Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Fajar Alwa Satya


__ADS_3

Seorang pemuda yang di lahirkan dari keluarga yang terbilang harmonis. Affandi Satya adalah ayah yang mendidik anaknya dengan tegas. Berbekal keagamaan yang tak di ragukan lagi bersama dengan Vindya sang istri.


Vindya sedikit kontras dengan sang suami dalam mendidik sang putra. Vindya yang hanya memiliki seorang putra, tak menyia - nyiakan untuk mendidiknya dengan gayanya. Vindya mengenalkan dunianya kepada sang putra.


Dunia otomotif yang menjadi kecintaan dirinya sebelum mengenal sang suami. Menikah ternyata tak menyurutkan kecintaannya kepada dunia oli dan juga obeng. Hanya saja, Vindya sedikit menahan dan menguburnya dalam - dalam.


Hingga saat ini, Vindya mengenalkan kecintaannya kepada sang putra. Bak gayung bersambut, rupanya Fajar Alwa satya yang lebih senang di panggil Satya itu ternyata juga menyukai dunia sang bunda.


“Bunda, mau nemenin Alwa balapan besok malam?” Tanya Satya yang kini tengah menikmati sarapannya, Vindya dan Affandi memanggil dengan nama tengahnya.


“Kalau kamu mau balapan, jangan ajak bunda mu. Bunda sudah gak di ijinin sama ayah keluar malem - malem.” Jawab Ayah Satya yang tak melarang ataupun mendukung sang putra mengikuti dunia sang istri.


“Ya Ayah, maafkan Alwa. Tapi restui Alwa untuk tanding besok malam.” Pinta sang putra yang kini merasa canggung.


Satya bukanlah seorang yang terbilang ramah, juga bukanlah seorang yang terbilang pendiam. Seperti di ketahui, Satya yang memiliki beberapa teman dan juga memiliki beberapa pengemar. Satya selain pintar, dia juga seorang yang misterius.


Satya, memiliki dua kepribadian. Saat bersama teman - teman yang sudah akrab denganya, dia terlihat konyol atau bahkan gila Tapi jika dia bertemu dengan orang yang baru di kenalnya, Satya terkenal cuek dan bahkan bisa di bilang gak perduli.


Satya seorang siswa kelas XII jurusan IPA. Satya sebagai seorang yang sering di banggakan oleh guru karena kepintaranya, sering merasa jengkel. Karena setiap kali dirinya merasa bosa dengan kehidupan sekolah, dia selalu ketahuan saat bolos satu mata pelajaran.


“Satya, tolong kamu ajak Zahra Fabian keliling sekolah. Dia putri ketiga bapak kepala sekolah yang baru. Fabian ini pindahan dari luar kota, jadi masih belum mengenal daerah sini. Kamu ajak dia keliling sekolahan,” ucap pak Antoni selaku wali kelas Satya.


“Apa hubungannya dia pindahan dari luar kota dengan tidak mengenal sekolah kita? Biar dia masih satu kota juga gak bakalan bisa tau lingkungan sekolah pak. Kan sekolah kita bukan terbuka untuk umum.” jawab Satya santai namun terlihat sangat tegas.


“Santai bung, saya juga gak sudi di antar oleh orang searogan anda.” Zahra yang lebih suka di panggil Bian pun berkomentar.


“Bagus!!” Satya meninggalkan Wali kelasnya yang melongo juga gadis yang kini sedang jengkel di buatnya.


“Sumpah demi apa saya harus satu kelas dengan orang seperti dia, pak?” Tanya Bian yang tak bisa mengatakan apa - apa lagi.


“Seperti yang nona ketahui.” Jawab Santai Pak Antoni sambil meninggalkan Bian sendirian yang kini melongo mendengar jawaban sang wali kelas.

__ADS_1


“Anjiiiirrr gue ketemu dua mahluk yang sangat menyebalkan. Idup pula.” Bian mengomel dalam perjalanan mengejar kedua lelaki yang kini berjalan di depannya.


Jam pelajaran di mulai, setelah memperkenalkan diri Bian duduk di bangku yang sama dengan Satya. Di depan Bian sudah ada Sasa dan juga Michael yang lumayan rame sih orangnya. Jadi tak membuat Bian mati kebosanan duduk di samping lelaki arogan seperti Satya.


“Bian, Bian. Jadi kamu pindahan dari Kalimantan ya? Kamu tinggal di hutan?” pertanyaan yang di lontarkan oleh Sasa membuat Satya tertawa lepas.


“Hahahaha, ya kali kepala sekolah kita dulunya guru para orang utan,” Gelak tawa dan celotehan Satya membuat Bian jengkel lalu memukul lengan berisi milik Satya.


“Lu punya mulut bisa di jaga gak sih?” Tanya Bian dengan nada geram.


“Kebetulan mulut gua belum ada satpamnya, mau jagain?” Satya mendekatkan wajahnya pada Bian yang langsung memalingkan wajahnya.


“Pantes lu jombo, gak bisa jaga omongan sih. Suka nyakitin,” ucap Bian asal.


“Jomblo, pilihan Nona. Bukan asal embat sosor sana sosor sini. Asal nona tau, saya di sekolahan ini termasuk siswa terkenal dan banyak di cari para cewek.” Kesombongan Satya yang hanya di taggapi dengan decihan dari lawan bicaranya.


“Kenapa malah berantem sih kalian berdua? Gue kawinin juga kalian ini.” ucap Michael yang sedari tadi hanya menonton perdebatan kedua orang yang ada di belakan tempat duduknya.


“Sekarang kalian baikan gih, dan ayo ke kantin. Gue udah laper, dan elu Satya. Lu udah janji mau traktir kita makan kalau menang balapan.” Sasa mengingatkan akan janjinya kemarin.


Akhirnya mereka berempat pun ke kantin. Di kantin Satya yang di sambut oleh Pandu hanya memutar bola mata malasnya.


“Woooooooowwww sang pemenang kali ini membawa cewek cantik rupanya. Hebat juga lu gua akui,” ucap Pandu yang duduk di atas meja memang sengaja menunggu the winner dari balapan kemarin malam.


“Jangan macem - macem.” Tegas Satya pada Pandu yang hendak mencolek Bian yang kini tengah bersembunyi di balik badan bongsor Satya.


“Oooohhh sudah berani main cewek rupanya sang anak bunda ini? Menarik, Baiklah. Kita majukan nanti malam saja balapannya. Dengan taruhan cewek di belakang lu.” Mendengar perkataan Pandu, Satya seakan telah tersentil hati nuraninya.


“Gua gak mau, wanita bukan kelas gua untuk bertanding. Kalo lu mau, silahkan aja ambil. Gua juga gak mau,” ucap Satya cuek yang mendapat pukulan di punggungnya dari Bian.


“Aduh, sakit beg**k” Satya mengaduh dan mencoba memegangi punggung yang di pukul Bian namun gak sampai.

__ADS_1


“Lu pikir gue semurah itu?” Bian meninggalkan kantin dengan sedikit memerah di matanya.


Satya yang melihat sekilas mata Bian yang memerah, merasa sangat bersalah. Tetapi, bukannya menyusul Bian. Satya memilih untuk santai memasuki kantin dan memesan makanan bersama Sasa dan juga Michael. Ya begitulah sifat Fajar Alwa Satya.


Jam istirahat pun berakhir, Satya yang mengetahui Bian tidak makan saat istirahat. Satya membelikan beberapa roti dan minuman untuk Bian.


"Cepet makan sebelum bel masuk berbunyi. Dan ini minumannya," ucap Satya sambil menyerahkan sekantong plastik makanan untuk Bian.


"Makasih, besok - besok gue janji bakalan ganti." Bian memakan roti yang di belikan Satya.


"Gak usah, gua iklas." Satya membuka buku pelajaran sebelum bel masuk berbunyi.


Bian sudah memakan beberapa bungkus roti dan meminum air mineral pemberian Satya. Tak lama bel masuk pun berbunyi, Bian terus memandang ke arah teman sebangkunya yang belum lama di kenalnya.


"Gua tau, kalo gua ini ganteng dan mempesona. Tapi jangan terlalu memperlihatkan rasa kagum lu pada gua gitu. Gua takut lu bakalan baper sama gua," ucap Satya tanpa memandang gadis yang memandanginya.


"PD gila lu ternyata ya? Gue cuma heran aja, kenapa lu gak mau terima balapan dangan mempertaruhkan gue?" tanya Bian penasaran.


"Gua punya Bunda, dan gua gak ada hak buat jadiin lu taruhan gue. Gua bukan orang miskin yang mau mencari kekayaan dengan segala macam cara." Satya terlihat sangat serius.


"Bagai mana kalau lu terima tantangan balapan itu. Kalau lu sampek menang, gue bakalan jajanin elu seminggu di kantin. Gimana?" tanya Bian yang membuat Satya sedikit tertantang.


"Tanpa lu minta juga, gua bakalan terima tantangan Pandu. Gua tau, dia belum bisa terima akan kekalahannya kemaren malem. Tapi jika gua menang, gua bakalan tagih janji elu," Satya menerima tantangan Bian dengan cara yang berbeda.


***


Perjanjian telah di buat, kini Bian ikut bersama Satya untuk menyaksikan langsung kemenangan sang teman. Satya menjemput Bian di rumahnya dan meminta ijin pada orang tua gadis yang akan di bawanya.


Tak butuh waktu lama untuk menuju tempat balapan. Sebuah jalan sepi kendaraan yang menjadi pacuan mereka nantinya.


Bian menunggu Satya dan Pandu bertanding di pinggir jalan. Bersama dengan Ayumi kekasih dari Pandu, yang rupanya memiliki perasaan pada Satya.

__ADS_1


Ayumi menatap Bian dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ayumi merasa dirinya tersaingi dan mencoba untuk mencari tau siapa gadis yang di bawa oleh pujaan hatinya.


"Kau kekasihnya Satya?"


__ADS_2