
Mendengar kabar juka wanitanya tengah di rawat di klinik kampus pun membuat Arkan khawatir. Setelah kelas bubar, Arkan langsung ke klinik menemui Nurul.
Merasa memang ada sesuatu di antara Nurul dan Arkan pun. Sasa menahan kedua orang itu, sebelum mereka mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sasa berniat tak mengijinkan pergi.
Dengan terpaksa Arkan menceritakan semuanya pada Sasa. Setelah mendapat jawaban dari rasa bingungnya selama ini. Sasa merasa sangat jengkel karena menjadi orang terakhir yang mengetahui kebenaran mereka berdua.
Di samping itu semua, Sasa juga merasa sangat bahagian. Karena menjadi orang pertama yang mengetahui jika Nurul tengah hamil dua minggu.
“Ok, kalian harus di hukum akan hal ini. Gue gak mau mendengar Nurul sakit hati karena kamu Arkan. Dan lagi, jaga ponakan gue,” ucap Sasa sebelum meninggalkan meeka berdu yang tengah berbahagia.
Setelah dari klinik kampus pun Arkan dan Nurul kembali ke kantin. Mereka mengabarkan tentang kehamilan Nurul.
Kebahagiaan tengah menyelimuti para sahabat itu, namun tidak dengan Bian. Seketika Bian mengingat dirinya yang kehilangan calon bayinya di minggu minggu awal kehamilan.
Air mata tak mampu di bendung oleh wanita yang kini tengah program kehamilan ini. Merasa tak menjadi wanita dan istri yang sempurna membuatBian merasa kekecewaan yang sangat mendalam.
Di saat yang lain tengah berbahagian akan kehamilan Nurul. Bian hanya tersenyum sebisanya saja.
Bukan tidak bahagia dengan apa yang di dapat oleh Nurul. Tapi Bian tak cukup memiliki tenaga untuk menerima kenyataan jika dirinya telah kehilangan tanpa tau.
Tanpa sepengetahuan teman teman yang lainnya termasuk suaminya yang kini membelikan makanan untuknya. Bian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Bian pergi ke Mall A di mana cafe tempat suaminya bekerja. Bian membeli baju tidur yang di impi impikan selama ini.
Piyama model celana berbahan sutra berwarna ungu muda. Sebelum membayar piyama pilihannya, Bian melihat ada sebuah gaun tidur yang sangat tipis di pajang pada patung. Bian meminta pelayan untuk mengambilkan model yang senada namun dengan warna ungu tua untuknya.
Setelah membeli kedua baju tidur itu, Bian pulang ke rumahnya tanpa mampir terlebih dulu ke cafe.
Di rumah, Bian di kagetkan oleh mobil Satya yang sudah terparkir cantik di garasi rumah. Bian membuka pintu yang sudah tak terkunci. Baru membuka pintu rumah, langsung di sambut oleh wajah marah dari sang suami.
“Dari mana kamu?” Tanya Satya dingin.
“Aku membeli ini,” Bian menunjukkan papper bag belanjaannya.
“Kenapa gak pamit?” Tanya Satya yang masih sutek.
Bian hanya diam lalu meletakkan belanjaannya dan juga tasnya di kursi makan. Satya membuka papper bag milik Bian, ketika istrinya itu berada di dapur.
Senyum satya mengembang ketika melihat gaun tidur begitu tipisnya yang di beli oleh Bian.
“Pantas saja kamu gak bilang,” gumam Satya masih dalam senyumannya.
Satya mendekati istrinya yang tengah mempersiapkan sayuran yang akan dimasak. Memeluknya dari belakang dan memberikan ciuman mesrah di tengkuk belakangnya. Satya seakan tak ingin melepaskan istrinya yang sedikit tak nyaman itu.
“Aku mau masak ini sayang,” ucap Bian yang mencoba melepaskan pelukan sang suami, namun gagal karena Satya malah semakin memper erat pelukannya.
“Kita delevery aja ya sayang. Sekarang temenin aku aja,” bisik Bian seperti tau apa yang di inginkan suaminya.
“Gak bisa nanti saja?” Tanya Bian memutar balik menghadap ke arah Satya.
“Udah gak tahan,”Bisikan Satya membuaat Bian merinding..
Tanpa menunggu persetujuan Bian lagi. Satya langsung menggedong Bian ke kamar. Menaiki anak tangga yang lumayan banyak jumlahnya. Namun memang sudah hasrat yang bebicara, tak berasa lagi yang namanya capek atau berat.
Senyum Bian mereka dengan terus memandang ke mata Satya yang juga seakan terus mengajaknya berbicara bahasa kalbu.
Satya menurunkan Bian di temoat tidurnya dengan perlahan. Membuka kancing kemeja yang di kenakan istrinya dengan perlahan terbuka dan memperlihatkan dada yang tak rata milik Bian.
Satya membuka sendiri kemeja yang di kenakan olehnya setelah itu kembali pada istrinya.
Hari masih sore, namun pergulatan panas itu tak melihat waktu lagi. Setelah puas dengan aktifitasnya, Satya yang bersandar di kepala ranjang pun membelai lembut rambut panjang milik Bian yang tidur di sampingnya.
Suara ponsel yang berada di samping Bian pun membuatnya terbangun. Di lihatnya Satya yang tengah bercakap di balkon kamar mereka. Dengan mengenakan kemeja milik Satya tanpa memakai kembali dalemannya. Bian menghampiri Satya lalu memeluknya dari belakang.
Merasa kaget yang di peluk dari belakang. Satya yang masih berbicara dengan karyawannya pun memindah posisi Bian di pelukannya.
__ADS_1
Hanya mengenakan celana pendek, Satya menerima pengaduan dari karyawannya yang tengah menghadapi masalah. Masalah yang di timbul di antara para karyawan dan membuat bersitegang satu sama lain. Kondisi tempat kerja yang tak kondusif lagi membuat tak nyaman karyawan lain.
“Ya sudah nanti habis ini saya akan ke cafe,” kalimat terakhir yang di ucapkan Satya sebelum mengakhiri panggilan telfonnya.
“Sayang, mandi bareng yuk,” ajak Satya yang di angguki oleh Bian.
Selesai mandi Bian dan Satya bersiap ke cafe yang ada di salah satu Mall terbesar di kota itu. Tak membutuhkan waktu lama untuk mengganti baju untuk Satya dan Bian.
Hanya mengenakan kaos dengan celana jins dan sepatu vans untuk keduannya. Style Bian dan Satya memang terbilang mirip meski tidak di setiap kesempatan juga.
Itu di karenakan Bian tak suka memakai dress atau rok. Punya, tapi malas untuk memakainya.
Saat Bian baru masuk ke dalam cafe di lantai dua Mall A. Satya langsung di sambut oleh beberapa orang yang termasuk penting. Bahkan Ayahnya pun juga datang ke cafe yang saat ini sudah beralih padanya.
“Maaf ini kenapa berkumpul di sini ya?” Tanya Satya bingung
Bian yang tadinya ada di sampingnya pun hilag entah kemana. Satya menjadi bingung bercampur takut. Tidak biasanya sang Ayah datang ke cafe tanpa mengabarinya lebih dulu. Apa aku membuat kesalahan yag fatal? Batin Satya masih perang dengan apa yang di lihatnya.
Tanpa ada suara dan kata, Bian muncul dari arah dapur dengan membawa kue dan menyanyikan selamat ulang tahun yang ke dua puluh satu. Satya yang sedari tadi hanya terdiam memandangi satu persatu orang di depannya pun kini telah terduduk lemas.
Bian di dampingi oleh Vindya, Bunda mertuannya. Membawa kue untuk SAtya yang berulang tahun.
“Selamat ulang tahun sayang, semoga apa yang kamu cita citakan belum tercapai di tahun kemarin bisa kamu dapatkan di tahun ini. Amin,” ucap Bian menyodorkan kue ulang tahun peda suaminya agar menium lilinnya.
“Kenapa kalian semua tega mengerjaiku? Dan kamu juga, kenapa gak ada mengatakan apapun padaku?” Tanya Satya pada sang istri yang sudah duduk di sampingnya.
“Maaf Sayang,”
Satya meniup lilin setelah melakukan permohonan dan doa. Setelah itu memotong kue yang pertama di berikan pada sosok yang paling di kaguminnya, yaitu Affandi. Lalu Bunda tersayang berlanjut pada istri tercinta masih di kue potongan pertama.
Segala kebahagiaan kali ini terasa sangat lengkap di rasa oleh Satya. Adanya Istri dan kedua oang tuannya. Tak ragu Satya mencium pipi dan juga kening istrinya di hadapan para karyawan yang ada di sana.
Tak ada yang mengira jika bos dinginnya itu juga memiliki sisi romantis terutama untuk istrinya yang sama sekali tak terlihat seperti seorang istri yang anggun.
Seposesif itukan pak Satya sama istrinya? Batin salah satu karyawan yang memperhatikan Satya yang melarang Bian katika ingin mengambil sesuatu. Bian duduk kembali di tempatnya, tapi Satya lah yang mengambilkan untuk istrinya.
“Gak nyaka ya Mi, orang seperti mbak Bian itu yang bisa menaklukan pak boss,” Bisik Nila pada Mia teman semejanya saat menikmati makanan yang di berikan secara gratis untuk para karyawan.
“Iya Nil, liat aja pak boss rasanya sangat sayang sama mbak Bian. Padahal kalo di perhatikan, mbak ian itu udah kayak lakik ya orangnya. Iya sih dia cantik tapi cueknya itu gak ngalahi pak bos,” Mia membicarakan istri dari bossnya.
“Waaaaaahhhhh lagi makan makan in?” Tanya Arkan yang baru saja datang bersama istrinya.
“Sini sini adek adeknya Abang,” Satya mempersilahkan kedua orag itu duduk di mejanya bareng bersama dengan orang tuanya dan juga kakeknya.
“Acara apa ini Bang?” Tanya Nurul yang pandangannya tertuju pada kue di tengah meja.
“Abang ulang tahun,” jawab singkat Satya yang memperhatikan Nurul.
“Kamu mau?” Tanya Satya pada wanita yang tengah hamil muda di depannya.
“Mau tapi langsung, gak mau d potong potong.” rengek Nurul yang membuat Bian gemer.
“Ini buat adek tersayang,” Bian menyerahkan kue yang baru satu potongan pada Nurul dengan garpu di sampingnya.
Dengan mata berbinar, Nurul mengambil kue dari tangan Bian dan segera memakannya.Nurul terlihat sangat bahagia dan menikmati kue ulang tahun yang di berikan padany.
“Terima kasih Bian, seharian ini Nurul susah sekali makan. Bahkan belum satupun yang lolos masuk ke perutnya,” ucap Arkan yang melihat istrinya makan dengan lahap tanpa mengeluh mual atau memuntahkan kembali makanannya.
“Iya, itu sudah biasa kalau lagi hamil muda,” ucap Bian yang tanpasadar sudah memberitahu semua orang yang berada di dekatnya.
Vindya menggosok punggu Bian untuk membesarkan hatinya. Bian merasakan ketenangan dan ikut menikmati kebahagiaan Arkan dan Nurul.
***
Malam ini Bian dan Satya merasakan kebahagiaan yang berlimpah. Terutama kehadiran Nurul dalam acara tadi.
__ADS_1
Setelah salat isya, Satya ke kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan baju tidur. Setelah itu di susul dengan Bian yang mencoba memakai baju tidur yang di belinya tadi.
Bian keluar kamar ketika Satya sudah memejamkan mata karena kecapek an, Bian berbaring di samping Satya. Mengambil seimut yang juga menyelimuti tubuh suaminya.
Dalam redupnya penerangan kamar, Bian masih belum menutup matanya karena memang belum mengantuk. Bian mengambil ponsel yang di letakkan di atas nakas, mengubah posisi dengan duduk bersandar pada bantalnya.
Bian mengambil gawai milik suaminya yang menyala tiba tiba. Mengangkat telfon masuk dengan nomer tak di kenal.
“Hallo”
“Ini benar nomer Satya ‘kan?” tanya seorang gadi di sebrang sana.
Sebenarnya Bian tak merasa kaget, karena memang banyak dari rekan bisnis suaminya seorang perempuan.
“Iya benar, ini siapa ya?” Tanya Bian kembali.
“Oh, saya temannya Satya pas SMP. Ini saya Linda, Satyanya ada?” suara di sebrang sana terus menanyakan suaminya.
“Satya sudah tidur, ada penting apa ya?” Tanya Bian semakin curiga dengan wanita yang tengah menelfon suaminya di tengah malam seperti ini.
“Bisa bangunin dia gak? Saya menunggunya di tempat biasa dia balapan mobil,”
Tanpa mematikan sambungan telfon di handphone suaminya. Bian membangunkan Satya yang tengah tertidur di sampingnya.
“Sayang, ada yang lagi mencarimu,” ucap lembut Bian seperti biasanya.
“eemmm mau ngapain malam malam gini mencariku? Mengganggu saja,” Satya memeluk istrinya yang setengah duduk.
“Em, kamu mau menggodaku sayang?” Tanya Satya yang masih di dengar oleh teman SMPnya.
“Mana ada aku menggodamu? Kamu sendiri yang mendiamkan aku dan meninggalkan aku,” ucapan Bian sengaja di bikin se mesrah mungkin.
“Ok, maafkan lah suamimu ini yang kecapekkan karena mu sore tadi,” Kembali bian mencium bibir merah nantipis milik istrinya yang tadi sore sudah seakan di habiskannya.
Mungkin sudah tak tahan lagi mendengar kemesraan mereka berdua. Sambungan telfennya di putus secara sepihak. Bian merasa menang meski tak tau siapakah gadis yang mencari suaminya tadi.
“Apa kamu mengenal Linda?” tanya Bian di sela sela ciumannya.
“Iya, dia temanku waktu SMP. Kenapa?” Tanya Satya.
“Barusaja dia menelfonmu, dia menunggumu di tempat kamu biasa balapan,” Bian kembali mencium Satya yang kini tengah terdiam mendengar apa yang di ucapkan oleh iatrinya.
Satya langsung mencari handphone yang di pegang oleh istrinya di atas nakas. Sedikit kesal karena dia tidak menemukan apa yang di carinya.
“Apa kamu mencari ini?” Tanya Bian dengan menunjukkan apa yang di pegangnya.
“Bisa aku minta handphonenya?” Tanya Satya tak seperti biasanya.
“Silahkan saja. Kalau mau menemui dia juga silahkan saja. Tapi jika kamu tak menemukan aku di sini, tolong jangan cari aku,” Bian memberikan telephone genggam milik suaminya dan kembali tidur di tempatnya.
Merasa galau dengan pilihan sang istri. Akhirnya Satya memilih untuk membanting handphone miliknya. Gak ada hubungannya memang, tapi itu merupakan bentuk kekesalan yang tak bisa di ungkapkan.
Bian terbangun mendengar bunyi keras yang di hasilkan dari hanphone yang di banting oleh Satya.
“Dasar orang kaya, kalau marah luapkan langsung pada orangnya. Jangan menghancurkan barang, itu akan sia sia saja,” Sindir Bian seperti tak bedosa.
“Aku harus apa? Menemui dia, aku gak bisa. Menelfon dia juga gak akan pernah aku lakukan di depanmu.” ucap kesal Satya yang serasa makan buah si malakama.
“Kenapa bingung? Kamu hanya tinggal memilih saja, jika pilih dia lupakan aku. Dan jika pilih aku lupakan dia, bahkan aku tak tau ada hubungan apa kamu sama dia. Katanya hanya Ayumi yang ada di masalalumu, terus kenapa sekarang muncul seorang Linda menggoyahkan cintamu padaku?” ucap Bian panjang lebar yang membuat Satya tertunduk.
“Dia memang hadir di masalaluku namun tak ada yang tau. Dia yang mengenalkanku dan juga Pandu arena balap liar. Aku hanya mengagumi dia, tidak mencintai dia,” Satya menjelaskan ada hubungan apa antara dirinya dengan Linda.
“DIa sepertimu, dia ceplas ceplos tak mau memikirkan orang lain akan terluka karena dia atau tidak. Yang penting dia bahagia dan tak pernah menyimpan dendam. Dia orang yang selalu berfikiran positif.” lanjut Satya.
“Kamu menghadirkanku karena mencari sosok dia?”
__ADS_1