
Setelah semuanya pulang, kini tinggal Vano dan Nadin. Vano membantu nadin merapikan meja makan juga meja ruang keluarga setelah di acak acak oleh Vindya. Vano tersenyum mengingat kelakuan istrinya yg terus memeluknya sampai kakaknya pulang.
Vano mendekati Nadin yg nampak kelelahan. Vano memeluk Nadin dari belakang yg membuatnya terkejut.
"Vano lepasin gue, gue gak bisa ngapa ngapain ini." Kata Nadin yg sedang menyapu dapur.
"Gue mau lo ngerasain yg gue rasain tadi Nad." Vano mengeratkan pelukannya.
"Situasinya beda Van, Tadikan lo duduk doang nah gue sekarang mau nyapu sama ngepel, Susah jadinya. Janji deh selesai ini lo gue peluk lagi." Kata Nadin menggoda.
"Ya udah lo nyapu gue yg ngepel." Ucao Vano mengambil ember pengepelan.
Setelah selesai bersih bersih rumah dan waktu menunjukkan Jam 3 sore. Nadin berjalan menuju kamar untuk mandi. Vano mengikuti dari belakang.
"Lo mau ngapain Van?" Tanya Nadin kaget akan pelukan Vano dari belakang.
"Gue mau peluk lo lah."
"Van sekarang sudah ashar mending sholat dulu dari pada entar kehabisan waktu." Ucap Nadin membuat Vano melepas pelukannya.
__ADS_1
Vano dan Nadia menunaikan sholat ashar berjamaah setelah sebulan mereka sholat sendiri sendiri. Setelah sholat Vano berjalan ke arah ruang keluarga yg terdapat televisi. Vano menyalakan tv di depannya dan mencari acara kesukaannya.
Nadin duduk di samping Vano dan kembali memeluknya. Kini bukan cuma Nadin yg memeluk tapi juga Vano melingkarkan tangannya di perut Nadin dan yg satu mengusap ngusap kepala Nadin. Sesekali Vano mendaratkan ciuman di pelipis Nadin.
Tak lama Nadin tertidur di pelukan Vano. Vano menatab wajah damai dari istrinya dan terus meminta maaf padanya. Vano membiarkan Nadin tidur di pelukannya, yg selama sebulan tak melakukannya.
***
Di rumah Affandi.
"Kak, vindya gak sangka kalo Nadin sebucin itu. Terus Vano juga bodohnya gak ketulungan." kata Vindya saat menyajikan teh hangat untuk suaminya.
"Iya kasian juga sama Nadin kak, di ajak hidup susah terus sama Vano. Udah gitu di selingkuin pula. Nadin gadis yg baik kak, kalo Vano gak bisa pertahanin Nadin. Sumpah bodohnya dia keterlaluan. " Geram Vindya.
"Yang mama gak nanya macem macem kan tadi?" Tanya Affandi.
"Enggak kak cuma senyum senyum aja dari seoulangnya dari rumah Vano. Biarin mama sama papa gak tau dulu." jawab Vindya.
"Ehem sayang sudah magrib ayo masuk. Nanti kelewatan lagi sholat magrib." Affandi langsung menggendong Vindya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kakak turunin Vindya, Vindya sekarang berat lo." Kata Vindya yg langsung di turunin oleh Affandi.
"Oh iya sayang bulan lalu kayanya kamu gak datang bulan deh, bulan ini sudah belum?" Tanya Affandi.
"Belum deh kak kayaknya. Kenapa emangnya?" Tanya Vindya.
"Ga pa pa yuk solat." Ajak Affandi.
Ketika malam di apartemen Vano menjadi lebih hening. Setelah sholat Isya Nadin dan Vano makan malam tanpa begitu banyak percakapan. Selesai makan dan nonton tv sebentar Vano ke kamar mengambil bantal dan selimut untuk tidur di luar.
"Van, mulai malam ini tidur di kamar ya." Ucap Nadin membuat langkah Vano terhenti.
"Lo udah maafin gue?" Tanya Vano girang.
"Belum sih." Jawaban Nadin masih mengambang.
"Terus kenapa lo ngijinin gue tidur di kamar?" Tanya Vano.
"Gue gak mau entar malem malem kakak lo dateng terus liat lo tidur malah di potong burung mu." Kata Nadin menunduk.
__ADS_1
"Kalo gak mau di potong ya pegangin." Jawab Vano konyol, dan anehnya Nadin malah nganggukin kepala.