Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Kejutan untuk Fariz


__ADS_3

“Fariz, kamu terus saja menggodaku. Sekarang katakan pada ku biar aku menjadi orang yang seperti umurku,” tanya Mustafa yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya.


“Bapak tanya pendapat saya?” Tanya Fariz yang masih mengikuti guru BKnya ke ruangan karena terus di gandengnya dengan pertanyaan pertanyaan.


“Iya, karena kamu terus menyebutku tua. Memangnya umur dua puluh tahun itu belum bisa di katakan tua?” Tanya Mustafa


“Makanya bapak pangkas itu kumis dan juga brewok bapak. Jangan lupa cuci muka bapak dengan sabun muka, bukan sabun mandi biasanya. Itu PHnya gak sesuai dengan kulit wajah bapak,”


“Dari pada banyak omong tapi gak tau yang kamu maksudkan. Nanti antar bapak untuk perawatan ke salon,” Mustafa mengakhiri ucapannya setelah menyuruh anak didiknya kembali ke kelas atau ke kantin untuk istirahat.


“Dan lagi, jangan terlalu kejam pak, kurangi kekejaman bapak pada anak anak.” pungkas Fariz sebelum ngacir keluar ruangan sebelum lemparan buku tebal mengenainya.


Fariz masuk ke dalam kelas dengan tawa lebarnya. Tawa yang menarik perhatian teman teman di kelasnya.


“Tadi kamu keluar dengan raut wajah yang menakutkan Fariz. Kenapa sekarang kamu malah tertawa lebar seperti ini?” Tanya Hadi yang menjabat sebagai ketua kelas di kelas Fariz.


“berarti kamu sedang senang, eh ngomong ngomong bagaimana keadaan Mentari? Apa kita perlu untuk menjenguknya?” Tanya Hadi lagi.


“Perhatiannyaaaaaaaa ketua kelas ku yang satu ini,” Goda Fariz yang melihat ada semburat merah jambu pada pipi putih dari ketua kelas yang selama ini di kenalnya sebagai lelaki lurus ekspresi, atau tidak bisa berekspresi.


“Ya namanya juga anggota kelas dan aku juga ketua suku. Jadi ya sudah sewajarnya lah menggerakkan anak anak untuk menjenguk teman yang sedang sakit.” Jawab Hadi yang sedikit gagap karena tak tau harus menjawab apa.


“Percaya, tapi jangan semua ikut jenguk. Cukup beberapa orang saja sebagai perwakilan kelas. Kasian kalau harus benyak yang jeguk bukan malah cepat sembuh malah banyak bawa virus untuk Mentari,” Fariz mengiyakan apa yang di ucaokan oleh ketua kelasnya.


Pelajaran berjalan seperti biasanya. Fariz tetaplah Fariz yang suka iseng terhadap teman sekelasnya Wina. Sedangkan Sekar teman Wina merasa jengah dengan kata kata receh yang sering di ungkapkan oleh pemuda yang terkesan dingin terhadap orang lain.


Wina selalu saja menolak pernyataan cinta dari Fariz. Seperti saat ini juga, kembali Fariz di tolak karena status yang di sebut sebut oleh Wina. Gadis yang masuk ke sekolahan elit dengan kemampuan finansial namun tak pernah mengakuinya. Wina selalu mengatakan jika dirinya anak seorang tak punya.


DIrinya hanya ingin mencari seorang yang setia dan mau menerima keadaan dia apa adanya. Wina selalu melihat Fariz sebagai anak manja yang suka berfoya foya. Pengakuan Fariz tadi pagi hanya di anggap angin lalu oleh Wina. Yang mengetahui siapa sebenarnya Fariz hanya orang tua Mentari.


Mentari sendiri tidak mengetahui siapa Fariz sebenarnya. Yang dia tau Fariz seorang yang tak pernah lelah untuk berjuang dan berusaha. Mentari tahu jika Fariz kerja di cafe milik Satya, tapi dia tak tau bagian apa Fariz bekerja.


Di tampah dengan kapanpun dia masuk tidak mendapatkan masalah. Tanpa di ketahui siapapun, Fariz selalu memberi tahu kenapa dirinya telat dan megejar beasiswa hanya untuk mendapatkan pendidikan gratis.


Kecintaan Fariz dengan belajar juga mendukung dirinya mendapat pendidikan lebih tinggi dengan bantuan beasiswa. Bahkan dengan kerajinan ibunya bekerja dan juga dirinya mempertahankan nilainya membuat tak memikirkan biaya kuliah.


Satya dengan senang hati membiayainya. Bahkan Affandi juga menawarinya untuk bekerja menjadi orang kepercayaan di perusahaannya jika dia mau. Tapi Fariz ingin mengabdikan diri pada Satya. Sehingga dia memilih ikut Satya di manapun akan bekerja.


Seperti saat ini sampai batas waktu yang tidak di tentukan. Dirinya di minta untuk tetap di rumah untuk membantu ibunya melayani wanita hamil yang ngidamnya mulai aneh aneh.


“Bu, mana mbak Bian?” Tanya Fariz dengan membawa sekantong kresek cilok yang berwarna merah merona seperti darah.


“Ada di belakang sepertinya tengah menyiram bunga mawar yang kamu tanam kemarin.” Jawab ibunya yang menyipakan makan siang untu majikannya.


“Ya sudah kalau begitu Fariz mengantarkan ini dulu baru bantu ibu,” Ucap Fariz sebelum meninggalkan wanita paling di sayanginya di dunia.


Fariz mendekati majikan yang sudah di anggapnya sebagai kakak sendiri dengan membawa makanan yang di pesannya sebelum pulang melaui telefon genggamnya.


“Mbak, ini pesanannya,” Fariz memberikan bungkusan berisi cilok dengan saos omat merah menyala.


“Terima kasih Fariz, ini ada yang isi telur puyuk kaya yang di makan key key itu kan?” Pertanyaan aneh yang membuat Fariz memijit keningnya dengan menganggukkan kepala.

__ADS_1


Bian masuk dengan memakan salah satu kantong plastik yang berisi pentol telur puyuh pesananya. Ibuny Fariz pun bertanya pada putranya yang membawakan makanan luar pada wanita hamil dengan porsi yang sangat banya.


“Bu, ini tolong simpan di kulkas. Nanti kalau Satya pulang angetin, dia yang kepengen ini tadi bu.” Bian menenangkan hati ibu yang pernah mengalami hamil dua kali ini.


“Bu, aku mau makan sayur itu bisa minta tolong ambilkan?” meski saat hamil Bian lebih manja dan ingin selal di layani ini itu, tapi Bian tak melupakan kata tolong dan maaf juga terima kasih.


Bian selalu memakan apa yang di inginkan saja. Meski kadang permintaannya termasuk banyak dan rada cerewet. Tapi sebisa mungkin Fariz beserta ibunya sabar dan menuruti apa keinginan si ibu yang tengah mengandung.


“Fariz, bia kamu besok pulang sekolah belikan aku pizza?” Tanya Bian yang sedikit ragu ragu karena merasa sungkan untuk meminta tolong pada pemuda yang terlihat dingin dan datar.


“Nanti Fariz iin keluar Mbak untuk menjenguk Mentari di rumah sakit. Dia drop tadi pas sekolah,” Fariz seakan mengerti ke canggungan yang di rasakan oleh majikannya.


“Berartikamu bisa belikan embak Pizza kan? Nanti beliin yang doube cheese ya. Aku membayangkan saja sudah bisa merasakan ada lambungku yang masih kosong sebelah sini,” Bian memegangi perutnya yang sudah sedikit menonjol karena usia kandungan memang sudah masuk empat bulan.


“Hahaha iya, nanti Fariz akan belikan. Ada lagi yang di pengen mbak?’ Tanya Fariz sebelum menyudahi makannya.


“Sementara enggak ada, nanti kalau pengen kan bisa embak menghubungimu langsung,” Bian menyudahi makannya dan mengambil buah yang sudah di kupas oleh ibunya Fariz.


Fariz membantu ibunya membersihkan meja makan dan mencuci piring. Setelah itu Fariz segera bepamitan untuk menjenguk Mentari karena sebentar lagi jam besuk sudah di buka.


“Fariz jangan lupa pesenan embak ya,” Bian mengulurkan uang ratusan ribu tiga lembar pada pemuda itu.


“Maunya berapa kotak mbak?” tanya Fariz melihat berapa banyak uang yang di ulurkan padanya.


“Beli satu saja, nanti belikan buah dan bunga untuk Mentari. Jangan lupa di foto dan kasi tau itu dari embak,” ucap Bian menjelaskan.


“Siap kalau begitu fariz pamit,” Tak lupa Fariz mencium tangan ibu dan nyonyanya sebagai tanda hormatnya.


“Hati hati nak,” pesan ibunya yang selalu di dengat ketika dirinya akan berangkat kemana pun.


Tak berapa lama memang jaraknya tak jauh. Fariz sampai di parkiran rumah sakit dan menunggu teman teman yang lain termasuk Wina.


Melihat buah dan bunga yang di bawa oleh Fariz membuat Hari, Wina dan Arin salah mengartikan. Wina yang mengenakan kaos garis garis dengan rok slempang membuatnya terlihat manis, namun tak menunjukkan senyum.


Melihat Wina yang seperti tak nyaman, Fariz hanya bisa mengutuki dirinya sendiri.


Dasar Mbak Bian, membuat posisiku serba salah saja. Batin Fariz berkecamuk tak karuan.


“Oh kalian datang menjengukku? Sunggu sangat mengejutkan,” Masih dengan nada sengak Mentari menyambut teman temannya meski keadannya sudah memprihatinkan.


“Diamlah kalau gak mau mulutmu aku lakban, ini makan buah dari Mbak Bian sama bunganya.” Fariz memberikan buah dan bunga dengan nada yang sangat menjengkelkan.


“Ada ada saja kelakuan bumil itu, tapi sampaikan terima kasih ku padanya,” ucap Mentari dengan nada semakin sengak.


“Bicaralah sendiri,” Fariz memberikan ponselnya yang sudah memperlihatkan wajah ayu Bian.


“Hai mentariiii, maaf Embak gak bisa menjenguk kesana. Jadi di wakili saja sama adiknya embak ya,” terdengar begitu akrab memang kedua orang itu membuat WIna merasa semakin kecil di hadapan Mentari untuk mempercayai ucapan Fariz yang dirinya adalah seorang yang tak mampu dan mencintainnya.


Bahkan siapa Fariz pun Wina merasa tidak mengenal. Apalagi dia harus mempercayai ucapan pemuda yang terlalu dekat dengan gadis lain.


Huh, sunggu permainan cinta itu memang sangat rumit, keluah Wina dalam hati. Sudahlah menyerah saja memahami lelaki seperti itu.

__ADS_1


Wina terduduk di sofa yang di sediakan di dalam ruangan itu setelah menampakkan diri di depan MEntari. Hadi yang duduk di sebrang Wina hanya mampu memandang kedekatan Fariz yang di minta untuk duduk di brangkar Mentari.


Memaksa makan bubur yang di siapkan rumah sakit membuat semua merasa kedekatan Fariz dan Mentari bukan kedekatan antar teman.


“Mbak Mentari, sekarang kita ambil sample darahnya ya untuk menjalani tes berikutnya.” ucap salah satu suster yang datang bersama dengan dokter yang memeriksa Mentari.


Genggaman kuat Mentari pada tangan Fariz seola menunjukkan jika hanya Fariz yang mampu membuatnya berani. Berani menghadapi semua penyakit yang kini tengah menggerogotinya. Kelainan jantung yang sempat di nyatakan sembuh total setelah menjalani oprasi pencangkokan. Kini harus di rawat karena pendarahan di dalam hidung yang tak sebentar.


“Jangan manja deh, cuma segitu aja sudah takut. Buka matamu dan hadapi jarum sekecil itu,” cibiran Fariz terkesan kejam, namum memiliki arti yang mendalam untuk membuat Mentari lebih berani lagi.


“Aku gak manja, aku hanya takut sama jarum suntik Fariz,” bentakan Mentari berbarengan dengan jarum suntik menembus kulit mulusnya.


“Kalau kamu itu takut sama jarum suntik, seharusnya kamu minum obatnya! Sudah berapa kali aku harus mengingatkan kamu! Ingat nona, kamu bukan prioritasku yang harus aku urusi dua puluh empat jam.” ucap Fariz yang membuat hati Mentari sedikit nyeri.


“Pergi kau setan! Aku gak butuh kamu,” ucapan amarah Mentari membuat Mamanya merasa iba pada pemuda yang selalu ada untuknya dua puluh empat jam.


“Diamlah kau iblis, pulang dari rumah sakit akan ku ajak kau ke pesantren untuk di rukiah. Mulut gadis hanya untuk mengumpat saja, tidakkah kau malu sama teman dan juga doktermu jika kau tak mau memandang aku juga orang tuamu?” omelah Fariz membuat dokter tertawa geli.


“Sudah lah, pergi sana kalau hanya untuk mengomel. Kepalaku sudah penuh dengan omelan kamu. Bapak bukan kakek juga bukan, seenaknya saja kau mengomel padaku,” ucap jengkel Mentari namun terlihat lucu di hadapan dokter dan juga orang tuannya.


“Bersikaplah baik nona, lihatlah Wina. Dia itu selain cantik dia juga tak pernah mengumpat sepertimu. Jaga sikapmu apa lagi nanti kamu harus mencari suami, sunggu kau di tolak sebelum meyatakannya,” ucapan Fariz memang ada benarnya, tetapi gadis itu tek terima rupannya.


“Terang saja kau terus menyanjung dan memuji Wina karena kau mencintai dia. Beraninya kau memandingkan aku dengan orang yang kau sukai, sana pergi lah aku muak dengan kau terus membandingkan aku dengan semua orang,” bentakan Mentari membuat hati Wina tak karuan rasanya.


Bahkan di depan Mentari Fariz terus memujiku? Apa perasaannya benar adanya untukku. Tapi dia orang kaya yang tak aku inginkan, apa aku harus membuka hatiku untuknya demi mengetahui siapa dia sebenatnya? Hati Wina terus menimang nimang apa saja yang harus di lakukan kemudian hari untuknya dan juga Fariz.


Setelah pemeriksaan Fariz dan ketiga teman temannya berpamitan untuk pulang. Karena hari semakin gelap, ketiga orang yang datang sendiri sendiri pun memutuskan untuk ikut sengan Hadi yang membawa mobil.


“Wina, bisa aku mengantarkan kamu?” Tanya Fariz malu malu tak seperti biasanya.


“baiklah, Hadi aku akan ikut bersama Fariz.”


Dengan senang hati Fariz mengantar Wina sampai di rumahnya. Namun sebelum mengantarkan ke rumah, Fariz mampir membeli pizza pesanan nyonyanya yang tengah ngidam. Dengan ngobrol ngalor ngidul hingga mencairkan suasana yang canggung tadi.


Rupanya Fariz cukup pemalu juga dari pada biasanya yang tak punya malu untuk menggodanya. Gadis yang rame itupun seakan terkunci mulut dan juga tingkahnya. Ketika hati sudah terbuka, ternyata rasa canggung itu muncul dengan sendirinya.


“Wina, benar kamu mau menerimaku menjadi kekasihmu?” Tanya tak percaya Fariz yang membuatnya terus bertanya hingga akhir perjalannanya.


“Masuk dulu yuk aku kenalin sama mama papa,” ucap Wina sebelum keluar dari mobil Fariz.


“Rumah kamu besar Wina, apa kamu anak orang kaya? Aku merasa tak tahu diri jika selama ini menganggap kamu sederhana dan tak memiliki semua ini,” ucap jujur penyesalan yang di miliki oleh Fariz membuat Wina semakin tertarik.


“Sudah lah jangan fikirkan itu terlebih dulu. Kalau kamu mau menjadi kekasihku, kamu harus berkenalan pada orang tuaku.” bujukan Wina membuat Fariz memberanikan diri untuk keluar dan berkenalan langsung dengan orang tua Wina.


Kedua pemuda itu pun masuk ke dalam rumah besar dan megah. Seumur umur Fariz mikir rumah megah hanya rumah Milik Satya bosnya. Rupanya ada yang lebih besar lagi dari rumah majikannya.


Fariz mengedarkan pandangannya ke sekitar dan mendapati dinding yang berisi foto keluarga. Orang yang sangat di kelanya ada di dalam figura berukuran besar itu.


“Pak Revan”


SEKILAS INFO.

__ADS_1


Berasa kaya sala satu stasiun telepisi aje ada sekilas impo. Disini ada bercampur dengan cerita Billa dan juga Revan yang memiliki anak perempuan bernama Wina.


Wina Ali Baba Sahid, itulah nama kepanjangan dari nama Wina yang selama ini mengaku sebagai anak orang tak punya. Jadi tau kan sifat rame Wina di turunkan dari siapa? Yaupz selamat membaca ya guys.


__ADS_2