
Hari senin dan hari-hari berikutnya sudah sama seperti biasa. Hanya saya gadis resek yang selalu menentang Satya kini berubah menjadi gadis cantik pemilik lesung pipi yang manis.
Satya menjadi sedikit canggung duduk di sampingnya. Satya seperti kehilangan teman yang baru beberapa hari menghiasi hari-harinya. Satya membujuk Bian untuk datang ke rooftop sekolahan.
“Mau apa lagi mengajak gue ke sini Satya?” Tanya Bian dengan wajah yang sangat menyebalkan bagi Satya.
“Apa lu bahagia?” Pertanyaan yang sama ia lontarkan pada Ayumi.
“Itu sudah gak penting lagi sekarang Satya. Kebahagiaan gue bukanlah hal yang patut di pertanyakan,” jawab Bian dengan sedikit menantang ke arah Satya.
“Gua serius Zahra Fabian.” Satya terlihat sangat menakutkan ketika sudah mengatakan sebuah keseriusan.
“Kebahagiaan gua gak penting Satya, perlu berapa ratus kali gue harus bilang kalo kebahagiaan gue saat ini gak penting. Sudah lah,” ucap Bian melangkah pergi namun di tahan oleh Satya.
“Jangan pernah lu menyembunyikan air mata di bali kelopak mata lu. Gua gak suka,” ucap Satya yang kini dia lah yang meninggalkan Bian.
“Gak akan ada pengaruhnya Bian, Satya gak akan pernah bisa menyelamatkan elu.” Bian bermonolok dalam tangisannya setelah Satya hilang di balik pintu.
Sepergian Satya, Bian hanya duduk di atas gedung. Di temani dengan teriknya panas sinar matahari yang tiba-tiba turun hujan. Jam pelajaran yang sudah di mulai pun tak bisa membawa Bian untuk kembali ke dalam kelas.
Satya yang menghawatirkan gadis yang di bawanya ke atap sekolah belum balik ke kelas meski hujan turun sangat deras. Jam pelajaran berakhir, namun Bian masih belum juga kembali ke dalam kelas. Hujan yang turun semakin deras, Satya mencari Bian ke atas.
Satya menemukan Bian masih di posisi dia meninggalkannya. Bedanya hanya, tadi Bian berdiri namun kali ini dia telah terduduk dengan memeluk kedua lututnya.
“Lu begook apa bodooh sih?” Tanya Satya yang juga ikut hujan-hujanan.
“Tinggalin gue,” ucap Bian lemas.
“Gak akan,” Satya ikut berjongkok di depan Bian.
“Ck, terserah.” Bian masih setia dengan pelukannya pada kedua lutut yang di miliki.
“Dari pada lu meluk lutut lu, mending meluk gua.” Bian menatap Satya dengan senyuman kecilnya.
Satya memeluk Bian paksa. Meski terpaksa, Bian tetap membalas pelukan Satya sebagai seorang teman.
“Jangan pernah lu main ujan-ujanan lagi,” ucap Satya dengan masih memeluk Bian.
“Kalau gua gak masalah, kan gua cowok” Satya melepas pelukannya lalu mengajak Bian ke tempat yang teduh.
“Apa hubunganya?” Senyum Bian perlahan sudah mulai terbit, setelah hampir seminggu ini tenggelam menyembunyikan dimple yang di milikinya.
“Ya, ada lah. Coba lu liat, baju elu putih dan daleman elu item. Sumpah itu nyerang sikis gua. Lu emang gak pernah mikirin adek gua ya,” ucap Satya membuka jaket yang di kenakannya.
“Makasih ya, gue kira elu sudah gak bereaksi lagi.” Goda Bian malu-malu.
“Gua cowok normal, sial!! sudah pulang yuk, gua anterin. Dan lagi, mulai hari ini gua yang akan jadi guru privat elu.” Satya mengacak rambut basah Bian.
“Bukan masalah normal atau enggaknya Sat, tapi ‘kan gue sudah gak perawan lagi,” ucap Bian menundukkan kepala.
“Jangan pernah menganggap rendah diri elu, lupakan kejadian itu. Dan sekarang lu harus membuka lembaran yang baru dengan diri elu sebelum kejadian. Intinya jangan pernah berubah meski elu sudah gak di segel lagi,” ucapan Satya kini mendapat pukulan dari Bian gadis yang telah meluluh lantakan hatinya.
Sepertinya, lagu dari ST12 lagi nyerang ke gua. Satu jam bisa membuatku catuh cinta dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melupakannya. Batin Satya yang tersenyum berjalan di belakang Bian.
Perjalanan Bian dan Satya terhenti karena di hadang oleh seorang yang sangat posesif terhadap miliknya. Pandu sudah berada di lorong dekat pintu kelas Bian dan Satya, menunggu tunangannya.
“Pecundang, kenapa gak pernah bisa untuk enggak mengincar apa yang menjadi milikku?” Tanya Pandu dengan mendorong Satya kebelakang.
“Jaga sikapmu!” bentak Bian yang membuat Pandu sedikit kaget dan takut akan wanitanya berubah.
“Ayo pulang,” ajak Pandu pada wanitanya.
“Pulang lah, nanti gua ke rumahmu. Inget cuci jaket gua, udah seminggu itu jaket gua pakai.” Satya mengacak rambut yang hampir kering itu.
“Jorok sekali sih lu.” Bian memukul lengan satya dan pergi meninggalkan di lorong sendirian.
__ADS_1
“Ati-ati,” Pesan Satya.
Di tegah perjalanan Satya masih terbayang dengan penampilan Bian terakhir kali. Menggoda dalam ingatan dan bermain dalam kepala Satya.
“Sial, wanita macam apa dia selalu mengganggu gua meski hanya sebuah bayangan,” ucap Satya yang menepikan mbilnya di bahu jalan yang lumayan sepi.
“Bagaimana gua harus menahan diri jika terus terbayang seperti in? Dan kenapa juga gua bisa menjadi orang yang mesum seperti ini.” Kesal Satya pada dirinya sendiri.
Kembali Satya melajukan mobilnya menuju rumahnya. Di rumah, Satya di sambut oleh Bundanya yang tengah asik mengobrol dengan Ayumi. Gadis cantik dengan rambut bergelombang ternyata sengaja menunggu Satya pulang untuk mengajaknya ke supermarket untuk berbelanja.
“Gua ganti baju dulu ya, tunggu di sini.” Satya meninggalkan Ayumi dan Bundanya yang sudah bersiap di teras.
“Jangan lama-lama ya sayang,” ucap Vindya yang di angguki oleh Satya.
Setelah mengganti seragam sekolah dengan baju santai. Satya menghampiri kedua wanita yang tegah menungguinya di teras sedari tadi.
“Ayok berangkat Bun,” ucap Satya membukakan pintu sampinya untuk Bundanya.
Tapi Bundanya mendorong Ayumi untuk duduk di samping putranya mengemudi. Vindya memilih duduk di belakang. Memperhatikan kedua remaja yang di yakini memiliki hubungan lebih ini.
Mobil Satya membawa mereka bertiga ke sebuah supermarket besar yang menyediakan hapir semua kebutuhan tersedia dalam satu tempat dengan beberapa lantai tersebut.
“Bunda, Alwa mau parkir dulu,” ucap Satya saat menurunkan Bundanya dan juga Ayumi di depan supermarket.
Di parkiran Satya bertemu dengan Bian dan juga mamanya yang juga mau berbelanja. Dengan santai Satya mendekati kedua wanita yang di kenalinya.
“Selamat sore tante,” sapa Satya sopan.
“Hei, kamu ke sini juga, sama siapa?” Tanya Risma mama dari Bian.
“Sama Bunda tante,”
“benarkah?” Tanya Risma memastikan.
Bian dan Satya mempesilahkan mamanya berjalan di depan mereka. Bian dan Satya seperti sangat menikmati pertemuan singakt mereka. Sebelum kembali pada Bunda dan juga Ayumi yang menunggu di pintu masuk supermarket.
“Oh, Bundanya nak Satya. Kita ketemu di sini, kemarin kita gak sempet kenalan ya Bunda.” Sapa Risma mama dari Bian.
“Oh iya mamanya Bian, saya Vindya Bundanya Alwa. Mamanya Bian mau belanja juga?” Tanya Vindya mencoba akrab dengan istri dari teman sang suami.
“Iya, ini mau belanja. Giaman kalau belanja barengan?” Ajak Risma yang membalah keramahan Vindya.
“Boleh lah, ayuk nak Bian. Oh iya, kenalin ini Ayumi calonnya Alwa,” ucapan Vindya membuat Satya dan juga Bian sepertei kaget dan canggung seketika. Sedangkan Ayumi merasa ini adalah kesempatan yang harus di manfaatkan dengan lebih baik.
“Benarkah? Cantik banget ya,” ucap mama Bian.
Sejak saat ini mama Bian dan juga Vindya sudah mengakrabkan diri satu sama lain. Bian terlihat tidak semangat seperti biasanya, Satya melihat perubahan itu pun berusaha untuk menghibursang teman.
Bukannya terhibur, suasana menjadi tiba - tiba canggung. Bian terlihat lebih menghindari Satya, dan Ayumi terlihat lebih mencoba mendekatkan diri pada sang lelaki. Wajah tampan dan juga tinggi badan yang di miliki Satya membuat banyak cewek jatuh hati.
Berwajah jutek, pemilik senyum sinis dan juga berhati dingin membuat para kaum hawa penasaran. Tak sedikit yang berusaha mendekati pemudah yang pemilik julukan anak Bunda ini.
“Bunda, nanti Alwa mau tanding dengan Pandu lagi. Bunda doain Alwa ya,” ucap satya meminta restu pada Bundanya.
“Kamu pasti menang lagi kali ini Nak. Bunda selalu mendoakan kemenanganmu, jangan pernah membuat Buanda kecewa.” Vindya menurunkan belanjaannya dari mobil Satya.
“Satya, boleh aku ikut kamu?” Tanya Ayumi sengan malu-malu.
Satya hanya menganggukkan kepalanya dan kembali membantu Bundanya memasukkan barang-barang belanjaannya. Satya terlihat sedang bersiap, sedangkan Ayumi membantu Vindya untuk masak di dapur. Affandi datang langsung mencari Satya ke dalam kamar.
“Tumben Ayah ke kamar Alwa? Ada apa Yah?” Tanya Satya penasaran.
“Alwa, Ayah mau tanya. Kapan kamu akan bergabung dengan Ayah untuk mengurus perusahaan Opa atau gabung dengan Ayah ngurus cafe?” Tanya Affandi yang membuat Satya tidak nyaman.
“Nanti dulu lah Yah,” ucap Satya sedikit keberatan dengan permintaan sang Ayah.
__ADS_1
”Nantinya itu kapan nak? Ayah sudah gak kuat lagi untuk kerja di dua tempat sekaligus.” kali ini Ayah Satya terlihat sangat serius.
“Ayah, Kasih Alwa buat balapan lagi apa enggak kalau Alwa sudah kerja bareng Ayah?” pertanyaan yang membuat Affandi tersenyum bahagia.
“Jelas masih lah nak, Balapan tu hobimu, kesenanganmu. Ayah gak berhak melarangmu akan itu semua.” Jawab Affandi.
“Ya sudah kalau begitu, kapanpun Ayah mengajak Alwa kerja. Alwa sudah siap insayaalla,” ucapan Satya di sambut baik oleh Ayahnya.
“Baiklah kalau belitu nak.” Affandi meninggalkan Satya yang juga sudah bersiap dirin untuk keluar rumah.
“Ayumi sudah siap? Ayok kita berangkat,” ajak Satya pada gadis yang tengah membatu Bundanya untuk memasak.
“Sekarang?” Tanya Ayumi agu-ragu.
“Iya, kayaknya mau ke basecamp dulu buat ngumpul bentar sebelum tanding.” Satya sudah mencium tangan Buandanya dan Ayahnya bergantian.
“Ya sudah ayuk, Bunda, ayah. Ayumi berangkat ya,” ucap Ayumi sopan.
“Hati-hati untuk kalian berdua.” Vindya menaseti putra dan gadisnya.
Satya dan Ayumi sudah berangkat ke basecamp yang tak jauh dari tempat balapan yang sering di gunakan oleh Satya dan Pandu bertanding. Di sana sudah ada beberapa orang yang berkumpul. Satya mendekati mereka dengan beberapa kantung plastik makanan yang dibelinya sebelum sampai ke basecamp.
“Widiiiihhh bawa cewek ini mas bro,” ucap salah satu teman Satya yang paling suka mengotak atik mesin mobil Satya.
“Mau tanding gua, lu stel dah ini my lucky,” perintah SAtya degan melemparkan beberapa uang lembar di meja.
“Siap,” lelaki itu menegrjakan apa yang diminta satya setelah mengambil uang yang di lempar satya ke meja.
Sambil menunggu mobilnya di kerjain oleh Rifki, Satya menunggunya di ruangan atas yang tersedia kamar untunya tidur. Sejenak Satya melupakan jika dia membawa Ayumi.
Segera Satya mencari keberadaan Ayumi yang kini sedang menerima telfon dari seseorang di samping basecamp. Samar-samar Satya mendengar percakapan Ayumi dengan orang tersebut membahas tentang balapan yang akan berlangsung tiga jam lagi.
Apa yang sedang Ayumi rencanakan sebenarnya? Kenapa juga gua bisa percaya orang yang pernah berada di sisi Pandu? Batin Satya sangat terluka dan kecewa dengan apa yang di dengar langsung dari mulut gadis manis yang di akui Bundanya sebagai calonnya itu.
Satya meninggalkan Ayumi yang tengah asik mengobrol dengan seseorang. Terluka? Mungkin tidak, tapi yang jelas Satya sangat kecewa. Satya menghubungi Bian apa dia juga terlibat dalam rencaraAyumi dengan seseorang itu.
“Gue gak tau apa-apa Sat, sekarang lu ada di mana?” Tanya Bian yang mengetahui kekecewaan sang teman.
“Gua di basecamp, lu datang aja di tempat kemaren. Naik taksi aja pulangnya gua yang anterin,” ucap Satya dalam sambungan teleponya.
“Ya sudah gue siap-siap dulu.” Bian rupanya tidak bisa lepsa dari lelaki yang beberapa hari ini di hindarinya.
Tepat jam setengah sebelas, Satya dan juga Ayumi sampai di lokasi balapan. Terlihat Pandu juga baru datang bersama dengan Bian.
Sial, kenapa bisa Bian datang bersama Pandu? Akankah dia kini tengah di permainkan oleh kedua gadis yang sangat di percayanya.
Tak habis fikir, Satya hanya menggeleng-geleng kecewa dengan kedua wanita munafik yang hadir dalam hidupnya. Satya langsung masuk ke dalam mobilnya dan mengunci semua pintu kendaraannya.
Ayumi yang berusaha masukpun tidak bisa karena sudah kalah cepat dengan Satya yang mengunci pintunya.
Balapan sudah di mulai. Dengan mempertaruhkan mobil masing-masing, Satya terlihat sangat kecewa. Dan juga tak ada keraguan di dalam wajahnya jika harus kehilangan mobilnya. Satya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti biasa.
Mobil Pandu tak kalah cepat dari mobil Satya yang sudah di otak-atik oleh Rifki. Meski selama pertandingan Pandu terus mengejar Satya, Namun kemenangan mutlak masih di pegang oleh Satya.
“Kemenangan ini gua dedikasikan buat kedua wanita munafik dalam hidup gua!! makasih, kalian sudah pernah hadir, dan membuka mata gua. Pandu, kirim mobil lu ini ke rumah gua besok. Dan ini adalah Balapan terakhir buat gua,” ucap satya dengan melihat ke arah Bian yang terus di gandeng oleh Pandu.
Satya masuk kedalam mobinya dan melajukan dengan kecepatan standard. Satya meninggalkan Ayumi yang tengah menunggunya di barisan penonton dengan perasaan yang tak karuan. Ayumi mendekati salah satu anak buah dari Pandu untuk memberi sebuah kertas.
Bian merasa tidak enak dengan Satya, memilih untuk pulang sendiri menggunakan taksi. Jam setengah dua malam, Ayumi tiba di apartemen Ayahnya Satya dengan seorang laki-laki yang tak asing lagi baginya.
“Seperti ini ternyata kelakuan gadis cantik,”
__ADS_1