
"Selamat ya beib, akhirnya dapet juga. gak lagi dah si Affandi NGANAN" Ucap Nadia kegirangan.
"Nganan? Maksudnya kak?"
"Pernah dulu si Affandi bulang ngiri dengan gue udh hamil terus di tanya. Emang lo udah berani pegang istri lo. Eh dia jawab belum, ya langsung gue bilang nganan aja gak usah ngiri kecebur empang entar." Nadia dan Vindya langsung tertawa lepas.
Setelah ketoprak ke tiga habis. Kini Vindya beralih ke es doger tak jauh dari tempat mereka duduk. Kali ini Vindya tak makan sendiri tapi Nadia ikut membeli es doger.
Sekitar 2 jam Affandi, Ahmad dan Ayu kembali ke kantin tempat Vindya dan Nadia menunggu. Affandi duduk di samping Vindya dan menyendokkan es di tangan Vindya ke mulutnya. Affandi yg mengambil alih gelas plastik berisi es warna pink itu menyuapi Vindya. Terlihat romantis memang, hanya Ayu yg melihat itu sebuah keharmonisan.
"Kak Vindya boleh minta cilok itu?" Vindya menunjuk kang cilok yg jaraknya lumayan jauh.
"Ya sudah kakak saja yg beliin. Vindya di sini dulu ya sama kak Ahmad dan Nadia." Ucap Affandi.
"Boleh gue ikut Fan? Gue juga mau." Sela Ayu sebelum Affandi berjalan
"Ayo dah." Ucap Affandi lalu berjalan menuju kang cilok.
__ADS_1
"Vindya banyak juga makannya ya?" Tanya Ayu.
"Gak juga, mungkin karena dia lagi isi makanya dia makannya lebih banyak. Gue malah seneng dia gak yg aneh aneh ngidamnya."Kata Affandi dengan wajah yg sangat bahagia.
"Maksud lo?" Ayu masih bertanya.
"Ya lo tau lah orang hamil yg identik dengan muntah muntah terus gak doyan ini gak doyan itu. Tapi selama ini Vindya gak ngalamin kaya gitu. Cuma kalo lagi peluk gue dia bisa langsung tidur seketika. Lucu kan?" Jelas Affandi dengan senyuman masih mengembang di bibir tipisnya.
"Masak sih dia bisa langsung tidur saat peluk elo." Ayu bertanya dengan senyum tak percaya.
"Kak Vindya capek, Vindya mau tidur." Langsung Vindya memeluk Affandi dan seketika itu juga Vindya langsung terlelap.
"Hah yg lo bilang bener Fan tu anak udah tidur aja." Ayu mengeluarkan suara.
"Iya semenjak ngidam gini dah dia."Ahmad yg belim tau hanya bisa melongo.
Ahmad sebenarnya menyadari kalo Ayu memiliki perasaan lebih untuk Affandi. Namun Ahmad tak mau memberi tau temannya itu. Ahmad tau kalo Affandi tak peka akan hal ini. Hanya saja Ahmad tak mengerti sampek Ayu tau kalo Vindya tengah hamil sebelum dia tau.
__ADS_1
kok dia baik baik aja ya? Apa Ayu gak ngerti kalo Vindya istrinya Affandi? Batin Ahmad.
"Fan bisa anterin gue pulang? Gue gak bawa mobil." Tanya Ayu.
"Vindya tidur gue mau pulang kasian Vindya nanti makin kecapek an terus mempengaruhi si jabang bayi lagi." Affandi lebih memilih mengantar istrinya.
"Ya gapapa nanti gue ikut lo dulu abis itu lo anterin gue." Ayu sedikit memaksa.
"Lo sama kita aja yu, Kasian Vindya juga." Kata Ahmad membuat Ayu semakin kesal.
Ayu dengan rasa kesalnya akhirnya ikut dengan Ahmad dan Nadia. Ayu jengkel karena Affandi lebih memilih mengantarkan Vindya.
Cemburu.
Ya itulah yg Ayu rasakan sekarang. Hatinya panas dan rasa sesak memenuhi dadanya. Ayu tak ingin berbagi dengan siapapun. Meskipun itu dengan adiknya sendiri.
Affandi hanya punya gue dan gak boleh ada seorang pun yg bisa membuat Affandi berpaling dari gue.Batin Ayu dengan rasa bercampur aduk.
__ADS_1