
Malam ini begitu dingin bagi Vindya yg sudah terbiasa dengan keberadaan Affandi di sampingnya. Tapi Vindya langsung teringat dengan Mona. Hatinya kembali teriris dan air matanya kembali mengeluarkan cairan bening. Vindya bangkit dari ranjangnya dan melirik jam di dinding dekat pintu masuk. Jam menunjukkan di angka 2 dini hari. Vindya yg merasa tidak kantuk lagi itu berjalan mendekati meja riasnya. di ambilnga sisir dan Vindya mulai menyisir rambutnya. Melepas kacamatanya dan menggantinya dengan kontaklens.
Dengan sigap Vindya meraih ponselnya yg ia letakkan di meja rias dan mencari nama Affandi. Di tekan tanda telfon dan tersambung. Tak menunggu lama Vindya mendengar suara dari Affandi.
Hallo sayang, kenapa nelfon subuh subuh gini?
"Vindya gak bisa tidur kak. kak bisa nanti jemput Vindya di rumah terus anterin kesekolah?" Tanya Vindya
*Bisa sayang. Ya sudah sayang tidur ya atau mau vc? kakak kangen banget sama kamu.
"V*indya juga kangen kakak tapi Vindya masih sakit hati sama kakak. kakak jahat sekali sama Vindya. Vindya salah apa sama kakak?" Kini Vindya malah menangis dan membuat Affandi kebingungan.
__ADS_1
Sayang jangan nangis dong. kakak janji ini kesalahan kakak yg pertama dan terakhir. Kakak mohon maaf sama kamu, kakak mau terima semua hukuman yg Vindya kasi untuk kakak asal Vindya gak minta pisah sama kakak. kakak sayang sama Vindya. Kalimat Affandi terdengar begitu tulus yg membuat Vindya mulai merasa benar untuk mempertahankan pernikahannya.
Vindya menutup telfonnya dan kembali untuk merebahkan diri di atas ranjangnya. Jam sudah menunjukkan di angka 4.30 dan Vindya terbangun. Ya Vindya sudah terbiasa dengan bangun subuh selama bersama dengan Affandi. Vindya melangkah ke kamar mandi untuk mandi dan di lanjut dengan wudhu. Setelah sholat subuh meski sekarang hanya sendirian itu sudah menjadi kebiasaannya.
Setelah bersiap Vindya keluar kamar dan menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Kebiasaa kebiasaan kecil yg sudah melekat itu sulit untuk Vindya hindari. Saat membuat sarapan Vindya tak sadar bahwa mama Agnes sudah memperhatikan dari kejauhan dengan tetesan air mata di pipi. Agnes merasakan perubahan pada diri anak gadisnya menjadi seorang istri yg sempurna.
"Kanapa ma?" Mama Agnes di kagetkan oleh suaminya dari belakang.
"Papa lihat itu di dapur pa?" Tanya mama Agnes sambil mengelap air mata di pipinya.
"Iya pa dia Vindya tapi dia bukan anak kita lagi, dia seorang istri. mama bisa lihat betapa tlatennya dia memegang pisau, penggorengan lalu dengan caranya dia membuat masakan yg pasti untuk suaminya. Vindya anak kita gak akan bangun sepagi ini apa lagi sampai membuat sarapan. Vindya anak kita akan turun saat dia sudah mau sarapan dan berangkat sekolah." Ucap mama Agnes dengan linangan air mata dan membenamkan wajahnya di pelukan sang suami.
__ADS_1
"Dia Vindya anak kita ma yg sudah di rubah oleh menantu kita. Apa mama merasa kehilangan? Papa merasa bangga dengan perubahan yg di tunjukkan oleh anak kita." Tak di pungkiri papa Sofyan mengakui keberhasilan menantunya membimbing sang putri.
"Papa sama mama kenapa diem di sini?" Tanya Vano hati hati yg sedari tadi mendengar pembicaraan mama sama papanya namun tak berani bersuara.
"Mama papa gak apa apa ayo sekarang kita sarapan. itu kakak kamu sudah buatin sarapan." Ucap mama Agnes yg langsung menghampiri Vindya.
"Widiiiihhhh masak lo kak?" Celoteh Vano mencairkan suasana.
"Iya lah.... awas itu pedes buat kak Affandi jangan di makan, kamu yg ini saja gak begitu pedes." Ucap Vindya membuat hati maminya tersentak.
"Nak suami kamu kan gak ada di sini..." Kata mama Agnes hati hati dengan air mata yg tadinya berhenti kini kembali menetas.
__ADS_1
"Mama kenapa nangis....? Vindya tau kak Affandi gak tinggal bareng sama kita di sini tapi dia mau jemput Vindya terus dia minta di buatin sarapan seperti biasa katanya. Bentar lagi juga udah nyampek ma, jangan nangis ya ma. Malu di liat kak Fandi." Kata Vindya sambil mendekati mamanya dan memeluknya.
"Assalamualaikum"