
Pagi mendung menyapa jiwa-jiwa yang malas. Hawa dingin yang membuat mata enggan untuk terbuka. Dan pelukan istri membuat suami tak ingin melakukan apapun.
Jika mencium tangan suami di ibaratkan dengan mencium hajar aswat. Maka memeluk istri mampu meredam setres juga memberi kenyamanan bagi sang suami.
Karena rasa malas yang begitu besar, hari ini Satya dengan Bian berangkat ke sekolah bersama. Gak ada hubungannya sih sebenarnya, memang di sengaja saja sama Satya.
Di parkiran sekolah, Satya langsung di sambut oleh Pandu yang sedari kemarin anteng karena kehilangan mobilnya.
“Gila, abis dapetin mobil gue. Sekarang tunangan gue di embat juga,” ucap Pandu sini pada rivalnya itu.
“Gak usah macem-macem Pandu, elu melamar gue dengan anceman bodong. Dan sekarang gue sudah memilih Satya, lu mau apa?” Tanya Bian yang sedikit menantang Pandu.
“Jangan terlalu membanggakan diri kawan. Aku memiliki foto mu tanpa busana,” ucap Pandu yang langsung mendapat bogem mentah dari wanita pemegang sabuk hitam selama di kampung sebelumnya.
“Sekali lagi lu macem-macem sama gue, habis lu di tangan gue!!” seru Bian dengan berani mencengkram seragam atas lelaki tampan nan tinggi di depannya.
Satya terlihat sangat terkejut dengan tindakan yang di lakukan oleh gadisnya. Bukan hanya Satya yang terkejut, tapi juga beberapa siswa yang tak sengaja menyaksikan kejadian tersebut.
Nurul yang menyaksikan keterkejutan Satya, tanpa ragu lagi langsung menggandeng lengan Satya lalu menariknya kekelas.
“Dasar cewek bar-bar” kata Nurul ketika Bian hendak duduk di bangkunya yang berada di samping Satya.
“Berani sama gue!!” ucap dingin Bian dengan melempar tasnya ke bangku.
“Udah, udah.” Satya mencoba menenangkan istrinya yang kini tengah mengeluarkan taringnya.
Ujian Bahasa indonesia dengan durasi waktu yang sama dengan kedua mata pelajaran sahabatnya kemarin sudah berakhir. Satya yang hendak keluar kelas, di hadang oleh Nurul yang memaksanya ke kantin.
“Sabar, Nurul memang selalu caper. Ya begitulah dia,” ucap Sasa yang menenangkan emosi Bian.
“Bisa enggak tanduk lu itu di sembunyiin dulu? Berasa bertemen sama devil gua,” kini Michael yang berpendapat.
Sasa dan Bian langsung tertawa dengan apa yang di ungkap Michael pada perempuan itu. Ketiga orang yang baru saja menguras otak untuk merangkai kata dengan benar, berjalan menyusuri lorong menuju kantin.
Di kantin Bian di suguhkan dengan pemandangan yang membuat dirinya sedikit terbakar api cemburu. Bagaimana tidak cemburu jika mendapati orang yang tiap malam tidur di sampingnya tengah digelayuti oleh seorang gadis cantik macam Nurul.
Bian dengan santainya duduk di depan Satya dan di ikuti dengan kedua temannya. Satya hanya diam saja melihat wanitanya tak terlihat cemburu sama sekali. Bukan tak cemburu tapi kepintara Bian saja menutupi perasaannya.
Michael memesankan kedua temannya bakso sesuai pesanan mereka. Bian memang menyukai pedas, sehingga dirinya menuang hampir setengah dari sambal kedalam mangkuknya. Dengan santainya Bian melahap baksonya.
Keempat teman yang ada di depannya hanya melihat ke arah Bian yang melahap makanannya.
“Apa enggak merasa pedes?” Tanya Satya yang tak mampu lagi menahan rasa ingin tahunya.
“Pedes sih, tapi tak sepedas ciuman mu,” goda Bian yang membuat Satya tersenyum dan kedua teman di sampingnya melotot tak percaya, sedangkan Nurul seperti tak suka.
“Mau lagi?” Tanya Satya sambil tersenyum.
“Tunggu-tunggu, kalian ini seperti menganggap kami cuma bayangan tau. Emangnya kalian anggap kami apa?” Tanya Michael menghentikan kedua manusia yang tengah di mabuk kepayang ini.
“Gangu aja sih, ini gua lagi berusaha,” ucap Satya sebal.
“Usaha apa lu? Buat dapetin ciuman Bian?” Tanya Michael sedikit meremehkan.
“Sekarang pun aku bisa mencium cewek bar-bar ini. Tapi aku gak mau entar dia baper aja,”Jawab Satya santai terus melihat ke arah istrinya.
“Enak aja lu, hallo tuan punya apa anda membuat saya Baper?” Jawab Bian dengan sedikit jengkel.
“Kalian ini, sudah makan saja makanan kalian,” ucap Nurul yang terlihat sangat, sangat tidak senang.
__ADS_1
Ke lima orang yang tengah menikmati makanannya. Tiba-tiba terdengan suara orang menggebrak meja. Siapa lagi yang selalu tidak suka terhadap Satya selain Pandu.
“Yang benar saja, ada seorang yang terlihat baik dan sangat alim atau bisa di bilang jaim. Putri tersayang dari sang kepala sekolah bisa melakukan ini?” Pandu menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan Bian tengah mengenakan bikini di pinggir pantai.
Dengan santainya Bian mendekati Pandu dengan menunjuk foto yang di pegang Pandu.
“Lu kalau mau ngelawak jangan di sini sayang, mempermalukan diri itu hanya tindakan orang bodoh. Bisa di lihat dong ya, itu saya lagi di pantai loh bukan ke pasar. Coba di fikir lagi, masak iya gue ke pantai pakek mukena? Lu kalo mikir yang logis sayang. Punya otak itu jangan di donasiin ke panti jompo,” ucap Bian membuat semua tertawa termasuk Satya, sedangkan Pandu seperti orang yang cengoh meninggalkan kantin dengan hati dongkol.
“Jawaban keren yang tak pernah gua pikir sebelumnya. Gua pikir lu bakalan hajar habis-habisan Pandu seperti tadi pagi,” ucap Satya yang langsung merangkul Bian.
“Orang seperti dia itu tidak bisa di lawan dengan kekerasan. Karena dia itu sudah bermuka tembok. Semakin dia di sakiti, semakin dia mencari cara untuk menyakiti balik.” Terang Bian pada Satya.
“Baiklah madam, sekarang mau mu gimana?” Tanya Satya setelah keduanya kembali ke tempat duduk masing-masing.
“Sepertinya nongkrong di cafe enak ni,” Sindir Bian pada Satya.
“Ya, ya kalian berempat boleh nongkrong di cafe gua gratis.” Jawab Satya dengan gaya mencibir.
Akhirnya kelima orang berpindah ke cafe Affandi yang di kelolah oleh Satya. Bian seakan mendapat kesempatan untuk mengeksplor apa yang menjadi hobinya.
Melihat dapur di cafe yang ada di mall A gadis bar-bar berubah menjadi seorang ibu yang gemar memasak, tak lupa dengan kecrewetannya juga.
“Haaaaeeee, ini gue bikinin cemilan.” Bian membawa burger dengan isian berbagai macam sayur dan juga daging. Ada juga salad buah dan entah apa lagi itu yg di bikin Bian, yang jelas itu masakan berupa sayuran yang entah di campur dengan apa saja. Bian menamainya campur podo moro.
Ke empat temannya hanya mengiyakan.
“Eh itu bukannya Ayumi sama Pandu ya?” tunjuk Nurul yang ada di samping Bian.
“Biarin aja lah,” ucap Michael cuek.
***
Minggu demi minggu sudah di lalui oleh ke lima remaja yang saat ini telah menghadapi ujian masuk ke perguruan tinggi. Meski mereka mengambil jurusan yang berbeda, namun mereka memutuskan untuk tetap satu universitas.
Satya dan Michael mengambil jurusan managemen. Nurul dan Sasa mengambil jurusan desain sedangkan Bian mengambil jurusan tata boga sesuai dengan hobinya.
Ujian kelulusan memang belum berlangsung, namun kelima pelajar itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Setelah kedatangan para mahasiswa ke sekolah Satya dan kawa-kawan. Mereka menjalankan beberapa tes untuk masuk universitas.
“Sepertinya kami akan jujur satu hal yang menurut kami penting,” ucap Satya mengagetkan ketiga teman yang menemaninya duduk di sebuah taman di kampus tempat mereka tes.
“Kita? Siapa saja?” Tanya Nurul polos.
“Gua dan Bian.” Satya menundukkan kepala seperti menenangkan atau memantapkan diri untuk mengatan yang sebenarnya kepada ketiga temannya.
“Ada hubungan apa antara elu sama Bian?” Tanya Michael yang sudah tak sabar.
“Empat bulan yang lalu, tepatnya pas gua mengumumin untuk vacum di balapan liar. Gua memsatikan diri dengan menemui Ayumi. Tapi gua mendapat hadiah yang sangat-sangat mengejutkan. Gua mergokin Ayumi masukin Pandu ke dalam apartemen yang di berikan oleh Ayah. Gua gak habis pikir dan merasa di bodohi kembali oleh mereka berdua,” ucap Satya.
“Bukankan elu tau kalo Ayumi sudah gak perawan?” Tanya Nurul yang juga mengetahui hubungan Ayumi dan Satya yang ternoda oleh Pandu.
“Gua gak pernah perhitungan akan hal itu, tapi gua berfikir sungguh kasian Ayumi yang di tinggal oleh Pandu. Pandu bertunangan dengan Bian saat itu. Dan emosi gua memuncak dong dan menantang Pandu untuk merebut Bian dari tangan Pandu.”
“Gua tadinya menyesali apa yang guaucapkan. Tapi gua melihat Bian menunggu gua di depan kamar, gua pelukan sama Bian dan hilang semua yang gua omongin ke Pandu. Rasanya hanya ingin melindungi Bian dari Pandu. Ternyata Gua ketahuan oleh Ayah saat pelukan sama Bian, langsung aja gua minta di nikahin sama Bian hari itu juga.”
“Jam sepuluh pagi kami sudah sah menjadi pasangan suami istri. Dan Pandu datang mengantar mobilnya. Ingin gua kasi tahu saat itu juga, tapi gua masih mau melihat apa yang akan terjadi dulu.”
Mendengar pengakuan Satya, ketiga orang di depannya hanya menutup mulut tak percaya.
“Kalian berdua itu sunggu aktor yang sangat handal. Menyembunyikan hal ini pada kami,” ucap Sasa yang merasa di bohongi.
__ADS_1
“Bian, maafin gue ya.” Nurul merasa bersalah.
“Maaf untuk apa?” Tanya Bian merasa aneh pada kawannya yang terkesan seperti anak kecil itu.
“Ya karena selama ini terus gelayutan dan manja ke Satya,” ucap Nurul yang kini sudah menangis.
“Gue gak marah ke elu Nurul, santai aja. Gue tau lu kayak gitu karena lu kehilangan abang tersayang elu. Gue gak akan cemburu ke elu, di tambah denger cerita elu yang kehilangan abang satu-satunya yang lu miliki.” Tutur Bian yang semakin hari terlihat semakin dewasa.
“Makasih ya Bi, kalian sudah menerima sifat manja gue aja. Gue udah sangat seneng,” Nurul kini sudah menangis.
“Sudah jangan nangis lagi lah. Kita itu terbiasa denger rengekan elu, jadi saat denger kata maaf lu berasa aneh.’ Michael memeluk kepala Nurul dan mengempit di ketiaknya.
“Ketek lu bauk, kalo Satya baru harum.” Nurul melepaskan diri dari kempitan Michael.
“Harum lah, kan gue cuci setiap hari bajunya,” cibir Bian membuat semua tertawa, termasuk Satya.
“Makasih ya, sudah mau menjadi istriku.” Satya memeluk Nurul juga Bian yang di ikuti dengan kedua temen yang lainnya.
Kelima orang yang tengah asik berpelukan itu tak menyadari jika sedang di perhatikan oleh sepasag mata di sudut taman. Ayumi sangat kesal ketika mendengar lelaki yang di cintainya sudah menikah dengan seorang wanita asing baginya.
“Dasar pela cur tak tau diri, lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk memisahkan kalian berdua.” Ayumi tak terima dengan pernikahan mereka berdua.
Ayumi meninggalkan tempatnya dan berusaha menyusun rencana. Hubungannya dengan Pandu yang semakin hambar mebuatnya tak terima menjadi wanita yang terbuang. Karena masih penasaran, Pandu masih terus mengejar Bian.
***
Untuk menghadapi ujian Minggu depan, ke lima orang itu terus belajar bersama di rumah Satya. Selain tenang di rumah Satya terdapat perpustakaan kecil milik Ayahnya yang gemar membaca.
Hampir semua buku yang di butuhkan Satya dan kawan-kawannya tersedia di perpustakaan sang Ayah. Namun jika ada buku yang penting tapi tidak tersedia di perpustakaan. Dengan santainya Bian merayu mertuanya untuk membelikannya.
Benar, Affandi sekarang lebih menyayangi sang menantu dari pada putranya sendiri. Alasannya sih sepele, biar cepet di beri cucu. Lah sebenernya kan kalau Satya tidak ikut andil juga gak akan jadi.
Tak jarang juga Bian meminta Papanya untuk memberinya buku yang sangat di butuhkan Bian dan kawan-kawan.
“enak juga ya punya temen anak kepala sekolah, bisa minjem langsung buku yang tak di miliki.” ucap Sasa kegirangan.
“Heeee jangan sampek ada yang tau lah, nanti di kira pilih kasih lagi papa gue. Dan lagi, kita itu tidak sedang meminta jawaban dari papa, jadi jangan sampai ada orang yang menganggap kita ngerjain dengan gak jujur. Alias mendapat bocoran,” ucap Bian yang megingatkan teman-temannya.
“Iya juga ya, usaha kita gak akan ada artinya kalau begitu,” ucap Nurul memikir sebelum memakan pisang goreng bikinan mertuanya Bian.
“Nah itu tau,” Bian kini tengah bermanja pada suaminya.
“Mata jomblo gue ternoda hikz,” Michael berpura menutup matanya dengan kedua tangannya, namun jari merenggang.
“Ya udah kalo gitu biar Nurul aja yang manja-manjaan di Michael. Kalo di Satya udah gak ada tempat,” ucap Nurul yang langsug tidur di panguan Michael.
“Jangan bilang gitu, gue maupun Satya juga akan terus melindungi kalian bertiga.” ujar Michael yang membelai rambut pendek Nurul.
“Kalau kalian berpasangan terus gue sama siapa?” Tanya Sasa tak mau kalah.
“Elu bini kedua gue ya harus di pangkuan gue,” Michael menarik Sasa di pangkuannya.
“Dih, ngarep banget sih,” Biar mencibir, Sasa rupanya enggan untuk bangun dari posisi nyamannya.
“Rasakan kenyamanan yang gue berikan bini kedua ku.” Michael tersenyum sinis pada Sasa.
“Kalo Sasa istri kedua elu, lah siapa istri pertama elu?” Tanya Nurul dengan melipat bukunya di dada.
“Ya elu lah, siapa lagi?” Jawab Satya dan Bian barengan.
__ADS_1
“Hiii, ogah gue di madu. Berani lu madu gue dengan Sasa, gue racun juga lu nanti El” Nurul tak terima malah di ketawai semuanya.