Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Arief sakit


__ADS_3

Setelah kepergian kakak iparnya ke Jerman untuk melanjutkan kuliah. Vano memutuskan untuk masuk sekolah di mana kakaknya sekolah. Vano memang mendapat mandat langsung dari sang kakak ipar untuk menjaga Vindya selaku kakanya di sekolah.


Vano mendaftar di sekolahan Vindya bareng dengan Nadin. Cewek yg kini menjadi pacarnya itu terlihat sangat perhatian.


"Cie cie.... jadian juga lo Van." Goda Vindya yg membuat pipi Nadin memerah.


"Diem lo Vind gua tabok cantik lo nanti." Celetuk Vano saat mengambil lembar formulir di meja Vindya.


"Lah emang gua cantik kali Van... Nad jangan iri ya.... Vano itu sebenernya sayang banget sama gue cuma dia malu nunjukin makanya dia tunjukin dengan membully gue." Kata Vindya yg di denger oleh Arief.


"Vind... nanti nongkrong yu.... bareng Lili sama Ayu juga Ridge juga." Ajak Arief.


"Siap. tapi traktir gue ya.... kiriman belum cair."


" Gak usah hawatir bareng gue lo gak bakalan kekurangan." Ucao Arief.


"Gue duluan ya Vind Ati ati lo." Kata Vano setelah mengisi formulir pendaftaran.

__ADS_1


"Iya bawel." Sungut Vindya.


"Macem macem gue laporin lo ke Affandi." Ancam Vano.


"Ceeh lo tu ya udh broh aja sama kak Fandi." Kata Vindya yg di tinggal oleh Vano.


Arief yg sedari tadi berada di samping Vindya, merasa penasaran ada hubungan apa antara Vindya, Vano dan Affandi.


"Rief... lo nggak laper apa ya....??? Ayo makan nanti lo sakit lagi... kan guenya yg repot." Kata Vindya sedikit merengek.


"Iya gue makan kok tapi gue makan roti aja ya.... lagi gak napsu makan gue." Ucap Areif sambil membuka bungkusan roti yg di ambilnya.


"Gila... badan lo panas Rief.... kenapa lo masih maksain masik sih....??? Ke UKS yuk." Ajak Vindya yg mulai panik.


"Gue gak pa pa Vind.... mending gue ijin pulang aja dari pada ke UKS. takut gue." Kata Arief yg langsung di bantu Vindya saat mau berjalan.


" Lo bisa nyetir sendiri....???? Ah gue anterin aja lo..." Ucap Vindya yg langsung mengambil alih kemudi dan mendudukkan Arief di kursi penumpang samping Vindya.

__ADS_1


Dengan arahan dari Arief, akhirnya Vindya sampai di tempat tinggal Arief. Sebuah apartement di lantai 3 yg sepertinya di tinggalinya sendiri.


"Lo tinggal sendiri Rief...?" Tanya Vindya sambil berjalan menuju dapur mengambil air minum.


"Iya Vin.... mama sama papa tinggal di Bali. gue kesono kalo liburan." Terangnya.


"Ya sudah gue tungguin lo sampek turun panas lo." Ucap Vindya membuat senyum Arief mengembang.


Arief tidur di dalam kamar dengan Vindya yg berdiam di depan tv sesekali ke kamar Arief untuk mengecek kompresan di kepala Arief.


Vindya melirik jam yg menempel cantik di dinding menunjuk pada angka 9 malam. Namun Arief masih belum bangun dan Vindya memutuskan untuk menungguinya sebentar lagi.


Arief merasa ada sesuatu yg dingin menempel di keningnya, berusaha membuka mata. Setelah melihat handuk yg menempel dan masih basak itu Arif langsung teringat akan Vindya. Arief langsung berlari mencari Vindya. Arief mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan menemukan sesosok perempuan tertidur di sofa.


Perlahan Arief mendekati Vindya yg tertidur di depan tv yg masih menyalah. Arief berjongkok di depan Vindya tertidur. Arief memperhatikan Vindya lebih dalam.


"Matamu bagus Vin meski bisa di bilang sipit meski gak terlalu. Dengan bulu mata lentik bola mata warna coklat. Hidung mungil bibir tipis. Wajah mu cantik Vin kecil, imut gue suka. tapi sayang Vind lo gak perlah lihat gue." Gumam Arief menatap lekat wajah Vindya sambil menyibakkan rambut Vindya yg menutupi wajahnya.

__ADS_1


Perlahan dan hati hati, Arief mencium kening Vindya sedikit lebih lama. Arief tersenyum puas saat Vindya hanya menggeliat tanpa membuka mata.


Arief kembali ke kamarnya mengambil bantal dan selimut untuk Vindya. setelat menyelimuti Vindya Arief kembali mencium kening Vindya lalu meninggalkannya.


__ADS_2