Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Pantai kenangan


__ADS_3

Perpisahan satu tahun repanya menyisahkan rasa rindu yang sangat mendalam dalam diri Bian dan juga Satya. Di dalam kamar yang sudah di dekor ulang oleh Satya, Bian meluapkan kerinduannya.


Bercerita apa saja yang di lalui keduannya setelah perpisahan itu. Satya juga mengungkapkan betapa menyesalnya saat itu dia tak mendengarkan permintaan sang istri. Permintaan maaf yang selalu di ucapkan Satya membuat Bian gemas sendiri.


Di bawah selimut yang sama, Bian dan Satya meluapkan kerinduan yang tak pernah ada habisnya. Bian kini tertidur di dalam pelukan sang suami yang tak bosan memandang dan sesekali menciumnya.


Sejak masuk ke dalam rumah ini Bian masih belum di ijinkan untuk keluar. Terlebih lagi untuk memasak. Satya mendengar cerita jika istri tersayangnya menjadi seorang pembantu di rumah orang. Membuatnya terenyuh hatinya dan juga mengutuki keputusannya saat itu.


“Maafkan aku sayang sudah membuatmu merasakan apa yang seharusnya tak kamu lakukan. Ini semua kesalahanku,” ucap Satya yang kini tengah memeluk istrinya yang tengah tertidur di pelukannya.


Satya memesan makanan untuk dirinya dan istrinya nanti makan malam. Suara bell berbunyi dan Satya membuka pintu sebelum istrinya bangun.


“Mana Bian!!!” bentak Vindya yang langsung masuk sedikit berteriak setelah sang putra membukakan pintu untuknya.


“Bunda… Bunda… dengarkan cerita dari Alwa dulu sebelum menyalahkan Bian,” Pinta Satya


Ini adalah pertama kali Satya menceritakan perpisahan dirinya dengan sang istri. Semua yang terjadi adalah murni kesalahannya, bukan kesalahan Bian yang meninggalkannya. Setelah mendengarkan pengakuan dari sang putrapun, Vindya merasa bersalah pada menantunya.


Selain sudah menanamkan kebencian untuk menantunya yang tak salah apa apa. Vindya juga merasa malu karena ulah putranya yang tak pernah mengerti keinginan sang istri.


“Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, Alwa?” Tanya Vindya yang kali ini merasa geram terhadap sang putra.


“Alwa takut Bunda. Alwa sangat takut dengan Murkamu. Selama ini Satya mencari Bian, tapi dia bekerja di rumah seorang artis sebagai pembantu. Saat ini Bian sedang tidur, Biarkan dia menjadi ratu dalam kehidupan ini Bunda. Jangan pernah marahi Bian lagi,” Satya sudah bersimpuh di bawa kaki Bundanya untuk memohon ampun atas kesalahannya.


“Harus, itu harus kamu lakukan. Jangan pernah membuat hati istrimu sakit kembali Alwa, sudah cukup penderitaan menantu mama karenamu,” Vindaya merasa sangat marah terhadap putranya.


“Iya Bunda, Alwa janji ini untuk yang terakhir kalinya,” Janji Satya.


“Ya sudah mana Bian?” Tanya Vinya yang melangkah mencari Bian menantunya.


“Jangan Bunda, Bian lagi tidur. Besok saja Alwa ajak Bian ke sana,” buru buru Satya mencegah Bundanya yang akan menaiki tangga menuju kamar mereka.


“Ya sudah, awas kalau sampai gak jadi juga,” ucap Vindya sebelum meninggalkan kediaman sang putra.


Belum sempat menutup pintu. Pengantar makanan yang di pesannya pun datang. Satya menata makanan di atas meja sebelum membangunkan istrinya.


Saat menikmati makan mala berdua. Nurul dan juga Arkan masuk erumah Bian dan Satya tanpa permisi. Duduk dan makan bareg bersama kedua orang yang baru saja bertemu.


Dengan bayi yang baru berumur lima bulanan tidur di dorongan samping wanita yang kini duduk depan Bian.


“Kalian ini kenapa main nyelonong gitu aja sih?” Tanya Satya yang sebenarnya sudah biasa selama tak ada Bian.


“Sebenernya kita ke sini membawa makanan Bang, tapi melihat sudah ada makanan banyak, ya sudah rantang kita tinggalin di meja tamu. Terus gabung deh,” Jawab Nurul yang tak segan segan mengambil nasi untuk yang kedua kalinya.


“Hahaha, mana sini bawa, gue kangen masakan Arkan,” gelak tawa Bian keluar ketika mendengar pengakuan polos Nurul.


“Enak aja masakan Arkan. Masakan gue itu,” aku Nurul yang tak mau masakannya di atas namakan suaminya.


“Iya kah?” Tanya Bian menggoda Nurul yang sudah memayunkan bibiirnya.


“Ambilin Beb,” pinta Nurul pada suaminya yang sudah menyelesaikan makannya.


“Iya sayang, selama kamu gak ada. Mereka yang menjadi koki di rumah ini, tapi mereka keseringan bawa rantangan sih dari pada masak disini,” Satya menjelaskan sedikit gambaran selama tidak adanya sang istri di rumahnya.


“Maaf ya gue menyerahkan tanggung jawab gue gitu aja,” ujar Bian yang saat itu merasa sungkan pada Nurul dan juga Arkan.


“Tak perlu sungkan. Sebelumnya kan kita yang sering merepotimu,” ucap Arkan menanggapi Bian.


Selesai makan malam, Bian dan yang lainnya mengobrol santai sambil mengajak main si baby Arul. Putra pertama Nurul dan Arkan yang sangat menggemaskan. Pipi cabi dan juga berbadan embul membuat siapa saja yang melihatnya menjadi gemas sendiri.


Malam semakin larut, Nurul dan Arkan berpamitan untuk kembali ke rumahnya. Kepulangan mereka berdua, Satya dan Bian bergegas untuk tidur menyambut esok hari yang masih panjang.

__ADS_1


“Bi, apa gak ada keinginan untuk memiliki baby juga?” Tanya Satya yang membuat Bia sepertinya mengerti kode yang di berikan oleh Satya.


“Nanti dulu lah sayang. Aku terlalu capek olehmu tadi sore,” ucap Bian yang sengaja menggati bajunya di depan Satya.


“Kamu gak mau memberiku jatah, tapi dirimu malah menggodaku,” Satya berjalan pelan mendekati istrinya yang tengah mengganti baju tidurnya.


“Kamu harus terbiasa dengan ini sayang,” Bian menyambut Satya dengan merentangkan tangannya.


“Iya, aku akan membiasakan diri sampai aku tak tahan lagi seperti saat ini,” Satya mendekatkan dirinya pada Bian.


Merasakan sesuatu yang berbada. Bian hanya tersenyum dan memaklumi apa yang terjadi. Penyatuan kembali terjadi hingga Satya benar benar kelelahan. Entah berapa kali harus naik gunung karena tertahan selama setahun ini.


“Selama aku gak ada, siapa yang membantumu menyalurkan ini?” Tanya Bian pada Satya yang tengah kelelahan di sampingnya.


“Jangan tanya hal itu,” jawab Satya sedikit jengkel.


“Kenapa?” Bian semakin penasaran pun malah meggoda si junior kembali.


“Jangankan mikir ginian, saat sendiian aku tak pernah melewatkan membayangkan kamu,” Satya merasakan jika dirinya kembali terangsang pun malah membelakangi Bian.


“Oh begitu, ya sudah lah kalau begitu,” Bian ikut memunggungi Satya.


“Jangan suka menggoda jika kamu sendiri juga tengah kelelahan,” Rupanya Satya memanfaatkan posisi Bian yang membelakanginya.


Tak ada kata selain terima kasih dari mulut Satya setiap kali mencapai puncaknya. Satya menyadari cinta itu memerlukan perjuangan dan juga pengorbanan. Bukan ego yang di besarkan dan juga jangan pernah menodai yang namanya kepercayaan yang sudah di berikan oleh pasangan.


Pagi menyapa keduanya. Sebenarnya ini sudah tak bisa di bilang pagi. Karena jam sudah menunjukkan di angka sepuluh. Bian menyadari jika dirinya kesiangan pun bergegas untuk mandi dan membersihkan rumah dengan cepat.


Bian berencana untuk ke rumah majikannya untuk mengambil sisa gajinya yang belum di bayarkan. Bian tengah bersiap setelah membersihkan rumah. Satya melihat betapa terburu burunya Bian dalam bersiap diri.


“Kamu mau kemana?” Tanya Satya yang melihat istrinya sudah rapi namun terlihat kurang segar.


“Mau ke rumah Gara, mungkin dia sudah ke lokasi syuting,” Jawab Bian dengan terburu buru.


“Baiklah, aku akan menghubungu Gara di mana posisi dia saat ini,” Bian segera mengambil ponsel miliknya dalam tas.


Bian mencar sosok Gara di tengah gedung yang menjadi tempat janjiannya. Di sebuah perusahaan besar yang menaungi beberapa artis di dalamnya. Sesekali Bian menanyaka di mana ruangan Gara pada beberapa staf yang di temuninya.


Tepat di depan pintu ruangan Gara, Bian mengetuk pintu ruangan besar di depannya. Bian terkesima melihat isi ruangan tersebut. Rupanya Gara juga menulis lagunya sendiri dan di bantu oleh beberapa orang yang ada di bawah naungan agensi yang sama dengannya.


“Selamat siang,” ucap Bian saat pintu sudah di buka oleh Susi, asisten pribadi Gara.


“Hallo sayang, kamu sungguh sangat berbeda dari biasanya.” Susi memeluk Bian seperti biasanya di lakukan oleh gadis itu ketika bertemu Bian.


“Apanya yang beda? Biasanya dekil dan sekarang bersinar, bercahaya dan glowing seperti cuci muka dengan minyak goreng?” Tanya Bian yang membuat Susi dan yang lainnya tertawa.


“Siapa dia Sus?” Tanya Abraham yang baru melihat Bian karena tak pernah main ke rumah Gara.


“Ini mantan pembantu sultan gue,” Celetuk Gara yang melihat Bian yang tak seperti biasanya.


“Oh pembantu bar bar elu? Cantik gini dari mana bar barnya sih?” Tanya Abraham yang tertarik pada pandangan pertama.


“Jangan tertipu, sekali dia bicara kelar hidup elu bang.” ujar Gara yang mengingatkan temannya agar tak jatuh dalam perangkap wanita bersuami ini.


“Benar kah?” rupanya Abraham masih tak percaya pada omongan Gara.


“Saya pemegang sabuk hitam saat di Kalimantan. Apa mau menjadi sabuk emas untuk membuktikan pada anda?” Tanya Bian yang di senyumi oleh Satya yang berada di sampingnya.


Setelah mendapat haknya yang sebenarnya gak seberapa. Tapi menurut Bian itu berharga banget. Mereka berdua pamit pulang.


Setelah kepulangannya dari kantor yang menjuang tinggi itu. Satya mengajak Bian untuk jalan jalan ke suatu tempat yang mungkin akan mengingatkan dirinya . Bian sangat hafal jalannan yang di lalui oleh Satya.

__ADS_1


Yupz, ini jalan ke pantai di mana pertama kalinya Bian mengajak Satya bolos dari mata pelajaran. Waktu SMA yang di lalui tak selayaknya seorang pelajar pada umumnya.


Seorang anak dari kepala sekolah yang badung banget. Bertemu dengan idola sekolaha karena kepintarannya. Bukan malah menjadikan mereka bintang kelas, tapi malah ketularan badung.


Sering orang mengatakan jangan nyinyirin kelakuan bejat seseorang. Karena hal buruk itu menular. Memang benar adanya, hal itu selalu terjadi entah di sadari atau enggak.


“Masih ingatkah kamu hai kekasihku?” Tanya Satya dengan tatapan menerawang ke arah pantau yang ada di depannya.


“Dulu kita mandi di sana dengan mengenakan baju seragam putih abu abu. Aku masih sangat mengingatya sayang,” Bisaik Bian yang kini sudah merapatkan pelukannya.


“Aku lemah jika berhadapa dengan mu, bukan aku gak punya amarah terhadapmu. Tapi besarnya rasa cintaku yang membuatku selalu luluh terhadap kata maaf mu.” lanjut Bian dengan menggetarkan hari Satya.


“Dan aku yang terlalu bodoh terus mengulang kesalahan yang sama. Selalu membuatmu marah dan merasakan sakit terus menerus. Aku berjanji jika hal ini adalah yang terakhir kalinya aku lakukan,” tutur Satya yang menyesali kesalahannya.


“Hidupmu di penuhi dengan wanita, sayang. Aku sebenarnya tak sanggup dengan apa yang selalu mengancam kehadiranku di sampingmu.” ketakutan yang memang selalu di rasakan oleh Bian selama menjadi istri dari seorang Satya.


“Biar saja mereka memenuhi hidupku. Aku hanya akan menggenggam tangmu dan memelukmu meski tanpa sepengetahuanmu. Yakinlah padaku jika hanya ada kamu seorang yang berdiri di samping dan di depanku juga di belakangku.” ucap Satya yang mengeratkan pelukannya.


“Berdiri di sampingku untuk menjadi wanitaku satu satunya. Di belakangku selalu mendoakanku dan juga mendukungku. Dan di depanku ketika engkau lelah maka aku akan memelukmu dari belakang seperti ini,” lanjutnya lagi.


“Berjanjilah hanya ada aku di dalam hidupmu,” pinta Bian yang membuat Satya mengangguk setuju.


“Jangan pernah meninggalkan aku lagi,” Satya menyembunyikan wajahnya di sela leher Bian.


“Aku tak akan pernah meninggalkanmu jikan bukan kamu sendiri yang meninggalkan aku atau meminta aku meninggalkanu,” ucap Bian menatap laut biru di depannya.


Keheningan tercipta ketika fikiran mereka berdua tengah memikirkan apa yang ingin mereka pikirkan. Tak ada yang tau apa yang mereka pikirkan, mungkin mereka sendiri juga tak tau. Karena memang tak tau apa yang ada di fikiran mereka sendiri.


Matahari bergerak perlahan ke arah barat. Menggantikan cahaya terang dengan redupnya warna jingga. Sebelum berganti gelapnya warna malam sepenuhnya. Bian dan Satya masih setia duduk di tepian pantai yang sesekali air laut menyentuh daratan tak jauh dari temoatnya duduk.


“Banyak cerita yang sudah kita lalui, aku berharap jangan pernah ada kata perpisahan dan juga ada kata maaf lagi di antara kita,” ucap Satya yang menerawang kebelakang kisah mereka.


“Ayolah lupakan masa lalumu Satya. Jangan menjadi lelaki membosankan dengan terus menyalahkan diri. Sekarang kita nikmati hidup dan kita ciptakan cerita indah lainnya.” ucap Bian yang sedikit mendorong suaminya yang terkesan melangkolis.


“Ok. Ok mulai sekarang kita kubur apa yang tak seharusnya kita kenang,” Satya berdiri dan mengulurkan tangan pada gadisnya.


“Mari bahagia bersama,” ucap Satya lagi yang di sambut senyuman olehBian.


“Taukah kamu jika aku sudah lapar sekali?” Tanya Bian pada suaminya yang tak memikirkan perut mereka sedari tadi.


“Hahahaha aku melupakanmu,” Satya malah terkekeh dengan apa yang di lontarkan oleh Bian, istrinya.


Mereka kembali ke rumah makan seafood yang dulu pernah mereka singgahi. Rupanya pemilik tak melupakan mereka meski mereka hanya sekali mampir. Bian dan Satya menikmati hari sungguh dengan kebahagiaan yang seakan tertunda.


Kebahagiaan yang seharusnya dia berikan kepada istri tercintanya, Bukan malah tangisan dan juga sakit hati yang di berikannya. Penyesalan selalu datag di akhir dan berharap tidak pernah datang kembali sebuah peyesalan yang selanjutnya.


Bian tertidur saat di perjalanan menuju istana mereka. Rasa lelah yang terbayarkan dengan sentuhan lembut yang tak akan di lepaskan kembali oleh Satya. Malam berlalu begitu saja mengubur hari lelah kemarin dan menyongsong esok hari baru dengan cerita baru.


Cerita yang tak pernah di ketahui oleh siapapun selain pembuat cerita itu sendiri. Hingga saatnya tiba di mana akhir cerita yang juga masih belum terfikirkan bagaimana.


IKLAN


Bian: awas aja sampek elu bikin cerita gue ngegantung. Gue sendiri yang bakalan bikin elu gantung diri thor.


Prnulis: Iye iye cerita elu kagak gue gantung. Udeh,biar hati author aje yang di gantungin ama si onoh.


Bian: ngapa elu jaci curhat Thor?


Penulis: Kagak, cuma ngingetin aja. Kali dia baca.


Bian: kagak bakalan Thor, cerita elu itu bucin kelas akut, lah kelas dia fantasi.

__ADS_1


Penulis: iya makanya dia suka berfantasi ya? Hahaha udeh masih pagi ini,,,,


__ADS_2