak seperti permintaan suaminya.


Saat pulang sekolah Arief berada di parkiran. Dia sengaja menunggi Vindya karena ingin memastikan lagi dengan apa yg dia kabarkan beberapa hari lalu.


"Vind, yg kemarin itu beneran?" Tanya Arief.


" Apanya?" Tanya Vindya bingung.

__ADS_1


"Yg lo bilang lo udah nikah" Arief kembali mengingatkan Vindya.


"Oh yg itu, iya bener.... udha hampir dua tahun gue nikah." Jelas Vindya.


"Lo kan masih sekolah. gak lucu Vind candaan lo. garing"


"Siapa yg bercanda sih, beneran. Gue masih mesolah juga suami gue masih kuliah."


"Apa gue kenal sama suami lo?" Tanya Arief penasaran


"Iya lah kalian kenal, orang dia yg menyerahkan jabarannya ke elo masak lo gak kenal." Vindya sambil sedikit tersenyum simpul.


"Affandi?" Arief kaget.


"Iya dia lakik gue, maaf ya kalo selama ini gue terkesan memberi harapan palsu ke elo. Gue gak pernah bermaksud seperti itu karena emang gue gak pernah beri lo harapan palsu. Gue anggep lo temen sama seperti ke Riska atopun Ridge. Sekali lagi maafin gue ya." Vindya mencoba memberanikan diri mengatakan semua.


"Iya Vind gue akan buang semua perasaan ini ke elo dan coba membuka hati untuk cewe lain. Tapi gue harap lo jangan pernah berubah ya. Terus jadi temen gue, dan gue akan berusaha mengendalikan perasaan ini." Arief mencoba memastikan untuk mempertahankan hubungan persahabatan yg mereka jalin belakangan ini.


"Itu sudah jelas. makasih ya lo udah mau ngertiin gue." Kini Vindya melangkah menuju mobil ujung gerbang.

__ADS_1


__ADS_2