
Cerita cinta gak selalu berakhir dengan kebahagiaan, seperti cerita cintaku. Aku yang di hianati oleh sahabat sendiri, dan juga di tikung dari dekat. Ingin marah, tapi pada siap? Gak ada hak aku untuk marah kepada takdir dan juga waktu.
Hingga aku sangat berterimakasih pada waktu dan juga takdir. Terima kasih telah mempertemukan gadis bar bar yang saat ini tengah tidur di pelukanku. Tak ada yang tau rahasia Ilahi, hanya berharap yang terbaik saja saat ini.
“Bang, Adek pengen makan nasi goreng,” ucap Bian mengagetkan Satya.
Tak ada kata lagi, Satya langsung bangun di tengah malam dan membuatkan istrinya nasi goreng. Entah mengapa hal itu membuat Satya sangat bahagia. Bukan karena ngidam atau bawaan bayi, tapi karena Satya merasa bisa melayani istrinya yang lagi ngambek padanya tentang Arkan.
Banyak kata yang terucap ketika menikmati nasi goreng buatan sang suami. Namu lelaki yang membuatnya hanya tersenyum memandang ke arah gadis yang tengah lahap menyantap nasi goreng.
“Abang, kenapa lihatin Adek gitu sih?” Tanya Bian masih dengan sendokan nasi goreng yang menuju mulutnya.
“Abang kangen, dek” Satya tersenyum dengan terus memandang gadisnya.
“Tapi Adek baru mulai Bang, Sabar ya,” ujar Bian sambil mencium tangan suaminya.
“Selalu sabar menantimu,” Bian tersipu malu dengan apa yang di ucapkan sang suami.
Setelah makan nasi goreng, Bian dan juga Satya kembali tidur melanjutkan mengarungi mimpi yang sempat terhenti sejenak karena perut berbunyi.
Pagi menyapa dan Bian sudah siap dengan baju resminya untuk menghadiri acara tiga bulanan kandungan Nadin yang di adakan pagi pagi sekali.
Dengan mengenakan gamis setelan dengan Bunda mertuanya. Membuat Bian terlihat seperti putri kandung Vindya. Satya dan Ayahnya mengenakan batik yang sudah di belikan oleh istri masing masing.
“Bunda, Bian mau semobil sama Bunda aja.” Bian menggandeng lengan sang mertua dengan erat.
“Ya sudah kita bawa satu mobil aja,” Affandi mengambil keputusan.
Kedua pasang suami istri beda generasi pun berangkat bersama ke rumah Vano. Di rumah yang sudah ramai dengan tamu tamu undangan dari pemilik hajatan.
“Biaaaaannnn, Oma kangen. Kenapa kalian gak pernah main ke rumah Oma sama Opa?” Tanya Agnes yang menyambut anak dan cucu menantunya.
“Bian sama Satya , masih sibuk kuliah Oma. Minggu deh Bian sama Satya main ke sana,” ucap Bian sopan.
“Nginep ya,” Oma Agnes yang selalu kesepian karena tak ada satu anak pun yang mau tinggal di rumahnya.
Kadang Agnes berfikir, apa rumah yang di milikinya itu kurang nyaman atau kurang besar untuk di tinggali mereka bertiga dan di tambah dengan Satya.
“Ya minggu Vindya juga pulang ma, Mama harus siapin semua makanan kesukaan Vindya,” ucap manja dari Bunda mertuanya pun membuat Bian tersenyum geli.
Rupanya sang mertua bisa juga manja pada orang tuannya. Rambut memutih yang di miliki Agnes rupanya tak mau melepaskan kecantikannya. Memang, Agnes selalu menjaga ke segaran kulit yang mulai menunjukkan lipatannya.
__ADS_1
“Kalian semua harus menginap!!” seru Agnes yang tak mau ada bantahan dari anak dan cucu menantunya.
“Iye iye,” Jawab Vindya sambil berlalu meninggalkan Mamanya yang menjadi penerima tamu di acara putra bungsunya.
Acara berjalan lancar dengan di akhiri makan bersama. Nurul datang karena selain teman dari Satya dari SD, dia juga tetangga samping rumah Nadin.
Kehadiran Nurul membuat Bian merasa tak mati kebosanan. Keluarga Bian darii sang Bunda hampir semua hadir, di tambah dengan kehadiran keluarga besar dari Ayahnya.
Bian dengan malu malu menemani kakek Biantara dari pihak Ayahnya. Kakek Biantara rupanya sangat pendiam, dan itu membuat Bian canggung. Sesekali Bian hanya tersenyum dan mengangguk ketika sang kakek melihat ke arahnya.
“Kakek, Kakek jangan diem aja. Istri Satya bisa mati ketakutan nanti,” Satya mengomel pada kakeknya yang masih duduk di samping Bian namun tak mengeluarkan sepatah kata pun pada cucu menantunya.
“Pinter kamu milih istri,” Ucap lelaki tua yang sudah tidak di dampingi sang istri.
“Kakek baru tau kalo Bian ini mengalahkan Almarhum Nenek Dita?” Goda Satya yang kembali mengingatkan nenek yang sudah meninggal karena sakit kencing manis yang di derita selama setahun.
“Nenekmu itu gak ada duanya Satya, kesetiaannya gak bisa di ragukan lagi. Beliau setia mendampingi kakek dalam keadaan apapun. Dalam keadaan terjatuh pun, Nenek Dita selalu memberikan senyuman termanisnya.” Kenang Kakek Biantara semasa sulit yang di jalaninya dulu bersama mendiang istrinya.
“Percaya, kalau beliau bukan orang hebat. Gak mungkin kakek akan tahan menduda. Sepuluh tahun, bukanlah waktu yang sangat sebentar kek. Satya saja gak ketemu istri dua jam udah kangen,” ucap Satya sambil melirik istrinya yang malu malu.
“Hahaha, kakek sudah tua Satya. Nenek Dita meninggalka Kakek dengan menitipkan kamu dan papamu. Kelak kalian berdua jangan sampai menderita seperti kakek sama nenek dulu,” Satya pun terharu dan berjanji akan lebih giat lagi bekerja.
Agnes dan juga Sofyan pamit untuk pulang bersama rombongan yang lainnya. Biantara rupanya memilih untuk ikut bersama putra semata wayangnya pulang. Bersama dengan Bian dan Vindya duduk di bangku belakang, Satya merasa canggung.
“Bener itu Pa, mending Papa tinggal di sini saja bareng sama kami,” Timpal Affandi yang juga kasian melihat nasip papanya yang hidup sendiri di rumah besarnya.
“Kasihan rumahnya Fan, kalau harus di biarkan kosong.” Jawab Biantara yang merasa kasian pada bangunan tua berlantai dua yang di tinggali selama ini.
“Mending rumah itu di tempati Alwa sama Bian aja Pa. Biar mereka lebih mandiri, dan Papa tinggal di sini biar ada yang jagain papa.” Usul Affandi yang di setujui oleh lelaki tua yang di panggi papa itu.
“Berasa di usir deh Bun. Gak ada usulan yang lebih menarik gitu?” Tanya Satya dengan waja sendunya.
“Bukan ngusir. Tapi memang kalian harus pernah merasakan hidup benar benar berdua tanpa bantuan dari orang tua. Dulu Ayah juga gitu, Bahkan Ayah dari baru menikah sudah pindah ke rumah ini.” Affandi membandingkan dirinya dulu dengan Satya sekarang.
“Ya sudah deh kalau memang Ayah maunya begitu,” ucap Satya dengan masih dengan ekspresi tak sukanya.
“Kalian harus bisa menunjukkan pada Ayah sama Bunda. Bunda Yakin kalian pasti Bisa menjalani hidup berdua. Dan inget, ini bisa kalian jadikan sebagai bulan madu kalian.” Bisik Vindya di akhir kalimatnya.
“Hmmm,”
Satya dan juga Bian pergi ke kamar untuk mengganti bajunya dengan yang lebih santai. Satya mengenakan kaos merah bergabar yang di padukan dengan celana pendek.
__ADS_1
Sedangkan Bian mengenakan baju berbahan satin warna navi bermodel kemeja namun panjang selutut. Dengan mengenakan ikat punggang kecil beupa rantai melilit di perut. Penampilan Bian sangat memukau, apa lagi rambut yang di tata ke atas seperti ini.
Rambut tebalnya yang di gulung gulung ke atas pun menambah keanggunan pada diri Bian.
“Mau kemana?” Tanya Satya yang melihat istrinya sudah rapi dan cantik.
“Mau nongkrong aja sama anak anak,” jawab santai seorang Bian.
Tanpa banyak kata lagi, Satya sudah menarik Bian kembali ke dalam kamar. Setelah selesai Satya mendorong Bian untuk keluar kamar.
“Kenapa ini kalian dorong dorongan?” Tanya Vindya yang melihat kelakuan dua anak kecil di rumahnya.
“Dia mau nongkrong malah ngambek Bun,” Jawab Satya dengan santainya.
“Gimana gak ngambek Bun. Tadi itu Bian udah dandan cantik cantik tapi malah si gantiin pakek daster kayak gini. Berasa jadi mbok ijah aja Bian Bunda,” Adu Bian atas kejengkelannya dengan masih memanyunkan bibirnya.
“Hahaha, yaampuuunnnn kalian ini ada ada saja.” Vindya malah tertawa dan mengundang Suami juga mertuannya.
“Ada apa ini Bunda?” Tanya Affandi.
“Lihat menantumu di dandani kayak gini gara gara mau nongkrong sama teman temannya.” jelas Vindya dengan masih tertawa ke arah Bian dan Satya.
“Alwa… Alwa…. kamu kan bisa tinggal ikut aja, kenapa jadi kaya anak kecil gini sih?” Affandi menasehati kebodohan putranya.
“Tapi Alwa capek Ayah, pengen di rumah aja. Lagian mantu Ayah ini gak ada tombol on off nya apa ya, gak punya capek. Alwa jadi curuga kalau Bian ini batrenya pakek accu.” Cibir Satya tak suka.
“Kalo kamu gak suka itu kan tinggal bilang. Bian gak akan berangkat, gitu aja kok di bikin ribet sih.” Bian kembali kekamar dan meletakkan tas dan juga mencuci mukanya sebelum tidut.
Satya masuk ke dalam kamar dan mendapati Bian sudah tidur dengan masih menggunakan daster pilihannya. Satya mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.
“Maafin Abang ya sayang. Abang gak mau kamu pergi dengan mempercantik diri tanpa ada Abang di sampingmu. Abang gak suka ada yang melihat kecantikanmu selain abang,” Bisik Bian di telinga sang istri yang sudah tertidur pulas.
“Istrimu mana anak muda?” Tanya Biantara pada cucunya.
“Lagi tidur akibat ngambek kakek tua,” jawab malas Satya duduk di samping kakeknya.
“Ya sudah, buat memperbaiki hubungan. Lebih baik besik atau hari ini deh kalian menempati rumah kakek. Lebih cepat lebih baik,” Bisik kakek tua di sampingnya.
“Ah kakek nakal juga rupannya,”
Satya menerima usulan sang kakek dengan berpindah rumah hari ini juga. Satya merapikan beberapa bajunya dan juga milik istrinya dalam satu koper. Dan koper lain untuk mengisi buku buku milik keduannya.
__ADS_1
Setelah Bian bangun, semuanya sudah siap dan rapi di dalam koper. Satya mengatakan apa yang di usulkan kakek dari pihak papanya. Bian menyetujui karena memang dirinya juga kepingin memulai semua dari awal dengan Satya.
Setelah pamitan, Bian dan Satya berangkat ke rumah berlantai dua yang jaraknya tak jauh dari perusahaan sang Ayah. Jarak yang semakin jauh dari kampus mereka, atau dari mall A di mana cafe Satya kerja.