Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Liburan


__ADS_3

Ujian sudah berlalu beberapa hari yang lalu. Dan sekarang adalah saat-saat menegangkan bagi para siswa kelas dua belas. Bian dan Satya memilih berlibur untuk menghilangkan rasa tegangnya.


Saat ini Bian dan Satya sudah ada di Bandung, di sebuah Villa yang berada di puncak lebih tepatnya. Satya dan Bian hanya berdua saja saat berlibur. Meninggalkan ketiga sahabat yang selalu menemani selama setahun belakangan.


“Satya, besok sudah di umumkan kelulusannya. Apa gak lebih baik kita balik ke Jakarta lagi?” Tanya Bian yang terlihat sekali ketegangannya.


“Sudah biarin aja, lagian kenapa harus tegang begitu sih? Kita nikmati aja liburan kita.” Satya menghibur dan mencoba menenangkan Bian.


“Tapi nanti kalau gue gak lulus gimana Sat?” kegelisahan Bian sangat terasa ketika membicarakan kelulusan.


“Ya sudah besok kita balik ke Jakarta hanya untuk melihat kelulusan. Dan lagi gua tegasin ke elu, mau elu lulus atau enggak gua gak bakalan permasalahin. Yang jelas sekarang gua mau menikmati waktu berdua dengan elu,” ucap Satya yang langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bian sedikit merasa tenang ketika mendengat Satya tidak mempermasalahkan dirinya lulus atau enggak.


Saat menunggu Satya yang sedang mandi, Bian mendapat pesan dari sang papa. Bian membaca dengan seksama apa yang di kirim oleh papanya. Senyum Bian mengembang ketika membaca pesan singkat dari gawainya.


Pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci, membuat Bian masuk dengan mudah. Satya yang tengah asik menikmati guyuran air hangat dari shower membuatnya tak mendengar ada seseorang yang masuk kedalam kamar mandi.


Bian langsung melepas semua bajunya sebelum menyusul sang suami menikmati guyuran air hangat. Satya terkejut ketika tangan manusia memeluknya dari belakang. Merasakan sebuah tubuh menempel di belakangnya Satya membuka matanya dan menoleh ke belakang sekilas.


“Kenapa nyusul?” tanya Satya yang terkejut akan kedatangan istrinya.


“Apa kamu gak suka?” Bukannya menjawab, Bian lebih suka bertanya kembali sambil menggoda suaminya.


“Gua udah selesai, apa lu mau gua mandikan,” ucap Satya memutar posisi istrinya ke depan.


“Boleh juga,” Satya tersenyum paham akan mau dari istrinya.


“Lebih cepat lebih baik.” Satya langsung menggendong istrinya dan mengambil handuk untuk mengelap sisa air yang membasahi keduanya.


Satya membawa Bian ke tempat tidurnya. Dengan perlahan satya menidurkan Bian di atas kasur yang terlihat sangat lembut. Bukannya rebahan, Bian memilih untuk duduk dan menahan sang suami untuk tetap di sampingnya.


“gua akan mengambil baju buat kita ganti. Takut masuk angin nanti,” ucap satya saat sudah duduk di samping Bian setelah di tarik wanita yang hanya memakai handuk putih polos menutupi bagian dada hingga lututnya.


“Di sini saja,” bisik Bian membuat senyum Satya mengembang tipis namun hatinya sangat bahagia.


“Apa elu udah siap?” Goda Satya sambil mencolek hidung istri yang di nikahinya beberapa bulan belakangan.


“Siap gak siap, harus!!” kembali Bian berbisik. Sebenarnya bukan membisikkan di telinga Satya, tapi suara kecil yang terkesan berbisik.


“Jawaban yang sangat aku tunggu dari dulu,” Satya langsung menyerang Bian.


Menghujani istrinya dengan ciuman yang memburu. Suasana dingin pun tak terasa saat ini. Mungkin lebih tepatnya saat ini merasakan panas yang sangat membara.


Pergulatan panas setelah mandi pun mengharuskan mereka kembali mandi. Mandi yang di awali dengan wudu dan doa untuk mensucikan diri kembali.


Kata terima kasih tak berhenti dari bibir tipis warna pink tanpa lip balm atau lipstik milik Satya. Sedangkan Bian merasa sedikit sakit di bagian vitalnya. Entah apa yang di lakukan Satya sehingga membuat Bian merasa susah untk sekedar bangun atau berdiri.


Malam ini berlalu sangat cepat bagi kedua pasutri yang baru saja melakukan penyatuan dan juga saling memiliki. Satya pagi-pagi sekali sudah bangun untuk sholat subuh bersama sang istri. Lalu mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta. Sedangkan Bian telah menyiapkan sarapan sederhana untuk suaminya.


“Mau kemana sayang?” Tanya Bian yang entah ada angin apa tiba-tiba memanggil sayang pada Satya.


“Sayang? Sejak kapan?” Tanya jahil Satya membuat Bian jengkel dengan memanyunkan bibirnya.


“Itu bibir menggoda sekali ya, apa masih mau minta tambah?” Tanya Satya kembali.


“Dih, kalau gak mau di panggil sayang ya sudah gak lagi gue manggil sayang.” Bian merajuk dan meninggalkan Satya di meja makan yang ada di dapur.


“Jangan ngambek dong, ya aku suka kalau kamu manggil sayang. Di tambah lagi sebutanya jadi aku kamu. Bukan elu gue lagi,” ucap Satya yang menghentikan langkah Bian, istrinya dengan memeluknya dari belakang.

__ADS_1


“Ya mulai di biasakan aja lah. Tapi jangan marah kalu misalnya aku lupa,” Ucap abian yang membalas pelukan Satya.


“Iya sayang ku, hehehe. Seru juga manggilnya Sayang,” ucap Satya yang sudah kembali membawa Bian duduk di meja makan dan menikmati sarapan masakannya sendiri.


“Tadi sayang belum bilang mau kemana sudah rapi begini?” tanya Bian mengulangi pertanyaan yang belum di jawab oleh Satya.


“Katanya mau balik ke Jakarta untuk melihat kelulusan,” jawab Satya santai dengan memakan sandwich buatan istrinya.


“Balik sini lagi apa enggak?” Tanya Bian membuat Satya menyatukan kedua alisnya meski tau tak akan bertemu karena bingung di buat oleh istrinya dari semalam.


“Mau kamu gimana? Aku ikut aja,” ucap Satya mencoba menjadi seorang suami yang sabar menghadapi tingkah istrinya yang sedikit aneh.


Aneh menurutnya, karena semalam dirinya yang merasa khawatir dan juga seperti orang mau nangis.Setelah itu menyusulnya mandi hingga terjadi pergulatan panas di cuaca dingin puncak malam hari.


“Maunya di sini aja lagi sehari, besok atau lusa baru kita balik ke Jakarta.” Jawab Bian santai dengan rengekan kecil darinya.


“Terus nilainya gimana?” Tanya Satya yang semakin bingung juga penasaran akan berapa nilai yang di dapatnya.


“Aku sudah gak perduli lagi. Kan kamu sendiri yang mengatakan jika aku lulus atau enggak, itu bukan masalah besar buatmu,” ucap Bian yang menirukan ucapan suamiya semalam sebelum mandi.


“Ya sudah kalau begitu, sekarang kan masih pagi banget. Gimana kalau kita jalan-jalan saja sekitaran sini? Itung-itung mencari udara segar yang gak kita dapet di Jakarta,” Ajak Satya pada istriya.


“Ide bagus itu sayang,” Bian menyetujui apa yang di usulkan oleh Sauminya.


“Ya sudah aku ganti baju dulu, ganti yang lebih tebal dikit,” ucap Satya yang beranjak dari duduknya setelah menghabiskan sarapannya.


“Kita ke pasar tradisional kan sayang?” Tanya Bian yang sedikit berteriak.


“Iya, kita ke pasar tradisional,” Jawab Satya juga dengan berteriak karena Bian di dapur sedangkan Satya sudah di dalam kamar untuk mengganti bajunya dengan yang lebih tebal lagi.


Selama di perjalanan, satya mendapat kabar dari Sasa dan Michael bahwa mereka berlima telah lulus tes masuk universitas. Dan minggu depan harus mengikuti ospek.


(...)


“Ok, siap-siap,” ucap Satya sebelum memutus saluran telephone.


Satya kembali fokus pada perjalanannya yang sudah tak jauh lagi dari pasar tradisional yang di tuju. Bian yang terlihat sangat bahagia pun membuat mengerti apa yang membuatnya tak ingin untuk pulang.


“Satya, aku mau beli setrowberry, boleh?” Tanya Bian yang hanya disenyumi oleh suaminya.


Tak merasa sungkan lagi, Bian mengambil buah merah dengan rasa sedikit masam namun segar itu seperti orang kalap. hampir dua kilo Bian mengambil buah merah kecil di depannya dan Satya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Selain strowberry, Bian juga mengambil selada dan wortel. Selain itu juga masih banyak sayuran yang di ambil Bian untuk di masaknya dalam beberapa hari.


“Sayang, sebelum pulang ke Jakarta kita ke pasar lagi ya,” rengek Bian dalam mobil saat sudah dalam perjalanan pulang ke villa.


“Mau apa?” tanya Satya yang masih keheranan mau mencari apa lagi istrinya ke pasar setelah berbelanja untuk sebulan di rasa oleh Satya.


“Mau beli setrowberry, papa suka sekali sama setrowberry.” jawab Bian sambil membuka bungkusan setrowberry yang di pegangnya.


Selama perjalanan Bian terus memakan setrowberry yang di belinya. Mungkin sudah hampir setengah di makan oleh Bian hingga sampai di Villa.


Perjalanan yang hanya memakan hampir lima belas menit itu di habiskan Bian dengan memakan buah di pangkuannya.


“Sayang, sudah makan setrowberrynya. Nanti perut kamu akan sakit,” Satya mengambil buah yang dipegang oleh istrinya.


“Enggak akan sayang. Kamu tau aku lagi seneng.” Bian seakan tak memperdulikan apa yang tengah di khawatirkan oleh Satya, suaminya.


“Seneng kenapa? Bahkan kita masih belum mendengar kabar kelulusan loh sayang,” ucap Satya sambil membawa belanjaan Bian.

__ADS_1


Bian duduk di sofa depan tv dengan cemilan kripik singkongnya.


“Sayang, kamu belum jawab aku.” Satya sedikit memaksa Bian untuk mengatakan apa yang membuatnya bahagia.


“Jawab apa sih sayang?” Tanya Bian manja yang membuat Satya semakin gemas.


“Kenapa kamu bahagia.” Kini Satya sudah meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.


“Ya karena kita lulus semua,” jawab santai Satya yang malah kebalikannya.


“Kata siapa kamu kita semua lulus?” Pertanyaan yang seharusnya sudah pasti karena dia adalah putri dari kepala sekolah.


“Papa kan tau lebih dulu, dan kamu juga gak mungkin lupa kan kalau papa itu dengan mudah mendapatkan hasil sebelum di umumkan?” ujar Bian tersenyum akan kebodohannya menanyakan hal yang tak penting itu pada istrinya.


“Bener juga ya, kenapa aku keluapaan kalau mertuaku itu seorang kepala sekolah.”


Satya dan Bian larut dalam kebahagiaan yang sedari kemarin membuat mereka resah berlebihan. Satya mencium perut Bian berulang kali hingga membuat Bian tersenyum kegelian.


Siang hari Bian mengatakan kepada ketiga sahabatnya jika mereka berdua sedang berlibur di puncak. Dan malam hari ketiga orang itu sudah datang di Villa yang di sewa oleh Satya. Suasana yang tadinya romantis namun sepi. Kini berubah menjadi rame dan seru.


Buah setrowberry yang mungkin hanya tinggal setengah kilo. Di manfaatkan untuk membuat minuman segar pendamping daging bakar dan juga jagung bakar. Sayur sayuran yang di makan sebagai pendamping daging pun menghabiskan hampir sepauh selada yang di beli Bian tadi pagi.


“Sudah malam, besok aja di rapikan. Sekarang kalian tidur aja,” Bian menyuruh Satya dan Michael yang berniat untuk merapikan pemanggangan dan juga beberapa sampah yang di buat oleh ke lima orang dalam Villa.


“Iya mak, tapi ini di sisihin aja dulu. Takut kena hujan,” Jawab Michael yang di angguki oleh Bian sebelum masuk ke dalam Villa.


Setelah menyisihkan beberapa alat-alat yang tak boleh terkena air hujan. Bian masih asik nonton tv dengan semangkuk salad buahnya di pangkuan. Satya yang melihat pun tak bersuara dan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Apa tak ada kenyang-kenyangnya ini anak? Batin Satya terus bertanya. Namun bibir tetap tersenyum


Setelah acara yang ditonton selesai, gadis berambut panjang itu pun masuk kedalam kamar. Menyusul suami yang sudah sekitaran sejam yang lalu masuk ke kamar untuk membersihkan diri.


Bian melihat Satya menikmati apel dengan menatap langit malam dari jendela kaca di kamarnya. Perlahan Bian mendekati lelakinya yang masih fokus memandang ke alam bebas. Bian memeluk Satya dari belakang dengan sedikit menggosok kepalaya di punggung satya.


“Kenapa manja sekali sih sekarang?” Tanya Satya sedikit menggoda.


“Kalau gak manja ke kamu, terus manja ke siapa?” Tanya Bian melepaskan pelukanya.


“ya, aneh aja gitu. Dari kemarin kamu sangat manja sekali,” Satya mengungkapkan pendapatnya.


“Ya sudah, kalau masih aneh aku gak akan pernah manja lagi ke kamu,” ucap Bian menaiki kasur dan segera menutup dirinya dengan selimut tebal di untuk membunuh rasa dingin yang menyerang tulang-tulangnya.


“Dih ngambek, ya sudah sini gantian abang yang manjain adek.” Satya mengganggu tidur istri yang bau saja di panggilnya adek.


“Adek?” Tanya Bian dengan senyum gelinya menanyakan kembali apa yang didengarnya.


“Iya, aku pengen punya adek dari dulu. Di panggil Abang pasti sangat nyenengin,” kata Satya memainkan dagu gadis penggoda imannya.


“hihihi, ya sudah mulai sekarang panggilnya Adek sama Abang aja. Tapi inget ya, jangan mencari sayang jika hanya Adek yang menjadi panggilanku,” ucap Bian memperingati suaminya.


“Siap Adek ku sayang.”


Satya merebahkan diri di samping wanitanya dengan berbantalan lengannya. Tatapan Satya lurus ke atas namun fikirannya menembus beberapa alam. Memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan jika sudah tidak bersama lagi.


“Mikirin apa sih Bang?” Tanya Bian membuyarkan lamunan Satya sang Abang tercinta.


“Mikirin masa depan kita Dek. Apa jadinya Abang tanpa kamu di kemudian hari?” Tatapan masih menerawang layaknya seorang indigo.


“Jangan terlalu mikir yang belum terjadi, terlebih jika itu menyangkut dengan perpisahan kita. Sungguh Abang hanya akan menyakiti kepala dan juga hati abang,” ucap Bian sambil merapatkan pelukannya di perut Satya.


“Ya sudah, sekarang sudah malam. Mendingan kita Tidur, besok kita pagi-pagi harus ke pasar. Mau beli setrowberry lagi kan?”

__ADS_1


Bian hanya mengangguk dan memejamkan matanya dengan kepala sudah bersandar di dada bidang sang suami.


__ADS_2