
Subuh Satya bangun dan sholat subuh, setelah itu dia tidur lagi. Bian yang juga tidur di kasur yang sama dengan Satya, enggan untuk membuka mata.
Hari ini minggu jadi Satya tidak terburu untuk bangun ke sekolah. Bian yang masih bergulung di balik selimut Satya pun semakin nyenyak tidurnya.
Pintu rumah Vindya di ketuk oleh seorang gadis yang tengah membawa tas rangsel lumayan gede, tengah mencari Satya sang putra.
“Nyari siapa ya nak?” Tanya Vindya heran.
“Satyanya ada tante?”Tanya gadis tadi yang sudah masuk ke dalam rumah Vindya dan Affandi.
“Satya masih tidur, sebentar ya tante bangunin dulu.” Vindya mempersilahkan gadis cantik itu duduk di depan sang suami.
Vindya berjalan mendekati kamar sang putra. Vindya langsung masuk ke dalam kamar yang memang tidak pernah di kunci oleh sang pemilik kamar. Saat membuka kamar, Vindya langsung di suguhkan dengan pemandangan yang tak biasanya.
Vindya kembali menutup pintu kamar, lalu mencari suaminya yang sedang bertaya - tanya kepada tamunya.
“Yah, sepertinya kita salah rumah deh,” ucap Vindya sambil meneliti keadaan rumah yang selama hampir dua tahun di tinggalinya dengan sang suami.
“Salah rumah bagaimana maksudnya kamu?” Tanya Affandi semakin heran dengan tingkah laku sang istri.
“Kenapa di kamar Alwa ada cewek kaya abis mandi ya Yah,” Jawab Vindya membuat Affandi kaget dan langsung menuju kamar sang putra.
Selain Vindya, tamu yang penasaran pun mengikuti mereka dari belakang. Affandi membuka pintu kamar Satya, dan benar saja. Ada seorang cewek yang terlihat rabutnya sedikit basah dan putranya masih mengenakan kaos dan juga sarungnya tidur di kasurnya.
“Alwa, bangun.” Vinya menggoyangkan badan Satya yang masih tertidur pulas.
Sedangkan Bian diam di pojokan karena takut. Gadis yang bertamu tadi pun tercengang melihat Bian di kamar seseorang yang di cintainya diam - diam.
“Bentar lagi Bun, masih ngantuk ini.” Jawab Satya dengan suara seraknya.
“Bangun Alwa, ini Ayah.” Kali ini Affandi tak mampu lagi menyembunyikan kemarahannya.
“Ayah, ada apa? Tumben kekamar Alwa?” Tanya Satya dengan berusaha bangun dan membenarkan sarungnya.
“Katakan siapa gadis itu?” Tanya Affandi pada Satya yang tak tau arah bicaranya, namun dirinya melihat Ayumi yang berada di samping sang Bunda.
“Ayumi, kenapa kerumahku?” Tanya Satya kaget.
“Bukan yang ini Alwa, tapi dia.” Vindya memutar badan putranya denga masih dalam keadaan kebingungan.
“Waaaaaaaaa…. jadi gua gak ngimpi masukin elu semalem?” Satya yang nampak terkejut pun membuat Ayumi dan kedua orang tuanya ikut kebingungan.
“Ya enggak lah. Jangan bilang elu lupa,” ucap Bian ngegas karena ketakutan.
“Oh iya ya,” Akhirnya Satya ingat dan membuat kedua orang tuanya semakin geram.
“Sekarang jelasin ke Ayah sama Bunda. Dan kamu anak perawan siapa?” Tanya Affandi pada Bian setelah mengomeli sang buah hatinya.
“Maaf Yah, dia Bian yang kemarin Alwa ajak bolos. Semalem jam sebelasan dia ke mari karena lari dari rumahnya. Ya sudah Alwa suruh masuk dan tidur di sini.” Jelas Satya santai.
“Dan untuk Ayumi, kenama kamu datang ke sini?” Tanya Satya penasaran.
“Kalian tidur di ranjang yang sama?” Tanya Affandi tak habis pikir.
“Iya lah Yah, kan gak ada kursi dan juga sofa di sini.” Lagi Satya membuat Ayahnya naik darah.
“Kamu, anak perawan, gak takut kalau di perkosa sama Alwa?” Tanya Affandi yang menggeleng - gelengkan kepalanya.
“Kalo di perkosa sama si Satya itu ya lebih baik om, dari pada Bian di perkosa sama preman di kolong jembatan,” jawab Bian santai namun masih saja gugup.
“Bener juga sih,” ucap Affandi yang membenarkan perkataan gadis di depannya.
“Lagian Satya gak mungkin lah melakukan itu padaku Om. Kemarin aja Bian lepas paju di depan dia, satya gak bereaksi kok. Sepertinya yang perlu di waspadai itu anak om deh, Bener gak Ayumi?” Jelas Bian akan kejadian kemarin yang di lalui berdua dengan lelaki yang kini hanya bisa menelan salivanya berat.
“Haiiiihhhh sejauh apa ini kalian, sekarang kamu telfon orang tua kamu, kita….”
“Jangan Om, Bian gak mau di nikahkan dengan orang yang Bian tidak kenal.” Kini Bian sudah memohon di kaki Affandi.
__ADS_1
“Kamu gak mau di jodohin, tapi lari ke kamar anak saya?” Affandi tak bisa lagi berfikir akan pegaulan putranya.
“Ampun om jangan lakukan itu. Baiklah, saya akan pergi dari sini. Dan tolong jangan laporin Bian ke papa.” Bian bangkit dari jongkoknya lalu mengambil tas rangsel yang di bawanya.
“Tunggu Bian, lu mau kemana?” Tanya Satya khawatir.
“Bukan urusan elu, tapi makasih sudah memberi tumpangan tidur semalem.” Bian pamit pada semua orang dan pergi melewati pintu yang semalem di lewatinya.
Setelah kepergian Bian, pandangan Satya tertuju pada Ayumi yang juga membawa tas rangsel besar.
“Jangan bilang lu kabur juga Ayumu,” Ayumi hanya menganggukkan kepalanya.
“Astaga Alwaaaa, ngapa banyak anak prawan kabur kemari sih?” Kini Vindya menangis dengan memukul mukul bahu sang putra.
“Sakit Bunda, Alwa juga gak tau kenapa semua pada kabur kesini.” Kini Satya menoleh pada Sang Ayah untuk meminta pertolongan.
“YA sudah, om punya apartemen di dekat skolahan kalian. Kamu boleh tinggal di sana nak Ayumi, jangan di sini gak enak sama tetangga.”
Setelah satya mengantar Ayumi ke apartemen Ayahnya pun kembali kekehidupan lamanya, mageran dan selalu rebahan.
Di sekolah juga gak banyak berubah selain kekosongan bangku di samping Satya. Kepala sekolah yang juga kebingungan kelihatanya, terus menanyakan kepada teman - teman Bian termasuk Satya.
Sudah seminggu Ayumi dan juga Bian tidak masuk sekolah. Jika keberadaan Ayumi sudah jelas sedang berada di apartemen Ayahnya Satya. Namun keberadaan Bia yang masih belum di ketahui siapapun, membuat Satya khawatir juga.
“Kenapa pulang - pulang jadi lemes gini sayang?” Tanya Vindya yang merasakan perbedaan dalam diri putranya setelah kepergian gadis bar - bar waktu ini.
“Bian gak masuk sekolah sudah seminggu Bun. Alwa khawatir,” benar apa yang di fikirkan Vindya, pasti putranya tengah memikirkan gadis itu.
“Sudah kamu tanyakan ke orang tuanya? Atau memastikan ke rumahnya?” Tanya Vindya memcoba menenangkan ke khawatiran sang putra.
“Papanya terus menanyai Alwa Bun, Alwa jadi kepikiran di mana Bian sekarang.” Satya terlihat sangat khawatir dengan teman yang baru saja di kenalnya namun memberikan sedikit warna berbeda dalam hidupnya.
“Ya sudah besok kita bantu cari, kan besok kamu libur sekolah.” Bujuk Vindya yang tanpa dia tau ternyata putranya juga terus mencarinya setelah pulang sekolah.
Saat Affandi datang, Vindya sangat terkejut ketika melihat suaminya mengajak seorang gadis dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, Affandi menyuruhnya untuk mandi dan juga mengganti bajunya dengan baju Vindya, sang istri.
“Alwa mana Bun?” Tanya Affandi di meja makan yang kini tengah mempersiapkan makan malamnya.
“Sebentar lagi papa dari gadis bar - bar itu akan menjemputnya.” Affandi geram dengan kelakuan gadis yang di bawanya pulang dengan keadaan baju compang camping.
“Ayah ketemu Bian di mana?” Tanya Vindya.
“Di lampu merah, dia sepertinya di di paksa untuk kerja oleh oknum - oknum tak bertanggung jawab.” Jawab Affandi sedikit menunjukkan kemarahannya.
Setelah mandi dan mengganti baju compang camping dan bau miliknya. Bian datang menemui kedua orang tua yang sepertinya memendam amarah.
“Duduk!!” seru Affandi untuk Bian.
“Maaf tante, om. Bian membuat masalah untuk kalian,” ucap Bian dengan rasa bersalahnya.
“Sudah, makan dulu dan habis ini papa kamu akan datang menjemputmu,” ucapan Affandi membuat Bian ketakutan.
“Enggak om, Bian gak mau pulang. Bian takut di marah papa,” Bian seperti orang yang ketakutan dan seperti ada yang berubah dari seorang Bian gadis bar - bar menjadi gadis yang penakut.
“Duduk, duduk. Sekarang ceritakan sama om, apa yang terjadi di luar sana?” Tanya Affandi dengan kelembutan seorang ayah yang menanyai putri kecilnya.
“Om, sabuk hitam yang Bian miliki tak berguna bila di bandingkan dengan obat bius yang mereka berikan.” Jelas Bian dengan menjatuhkan bulir bulir air dari pelupuk matanya yang mencoba ia tahan.
“Apa yang mereka lakukan terhadapmu nak?” Tanya Vindya memeluk gadis kecil yang kini tengah tersedu dalam tangisannya.
“Assalamualaiku,” terdengar suara lelaki paruh baya dari balik pintu utama rumah Affandi.
“Om, itu papa. Beliau bisa membunuhku jika mengetahui Bian kini sudah tidak perawan lagi,” ucap Bian membuat Vindya dan Affandi merasa bersalah.
“Jangan takut, ada om dan tante.” Affandi menguatkan Bian yang kini tengah ketakutan.
Affandi membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk kerumah dengan beberapa wanita di bawanya. Diantaranya mama dan juga kakak kembar dari Bian.
__ADS_1
“Di mana kamu menemukan putri kurang ajar ini Fan?” Tanya Papa Bian yang ternyata adalah sahabat kecil yang terpisah saat mereka lulus dari Sekolah menengah pertama.
“Di lampu merah, tadi sore. Cal,” ucap Affandi membuat Sahabat kecilnya itu.
“Apa? Untuk apa di lampu merah?” Tanya papa Bian dengan kemarahan yang memuncak.
“Papa, sudah yang penting Bian sudah ketemu. Sekarang lebih baik kita ajak Fabian Pulang dulu,” ucap Risma mama dari Bian.
Mendengar keramaian di luar, Satya akhirnya keluar dari kamar. Betapa terkejutnya Satya melihat Bian ada di rumahnya. Sena, kaget dan juga tidak percaya akan kedatangan Bian di rumahnya. Namun terkejut melihat keadaan gadis yang terkenal bar - bar kini menjadi sangat pendiam dan hampir tak bebicara selain menunduk dan menangis dalam diam.
“Ya sudah sekarang kita pulang,” ajak Papa Bian sambil menarik tangan sang putri.
“Biar saya yang antar nanti kerumah anda pak.” Satya mencegah tangan besar yang terlihat kasar menggenggam tangan kecil di depannya.
“Alwa, apa maksud kamu nak?” Tanya Vindya kaget dengan ucapan putranya.
“Bunda gak lihat Bian ketakutan? Nanti biar SAya sendiri yang mengantarkan pulang ke rumah bapak.” Kembali Satya mengulang ucapannya setelah menjawab pertanyaan Bundanya dengan terus memandang Bian lekat.
“Bapak selalu percaya sama kamu nak Satya, ya sudah kami pulang ya Fan.” Papa Bian beserte istri dan kedua anak kembarnya pamit untuk pulang.
Setelah keperguan keluarga Bian, Satya mencoba menanyai Bian. Apa yang terjadi sebenranya? Pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan Satya, di jawab dengan derai air mata. Bian juga menceritakan kejadian yang menimpanya setelah pemberian obat bius.
Satya terlihat geram akan cerita yang di sampaikan oleh Bian. Di sisi lain Satya juga merasa bersalah, karena dirinyalah Bian bisa menjadi seprti saat ini.
“Ya sudah, kalau sampai papa lu tanya. Ceritakan semua, tapi jangan lu kasih tau hal yang itu.” Ujar Satya memberi wejangan.
“Tapi Alwa, pak Darmawan berniat menjodohkan Bian dengan Pandu.” perkataan yang terlontar dari mulut Ayahnya jauh lebih mengagetkannya.
“Apa itu benar?” Tanya Satya pada gadis yang kini tengah menangis tersedu.
“Iya,” jawab Bian dalam tangisannya.
“Apa kurangnya gua? Kenapa harus Pandu? Ayumi bagaimana?” Satya terlihat lebih terpukul dengan jawaban dari Bian.
“Alwa, Ayumi sudah Ayah yang urus. Dia sudah pindah sekolah dari sekolahmu ke SMA 25 mulai senin besok sudah mulai sekolah.” jawab Affandi mengerti akan kekhawatiran yang Satya tunjukkan.
“Ya sudah sekarang kamu antarkan Bian pulang.” Vindya menengahi perbincangan yang gak akan ada habisnya jika terus di lanjutkan.
Satya menuruti apa yang di katakan oleh bundanya untuk mengantarkan Bian pulang ke rumahnya. Sebelum Bian turun dari mobil Satya. Bian memeluk Satya sebagai sahabat yang entah sejak kapan terjalin.
“Terima saja apa yang menjadi keputusan orang tuamu. Pandu sebenarnya orangnya baik,” ucapan Satya seperti sebuah petir yang datang tiba - tiba menyambar seorang Bian.
Bian turun dari mobil Satya dengan nafas besar mencoba melegakan diri.
Bian memasukki rumahnya dan tenggelam dalam pintu besar rumah mewah di samping Satya. Setelah memastikan anak ayam itu masuk ke dalam rumahnya, Satya melajukan mobinya ke arah apartemen.
Apartemen di mana dirinya menurunkan gadis pujaan hatinya seminggu yang lalu. Satya memasuki loby apartemen milik Ayahnya. Berjalan ke arah Lift dan memencet angka 7 di mana apartemen Ayahnya berada.
Di depan pintu berwarna abu - abu seperti perasaanya kini. Satya memencet tombol kunci, lalu masuk ke dalam setelah pintu terbuka. Satya mendapati gadis yang tengah mengisi hatinya tengah menangis memandang ponselnya.
“Kamu kenapa Ayumi?” Tanya Satya mengagetkan Ayumi, gadis yang tengah patah hati.
Ayumi menyerahkan ponsel miliknya. Gadis pemilik rambut bergelombang dan mata lebar itu hanya diam dan tidak berniat untuk menjawab. Satya melihat ponsel yang menayangkan siaran langsung pertunangan seorang Bian denga Pandu secara Live.
Satya tertunduk lemas dan memikirkan betapa bodoh dirinya mengantarkan seorang Bian pulang. Membiarkan gadisnya itu bertunangan dengan masih memakai baju Bundanya. Kini hatinya hancur tak bersisa. Tunggu, bukannya hatinya sudah ada Ayumi?
Benar hati satya memang sudah ada Ayumi, namun telah di curi oleh gadis bar - bar untuk di hancurkan berkeping - keping.
Dalam keheningan, Ayumi juga nampak sangat terpukul dan juga kehilangan.
“Aku di campakkan setelah dia mendapatkan prawanku.”
"Kenapa kamu berikan Ayumi? kalian kan belum menikah?" Satya mencoba menguasai dirinya.
"Aku dan Pandu sudah menikah siri sebelum balapan kalian yang terakhir. Dia menjanjikan banyak hal terhadapku, tapi kini dia telah meninggalkanku." Ayumi menangis dalam kekecewaanya.
Satya tak mampu berkata apa, fikiranya benar benar sudah tak mampu untuk bekerja lagi.
__ADS_1
Tunggu, menikah siri? berarti Pandu sudah memiliki istri, yaitu Ayumi. Lantas Bian?
"Sial, Bian!!"