
Hujan gerimis sudah menyapa hari senin para siswa SMA Fariz dan Wina. Jadwal yang seharusya di isi dengan upacara bendera, kini berganti dengan jam kosong. Faris dan Yohanes juga Rojali, kini tengah duduk di bangku kosong di samping kelas mereka.
Obrolan santai mereka membuat Fariz seakan melupakan seorang Mentari. Sosok baru saja seminggu yang lalu meninggalkan dirinya. Gadis yang masih memenuhi ruang hampa di dalam hatinya.
Seminggu kepergian Fariz yang tak merubah dirinya menjadi yang di inginkan WIna. Hatinya masih saja bercabang pada gadis yang sudah meninggalkan semuanya. Wina rupanya masih belum bisa memenangkan hatinya setelah Fariz mengukuhkan hati untuk sang istri yang sudah meninggal.
“Aku akan bertahan meski kau hanya menganggapku sebagai pelarianmu saja.” itulah kata yang sering kali di ucapkan oleh Wina sebagai istrinya.
“Riz, ngelamun aja kamu, ada apa?” Rojali yang datang dengan membawa beberapa bungkus makanan ringan.
Rupanya kedua temannya itu meninggalkan dirinya di saat Fariz tengah melamunkan WIna.
“Bingung aku tu,” berasa menjadi cowok lemah, Fariz menceritakan apa yang di rasakan saat ini pada kedua sahabatnya.
“Kamu itu gila, bukannya dulu kamu yang mengejar ngejar Wina? Tapi kenapa kamu malah seperti ini?” geram Rojali.
“Gak tau, tolong bantu aku buat balikin rasa yang dulu.”
Yohanes memukul kepala Fariz karena merasa jengkel.
“Yang bisa balikin itu ya kamu sendiri,”
“Sakit, yo,” Fariz balik menoyor kepala Yohanes.
“Kalian ini jangan berkelahi kenapa? Ini tadi aku di kasi sama mbak kantin, katanya buat kalian berdua,” Rojali menyodorkan sekantong plastik cemilan.
Tanpa rasa ragu, Yohanes langsung mengambil jajan yang ada di dalam kresek. Lain halnya dengan Yohanes, Fariz dan Rojali lebih memilih untuk mengambil minuman dingin di dalam kresek. Ketiga orang itu asik kembali dengan perbincangan ringan mereka.
“Hey kalian, apa kalian sudah ngerasa pinter ya makanya bel sudah berbunyi dari tadi tapi masih asik asik di sini?” tanya seorang yang mereka kenal degan Rival abadi Fariz.
“Sabar sayang, nanti aku akan main kerumah kamu.” goda Yohanes ketika melihat pujaan hatinya.
“Plis jangan gila, jangan terlalu kalau ngehalu. Nilai elu aja jauh di bawah gue, emang lu mau bodoh selamanya? Kalo gue sih ogah ya punya anak bodoh kayak bapaknya,” ucapan geram Imey yang membuat Yohanes senyum senyum sendiri.
“Yo, kamu gila ya? Masak baru di omelin gitu udah gila sih?” Rojali menempelkan punggung tangannya di kepala temannya itu lalu menempelkan di pantatnya.
“Ah, aku tak gila. Aku masih waras,” Yohanes menepis tangan Rojal, namun tak berhenti tersenyum.
“Iya gak gila tapi sedeng, udah ayok masuk ke kelas,” pungkas Fariz yang juga merasa geli dengan tingkah Yohanes teman sebangkunya.
Ketiga orang itu masuk ke dalam kelas yang sudah ada guru Matematika di dalam. Fariz dan Yohanes merasa ada yang aneh karena guru itu sangat tumben tidak memarahi muridnya yang masuk kbelakangan.
Jam pelajaran Matematika pun sudah berakhir saat bell istirahat berbunyi. Fariz dan kedua temannya pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah memanggil manggil.
Ketika ketinganya berjalan di lorong kelas. Satu persatu sudah di tunggu oleh gandenga masing masing. Kini hanya tinggal Yohanes yang tengah mengutuki kejombloannya.
“Tuhaaaannnn apa engkau lupa menciptakan harim buat ane?” tangan menengadah dengan ucapan yang tak sesuai dengan mata sipit. Kulit putih terkesan kenyal seperti pangsit rebus.
“Gak usah banyak ngoceh, ayo cepat ke kantin gue laper.” dengan nada lembut namun menyakitkan kuping, Imey menjinjing kerah belakang Yohanes.
Yohanes tersenyum lebar dari pada merasa malu sudah di tinting seperti anak kucing. Imey itu memang selalu memberikan kejutan yang tak terduga pada Yohanes.
Selalu menolak cintanya tapi selalu mendekat tapi tak jarang juga dirinya menjauh tanpa sebeb. Yohanes mengetahui itu dan hanya mampu mengikuti saja permainan Imay. Gadis sintal nan molek menawan ituselalu menunjukkan sifat yang berbeda dengan omongannya.
Terkadang omogannya itu membikin sakit hati, tapi kadang entah di sengaja atau tidak malah membuat Yohanes bertahan. Perlakuan yang selalu bertolak belakang dengan ucapannya beberapa kali di tunjukkan pada Yohanes.
“Aku gak jomblo guys,” teriak Yohanes yang membuat Imey merasa malu.
__ADS_1
Rojali dan Fariz tertawa dengan sifat teman yang satu ini. Selalu saja tidak pernah kapok. Meski penolakan selalu di terimannya.
“Kalau memang kamu gak jombl lagi, tunjukin ke kita brow,” itulah teriakan Fariz yang membuat Wina geleng geleng kepala.
“Ok,” Yohanes menerima tantangan teman sebangkunya.
“Imey cantik, maukah kau menjadi pacarku?” kata Yohanes dengan menekuk kakinya selayaknya di film film india.
“Gue gak mau punya suami bodoh, Yohanes!” kata penolakan dari Imey kembali di lontarkan untuk Yohanes.
“Hahahaha itu artinya apa Jal?” kata Fariz yang girang mendengar kenolakan itu.
“MASIIIIHHHHH JOMBLOOOOO!!!” Rojali dan Fariz tertawa lepas setelah mengatakan itu secara paduan suara.
“Imey, sebenernya kamu itu nyari yang seperti apa sih?” tanya Wina ketika Imey duduk di sampingnya.
“Aku maunya dia ngajak aku nikah, bukan di ajak pacaran gak jelas kayak gitu,” Bisik Imey tepat di telinga Wina yang saat ini sudah tertawa.
“Hahaha, jadi itu yang kamu mau. Lah sebenarnya kamu itu suka dengan Yohanes?” Tanya Wina balik membisik Imey.
Gadis keturunan tionghoa itu hanya mengangguk pelan.
“Hahahaha, Yohanes emang gak peka!!! begggoooooooooo emang elu ya Yo, dia itu minta di nikahi bukan di ajak pacaran terus putus. Bener gak Mey?” dengan cepat Imey menganggung.
“yaaaa, untung tu kode gak ke blokir gara gara salah lebih dari tiga kali.” celetuk Fariz yang merasa puas membully si raja bully.
“Itu maumu? Ya ayok kalo gitu.” ajak Yohanes yang membuat teman temannya tertawa.
Rojali yang menjadi seekor kucing di hadapan Arin pun hanya tersenyum menahan diri. Sebenarnya gadis kembar buncing itu tak pernah melarang kekasih nya untuk melakukan hal hal konyol seperti Fariz atau Yohanes, hanya saja Rojali selalu menjaga wibawanya di hadapan Arin.
Arin seorang gadis yang bertolak belakang dengan kakak perempuannya. Arin lebih seperti mamanya yang polos dan juga selalu memikirkan semuanya sendiri. Sedangkan kakak perempuannya lebih mirip papanya yang berani. Jika Arvy adalah seorang lelaki pemberani seperti papanya, namun dia terkenal polos seperti mamanya.
***
Pulang sekolah, Fariz mengantar Wina pulang kerumah sebelum berangkat bekerja. Mengganti seragam SMA dengan baju kemeja lengkap dengan dasi dan jas ala orang kantoran. Fariz kini sudah siap untuk mengais rejekinya untuk keluarganya.
WIna yang hanya di tuggui oleh pembantunya sampai petangmenjelang. Membuatnya sering merasa kesepian ketika hari berganti dengan malam. Wina menghilangkan rasa jenuhnya dengan menonton film film animasinya atau mengerjakan tugas sekolah.
Sedangkan di kantor SATYA, Fariz tengah mengerjakan proposal yang akan di kirim pada clien pada esok hari. Fariz membantu Satya bukan hanya di kantor, namun juga mengurusi cafe yang selama ini menaunginya sebagai cleaning service.
Capek, itu sudah pasti. Tapi ketika melihat senyum Wina yang menyambut kepulangannya. Membuat Fariz melupakan rasa lelahnya.
Kedua orang itu memang belum pernah merasakan yang namanya malam pertama, meski sudah tinggal satu kamar. Saat lelah menyerang seperti saat ini, Fariz memutuskan untuk melakukan panggilan Vidio pada istrinya.
“Hai sayang,” sapa Wina dalam layar gawai keluaran terbaru milik Fariz sang suami.
“Aku lelah sayang, seandainya kamu ada di sini mungkin aku bisa lebih bersemangat kerjanya,” ucap malas seorang Fariz.
“Demi kita sayang, jangan ada kata malas lah ya. Aku selalu ada untukmu, apa kau mau aku ke sana sekarang sayang?” Tanya Wina yang terlihat hawatir.
“Aku menunggumu sayang, saat ini aku di BIRMA.” Fariz memang selalu mengatakan di mana dirinya berada sekarang.
Hari ini memang tak seharusnya Fariz keperusahaannya sang mertua. Tapi mau bagaimana lagi, mertua Fariz kini sedang sakit, entah sakit apa.
“Oh mas Fariz masih kerja?” ucap seorang gadis yang menjadi orang kepercayaan Revan.
Sekertaris Revan yang mengganti posisi Vano dan istrinya. Meski hanya sekertaris biasa, tak seperti Vano yang kini menjadi Direktur di perusahaan ini. Atau Billa yang saat ini menjadi istriya.
__ADS_1
“Lancang sekali kamu masuk ke ruangan ku tanpa mengetuk pintu,” Bentak Fariz yang saat ini tengah berpenampilan acak acakan setelah keliling di perusahaan SATYA dan di cafe Affandi.
“Jangan seperti itu lah, aku tahu semua tentang kamu. Aku cuma mau menghiburmu yang baru saja kehilangan istri yang baru kau nikahi,” Bisaik sekertaris Revan bernama Monik.
“Keluar kau dari ruanganku!!” bentak Fariz yang semakin nyaring suaranya.
“Sabarlah anak manis, kakak akan menservicemu sayang. Di jamin puas,” Monik tak mengindahkan bentakan yang di keluarkan oleh Fariz.
Gadis yang memiliki perbedaan usia empat tahun dengan Fariz, rupanya tak gentar dan terus mendekati Fariz.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN!!” gebrakan pintu yang di barengi dengan nada tinggi milik WIna pun membuat Monik menununduk seolah dialah korban.
“Mbak Wina? Tolong saya, dia memanggil saya malam-malam begini hanya untuk menggodaku,” Cerita Monik yang mengada ngada.
“Sudah mbak Monik pulang saja,” Wina membelai punggung Monik pelan dan menyuruhnya pulang.
Tatapan membunuh pun terpancar dari wanita yang bersetatus istrinya. Tak berapa lama Fariz mendekati istrinya dengan terus mengatakan maaf, meski bukan dia yang salah.
“Kehadiran Mentari gua gak pernah mempermasalahkan, dan gua sendiri yang meminta elu untuk menghadirkan dia di antara kita! Gua selalu memberi kesan baik untuk elu di hadapan orang tua gua. Apa yang gua dapet? Hal semacam tadi?” Wina menatap Fariz dengan tatapan mengintimidasi.
“Bukan aku yang mendekatinya sayang, percayalah padaku.” Fariz memohon pada istrinya yang kini sudah di hadapannya.
“Percaya padamu setelah keberadaan Mentari?” Wina menggeleng gelengkan kepala tak mampu lagi menahan apa yang selama ini di tahannya.
“Gua tau kalau gua tak pernah ada di hati elu. Bukan gua yang ingin selalu mendampingi elu, tapi Mentari!!” tetesan air mata yang sudah merembes dan mencoba menjebol bendungan yang terbangun kokoh setelah pernikahannya.
“Sayang, maafkan aku. Aku salah sudah menghadirkan Mentari di antara kita. Tapi kejadian tadi itu bukan aku yang memulai,” ucap Fariz yang kini sudah mulai memohon pada wanitanya.
“kalau masih mau melanjutkan berumah tangga denganku, kita pulang sekarang juga.” Wina memberikan pilihan yang langsung di iya kan oleh sang suami.
Fariz merapikan sebentar pekerjaannya dan membawanya pulang untuk di kerjakan di rumah. Dengan tatapan yang masih tertuju ke depan, sesekali melihat ke samping. Berharap istri yang tengah merajuk ini akan melihatnya dan memaafkannya.
Sesampainya di rumah, Fariz langsung membukakan pintu mobil untuk Wina.keluar dari mobil dan membuka pintu rumahnya dengan kunci yag di bawanya. Setelah terbuka, Fariz langsung menggendong wanitanya setelah megunci pintu rumahnya.
“Turunin gua Fariz” Terian Wina.
“Diam, kalau gak mau diam akan aku perkosa kamu,” ucapan dingin yang di lontarkan oleh suaminya itu, membuat Wina takut sendiri.
Apa yang harus aku lakukan saat ini? Kenapa malah dia yang balik ngamuk terhadapku? Bukankah aku yang harusnya marah! Batin Wina masih sebel.
Dengan kasar Fariz melempar Wina di atas tempat tidurnya. Kasur yang memiliki ukuran paling besar pun seketika berantakan. Wanita dengan tinggi badan seratus enam puluh senti meter dengan berat badan empat puluh tujuh itu pun terpental.
“Mau kamu apa sekarang?” tanya Fariz dengan tatapan tajam miliknya.
“Kenapa jadi kamu yang marah terhadapku?” dengan rasa sedikit takut Wina menjawab Fariz.
“Apa kau meragukan aku saat kau mengetahui aku lebih mencitai Mentari? Bukan aku yang meminta adanya Mentari di antara kita. Aku menyayangimu meski harus sedikit melukai perasaanku harus melupakan Mentari. Kamu sempat menghapus Mentari dari hatiku, namun dengan kau memintaku menikahi dia. Secara tak sengaja kau menyisihkan dirimu sendiri. Inget aku seorang lelaki yang tak pernah haus akan wanita sepertimu ataupun seperti Mentari. Tapi aku haus akan kasih sayang kalian,” ucap Fariz yang memposisikan dirinya di atas istrinya.
“Terus apa yang kau inginkan saat ini?” Tanya Wina yang merasa ketakutan.
“Aku hanya mau tanya, untuk apa kau mempercayai wanita murahan seperti Monik itu!” bentak Fariz karena istrinya itu sempat mengancam dirinya.
“Karena aku melihatmu sangat dekat dengan wanita itu, bahkan kau tak pernah seperti itu di hadapan orang lain,” air mata kembali menetes di wajah ayu Wina.
“Aku tak melakukan itu karena aku menjaga pandangan orang terhadapmu. Aku tak ingin kau di sebut ini itu. Dan bukan aku yang mendekati wanita itu seperti saat ini aku mendekatimu,” Bisik Fariz dan menghisap air yang berasa asin bersumber di matanya.
“Jangan pernah kau meragukan aku, karena sayangku ke kamu tak pernah ragu. Aku memang mencintai Mentari dan menempatkan dia di hatiku, tapi aku juga tak munafik jika aku juga mencintaimu. Aku menempatkan mu di tempat lain di hatiku, bahkan Mentari pun tak bisa menjangkaunya. Percayalah padaku jangan pernah percaya orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kita.
__ADS_1
Wina hanya mampu memejamkan mata dan menganggukkan kepalanya sedikit. Senyum Fariz pun kembali mengembang dan semua kembali seperti semula.