Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Wina merajuk


__ADS_3

“Hujan hujan begini enaknya ngapain ya?” tanya Wina menggoda suaminya yang tegah fokus pada kerjaan di hadapannya.


“Bikin mie sana biar gak ganggu,” jawab Fariz dengan nada malasnya tanpa melihat ke arah istrinya.


“Apa gak ada yang bisa kita lakukan bersama gitu?” Wina kembali memberi kode pada suaminya yang menjadi budak kerjaan.


“Ada,” Fariz akhirnya menoleh ke arah istrinya.


“Benarkah? Apa itu?” bahagia dan juga penasaran, itulah perasaan Wina saat ini.


“Kamu bisa duduk di sini dan menemani aku kerja,” senyum Fariz terlihat jelas ketika dirinya berhasil menjaili istrinya yang terkesan lebih manja belakangan ini.


“Ih, sudahlah. Aku mau telfon papa dulu,” Wina berlalu meninggalkan suaminya yang kaget mendengar apa yang di ucapkan Wina.


“Kamu mau apa telfon papa?” tanya Faris mengejar istrinya yang sudah keluar dari ruang kerjanya.


“Mau ngadu lah. Biar papa tau kalau putri tercintanya gak di sayang sama sekali sama suaminya,” Wina cemberut dan sedikit mempercepat langkahnya ketika sada dirinya tengah di kejar oleh suaminya.


“Wina sayang, emangnya aku kurang sayang hmmm?” Tanya Fariz yang pura pura tak tau kesalahannya.


“Auk ah gelap!” Wina langsung berlari ke kamarnya dan segera mengunci pintu dari dalam.


“Sayang, buka pintu dong. Iya iya aku nurut sekarang, apa maunya sayang sekarang, tapi jangan marah lagi ya…” Bujuk Fariz.


Hanya dengan melongokkan kepalanya saja, Wina menanyakan keseriusan sang suami. Setelah mendapat jawaban iya aku janji, Wina langsung menarik tangan Fariz dan kembali mengunci pintunya.


Pembantu yang melihat tingkah kedua majikannya pun hanya menggeleng geleng kepala. Memiliki majikan yang masih remaja itu rasanya kaya makan permen beraneka rasa dalam satu isapan. Ada enaknya, ada gak enaknya dan terkadang harus menahan malu sendiri karena tingkah majikannya.


Masa masa remaja yang di lalui dengan ikatan suami istri tak membuat keduanya terlihat terbebani. Mungkin ini semua karena ini keinginan mereka sendiri, di tambah mereka menikah karena cinta.


Seringnya terjadi pemandangan yang membuat para pembantu itu merasa kikuk atau bahkan malu sendiri. Kedua remaja itu mengumbar kemesraan hampir di setiap tempat yangada di dalam rumah itu.


Memang tak langsung bermesraan di hadapan para pembantu. Tetapi adanya unsur ketidak sengajaan yang membuat para pembantu itu melihat majikannya yang asik pacaran.


Seperti tadi, para pembantu harus melihat kedua majikannya berlarian saling kejar. Saling merayu dan tak jarang juga melontarkan gombalan khas anak muda.


Tok…


Tok…


Tok…


Pintu kamar di ketuk oleh salah satu pembantu yang akan berpamitan pulang. Sedangkan di dalam kamar sedang memakan buah yang susah untuk di buka.


“Pelan pelan itu, kalau terlalu di tekan airnya akan kemana mana,” begitulah kata yang terdengar samar samar dari balik pintu.


“Mbak Ida, itu enon sama tuan muda lagi bikin dedek deh kayaknya,” Bisik Yuma pembantu yang lebih muda.


“Sstt ngawur aja. Kayak kamu tau aja gimana orang bikin dedek, sepertinya mereka lagi buka air minum makanya airnya keluar kalau di pencet.” jelas mbak Ida, pembantu yang lebih berumur.


“Ya sudah kalau begitu ketuk aja lagi, anakku sudah menunggu di luar.” Yuma terus mendorong Ida untuk mengetuk pintunya kembali.


Tok…


Tok…

__ADS_1


Tok…


“Maaf, tuan muda. Kami mau pamit,” dengan keberanian penuh Ida mengganggu kegiatan kedua majikannya.


Tak berapa lama terdengar suara kunci terbuka sebelum pintu itu terbuka lebar. Fariz keluar dengan membawa dua amplop berwarna putih di tangannya. Fariz memberikan kedua amplop itu pada Yuma dan juga Ida.


“Apa ini tuan? Apa kita di pecat karena mengganggu tuan bikin dedek?” Tanya Yuma dengan polosnya.


“Hahahaha bikin dedek apa sih mbak Yuma ini. Aku gak memecat tapi ini untuk anak anak angkat mbak Yuma, dan ini untuk Mbak Ida. Bonus sudah bekerja dengan baik dan melayani kami, inget besok masih harus kerja lo ya,” Fariz mengingatkan kedua orang yang kini sudah berkaca kaca.


“Makasih Tuan Muda, anak-anak pasti suka kalau aku belikan daging,” ucap Yuma.


Yuma adalah pembantu yang di temui Fariz di jalanan tengah menengadahkan tangan. Sambil menggendong adiknya yang sakit. Yuma meminta bantuan untuk membawa adik yang sudah di anggapnya anak sendiri setelah orang tuanya meninggal dunia.


“Ya sudah tuan, kami permisi,” ucap Ida yang terlihat sudah meneteskan air matanya karena bahagia.


Ini bukan kali pertamanya mendapatka uang selain gaji. Tapi karena hari ini adalah batas akhir membayar cicilan di bank. Sedangkan dirinya masih belum memiliki uang.


Kedua pembantunya pergi meninggalkan rumah besar yang hanya di huni oleh dua orang itu. Kesepian kini menemani kedua remaja yang mengikatkan diri pada pernikahan dini.


Malam yang selalu di lalui dengan kesunyian setelah kepergian Mentari. Mentari adalha senyum bagi kedua orang ini, tapi kali ini kedua orang itu berusaha untuk kebahagiaan mereka sendiri. Mengubur Mentari dengan meninggalkan sejuta kenangan.


Jasat Mentari yang terpendam di dalam tanah, tak menghentikan mereka berdua untuk menghadirkan kenangannya. Mentari adalah teman sekaligus madu yang teranis bagi Wina. Istri yang sempurna bagi Fariz meski hanya beberapa mingu di nikahinya.


Pagi menjelang ketika Fariz membangunkan Wina. Fariz yang lembur akibat gangguan dari sang istri saat bekerja. Kerjaan Fariz yang teramat banyak, membuatya tak bisa meninggalkannya walau hanya sebentar.


“Bangun sayang, sudah pagi. Aku mungkin akan bolos hari inj, aku ngantuk sekali.” ucap Fariz yang membangunkan Wina.


“Aku gak mau ke sekolah kalau kamu gak sekolah juga,” Wina kembali dengan aksi ngambeknya.


“Ya sudah kalau begitu aku akan berangkat sekolah juga.” Fariz mengalah dengan malihat sang istri mulai merajuk.


Wina bersiap dengan seragam dan buku buku yang akan di bawanya juga milik suaminya. Menyiapkan seragam sekolahnya, serta sepatu dan kaos kakinya. Fariz keluar kamar mandi dengan rambut basahnya yang membuat Wina tak bisa lepas pandangan darinya.


Pemandangan seperti itu sebenarnya bukanlah yang pertama. Tetapi Wina selalu terpesona dengan tubuh Fariz yang terlihat gempal. Jangan mengharapkan adanya roti sobek pada orang yang tak memiliki waktu untuk berolah raga.


Setelah menyelamatkan dirinya dari tatapan penuh napsu dari istriya. Fariz segera bersiap dengan mengeringkan rambut basahnya menggunakan hairdryer. Sedikit meggosokkan pomade di tangan sebelum meratakan pada rambut hitamnya.


Setelah menyempurnakan penampilanya, Fariz turun ka bawah untuk sarapan. Selesai sarapan, Fariz dan WIna berangkat ke sekolah seperti biasanya.


Mata Fariz berasa panas karena semalaman bekerja di depan layar komputernya. Sesekali mengeluarkan air mata karena terasa begitu panas. Mobil mereka memasuki area sekolah, dan seperti biasa Fariz mencium kening Wina sebelum istrinya meminta tangannya untuk di cium.


Wina meninggalkan Fariz lebih dulu karena kelas Wina ada jadwal olah raga di jam oertama. Mata Fariz semakin panas dan terasa semakin berat. Perlahan dan pasti Fariz mengistirahatkan matanya dengan berpindah posisi ke belakang.


Mata yang terasa sangat panas, membuatnya terlelap dengan cepatnya. Jam pelajaran olah raga sudah berakhir, Wina masih belum menyadari jika suaminya belum ke kelas. Perbedaan kelas membuat Wina sulit untuk mengontrol suaminya. Entah sejak kapan Wina menjadi posesif, ini itu selalu melarang Fariz.


Tak ada jalan lain bagi Fariz selain mengiyakan meski kadang tak di patihi olehnya. Seperti saat ini dirinya lebih memilih untuk tidur di dalam mobil dari pada mengikuti pelajaran seperti harapan dari Wina. Lelah, itulah yang di rasakan oleh Fariz saat Ini.


Terkadang pemuda ini kangen dengan masa masa di mana dirinya melayani Satya. Menjadi orang keperjaayan Satya ternyata jauh berbeda dengannya dulu. Orang yang di percaya menjaga rumahnya jauh lebih menyenangkan. Dari pada menjadi orang kepercayaannya di perusahaan milik keluarga Satya.


Jam istirahat telah berbunyi sekitar setengah jam yang lalu. Wina terus menunggu sang suami di kantin dengan menu kesukaannya, mie goreng. Wina sepertinya harus menelan pil pait untuk hari ini, karena sang Arjuna pujaan hatinya tak menampakkan diri.


Hingga jam pelajaran terakhir juga sudah berbunyi, Wina tetap memperhatikan jendela luar kelas. Dia berharap sang suami mengantarkan guru untuk membawakan buku pelajaran anak anak yang di kumpulkan. Tapi Wina kembali merasakan pahitnya kekecewaan.


Hanya Rojali dan juga Yohanes yang membawakan buku dan mengikuti guru Matematika dari belakang. Jam pelajaran terakhir di kelas Wina adalah Fisika, dimana gurunya sangat menyebakan.

__ADS_1


Guru perempuan yang entah kenapa dirinya merasa guru itu tak menyukainnya. Wina berusaha biasa saja dan mengerjakan tugas dengan baik. Di tambah lagi, memang Wina menyukai pelajaran itu.


Jam pulang sekolah berbunyi dengan nyaring. Semua siswa berhamburan menunggalkan kelas masing masing. Mencari teman, kerabat atau pasangan seperti Wina saat ini yang sudah berada di luar kelas Fariz.


“Yo, Fariz mana?” Tanya WIna yang sudah semakin berani pada tunangan Imey ini.


“Lah, dia kan gak masuk hari ini. Tadi pagi kan dia nitip absen kalo dia sakit. Ini buktinya,” Yohanes merasa aneh dengan Wina.


Wina membaca pesan yang di kirin oleh suaminya pada temanya. Yohanes merasa heran, bukannya Wina ini kekasihnya. Terus kenapa dia tak tau kalau Fariz sakit, memangnya Fariz tak memberi tahunya. Wah parah benar si Fariz, batin Yohanes yang merasa kasihan pada Wina.


“Coba kau datangi rumahnya, mungkin dia lupa mengabarimu karena rasa sakitnya,” usul Yohanes yang di angguki pelan oleh Wina.


Wina ingat kalau dirinya tadi berangkat bersama kesekolah. Tapi masak iya dia tak masuk sekolah? Apa dia sekarang sudah balik ke rumah? Wina berjalan cepat menuju parkiran mobil di sekolahnya.


Wina merasa kesal karena suaminya tak mengikuti ucapanya. Padahal dirinya hanya mau yang terbaik untuk suaminya. Ujian kenaikan kelas sudah dekat, tapi dia malah malas malasan untuk sekolah.


Wina melihat ada mobil Fariz yang masih terparkir di parkiran sekolah. Wina melongok ke dalam, namun tak menemukan suaminya. Setelah itu wina mencoba membuka pintu mobilnya.


Jeglek…


Pintunya terbuka dan masih menemukan kunci mobilnya menancap di bawa setir. Wina melongok ke belakang tempat penumpang. Benar, Wina mendapati sang suami tengah tertidur di sana.


Dengan penuh amarah Wina membangunkan Fariz dengan sedikit membentaknya. Karena merasa kaget, Fariz pun terbangun dengan kepala sedikit membentur dinding mobil.


“Fariz!!!! apa yang kau lakukan di sini hah!!!” dengan nada suara yang lumayan tinggi, Wina membentak Fariz.


Seperti orang yang kedapatan mencuri, Fariz hanya bisa meringkuk di dalam mobil. Dengan memegangi kepalanya yang membentur dinding mobil. Fariz berusaha mengumpulkan nyawanya setelah tertidur.


“Kamu tak pernah mendengarkan apa yang aku ucapkan Fariz! Aku sangat kecewa sama kamu, sekarang cepat pidah ke depan dan antar aku ke cafe mama. Aku mau mengadukan semua ke mama, aku gak mau kau melawanku hari ini. Kalau tidak, mobil ini aku jual!!” Wina mengancam suaminya yang kini tengah ketakutan.


Fariz mengikuti apa yang di perintahkan istrinya. Memang sial hidup Fariz, sudah berusaha untuk memberikan kenyamanan pada istrinya, namun istrinya malah tak mengerti kelelahan yang di rasakan olehnya.


Mobil Honda city milik Fariz melaju dengan kecepatan rata rata menuju cafe Cinta. Wina rupanya kembali merajuk dengan mendiamkan lelaki di sampinya. Merasa tak di anggap dan tak berarti lagi berada di dekat sang lelakinya.


Wina menangis, Fariz melihat istrinya mengeluarkan air mata pun menepikan mobilnya. Tanpa meminta ijin lagi, Fariz langsung memeluk istrinya yang kini sudah menangis sesenggukan.


“Maafkan aku, bukan maksud aku untuk mengabaikanmu, tapi aku cuma pingin memejamkan mata sebentar saja. Tapi gak taunya malah kebablasan,” ucap Fariz meminta maaf pada sang istri.


“Kamu tau ‘kan, sebentar lagi ujian kenaikkan kelas? Aku mau kita sama sama naik ke kelas dua belas. Apa kamu memang sengaja biar kita tak bareng bareng lagi?” Tanya Wina yang terus memberondong suaminya dengan pertanyaan yang menghiasi pikirannya sendiri.


“jangan berfikir terlalu banyak, aku hanya merasa capek dan lelah. Kerjaan semalam memang menguras tenagaku,” jawab jujur Fariz yang masih memeluk istrinya mesrah dengan sesekali mencium kening sang istri.


“Fokuskan dirimu pada sekolahmu dulu Fariz, aku tak mau kau itu sampek tinggal kelas,” ucap Wina yang masih dengan pemikirannya.


“Aku seorang suami sayang, aku gak bisa melepas kerjaan dan menelantarkan kamu. Aku mengambil kamu dari orang tuamu yang memiliki segala kemudahan. Aku gak mau kau hidup susah denganku,” Fariz mengatakan apa yang seharusya di katakan.


“Tapi kamu itu seorang pelajar, kalau kau masih kekeh untuk bekerja. Lebih baik kau kerja di BIRMA saja, bantuin papa,” ucap Wina yang seakan tak mau mengalah.


“Aku tak akan meninggalkan perusahaan SATYA hanya karena rasa lelah. Aku tak pernah bisa memilih antara SATYA atau BIRMA.” pungkas Fariz.


“Kenapa?”


“Aku di angkat dari tempat yang berlumpur oleh pak Satya, dan aku tidak akan pernah melupakan hal itu. Dia yang memberikan kami kesempatan untuk tetap hidup enak tanpa harus merendahkan diri dengan meminta di jalanan hanya untuk makan sehari,” Fariz mengingat betapa beruntungnya dirinya dulu yang bertemu dengan majikan yang sangat baik.


“Kamu itu kenapa gak bisa ngerti sih kemauan aku! Papa itu cuma punya aku saja, kalau kamu tak mau menggantikan papa. Buat apa aku mencari orang miskin untuk menikah?” emosi Wina memuncak dan membuat satya membuka mata hati dan juga mata kepalanya untuk melihat gadis yang pernah di anggapnya sangat sederhana.

__ADS_1


Wanita ini rupanya memiliki ambisi yang cukup kuat untuk kekayaan orang tuannya. Dan itu bertolak belakang dengan Fariz yang menginginkan istrinya bisa menurut terhadapnya selayaknya seorang istri. Menunggunya pulang kerja dengan masakannya dan menerima berapapun isi amplop yang di berikan padanya.


Fariz tidak menyangka jika dirinyalah saat ini yang harus menuruti istrinya bak kerbau yang di cocok hidungnya. Fariz melepas pelukannya dan melanjutkan perjalanannya menuju cafe cinta di mana mertuannya berada saat ini.


__ADS_2