Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Nurul dan Arkan


__ADS_3

Dari rumah Satya Arkan yang membawa kendaraan sendiri pun berniat untuk mengantar teman temannya. Setelah mengantar Sasa, Arkan mengantar Michael yang memang rumahnya tak berjauhan jaraknya.


Namun saat mengantar Nurul, rupanya Arkan mengambil jalan lain. Hal itu di sadari oleh gadis manja yang duduk di depan setelah berpindah dari kursi belakangnya.


“Ini bukan arah ke rumah gue,” ucap Nurul yang menyadari keanehan jalan yang di lewatinya.


“Memang,” Jawab Arkan singkat.


“Lu mau bawa gue kemana?” Tanya Nurul sedikit takut.


“Jangan takut, gue cuma mau mengajak elu jalan jalan sebentar,” Arkan semakin meningkatkan kecepatan kendaraannya melewati jalan tol kearah luar kota.


“Sebenernya elu mau ngajak gue kemana?” Tanya Nurul yang semakin takut karena Arkan semakin diam dan misterius.


Keadaan memang sudah hampir tengah malam. Dan Nurul tak pernah kuat bergadang pun akhirnya terlelap dalam mobil Arkan.


Lumayan lama sampai di tempat tujuan. Menghabiskan sekitar lima jam lebih hingga sampai di Semarang, rumah nenek dan kakek Arkan.


“Nek, bisa bukakan pintu?” tanya Arkan sopan pada wanita tua beruban namun masih terlihat segar dan bugar.


“Kok malem sekali nyampeknya le?” Tanya nenek Arum yang memang sudah mendapat kabar dari Arkan sebelumnya.


“Maaf nek, soalnya tadi kumpul kumpul dulu sama temen temen. Oh iya nek, Arkan membawa cewek,” Arkan memberi tahu jika di mobilnya ada seorag perempuan yang tengah tertidur.


“Kamu mengajak Lisa? Katanya kamu gak suka?” Tanya Neneknya yang terkejut.


“Bukan Nek, tapi ini cewek yang Arkan suka. Arkan minta tolong buat meikah dengan dia di sini nek, yang penting sah saja dulu nek. Masalah resepsi nanti saja di fikirkan.” jelas Arkan yang membuat nenek dan kakeknya terkejut.


“Kamu itu buat masalah saja sama papamu. Dulu kamu gak mau menjalankan usaha papamu, sekarang malah membawa kabur cewek. Mbok ya pikirin kesehatannya papamu to, kasian kalau harus terus menerus masuk rumah sakit. Mamamu juga sudah tua gak kuat lagi kalau harus terus menggantikan papamu di perusahaan dan cafe.” Tutur kakek Bima yang menjadi panutan Arkan.


“Arkan janji akan menggantikan papa Kek setelah menikah dengan gadis ini. Karena dia juga sudah sebulan ini Arkan menggantikan papa di cafe.,” jawab Arkan yang membuat kakek dan neneknya tersenyum.


“Perusahaan itu didirikan oleh papamu untuk kalian, kamu dan Alm kakakmu. Tapi kakakmu sudah lebih dulu berpulang ke Rahmatullah, dan sekarang cuma ada kamu dan adik kamu yang masih kecil juga. Kalau bukan kamu yang membantu papamu terus siapa lagi? Lia masih berumur tiga puluh lima tapi sudah seperti nenek nenek. Hmmm yang ngerti kamu sama papa mama kamu nak,” tutur Arum pada cucu tersayangnya.


“Arkan bukannya gak mau membantu papa nek, Hanya saja Arkan gak suka sama Lisa yang terlalu agresif. Selama masih ada Abang Arul, wanita itu berani menggoda Arkan. Makanya Arkan gak mau menerima Lisa. Cewek yang Arkan bawa ini anak dari temen papa kek,” ujar Arkan


“Teman Papa mu siapa namanya?” Tanya Kakek Bima penasaran.


“Om Yudistira sama tante Meisya, apa kakek mengenal mereka?” Tanya Arkan yang sepertinya memang kakeknya ini mengetahui sesuatu.


“Jodoh memang gak kemana. Kalau dengan anaknya Yudistira ya mending nikah resmi saja. Itu rumah orang tuanya Yudistira yang di depannya pak De Supri.” Jelas Kakek tua yang masih terlihat kuat itu menunjukkan jikan kakek dari gadis yang di bawanya itu masih kerabat.


“Ya sudah mana dia? Kenapa gak ikut masuk?” Tanya Nenek Arum yang menunjukkan senyumannya.


“Tidur di mobil nek, ini lo masih jam tiga subuh. Biar Arkan gendong saja ke kamar, kasian kalau di bangunin.” Arkan menunjukkan rasa tanggung jawabnya juga rasa bahagiannya.


Arkan membawa gadisnya masuk ke dalam kamarnya dan menidurkan di kasur miliknya. Arkan memang lebih lama tinggal dengan kakek neneknya dari pada sang papa dan mama. Ini di karenakan mama sama papanya sibuk bekerja.


Arkan yang bahagia pun tersenyum memandang wanitanya yang tidur di sampinya. Hingga akhirnya Arkan terlelap di samping gadis manja yang selalu ingin di lindunginya.


Pagi menyapa mereka, manun belum ada yang berniat untuk membuka mata. Hingga akhirnya sebuah ketukan pintu membuat Nurul terbangun dan mengamati tempat dirinya terbangun.


Merasa ada sesuatu menimpa perutya pun Nurul hanya meraba tanpa mengeluarkan kata. Setelah memastikan bukan benda berbahaya pun Nurul baru berani melihatnya. Melihat tangan putih dan lumayan besar bila di banding dengan miliknya pun Nurul mencoba melihat ke arah pusat tangan itu.


Nurul terkejut dengan menarik nafas dalam dalam sebelum mendorong keras tangan yang melingkari perutnya.


“Apa apaan ini Arkaaaaannnnn!!!” Geram Nurul namun tak berani teriak karena merasa di tempat yang asing baginya.


“Ssssstttt, masih ngantuk gue Rul.” Arkan mengeratkan pelukannya pada gadisnya yang kini sudah terduduk di sampingnya.

__ADS_1


“Heh bangun dulu, ini di mana?” Tanya Nurul manja yang membuat Arkan tersenyum geli bercampur gemas.


“Sudah tidur lagi aja. Ini di rumah nenek gue,” Jawab Arkan yang memperdulikan ketakutan Nurul yang ada si sampingnya.


“Arkan, gue mau pipis,” bisik Nurul yang tak bermaksud apa apa selain malu karena sedari tadi tak menemukan pintu kamar mandi di kamar tempatnya tidur semalam.


“Kamu mau aku anterin apa aku bantuin sekalian?” Jawab Arkan menggoda Nurul dengan mata yang masih tertutup namun bibirnya tersenyum lebar.


“Manis manis kok otak nya mesum sih,” Gerutu Nurul dengan khas manjanya.


“Hmm ya sudah maunya apa sekarang?” Tanya Arkan yang terpaksa bangun karena sudah tak tahan lagi menahan tawanya karena kemanjaan Nurul.


“Di mana kamar mandinya?” Tanya Nurul yang sudah tak tahan lagi menahan air yang mendesak keluar.


“Itu di pojokan sana kamar mandinya,” Arkan menunjuk arah pojok samping televisi.


Tanpa banyak tanya lagi, Nurul langsung turun dari tempat tidur lalu berlari ke arah kamar mandi. Arkan yang melihat tinggkah gadis yang membuatnya jatuh hati pun tersenyum tak henti hentinya.


Arkan menyiapkan baju untuk Nurul ganti baju. Jangan tanya dari mana Arkan mendapatkannya, karena Aku juga gak tau. Arkan mengetuk pintu kamar mandi dan mengatakan agar Nurul sekalian mandi. Arkan juga tak lupa mengatakan jika dirinya sudah menyiapkan baju untuknya.


Arkan keluar kamar setelah memberitahu pada Nurul. Arkan mencari neneknya di belakang rumah. Rumah nenek Arkan terbilang mewah untuk ukuran di perkampungan seperti ini. Rumah memiliki dua lantai dan juga pekarangan luas cukup untuk tiga mobil parkir sekaligus.


“Kakek mana Nek?” Tanya Arkan pada Neneknya yang sedang memberi makan ikan hias yang berada di kolam belakang rumahnya.


“Kekeluarahan untk mendaftarkan kalian ke catatan sipil. Besok kalian akan ijab di sini. Kata pak ustad pagi pagi sekali biar gak terlalu mengganggu kegiatan saksi nantinya.” Nenek Arum memberi tau apa yang sudah di sampaikan oleh suaminya sebelum pergu kekelurahan.


“Makasih ya nek,” Arkan memeluk neneknya manja.


Arkan kembali ke kamar yang ada di lantai dua, melihat gadis manjanya. Arkan mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamarnya sendiri. Nurul sudah berganti baju dengan yang di sediakan oleh Arkan.


“Ternyata ukuran bajumu tak susah ya mencarinya.” Arkan masuk kedalam kamar setelah Nurul membukakan pintu untuknya.


“Kamu yang beliin ini?” Tanya Nurul dengan mata yang berbinar.


“Iya, suka?” Tanya Arkan balik.


“Suka, tapi aku masih bingung, kenapa elu ngajak gue ke rumah nenek elu? Dan ini di mana?” Tanya Nurul.


“Mengajakmu kawin lari.” Jawab Arkan jujur.


“APA!!” Kaget Nurul yang membuat Arkan semakin gemas.


“Ya,” Arkan manggut manggutkan kepalanya.


Sedangkan Nurul masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh lelaki yang pernah di cemburui oleh Satya.


“Lu waras ‘kan Ar? Gak lagi salah minum obat ‘kan?” Tanya Nurul memastikan kebenaran jawaban dari seorang Arkan yang terkenal sebagai seorang yang suka menyakiti hati siapapun yang di ajaknya berbicara.


“Sekarang gue tanya ke elu, lu mau enggak kalau kita nikah besok?” Pertanyaan yang membuat Nurul semakin bingung dan juga tak tau harus menjawab apa.


Seneng, bahagia dan juga bingung. Itulah yang di rasa Nurul saat ini. Bagaimana jika papanya marah, bagaimana jika mamanya marah, bagaimana jika tunangan atau cewek yang di jodohkan dengan Arkan tidak terima? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang ada di kepala Nurul.


Nurul yang memang terpikat dengan senyuman Arkan hanya mengangguk pelan. Melihat jawaban Nurul, Arkan pun tak ragu ragu memeluk gadis manjanya.


“Apa yang elu mau sebagai mas kawinnya?” Tanya Arkan masih dengan senyuman yang mengembang di bibir tipisnya.


“Aku minta surat Maryam untuk maharnya dan seperangkat alat salat. Itu saja,” Jawab Nurul.


“Kenapa Surat Maryam?” Tanya heran seorang Arkan.

__ADS_1


“Aku mengagumi Ibunda Nabi Isa as. Beliau wanita yang kuat dan taat kepada Tuhan-NYA. Aku ingin meneladani beliau juga Aisyah istri Nabi Muhamad yang menjadi seorang wanita yang setia kepada suami dan juga Tuhan-NYA,” Jawab Nurul berbinar ketika menceritakan kedua wanita yang menjadi idolanya.


“Aku akan menghafal surat Maryam untukmu,” ucap Arkan terdengar manis di telinga Nurul.


“Aku gak mau membebanimu, kamu cukup membacakan untukku bukan menghafal untukku.” Kembali Nurul menunjjukan sisi kedewasaannya.


“Bener bener gak salah gue milih elu sebagai pendamping hidup gue,” Arkan terus memuji Nurul dan membuat wanita di sampingnya itu tertunduk malu.


“Tapi gue gak bisa masak sama sekali, bahkan gue gak pernah masuk dapur.” Kata Nurul yang menjadi salah satu uneg uneg dalam hatinya.


“Apa gunanya gue kuliah masak kalo masih nyuruh elu?” Jawaban yang mungkin akan di nantikan banyak wanita di dunia, kini di dengar oleh Nurul dengan nada yang sangat indah karena di iringi dengan senyuman.


“Gue akan berusaha buat belajar nyapu nyuci dan menyetrika baju mu,” Kata Nurul malu malu.


“Gue nyari istri bukan mencari pembantu.” Blush wajah Nurul langsung memerah dan membuatnya tak sanggup untuk berkata apa apa lagi.


***


Keesokan pagi, tepat jam delapan pagi. Arkan membacakan surat Maryam untuk Nurul sebagai maharnya dalam ijab Qobul.


“SAH”


Tiga huruf yang membuat bahagia kedua mempelai pengantin yang berhadapan dengan pak penghulu dan kelima saksi dalam pernikan ini.


“Akhirnya sah juga. Hmmmm nenek, kakek terimakasih ya sudah memberikan yang terbaik untuk Arkan dan juga Nurul.” ucpa Arkan pada kedua orang yang paling di hormatinya.


“Sekarang gimana caramu memberi tahu orang tua kalian?” Tanya kakek Bima yang terus berfikir lebih akan kemurkaan mereka berempat.


“Papa… papa….” panggil seseorang dari dalam telefon tapi entah di mana.


“Mbah kung… mbah kung…” kembali suara yang di kenali oleh Bima pun memanggil manggilnya.


“Seperti suara Soni sama Yudistira, di mana mereka?” Tanya Bima yang ternyata pendengarannya memang masih tajam.


“Mereka di sana ke, Mereka berdua bahkan mama Lia sama mama Meysia juga menyaksikan pernikahan ini. Mereka merestui, mau gak mau sih Arkan tadi memaksa. Kalau enggak mau merestui ya silahkan aja punya cucu di luar nikah.” Terang Arkan yang membuat tercengang kakek nenek juga istrinya.


“Dasar anak muda,” kakek Bima memukul pelan pundak cucunya.


“Pa, titip anak anak nakal itu pa, sumpah bangor banget itu anak, keturunan siapa coba itu,” omel Soni pada putranya.


“Keturunan elu itu Son. Lu gak inget suka nyuri mangga di kebon pak Hasan? Di bilangin sumpah lu keras kek batu. Susah sekali,” Omel Yudistira yang tak terima menantunya di omelin.


“Tapi kan elu ikut makan dulu Yud,” Soni rupanya tak terima jika di salahkan.


“kalo tau juga gak bakalan gue makan Son,” pertengkaran memang selalu terjadi di antara keduanya dari dulu.


“Sudah sudah, sekarang ini anak anak gimana?” tanya kakek Bima pada kedua orang tua yang seperti menyerahkan tanggung jawabnya pada lelaki tua yang ada di Semarang ini.


“Biar mereka pulang ke rumah dulu, masak iya menantu di biarin di pinggir jalan sih.” kali ini Lia yang ikut berbicara.


“Kalau sampek kalian tega menzholimi anak gue, liat aja. Santet online bakalan datang kerumah elu, mengetuk genteng rumah elu,” Ancam Yudistira yang tak langsung menitipkan putri tersayangnya pada teman kecilnya.


“Paling entar anak elu yang malem malem gangguin anak gue tidur,” Soni kembali menuduh putri cantik nan manja yang sering memeluknya di mana pun.


“Kalian ini ngomong apa sih?” Bentak Arkan tentang pembicaraan antar besan itu.


Semua yang mendengarkan pun tertawa karena melihat Nurul sudah malu malu. Wajah merah yang di sembunyikan di belakang punggung Arkan pun menambah kegemasan pada diri Arkan.


Setelah berpamitan Nurul dan Arkan kembali ke Jakarta di mana mereka tengah menempuh pendidikan. Sebelum kembali ke rumah kedua orang tuanya, Arkan yang memang sudah terlalu kecapekan pun memilih hotel untuk beristirahat.

__ADS_1


Memang sudah sah sebagai suami istri, tapi memang dasarnya Nurul itu malu malu. Akhirnya Nurul memilih untuk tidur di sofa. Pas tengah malam Arkan melihat gadisnya tidur di sofa malah tertawa tak henti hentinya.


Setelah mengambil foto istrinya, baru Arkan memindahkannya di tempat tidur dan tidur bersama dengan dirinya.


__ADS_2