Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Hukuman


__ADS_3

Dua minggu sudah mereka liburan kenaikan kelas. Hari ini adalah hari pertama masuk kelas dua belas, atau kelas tiga SMA.


Kali ini Wina dan juga Fariz duduk di bangku yang sama, di kelas yang sama. Bukan hanya mereka, tapi Arin dan Arvy juga masuk di kelas yang sama. Rojali, yohanes, juga Imey juga masuk di kelas yang sama dengan Wina dan juga Fariz.


Upacara kali ini di adakan dua hari, upacara pengenalan guru dan murid dan juga upacara bendera. Pada saat masuk ke dalam kelas yang baru, anak kelas satu di bimbing dengan kakak kelas.


Karena masa orientasi sekolah di tiadakan, makanya pengenalan hanya di wakilkan saja. Semua pengurus osis dan juga beberapa kakak kelas pilihan seperti Fariz dan juga Imey sebagai perwakilan.


Fariz dan beberapa siswa berprestasi lainnya. Bahkan Wina karena mendapatkan beasiswa jalur prestasi pun ikut masuk ke kelas satu.


“Baik adik adik, kenalkan nama kakak Rojali Smit ketua osis di sekolah ini. Dan di sini ada kak Yohanes sebagai wakil ketua osis sekaligus ketua kedisiplinan. Jadi siapa pun yang telat atau melanggar peraturan sekolah. Maka akan berurusan dengan kakak yang satu ini.” itulah kata sambutan dari Rojali sebagai ketua osis.


“Terus, kakak yang pojok sana itu siapa?” Tanya salah satu siswi yang terlihat sangat berani.


“Oh, saya yang di maksud? Nama saya Alfarizi bisa di panggil Fariz, saya siswa kelas tiga IPA 1 mewakili teman sekelas untuk berkenalan dengan adik adik sekalian.” jawab Fariz dengan senyum yang terus mengembang.


“Wah, kakak pemenang lomba cerdas cermat tahun kemarin kah?” Tanya siswi it lagi.


“Iya bener, dan ini kak Imey juga sering mewakili sekolah kita untuk pertukaran pelajar selama satu minggu di luar pulau,” jelas Fariz lagi.


“Wah, brarti yang di depan ini selain perwakilan kelas juga orang orang yang terpilih ya kak?” Tanya seorag siswa yang terlihat seperti meremehkan kakak kelas yang ada di depannya.


“Iya bener, kalau masih ada yang mau di tanyakan, bisa di tanyakan sekarang. Mumpung kalian masih belum menerima pelajara selama seminggu ini,” ucap Yohanes.


“Kak Fariz, sudah punya pacar belum?” Tanya siswi lain yang terlihat cantik dan feminim.


“Mau jujur atau bohong?” tanya Fariz menggoda siswi itu.


“Bohon saja lah kak, biar gak terlalu sakit hati dengarnya,” jawab Wulan gadis paling cantik di kelas itu.


“Ya sudah siapkan hati kalian. Sayaaaaaaaaa punya pacar,” jawab Fariz yang membuat beberapa orang yang di depan kelas menjadi kebingungan.


Sedangkan Wina dan Rojali yang mengetahui kebenarannya pun hanya diam dan memilih tersenyum saja.


Bener dong Fariz gak punya pacar, kan Fariz punya istri. Istri kan mantan pacar terindah yang di pertahankan.


Sorak senang rupannya para siswi mendengar Fariz memiliki pacar di pengakuan bohongnya. Kaget yang jelas saat Fariz menyak sikan sendiri kekacauan kelas akibat pengakuannya.


“Hei sttt ssstttt…. jangan rame rame, gak enak sama kelas sebelah. Stt jangan berisik ya,” seru Fariz.


Kembali kelas menjadi tenang dan tertip, namun tak mampu menghentikan siswi untuk terus tersenyum. Seperti mendapat angin segar jika kakak kelas ganteng itu masih belum punya pacar.diam diam gadis berama Wulan memiliki keinginan yang sama dengan Olivia.


Gadis tomboy yang pertama menanyakan siapa nama Fariz. Gadis itu rupanya memiliki ketertarikan dari pertama melihat wajah teduh Fariz. Memang tak ada yang bisa menolak pesona Fariz si tampan berwajah lembut.


Sebenarnya Rojali juga tampan dan memiliki wajah blasteran. Tapi wajah sangarnya tak mampu membuat kharisma kepemimpinanya terpancar.


Jika di bandngkan dengan Fariz, pesona kepemimpinan Rojali sangat menonjol. Kharismatik dan juga terkesan tegas, tapi wajah sangarnya itu menutupi semua itu.


Wajah sangar hanyalah sebuah cover bagi orang yang belum kenal dengannya. Sifat konyol yang di milikinya seakan tersimpan rapat oleh cover garangnya.


Sedangkan wajah Fariz yang teduh juga hanya sebuah topeng dari kekejaman yang di miikinya. Fariz memiliki sifat yang tegas dalam mengambil keputusan saat bekerja. Hal itu langsung di tempah oleh kedua mertua dan juga keluarga Satya.


Setelah keliling untuk perkenalan, bel istirahat pun berbunyi. Fariz bersama Wina juga teman temannya ikut memenuhi kantin. Meramaikan tongkrongan paling populer di sekolah di jam kosog atau jam istirahat.


Dengan di temani nasi rames juga teman temannya, Fariz duduk di antara sahabatnya. Mengisi perut yang sudah demo sedari tadi karena lupa memanjakannya di pagi hari. Begitupun dengan Wina yang tak ikut sarapan karena keiangan.


“permisi kak, boleh ikut gabung?” tanya Olivia.


Bangku di samping Fariz memang kosong, tapi bangku itu kosong karena Wina tengah memesan makanan. Fariz diam karena adik kelasnya itu sudah duduk di bangku kosong itu.


Melihat meja di depannya kosong, Fariz pindah di meja depannya tanpa melihat teman yang lainnya. Wina melihat suaminya berpindah meja pun hanya bisa menghembuskan nafas besarnya. Dengan membawa nampan berisi makanan, wina menghampiri suaminya.


“Kenapa Pinda?” Tanya Wina.


“Penuh, sini aku lapar sekali sayang,” Fariz mengambil nampan yang berisi makanan milik Wina, sedangkan milik Fariz di tinggal di meja seelumnya.


“Mau aku pesankan lagi?” Tanya Wina lembut.


“Gak usah, aku mau makan di piring yang sama denganmu saja,” Fariz menyendokkan nasi lalu menyuapkan pada sang istri.


Rupanya tak hanya Olivia saja yang melihat kejadian itu, tapi juga Wulan. Gadis cantik yang hendak mendekatinya, namun di urungkannya. Kemesraan yang menyakitkan mata itu merupakan tontonan yang paling tak ingin di lihatnya.


“Malu di lihat banyak siswa sayang,” cicit Wina.

__ADS_1


“Biarin aja, dari pada ke bioskop baar. Kan mending nonton kita gratis,” ucap Fariz membuatnya mendapat lemparan sepatu dari arah belakang.


“Sialan, sakit woe!!”


“Kalau mau mesra mesraan sono di pojok gudang. Eneg liatnya,” teriak Rojali yang melempar sepatu ke arah Fariz.


“Iri bilang boss!!” senyum smrik milik Fariz menambah pesona Fariz.


“Iri? Sama kamu?” kata Rojali.


“MIMPI” teriak teman teman Fariz serempak.


Sedangkan Fariz dan juga Wia hanya tertawa menanggapi candaan itu. Di sisi lain, Wulan rupannya hanya memandang ke arah kedua orang yang terus bermesraan. Dengan mengacak acak makanannya tanpa ada niatan untuk memakannya.


Merasa di bohongi, itu sudah pasti. Tapi apa mungkin memang seperti ini kehidupan percintaan anak SMA? Itulah isi benak gadis paling candi di antara siswi yang baru masuk.


Suasana kantin memang selalu rame, tapi kali ini rame karena para siswa banya yang memanfaatkan untuk mencari teman. Tak terkecuali anak anak kelas tiga yang jomblo pada mencari daun muda.


“Kakak, boleh kenalan?” Tanya cowok yang di kelas tadi seperti meremehkan Fariz.


“Namaku Fauzan” Tambahnya lagi sambil mengulurkan tanganya pada Wina.


“Namaku Wina Alibaba Sahid, panggil saja Wina,” Wina menyambut tangan adik kelasnya sebagai tanda dirinya menghargai niat baiknya.


Niat baik itu rupannya tak di sukai oleh orang yang kini duduk diam di antara mereka. Wajah Fariz sudah menegang dan menunjukkan rasa tak sukanya.


Fariz yang hanya menikmati brolan santai di antara istri dan adik kelanya memilih untuk bergabung kembali dengan teman temannya.


“Ada apa bro?” Tanya Yohanes menepuk pundak Fariz.


“Mules perutku Yo,” kata Fariz dengan masih memperhatikan istrinya.


“Kalau mules itu ke toilet bodoh, bukan ke meja kitaaaa!!” geram Yohanes yang tak tau apa maksud dari perkataan Fariz.


“Diem ah,” seru Fariz.


Kediaman Fariz menandakan jika dirinya tengah menahan amarah atau rasa yang tak nyaman. Semakin diam Fariz, berarti semakin besar amarah yang di simpan di dalam hatiya.


“Yo, liat Fariz gak?” tanya Wina yang baru menyadari jika suaminya tak ada di antara mereka.


“Lah, emangnya Fariz gak ada bilang kalau dia ada meeting?” Bohong Rojali yang mengetahui apa yang di rasa oleh Fariz.


“Gak ada, lah aku pulang sama siapa dong?” cicit Wina yang membuat Fauzan tambah gemas padanya.


“Mau di antar? Kebetulan aku bawa motor sendiri kak,” Tawar Fauzan yang langsung di setujui oleh gadis itu.


Sekolah memang masih belum ada pelajara, jadi jam pulang pun di percepat. Sesuai dengan obrolan tadi, Wina pulangnya di antar oleh Fauzan adik kelasnya.


Sesampainya di rumah, WIna mengajak mampir adik kelanya. Dengan mengamati setiap dinding yang terpampang beberapa foto Wina dengan Fariz saat berlibur di Bali.


“Oh, kakak pacaran dengan kak Fariz?” tanya Fauzan sedikit kecewa.


“Bukan, tapi dia suami aku,” itulah jawaban jujur dari seorang Wina.


“Apa? Suami?” nampak kaget, Fauzan pun membulatkan matanya.


“Iya, aku sama dia nikah setahun yang lalu.” Wina menyodorkan minuman dan juga cemilan pada adik kelasnya.


“Kok bisa gak di keluarin dari sekolahan? Apa kalian sembunyi sembunyi?” Tanya Fauzan penasaran.


“Giaman mau di keluarin dari sekolahan, orang pemilik sekolahan itu mertuannya Fariz.” Jawab santai Wina.


“Jadi orang tua kakak pemilik sekolah itu? Tajir juga ya kakak. Secara sekolahan itu kan swasta,” kagum Fauza.


“Bukan, papaku itu pemilik perusahaan BIRMA di mana sekarang Fariz bekerja. Sebenarnya dia gak mau tapi di paksa,” jelas Wina namun membuat Fauzan semakin bingung tak mengerti.


“Kakak tau tidak jika membuatku bingung?” ungkap Fauzan.


“Oh iya, maaf ya, gini aku ceritain…..” Wina akhirnya menceritakan kisahnya pada adik kelasnya yang rupanya anak dari Stevano Abigil dan Yuga laelasari, Fauzan Abigil.


Adik seibu beda bapak dengan Reyhan yang kini berada di Itali bersama dengan orang tua Stevano. Fauzan mengerti apa yang terjadi di antara Fauzan Mentari dan juga anak dari bos papanya yang baru dia kenal.


“Berarti kakak kenal dengan papa dan mamaku dong ya?” tanya Fauzan.

__ADS_1


“Memangnya siapa papamu?” Tanya Wina.


“Stevano Abigil dan Yuga laelasari.” Jawab Fauzan.


“Oh, ayah Vano? Kok kita gak pernah ketemu ya? Aku malah sering ketemu sama Reyhan, kakak kamu.” Terang Wina.


“Oh kakak, dia kan sekarang kuliah di Itali.di tempat kakek,” jelas Fauzan.


“Aku di bandung kak, bareng kakek Arya. Kalo di rumah kakek Arya nasipnya sama kek kakak gini, beliau punya dua istri dan rukun sampek sekarang. Itu Olivia anak kembar dari Bunda Yura,” Jelas Fauzan.


“Apa? Olivia kembar? Sama siapa?” tanya Wina penasaran.


“Wulan, Olivia Wulandari sama Oktavia Wulandari. Satunya di panggil Olivia dan satunya di panggil Wulan,” jelas Fauzan.


“Tapi mereka gak mirip ya, Olivia itu terkesan tomboy terus Wulan itu feminim dan lebih terlihat sangat cantik.” Wina menunjukkan ke kagumannya.


“Sebenarnya mereka sama sama cantik kalau Olivia bisa berdandan sedikit. Tapi anak itu lebih seneng main layangan dari pada main boneka.” Fauzan menceritakan kisah hidupnya bersama kedua nenek yang tetap rukun satu sama lain.


Memang hal yang sangat tidak terduga bisa bertemu dengan Fauzan, seperti memiliki hati yang tergerak untuk saling mendekat. Rupanya memang memiliki ikatan di antara keduannya, begitupun dengan Wulan dan Olivia.


Seperti lingkaran yang tak pernah terputus, keluarga yang tadinya menjauh kini kembali mendekat. Yura dan Yuga, anak kembar dari ibuyang berbeda namun ayah yang sama. Hidup bersama meski ibu mereka bereda, itu tak membuatnya malu atau buruk.


“Baiklah kalau begitu kak, Fauzan pamit dulu,” akhir dari cerita itu adalah perpisahan.


Fauzan merasa sudah sangat sore baginya untuk tetap di rumah seorang yang sudah berkeluarga. Belum lama Fauzan keluar dari rumah Wina, mobil Fariz memasuki halaman rumah mewah untuk ukuran pelajar seperti mereka.


“Kenapa masih belum ganti baju?” Tanya Fariz yang melihat istrinya masih mengenakan seragam sekolahnya.


“Fauzan baru saja pulang, gak enak kan aku tinggal untuk ganti baju,” Jawab Wina membuat Fariz kembali mendidih hatinya.


“Apa maumu?” Tanya Fariz dengan nada tak sukanya.


“Sayang, jangan jengkel begtu. Tadi ayah Vano kerja gak?” Tanya Wina yang membuat Fariz semakin jengkel.


“Kerja,” jawab Fariz dingin.


“Jadi Fauzan itu putra dari ayah Vano,” terang Wina membuat Fariz tak percaya.


“Jangan Bohong lah kamu sayang,” nada bicara Fariz sudah kembali melemah.


“Beneran sayang, dan yang lebih mengejutkan lagi. Olivia sama Wulan itu kembar, anak dari tante Yura kakak dari bunda Yuga.” Fariz semakin tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Ini gila, jadi mereka sekarang sudah kumpul dengan kita?” Tanya Fariz.


“Iya sayang, makanya jangan cemburu dulu ya, sebelum tau apa kebenarannya.” Wina memeluk Fariz yang tadi terbakar oleh api cemburu.


“Iya sayang, maaf. Ak cemburu juga karena aku tak mau kehilangan kamu, aku tu sayang banget sama kamu,” gombal Fariz semakin lancar saja.


“Tak ada yang bisa membuat kita terpisah sayang, sekarang kamu mau mandi dulu apa makan? Tadi mbak ida masak enak banget,” tawar Wina.


“Mandi aja dulu, tapi bareng ya….” Fariz menggoda Wina dengan mengedip kedipkan matanya seperti orang kicer.


“Iya, tapi beneran mandi ya, jangan macam macam. Aku capek,” ucap Wina sedikit malas.


“Gak janji,” Fariz sudah mengangkat istrinya untuk masuk kedalam kamar mandi bersama.


Dua jam berlalu, dan Fariz baru keluar dari kamar mand. Sedangkan Wina sudah sepuluh menit yang lalu keluar kamar mandi. Memakai baju yang paling tebal, Wina menunggu suaminya di atas tempat tidurnya.


Bibir biru karena kedinginan dan juga jari jari yang sudah keriput akibat kelamaan main air. Wina terus menggerutu dengan apa yang di lakukan sang suami. Fariz hanya tertawa melihat keadaan sang istri saat ini.


Seperti tanpa dosa Fariz mengatakan jika hal itu adalah hukuman buat Wina. Hukuman karena telah berani meneria tangan laki laki tepat di depan matanya.


Kejam memang, tapi mau bagaimana lagi? Itu memang kesalahan Wina sendiri. Hukuman yang tak bisa di ganti dengan apapun.


Fariz meninggalkan Wina di dalam kamar yang erbalut selimut tebalnya. Kembali Fariz datang denan membawa bubur angat dan beberapa makanan di piring lainnya.


Mengatakan maaf dengan terus menyuapkan makanan apa yang di inginkan oleh wanitanya.


“Jangan pernah melakukan hal itu lagi! Apapun alasannya!”


“Baik Tuan! Memangnya gak bisa apa di kasur aja? Kan empuk. Dari pada di kamar mandi, selain sakit juga dingin!!” gerutu Wina.


“Ya sudah, besok besok menghukumnya di kasur aja,”

__ADS_1


__ADS_2