Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Permintaan Wina dan Mentari.


__ADS_3

Pagi menyapa dan kali ini Fariz tidur di rumah sakit dengan tangan berada di kepalanya terus membelainya. Fariz merasakan tangan yang semalampun langsung terbangun dan melihat asal tangan itu.


“Mentari, sejak kapan kau bangun?” Tanya Fariz kaget.


“Gak usah di jawab sekarang kamu diam di sini dan jangan pergi kemana mana, aku akan memanggil dokter,” kepanikan mengikis semua kesadaran dan juga akal sehat Fariz.


Meski hanya sangat tipis, tapi Mentari telah tersenyum. Kedatangan dokter mengharuskan Fariz untuk keluar dari ruangan itu. Fariz tak lupa mengabari keluarga mentari.


Satu jam sudah berlalu dan keluarga mentari baru saja sampai di rumah sakit. Kini Mentari sudah berpindah ruangan ke ruang rawat. Fariz mengabari Wina jika dirinya masih belum bisa masuk sekolah karena menunggui Mentari yang tengah drop.


Fariz sangat yakin jika gadisnya itu tengah sakit hati karenanya. Fariz tak sanggup lagi jika harus melihat gadisnya itu terluka karenanya.


“Maafkan aku Wina, tolong mengertilah keadaan ku. Kau boleh marah terhadapku, atau bahkan meninggalkan aku. Tapi yang jelas aku tak akan pernah meninggalkanmu, juga Mentari,” ucapan egois yang Fariz lontarkan pada kekasihnya.


“Apa kau berjanji jika kau tak akan meninggalkan aku jika aku tak meninggalkanmu? Juga menerimamu dengan Mentari?” pertanyaan bodoh yang di lontarkan Wina pun membuat Fariz semakin gila.


“Apa kau kuat harus berbagi kasih dengan Mentari? Yang jelas aku akan bersama dia lebih banyak dari yang aku habiskan denganmu.” tanggapan ***** yang di berikan Fariz pun di terima dengan lapang dada oleh Wina, kekasihnya.


“Baikla, aku berani mengalah jika hanya waktu dan perhatian. Asal kau tak meninggalkan aku Fariz,”


“Kau gak gila kan?” tanya Fariz serius.


“Tentu tidak, itu aku lakukan karena aku mencintaimu,”


Fariz menutup rapat matanya dengan ucapan menyayat hatinya. Benarkah aku harus membegi hatiku dengan kedua wanita ini? Batin Fariz kembali bergejolak dengan ponsel masih menyambung.


“Aku akan menemuimu di rumah sakit sepulang sekolah,” pungkas gadis itu sebelum menutup sambungan telfonnya


“Gila!!” itulah teriakan Fariz yang kini berada di atap rumah sakit berlantai empat itu.


Merasa sangat kacau, Fariz pergi ke cafetaria yang ada di rumah sakit. Mencari minuman dingin dengan harapan mampu mendinginkan hati dan kepalanya yang mau pecah.


Senyum Mentari kembali terlihat meski samar. Bibir yang masih pucat juga terlihat pecah pecah mengeluarkan sedikit darah, namun tak di rasa oleh pemiliknya. Fariz merasa tak berdaya melihat gadis janda itu.


“Mentari, jangan terus membuatku berada di sisimu. Kamu harus ingat kalau aku memiliki prioritasku sendiri,” ucap Fariz dengan kejamnya.


“Aku tahu, aku juga gak memaksamu untuk berada di samping ku dua puluh empat jam. Kau juga jangan lupa kalau aku memiliki suami,” jawab Mentari tanpa dia tau jika Fariz mengetahui perceraiannya dengan sang guru.


“Baiklah kalau begitu aku akan pulang, aku harus bekerja dan aku akan sekolah besok pagi. Jangan menyuruhku ke sini lagi, karena aku sanagat sibuk,” pungkas Fariz lebih kejam.


“ya,” itulah jawaban yang keluar dari mulut kering milik Mentari.


Fariz meninggalkan Mentai yang kini di tunggui oleh beberapa suster dan dokter untuk pemeriksaan. Mentari mengerti perasaan Fariz bukanlah untuk dirinya, sehingga dirinya tak harus menahannya.


“Dokter aku harus sembuh, aku tak mau hidup bergantung lagi.”


Dokter itu merasa iba mendengar percakapan Mentari dengan Fariz. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya Mentari mendapatkan perhatian lebih. Tetapi ini mendapat sebuah penolakan yang terlontar dari pemuda yang menemaninya semalaman.


“Iya, aku akan membantumu secara khusus. Memastikan kesembuhanmu, kamu juga harus mengikuti kemoterapi. Jangan kaget jika nanti rambut kamu akan rontok karena itu pengaruh dari obat saat kemo,” dokter itu berjanji.


Benar, setelah kepergian tadi. Fariz sama sekali tidak kembali hingga sepuluh hari Mentari di rawat di rumah sakit. Telfon dari Mentari beberapa kali sering di tolak oleh Fariz, entah sengaja atau memang sedang sibuk.


Sekarang adalah hari kepulangan Mentari melarang keras sang papa ketika ingin mengabari Fariz.


“Jangan menyusahkan dia pa, papa sering bilang jika dia sangat sibuk. Biarkan dia bahagia dengan jalannya,”


Di sisi lain Fariz mati matian mencari waktu luang untuk sejenak menjenguknya. Namun selalu di halangi oleh Almas yang kini menangani renofasi cafe di mall A bersamanya. Sedangkan di sekolah Fariz sangat menjaga perasaan Wina sehingga dirinya selalu meninggalkan ponselnya di dalam mobil.


Ketika malam datang, Fariz selalu menghabiskan waktunya untuk belajar setelah mengerjakan kerjaan kantornya seorang pelajar yang bekerja kantoran sangatlah berat. Sehingga saat kencan pun kadang Fariz harus membawa kerjaannya ke rumah Wina.


“Fariz, sebenarnya kamu itu ngapelin aku apa ngepelin papa sih?” Tanya Wina yang jengekel meliha dua orang lelaki bak anak dan ayah yang tengah membahas pekerjaan.

__ADS_1


“Sayang, ini aku lakuin juga untuk kamu. Kalo proyek ini goal bonusnya bisa untuk membeli apartemen untuk kita tinggali nanti kalau sudah menikah,” itulah kata sayang yang tak pernah canggung di keluarkan oleh Fariz untuk kekasihnya.


“Ya tapi ini tu malam minggu sayang, masak iya masih ngapelin papa sih? Gak peka banget sih jadi cowok.” Wina sudah ngambek, padahal dirinya tengah bahagia mendengar alasannya untuk gila kerja.


“Udah sana, nanti papa yang akan bantuin revisi ini,” suruh Revan yang sudah menyuruh Fariz untuk memanggilnya papa dan mama,


Fariz mengajak Wina untuk jalan jalan ke taman kota untuk menikmati malam minggu panjangnya. Sekitar satu jam Wina dan Fariz merasa bosan berjalan mengitari taman. Wina mengajak Fariz ke cafe kakenya yang di kelolah oleh si kembar Arin dan Arvy sepupunya dari keluarga Baganta.


“Kak Baskah? Benarkah ini kak Baskah?” Wina mengenali kakak sepupunya yang berprofesi sebagai dokter mengikuti sang papa dan neneknya.


“Wina, dengan siapa kamu ke sini?” Tanya putra kedua dari si kembar Kliene Baganta.


“Dengan cowoknya Wina, ini kenalin Fariz namanya. Teman Wina sekolah,” Wina mengenalkan kekasihnya pada kakak misannya.


“Kita bertemu lagi,” ucap dingin seorang Baskah.


“Dengan siapa kakak ke sini? Tumben kakak gak tugas malam minggu?” goda Wina.


“Dengan dia,” jawab Baskah dengan melihat ke arah wanita yang berjalan ke arahnya dari arah toilet.


Riasan wajah yang tak mampu menutupi wajah pucat seorang mentari yang berjalan ke arah krumunan orang orang yang tak asing baginya.


“Mentari?” kaget Wina.


Setau Wina memang Mentari memiliki hubungan lebih dengan kekasihnya. Tapi apa ini? Kenapa kakak sepupunya bermalam minggu panjang dengan janda kembang ini?


Melihat dari kejauhan, Almas yang menghibur para pengunjung pun merasa sedikit ada sengatan listrik di hatinya melihat lelaki yang selama sepuluh hari ini bersamanya kini bermalam minggu dengan adik sepupunya.


“Baik untuk yang ada di sebelah sana, saya ucapkan selamat datang dan juga salam hangat dari saya semoga malam minggu kalian indah seindah lagu yang akan aku bawakan khusus untuk tamu istimewa. ALFARIZI,” Almas tak tahan melihat itu dan langsung menyebut nama lelaki yang mencuri hatnya.


Lagu pergi hilang dang lupakan yang di cover oleh Rezha Regita di persembahkan oleh Almas. Fariz tak merasa keanehan sedikit pun, karena memang dirinya memang tak menaruh hatinya pada gadis itu.


“Sebenarnya apa sih yang membuatmu special sih Riz?” Tanya Wina di sela keheningan yang tercipta.


“Hmmm?” tanya Fariz tak mengerti.


“Tidakkah kau merasakan ada kejanggalan pada lagu yang di bawakan oleh kak Almas yang teruntuk padamu?” Tanya Wina  memecah keheningan dan juga membuat Hati Fariz kembali cenat cenut.


“Tolong jangan buat kepalaku meledak. Dengan keberadaan kalian berdua di satu meja sepeti ini membuatku tak tau harus berbuat apa,” PD nya Fariz mengungkapkan apa yang dia rasa.


“Hae bung, aku yang mengajak Mentari pergi ke sini. Jadi tolong hargai keberadaan saya. Sekarang kamu apakan adikku yang satu itu?” tanya Baskah yang juga merasakan aura patah hati pada diri anak dari papa angkatnya.


“Bukankah kamu sendiri yang mengatakan aku bukan prioritasmu, terus apa lagi yang membuat kepalamu meledak? Sini biar aku palu dulu untuk memastikan kepalamu tak amnesia,” ucapan Mentari memang selalu menyakitkan, sama seperti ucapan Fariz padanya.


“Mentari, aku tau kau memiliki hati pada ariz, tolong jangan membohongi dirimu sendiri lagi. Dan kamu Fariz, aku tak mengapa kau bersama Mentari asal kau tak meninggalkan aku. Aku tau seberapa cintanya kamu pada Mentari yang mampu menggoyahkan hatimu untukku,” ujar Wina mengagetkan kakak misannya.


“Kau GILLA!!” itulah bentakan Fariz, Mentari dan Baskah bersamaan.


“Tak ada kata gila di dalam cinta. Karena cinta itu sudah mampu membuat orang gila.” ucap WIna lagi.


“Kau jangan salah paham dengan hubungan kami Wina,” Mentari mulai menyangkal hatinya yang memang ada untuk Fariz.


“Fariz sudah mengatakan semuanya padaku saat dia harus menungguimu di rumah sakit, mentari” itulah kata yang akhirnya terlontar dari mulut Wina mengatakan apa yang di dengarnya dari Fariz.


“Mentari, mending kau pukul kepalaku dengan palu saat ini sekeras mungkin,” ucap Fariz yang menundukkan kepalanya pada Mentari yang duduk di depannya.


“Terus kau mau aku membusuk di penjara?” Tanya Mentari dengan memutar mata jengah.


“Situasi apa sih ini hah! Adek ku BUCIN. Lakinya BODOH dan lagi kalian ini buta apa? Dia ini hanya seorang anak pembantu,” ucapan Baskah membuat Fariz sadar akan posisinya.


Fariz malu dan juga merasa rendah diri di hadapan para anak anak sultan yang ada di depannya.

__ADS_1


“Baiklah, saya permisi.” Fariz berdiri dan berpamitan kepada yang lainnya.


“Aku ikut dengan kamu Fariz,” kini Mentari ikut berdiri dan membuat Baskah kaget.


“Kamu pulang denganku,” cegah Baskah.


“Maaf dokter, saya pulang dengan Fariz rumahnya bersebelahan dengan rumahku,”


Satu fakta lagi yang baru di ketahui oleh Wina, tempat tinggal mereka bersebelahan. Wina yang berada di samping Fariz pun memilih memeluk lengan kekasihnya.


“Tapi aku harus mengantar Wina dulu karena kerjaanku tertinggal di sana.” Mentari tak menghiraukan ucapan Fariz dan mendahului jalan meeka berdua.


Mentari mengambil duduk di belakang dan WIna duduk di samping Fariz yang mengemudi. Tak ada kata yang keluar dari mulut mereka bertiga. Hanya deru mobil yang terdengar di dalam mobil itu.


Mobil Fariz memasuki pekarangan luas rumah Wina. Sebelum keluar dari mobil Fariz, Wina menyempatkan diri untuk menunjukkan sebuah vidio yang ada di ponsel miliknya.


Dalam vidio itu terlihat seorang laki laki tengah mengamuk di ruang ICU karena rasa yang selama ini di pendamnya. Ya, itu Fariz yang tak tau siapa yang mengambil gambar itu. Tapi Wina cukup mempercayai keaslian vidio tersebut.


Fariz menundukkan kepala dan juga menutup matanya rapat rapat dan mengingat kembali kejadian itu.


“Bisakah aku mati saat ini?” Fariz masih menundukkan kepala.


“Percayalah, aku dan Mentari akan menerima semua kekurangan dan juga kelebihan kamu,” ucapan Wina seakan membuat Mentari san juga Fariz tak percaya.


“Katakan aku harus apa sekarang?” Tanya Fariz yang menatap Mentari dan Wina bergantian.


“Kami hanya butuh keadilan kamu untuk membagi waktu untuk kami berdua. Kasih sayang yang sama dan rasa yang sama pula.” Itulah tuntutan yang di berikan pada Fariz.


“Apa kalian yakin aku mampu memberikan itu semua pada kalian berdua? Sedangkan aku harus bekerja di siang hari hingga malam. Dan malam hari aku harus belajar dan juga menyelesaikan pekerjaan kantor.” Fariz mengungkapkan apa yang menjadi kendala dia untuk membagi waktunya.


“Kamu bisa menemaniku melalui Vidio call,” itulah kata pertama yang terlontar daribibir pucat milik Mentari.


“Ya salam, ibu ini gimana anak orang gak ada yang mau aku tinggal.” Itu lah keluh yang keuar dari mulut Fariz malah membuat Wina dan juga Mentari tertawa puas.


“Satu lagi, ketika kau ingin meninggalkan kami salah satu. Maka kamu harus meninggalkan keduannya. Karena kau tak boleh mempertahankan salah satu dari kami. Kami akan cemburu, dan saat kau memiliki niatan untuk menikahi salah satu dari kami, maka kau juga harus menikahi kami berdua.” itulah ucapan Wina yang membuat Fariz tersentak.


“Allahuakbar, itu mulut enak bener ya kalau ngomong. Kalian berdua mau membuatku gila? Apa sih yang ada di pikiran kalian? Apa kalian gak mikir kalau aku tak mampu berlaku adil maka aku yang akan berdosa?” Fariz mengusap wajahnya kasar.


“Kami yakin kalau kamu bisa Fariz,” Mentari seakan membenarkan ucapan Wina.


“Hmm, terserah kalian lah. Tapi bagaimana aku harus menjelaskan pada orang tua kalian juga orang tuaku? Ini gak main main!!” geram Fariz,


“Kamu tenang saja untuk hal itu, biar kami yang mengatasi masalah orang tua kami. Kamu hanya memastikan saja tempat tinggal yang cukup untuk kami berdua.” pungkas Wina dengan senyum lebarnya.


“Gila, ini sungguh gila. Kalau aku tak mampu memberikan tempat tinggal yang cukup untuk kalian bagaimana?” Tanya Fariz frustasi.


“Ya terpaksa kami yang akan menghidupimu.” ucap Mentari Santai.


Hati Fariz tak mampu menerima apa yang mereka berdua inginkan. Ini merupakan keputusan yang sangat besar dalam hidupnya. Bahkan untuk memikirkannya pun Fariz sudah geleng geleng kepala karena pusing.


Fariz mengantar Wina masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengambil kerjaannya yang di tinggalkan bersama Revan calon mertuannya. Setelah itu pamit untuk pulang.


“Kau pikir aku ini sopir taksi? Sini pindah ke depan,” jengkel Fariz ketika Mentari tak kunjung pindah ke kursi depan.


“Jangan lah kau marah marah terus padaku,” ucap Mentari saat berpindah ke depan.


“Kalian itu sudah membuat ku Gila, buat apa lagi aku baik pada kalian?”


Tanpa di sangaka Mentari mencium pipi Fariz dan menghentikan ocehannya.


“Kalau kau tak bawel aku akan mencium mu lagi nanti sebelum masuk rumah.” itulah kata yang membuat Fariz terdiam

__ADS_1


__ADS_2