
Satya menepati apa yang ada di benaknya, selama seminggu lebih tidak pernah menghubngi Ratna atau bahkan menghubunginya. Lain halnya dengan Ratna yang meski sudah mengetahui jika Satya beristri, dia tetap mencari keberadaan kekasihnya.
Entah apa yang sudah di berikan Satya padanya yang membuat Ratna menjadi tergila gila. Selama bersama sahabat sahabatnya, ketika berpacaran Satya sama sekali tidak menyentuh kekasihnya. Satya hanya selalu memberikan kenyamanan dan juga perlindungan kepada orang yang di sayangnya.
Bukan cium atau peluk seperti para kaum muda pada umumnya. Terutama pada seorang lelakin yang sudah pernah merasakan hubungan suami istri.
Sikap Satya sungguh berubah menjadi lebih manis terhadap Bian. Bahkan tak jarang lelaki itu melontarkan kata sayangnya melalui gurauan di hadapan teman temannya. Menerima kenyataan jika sudah beristri di usia mudah ternyata sangat menyenangkan.
Hubungan Bian yang semakin membaik, tidak merubah keadaan akan pertemanan Bian dengan Arkan yang memang hanya berlandas sebuah pertemanan. Bukan perasaan saling suka seperti Ratna dan juga Satya.
Ratna seperti kebanyakan gadis yang tak terima di putus dan di tinggalkan ketika sayang sayangnya. Wajar, dirinya menyukai sepenuh hati. Tapi Ratna juga gak boleh memaksaan perasaan Satya harus mencintainya dan memilikinya.
Cinta tak harus memiliki itu hanya kata kiasan. Percayalah, semua orang yang mencintai itu egois. Ingin memiliki pasangannya sepenuhnya.
“Maaf Ratna, seperti yang kamu ketahui dari Nurul. Saya memang sudah menikah, namun belum memiliki keturunan.” Satya mecoba berbicara kepada Ratna untuk memutus jalinan asmarah di antara mereka.
“Terus kenapa kamu menghadirkan aku di antara kalian? Jika kamu tak berniat untuk serius terhadapku?” Tanya Ratna memburu Satya, lelaki yang kini tengah duduk di sampingnya.
“Maafkan aku Ratna, kehadiran dirimu di antara kami bukan aku yang mau. Tapi aku merasa nyaman dengan apa yang kamu berikan terhadapku.” jawab Satya
“Terus, kamu menuduhku? Akulah yang hadir di antara kalian?” Ratna sudah emosi.
“Maaf Ratna, aku gak mengatakan itu. Aku hanya mau bilang, sikapmu yang membuat nyaman semua lelaki itu bisa dengan mudah meluluhkan hatinya.” Jelas Satya agar Ratna tidak mengakhiri hubungan ini dengan kata Dendam.
“Terus, kenapa kamu memilih dia dari pada aku? Apa yang kurang dari aku? Aku Cantik, aku populer, dan aku sayang sama kamu,” ucap Ratna dengan isak tangisnya.
__ADS_1
“Kamu cantik, putih, mulus, tinggi bahkan Bian gak ada setengahnya dari kamu. Tapi dia istriku yang sah, dia jauh lebih baik dalam mengurus rumah tanggaku. Dia juga setia,” Kini Satya membandingkan kekasihnya dengan istrinya.
Satya lelaki tampan yang juga dengan mudah terpikat oleh wanita cantik. Tapi pemuda ini sangat menghargai sebuah perjuangan. Perjuangan istrinya untuk mempertahankan rumah tangganya, dan juga setia mengurus suaminya meski sudah dengan jelas di sakiti hatinya.
Bian bukan seorang gadis yang cantik di mata wanita sesamanya. Tapi Bian gadis manis dan sangat menggoda bagi kaum lelaki. Dengan senyum dimplenya, suara serak serak basahnya, dan juga tatapan tajam miliknya.
Tak bisa di pungkiri jika hal itu yang tidak di punya oleh Ratna ataupun wanita lainnya.
Kepolosan Bian menambah nilai plus bagi seorang suami meski tak mendapat hal yang pertama. Keahlian memasak juga pandai menyenangkan mertua itu adalah kunci menjadi kebanggaan sang mertua.
“Tetaplah bersama ku satya, aku tak memperdulikan statusmu,” Ratna memohon pada lelaki yang di cintainya.
“Maaf Ratna, dengan begitu aku akan sangat menyakiti hati istriku. Ratna, menikah itu bukan perkara aku dan kamu. Tapi pertanggung jawaban atas aku dengan keluarga dan juga Tuhan. Aku bersumpah dengan menyebut nama Tuhan, berjanji setia menjaga dan juga memberikan kebahagiaan kepada wanita yang aku nikahi. Dan di depan orang tuanya aku meminta hak gadis itu dari papa dan mamanya,” ucap Satya melepas tangan Ratna yang menggenggam tanganya erat.
“Bang,” Bian melihat Suaminya tengan berduaan dengan seorang gadis yang menjadi hatinya terluka.
“Lepasin Ratna, kamu gak berhak untuk nyakitin dia.” Satya memeluk Bian dan menjauhkan dari Ratna.
“Tega kamu Satya, di depanku kau memeluknya,” Ratna menangis histeris membuat mahasiswa yang melintas di sana melihat ke arah mereka.
“Mbak, hubungan embak dengan suami saya itu terlarang. Sekarang embak masih menjadi pacarnya saja gak terima jika Satya di ganggu. Apa lagi dengan saya mbak? Saya itu istrinya, bukan selingkuhannya. Embak harus nyadar jika embak itu salah.” Bian menarik suaminya untuk menjauhi wanita yang sudah di sakiti hatinya.
“Aku akan merebut Satya kembali, Ingat itu.” Teriak Ratna pada Bian yang baru beberapa langkah meninggalkan gadis cantik selingkuhan suaminya.
“Ambil dia untukmu, tapi jangan pernah mengambil kembali jika lelaki itu kembali padaku!!” Bian mendorong Satya ke arah Ratna dengan tenaga kasarnya.
__ADS_1
“Maaf Ratna, aku gak bisa lagi bersama kamu. Apa yang di katakan Bian benar, kita hanya akan menambah banyak dosa jika hubungan ini di lanjutkan. Maaf sekali lagi aku memilih Bian. Wanita yang sudah aku nikahi,” Satya memeluk Bian lalu mengajaknya pergi dari tempat itu.
Satya dan bian berlalu meninggalkan Ratna yang terus mengucapkan sumpah serapah dan makian untuk kedua orang yang baru saja meninggalkannya.
Di rumah Satya sudah ada orang tua Bian yang berkunjung. Karena kangen setelah dua minggu, mama dan kedua kakaknya berlibur ke luar negri. Orang tua Bian membawakan oleh oleh untuk anak dan menantunya.
Satya dan Bian mendapat parfum yang lumayan mahal karena baunya memang sangat segar. Sedangkan orang tua Satya atau besan mereka mendapat baju dan jaket dari perancang cukup terkenal di bidangnya.
“Mama gak perlu lah seperti ini, kami jadi malu. Setiap mama keluar negri pasti membelikan oleh oleh pada kami,” ucap santun Satya yang menndapat pelukan kasih sayang dari mertuanya.
“Kamu itu bukan cuma menantu bagi kami, nak. Tapi kami sudah menganggapmu sebagai putra kami sendiri. Jadi jangan malu malu lagi ya,” Risma menyayangi menantunya layaknya anak sendiri.
Setelah kedua orang tua Bian pamit pulang. Bian dan Satya masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Bian membantu bundanya setelah mandi dan salat ashar. Di dapur yang lumayan luas untuk dua orang meramu bumbu dan rempah penyedap masakan. Bian rupanya ingin membuat tumis kacang panjang dengan tahu goreng.
“Bi, udah kemarin lo dengan menu tahu goreng campur kacang panjang.” ujar Vindya.
“Tapi Bian suka Bunda,” ucap Bian dengan nada merengek.
“Ya sudah jangan sering menyajikan masakan yang sama dalam beberapa hari berturut turut. Itu bisa membuat suamimu bosan. Sama halnya dengan hubungan, kalau kalian hanya melakukan pekrjaan yang monoton. Kalian aka cepat bosan dan membuat pasangan dengan gampang melirik orang ketiga,” tutur Vindya yang menyamakan antara makanan dengan sebua hubungan.
“Terus Bian harus bagaimana Bunda?” Tanya Bian yang sedikit membuat mertuannya keheranan.
“gitu aja gak tau? Ajak suamimu berlibur berdua, tinggalkan sejenak rutinitas kalian yang monoton. Di jamin, hubungan kalian akan tetap hangat.” Vindya memberikan rahasianya tetap awet dengan sang suami.
__ADS_1
“Oh begitu ya Bun? Pantesan Bunda dan Ayah mesrah terus,” ucap Bian yang mengerti apa yang di sampaikan oleh bunda mertuanya.
“Jangan segan untuk memulai bermanja, atau melontarkan rayuan. Itu bisa membuat suami makin sayang,” ucap Vindya berbisik.