Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Saling berpegang meski bersaing.


__ADS_3

Kejadian kemarin memang menyakiti hati, tetapi Satya juga tak henti hentinya meminta maaf pada Bian. Sedangkan Bian hanya mendiamkan suaminya sejak kejadian itu.


Semakin Bian tak mau mengajaknya bicara, semakin Satya setres. Satya yang seharusya berangkat ke kampus pun memilih untuk tak berangkat.


“Bian sayang, jangan diem terus dong. Abang minta maaf ya,” Satya terus meminta maaf pada istrinya.


Jangankan dapat jawaban, Satya di anggap adapun masih untung. Bian kemana Satya ikutin dari belakang. Bahkan Bian ke warung untuk belanja pun Satya ikut dari belakang.


“Waduh, mbak Bian suaminya sayang banget ya. Sampai sampai ke warung pun ngikut,” sindir salah satu ibu ibu yang juga sedang berbelanja di warung yang tak jauh jaraknya dari rumahnya.


“Laki laki kalau lagi punya salah ya gitu bu, biasaaaa gini mah.” Jawab pedes Bian sambil melirik suaminya.


“Jangan keras keras melawan suami lo mbak. Nanti kalau ada yang lirik suaminya, nangis lagi.” Kembali satu ibu ibu ikut berkomentar.


Bian melirik suaminya sekilas. “Emangnya Ada yang mau sama dia bu? Kalau ada ya silahkan saja,” ucap Bian santai dan kembali memilih sayuran yang akan di beli.


“Beneran gak nyesel?” Tanya ibu yang pertama tadi.


“Karna itu lah bu dia saya diamkan.” Jawab Bian yang merasa jengkel kehidupannya di kepoin oleh orang.


“Ih mbak Bian sih yang keras sama suami. Kan bukan salah suaminya, orang ganteng gini ya semua mau lah.” Bian hanya melihat ke arah ibu itu sekilas setelah itu baru melihat ke arah suaminya.


“Klau dia mau sama yang kaya gitu gak bakalah dia ada di sini sekarang bu, merayu saya sampai mengikuti saya ke warung. ‘kan lebih baik kalau ngejar DIA bu,” ucap Bian dengan menekan kata dia sebelum pergi meninggalkan ibu ibu kepo yang di yakini bakalan terus membecarakannya selepas kepergiannya.


Sesampainya di rumah, Satya masih mengikuti dirinya. Bian ke dapur satya asih juga mengikutinya tanpa rasa lelah.


“Stop Satya sayang, aku capek di ikuti terus sama lelaki tampan yang terlihat takut istri ini,” ucap lembut Bian dengan memeluk suaminya yang terus mengucapkan kata maaf padanya di setiap kesempatan yang datang.


“Maafin aku gadisku, aku gak akan membahas hal itu lagi,” kata Satya menyesali perkataannya kemarin.


“Apa kamu menerima keadaan ku yang memag tak suci lagi ketika kamu menikahiku, lelakiku?” Tanya Bian melepas pelukannya.


“Aku gak pernah mempermasalahkan itu sayang, hanya aku gak trima jika cuma kamu yang menanggung ini semua. Aku mau kamu mendapatkan keadilan,” jelas Satya pelan dengan membelai pipi cabi milik istrinya.


“Keadilan macam apa yang kamu mau? Melaporkan Fais ke polisi? Sekalian saja abang sayang mengatakan dan membuat pengumuman di tempel di sepanjang jalan dengan tulisan. Haaaaiiiii lihat gue, gue menikahi seorang perempuan yang sudah gak prawan dong.” ucap Bian dengan segala tingkahnya yang membuat Satya semakin bersalah.


“Maaf,” ucap Satya lagi yang tak memikirkan hal itu sebelumnya.

__ADS_1


“Sudah lah Abang ku sayang. Biarkan saja. Untuk kedepannya kita harus berhati hati bukan membalas dendam. Biar bagaimana pun dia lelaki kakak kandungku,” ucap Bian lembut membelai perut rata namun berisi milik suaminya.


(Maksudnya rata berisi itu gimana? Hadeeehhhh di bahas lagi ini maksudnya gak kotak kotak juga gak buncit.)


Bian melanjutkan masaknya sedangkan Satya masih setia menunggunya. Sesekali Satya membantu Bian memasak dengan menata masakan di atas meja juga menyiapkan piring.


Tak lama Bian selesai masak, Arkan beserta istrinya datang dengan membawa makanan yang di masak olehnya.


“Bian, elu lagi menutupi apa dari kita?” Tanya Arkan yang kini sudah duduk bersama di meja makan.


“Gue…. gue…” jawab Bian yang gugup melirik ke arah Satya


“Lu gak bisa mengatakan? Ok gue yang akan mengatakan.” tegas Arkan.


“Apa sih sayang?” tanya Nurul yang sudah tinggal serumah pun tak tau apa yang di maksud oleh suaminya.


“Bian di D.O.” ucap Arkan yang membuat Satya kaget karena memang istrinya itu tak mengatakan apa apa.


“Dari mana kamu tau?” Tanya Satya dingin.


“Kenapa gak ada bilang sama Abang?” Tanya Satya yang membuat Bian tak tahan menahan air matanya.


“Dia gak akan pernah berani mengatakan hal ini pada kita. Bian bukan orang yang sanggup melihat orang orang yang ada di dekatnya merasa khawatir,” ucap Arkan lagi seakan sudah mengenal gadis bar bar yang menikah di usia dini ini.


“Apa segitu tak ingin berbaginya kamu sama Abang? Abang ini suami kamu,bukan musuh kamu,” omel Satya yang malah membuat Bian menangis tersedu sedu.


“Permisi.., permisi….”


Bukannya salam yang di ucap oleh seorang tamu perempuan di depan pintu yang terbuka lebar.


“Maaf nyari siapa ya?” Tanya Satya yang menerima tamu wanita yang mungkin seumuran dengan dirinya.


“Benar ini rumahnya Zahra Fabian?” Tanya tamu tersebut ketika melihat seorang yang menemui bukan orang yang di cari.


“Benar, ada apa ya kalau boleh tau?” Tanya Satya masih membiarkan tamu tersebut di tengah pintu.


“Saya Saly temannya Bian. Boleh saya bertemu dengannya?” Tanya Saly sopan pada Satya.

__ADS_1


Saly mengenal Satya namun dirinya tak tau apa hubungan Satya dengan teman sekelasnya. Bian menemui Saly yang sudah di persilahkan masuk ke dalam rumahnya.


BIan terkejut dengan siapa yang datang. Bukan kah dia selalu mencari gara gara sama gue di kampus? Terus, dari mana dia tau tempat tinggal gue, Batin Bian terus bertanya dengan melihat ke arah temannya itu.


“Ada apa ya kamu ke sini?” Tanya Bian bingung.


“Gue gak suka pura pura Bi, ini.” Saly melempar surat yang baru saja di ambil dari dalam tasnya.


Bian membaca surat pembatalan D.O untuk dirinya. Bian yang teramat senang pun langsung memeluk Saly.


“Saly, ini beneran?” Tanya Bian yang masih memeluk temannya itu.


“Lepas!! engap. Gue gak suka kalo gak punya saingan. Terlalu mudah mendapatkan nilai bagus dan juga banyak pujian. Membuat gua neg dan gak punya semangat buat mengejar impian,” Jawab stundere dari seorang Saly.


“Yakin lu mau terus lawan gue?” atanya Bian yang malah mencubit pipi Saly karena gemas.


“Hmm,” jawab singkat Saly


Satya dan kedua orang yang melihat merekapun ikut bahagia. Awal mereka bertiga mengintip adalah takut jika kedua orang itu akan berantem atau saling meninggikan emosi. Namun ternyata mereka salah.


Saly rupanya seorang pesaing yang bersifat positif. Bukan ingin menjatuhkan tapi seperti ayo berjuang bersama meski kita harus bersaing. Dia mengulurkan tangan untuk tetap bersaing meski tak menginginkan lawannya terjatuh.


“Dari mana elu bisa dapet surat ini?” Tanya Bian dengan mata yang terus berbinar, memancarkan kebahagiaan tiada tara.


“Bokap gua rektor di kampus, eitz lu jangan sok kenal lagi sama gue. Gue gak suka, karena kita itu lawan. Lu harus masuk besok, gue gak mau tau dan gue gak butuh alasan apapun,” tegas Saly yang juga memiliki karakter tegas dan juga seperti laki laki atau lebih tepatnya dia tomboy.


Nama boleh feminim namun jiwa tak bisa di ajak kompromi. Itulah kata yang sering di ucapkan oleh gadis yang memiliki rambut sepundak dengan tatanan yang sedikit rapi dan sedikit berantakan di baju. meski memiliki jiwa laki laki, hobi masak yang di miliki tak mampu di rubahnya.


Selalu mengikat rambut ke atas dan juga memakai baju kaos berlapis kemeja kegedean. Merupakan ciri dari gadis ini. Tak ada yang tau jika dirinya adalah anak dari seorang yang berpengaruh di universitas yang di pilih oleh Bian dan kawan kawannya.


“Iye, gue akan inget kebaikan elu dan selalu mengingat kalau kita ini saingan bukan teman, kita ini lawan bukan kawan,” Senyum Bian lagi.


Meski mengatakan itu, Bian tau jika Saly bukanlah orang yang jahat. Saly ikut tersenyum pada Bian yang teru mengucapkan terima kasih padanya.


Tak ada yang lebih membahagiakan memang selain melihat orang yang kita anggap penting itu tersenyum. Jangan bertanya kenapa Saly melakukan hal itu.


Setelah Saly menyampaikan surat itu, dirinya pamit untuk pulang. Sebelum pulang, Saly kembali mengingatkan Bian agar tak membocorkan rahasiannya. Sebagai anak seorang rektor tentunya.

__ADS_1


__ADS_2