Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Hati Fariz


__ADS_3

Setengah siang Fariz keluar dari apartemen mewah milik Almas. Bukan pulang ke rumahnya, tapi Fariz menyempatkan diri ke rumah Mentari. Seperti biasanya Fariz langsung masuk rumah tanpa mencari tuan rumah atau mengetuk pintu. Fariz langsung masuk ke kamar Mentari,namun di urungkan ketika melihat ada banyak orang di kamar Mentari.


Orang asing yang memenuhi kamar gadis yang seharian kemarin di janganya. Fariz berhenti di depan pintu dan menyaksikan penyematan cincin pada gadis yang tengah duduk di tempat tidurnya oleh guru BK nya.


Ya, orang asing itu adalah keluarga Mustafa dengan pak ustad yang menikahkan mereka. Entah hati apa yang kini bersarang di tubuh Fariz. Hati yang hancur karena orang yang paling di sayangi menikah dengan guru BK nya. Atau hati bahagia karena dia sudah tak perlu lagi menjaga gadis sakit sakitan itu?


Fariz mundur perlahan dan membalikkan badan meninggalkan kerumunan orang orang yang tak mengenalnya. Air mata menetes begitu saja menemani langkah gontainya. Di jalan keluar rumah Mentari, pembantu Metari melihat Fariz dari kejauhan.


“Mas Fariz?” kaget dan juga kasihan melihat Fariz sibuk membersihkan air matanya.


Pembantu itu bersembunyi di samping dinding agar tak terlihat oleh lelaki patah hati itu. Fariz melebarkan langkahnya saat mendekati pintu utama.Fariz kembali mengendarai mobinya kencang tanpa tujuan.


“Kasian mas Fariz non, tadi bibik liat menangis saat keluar dari kamar nona,” begitulah pengaduan yang di sampaikan pembantu tadi pada majikannya yang tengah sendirian.


“Biarkan saja seperti itu Bi, aku bukanlah prioritas dia.” jawaban santai keluar dari mulut wanita yang baru saja di persunting guru BK nya sendiri.


Pembantu itu pergi setelah lelaki tampan namun tingginya tak bisa menandingi Fariz masuk ke dalam kamar. Mustafa duduk di samping Mentari yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Memperhatikan gadis yang kini duduk tersipu masu oleh tatapan yang tertuju padanya.


Mustafa merasa sangat bahagian karena wanita yang di sukainya kini resmi menyandang sebagai istrinya. Meski pernikahannya masih di bawah tangan, karena usia yang baru menginjang enam belas tahun.


“Pak, jangan melihatku seperti itu. Aku malu,” ucap Mentari malu.


“Aku hanya menikmati kecantikan istriku saja, apa itu salah?” goda Mustafa yang mendekatkan bibirnya di kening sang istri.


“Iya gak salah, hanya aku masih malu.” ucap Mentari lagi.


“Biasakan menatab ku. Oh iya, mulai semester depan itu kamu kan sudah kelas dua. Dan sekarang libur sebulan. Kamu mau bulan madu kemana?” Tanya Mustafa lembut tak seperti biasanya yang ngegas.


“Terserah bapak saja.” Mentari berusaha untuk menatap mata suaminya.


“Baiklah, aku akan mengajakmu ke Itali. Karena di sana adalah negara impianku untuk bulan madu,” pungkas Mustafa dengan melepas jasnya yang membuat panas.


Di sisi lain Fariz masih dengan mobilnya yang melaju kencang memecah jalanan yang sedikit lengang karena hari ini adalah hari minggu. Fariz kembali ke apartemen yang semalam menampungnya di saat mabuk. Fariz mengetuk pintu dan sesosok gadis seukuran dadanya keluar membukakan pintu.


Fariz!” kaget gadis di depannya.


Darimana pacarnya ini tahu dimana saat ini dirinya berada.


“Untuk apa kamu datang kesini?” Tanya Wina sedikit terkejut.


“Mencarimu, aku mengikuti arah yang di tunjukkan di mana lokasimu berada,” bohong Fariz.


Meski tak seratus persen bohong, hanya saja ini sangat membuat Wina terkejut.


“Tumben kamu mencariku tanpa mengabariku?” Tanya WIna sedikit menyipitkan matanya.


“Karena aku kangen dengan kamu,” Fariz langsung memeluk Wina di depan pintu.


DEG


Almas tak sengaja melihat lelaki yang semalaman tidur di sampingnya tengah memeluk adik misannya. Tepat di depan wajahnya yang penasaran siapa tamu yang datang mencarinya.


Sialan perasaan apa ini? Kenapa dadaku seperti tersengat listrik? Batin Almas melihat kemesraan adik adiknya yang berbeda lima tahun darinya.


“Kak Al, ini pacarnya Wina yang tadi aku ceritain. Namanya Fariz, baik orangnya juga sama kayak papa, Gila kerja.” jelas WIna yang kembali memperkenalkan pacarnya.


Kau bodoh Wina, di hatinya masih ada wanita lain yang tengah di jaga perasaanya. Batin Almas seakan tak mampu menerima jika lelaki penghangat tidurnya semalam di perkenalkan wanita lain sebagai kekasihnya.


“Hai, gue Almas.” ucapan yang sering terlontar pada teman temannya pun kini keluar pada Fariz.

__ADS_1


“Salam kenal,” hanya itu yang keluar dari bibir tipis milik Fariz, bahkan dia tak menjabat tangan Almas karena merasa ini tak perlu baginya.


“Ya sudah kalau begitu kami pamit,” ucap Fariz setelahnya.


“Oh, baiklah,” jawab datar Almas menghantar kepergian kedua bocah di depannya.


“BAAAAAANNNNNNGGGGGGGGGGG SAT” Almas membanting beberapa botol minuman koleksinya.


“Perasaan apa ini, gue tau mereka ada hubungan, tapi kenapa hati gue sakit melihat mereka berpelukan semacam itu!!” amarah Almas benar benar tak terkendali lagi.


Almas menangis sejadi jadinya dan meraung karena perasaan yang membuatnya membenci  dirinya sendiri.


Almas menghubungi Agas untuk menemaninya. Agas adalah kakak pertama dari Bagas yang terlihat paling tak perduli pada Almas, namun dialah yang selalu ada untuk Almas. Dialah yang selalu care pada Almas di antara kembarannya yang lainSesibuk apa pasti Agas akan meninggalkan kesibukannya jika Almas menyurunya datang. Seperti saat ini Al memintanya untuk datang di tengah kesibukannya di cafe milik papanya.


Tak berapa lama dari Almas memintanya datang dan dia pun kini sudah berada di kamar berantakan ini. Pecahan beling berserakan di mana mana, bau alkohol yang memenuhi ruangan, menyesakkan dada.


Agas melihat Almas tengah meringkuk di bawah meja bar yang tak jauh dari pecahan beling yang berserakan. Agas segera mengangkat gadis yang berusia setahun dibawahnya itu ke kamar yang tak jauh dari dapur.


Agas membersihkan pecahan beling dan segera mengenyahkan bau Alkohol dengan aroma pembersih lantai yang menenangkan. Setelah membersihkan ruangan itu, Agas segera menyalakan lilin aroma terapi di beberapa sudut ruangan apartemen milik Almas. Terasuk kamar Almas dan kamar mandinya.


Aroma alkohol yang tadinya menyeruak. Kini sudah berganti dengan aroma lavender yang menenangkan. Agas membantu Al untuk mandi di kamar mandi dengan merendamnya menggunakan air dingin yang di hasilkan oleh air es yang baru saja di beli Agas di supermarket terdekat.


Sabun busa aroma melati pilihan Agas menjadi teman berendam Almas dengan mata yang sudah terbuka dan kesadaran kembali penuh.


Di sisi lain Wina yang tengah menemani Fariz kekasihnya di tepi pantai dengan tatapan kosong. Wina menangkap adanya hati yang tak tertuju untuknya telah terluka. Wina tau tapi dia diam, wina menyadari ini pasti akan terjadi. Hanya Saja Wina tak tau hati itu untuk siapa, apakah Mentari? fikiran itu langsung di enyahkan oleh Wina.


Fikiran Wina pun terus berkecamuk tentang kekosongan tatapan Fariz. Hingga dirinya tak sadar jika lengan besar Fariz sudah memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di bahu milik Wina. Membisikkan kata cinta yang entah itu tulus atau hanya karena hatinya yang terluka.


“Wina, apa kamu mau jika aku menikahimu setelah lulus sekolah?” Tanya Fariz yang kini sudah mencium leher Wina penuh napsu.


“Sekarang pun aku juga mau. Asal kamu bisa membuat ku lebih bahagia dari pada saat ini.” Wina memejamkan matanya menikmati sentuhan demi sentuhan yang di berikan oleh kekasihnya.


Menggoda keduanya memang sangat mudah bagi setan setan terkutuk. Hanya mendekati dan meniupkan beberapa helai rambut mereka berdua pun sudah mampu membangkitkan apa yang bisa bangkit. Dan menegakkan apa yang tegak, mengeraskan apa yang keras meski itu bukan batu.


Setan: ngapa jadi gue yang di bawa bawa? Yang enak kan mereka.


Penulis: Salah sendiri lu suka bikin perkara.


Setan: gue gak bikin perkara ya, yang nyium siapa? Yang nyipok siapa? Ngapa gue yang di salahin? Ok gue out dari novel elu ini.


Penulis: bodo amat, ok lanjut.


Fariz mencoba meraba sesuatu yang ada di balik baju Wina. Namun dengan cepat Wina menepis tangan Fariz yang mulai kurang ajar.


“Halal kan aku terlebih dulu, jangan membuat malu orang tuaku. Kamu tau seberapa besar nama orang tuaku di dunianya? Tolong jangan buat aku menjadi seorang anak yang tak tau terima kasih,” Wina sedikit menjauhkan diri dari kekasihnya.


“Maafkan aku, aku terlalu terhanyut dalam situasi ini. Tolong jangan lah marah,” Fariz terlihat sangat menyesal dengan apa yang di lakukan pada kekasihnya.


“Kita pulang ya, tenangin diri kamu dulu. Aku sayang sama kamu juga,” ucap Wina menjawab peryataan sayang yang terlontar dari mulut Faris ketika dirinya larut dalam fikirannya.


“Jangan pernah meninggalkan aku. Aku akan bekerja lebih giat sebelum menikahimu. Aku ingin kamu dan ibu yang pertama masuk ke dalam rumah yang aku beli nanti,” ciuman hangat mendarat di pipi kanan Wina.


“Aku akan terus menanti keseriusan mu.” ucap Wina membalas ciuman pipi Fariz.


Janji yang terucap di antara keduanya telah di saksikan oleh deburan ombak yang menghantam batu karang yang kini menjadi pijakan mereka berdua menikmati kerasnya angin laut..


Langkah pasti yang di langkahkan keduanya mengukir  jejak di pantai berpasir putih di selatan jakarta. Menapaki jalan yang penuh dengan drama membuat Fariz dan Wina tertawa lepas di dalam mobil meski hanya cerita garing mereka.


Fariz mencoba melupakan gadisnya yang sudah menjadi istri orang. Dan membuka hati untuk Wina juga mengenyahkan nama lain selain Wina Alibaba Sahid.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, Fariz semakin giat dalam bekerja dan mengumpulkan pundi pundi rupiah untuk masa depannya. Fariz juga tak melupakan pelajarannya meski tengah liburan, karena dirinya ingin terus mengejar beasiswanya.


Meski kini Fariz sudah memiliki gaji di atas lima juga karena menjadi orang kepercayaan Affandi. Mendapat beasiswa adalah kepuasannya tersendiri dalam mencapai tujuannya. Selama seminggu ini, Fariz berusaha menghindari apapun yang berhubungan dengan Mentari.


Hingga suatu hari dirinya yang tengah menemani Satya bertemu client, bertemu dengan orang tua Mentari. Beliau pun bertanya kenapa tak pernah datang ke rumahnya setelah mengetahui penyakit yang di derita putrinya.


“Maaf pak, kita bahas kerjaan terlebih dulu. Masalah pribadi masih bisa kita bicarakan di lain waktu,” itulah kata tegas yang terlontar dari mulut kejam Fariz.


Pembahasan pekerjaan pun berlanjut hingga selesai. Setelah meeting Satya langsung pamit karena sudah di tunggu oleh papanya untuk meeting dengan Levin dari perusahaan BAGANTA.


“Tidakkah kamu terlalu kejam pada papanya Mentari?” Tanya Satya yang sedikit tak mengerti pada orang kepercayaannya ini.


“Maaf pak, jarak antara aku dan Mentari memang harus tercipta.” jawab Fariz yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.


“Kamu tau Fariz, kalau aku tak suka kamu menyembunyikan apapun? Kamu itu adikku, meski kita tak lahir dari rahim dan papa yang sama.” Tegus Satya yang sudah mulai menunjukkan keseriusannya.


“Ya, aku mengetahui kalau Mentari mengidap penyakit kangker darah stadium akhir,” kjawab Fariz mennduk menyembunyikan air matanya yang berusaha menjebol tanggulnya.


“Terus kenapa kamu meninggalkan dia? Kamu tak sanggup di tinggalkan dia?” Tanya Satya yang sedikit jengkel.


“Tidak,”


“Lantas?”


“Malam aku gak pulang ke rumah itu sebenarnya hati dan kepalaku kacau dengan apa yang aku tau. Aku pergi ke bar dan minum, karena aku gak berani pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Aku ke rumah teman dan menginap di sana, siangnya aku ke rumah Mentari dan menyaksikan pernikahan Mentari.” Fariz menjeda ceritanya karena merasa tanggul yang di bangunnya telah jebol.


“Hatiku hancur, kecewa pastinya. Tapi aku gak mau larut menjadi pecundang, aku pergi mencari Wina dan meminta dia untuk tak meninggalkanku. Aku berjanji menikahinya, dan sebelum itu aku harus bisa membeli tempat tinggal untuk kami juga ibu.” akhir cerita Fariz yang membuat Satya sedikit terhanyut dalam kesedihan Fariz.


“Terus, apa yang kamu lakukan untuk hal ini?” tanya Satya yang sudah memeluk Fariz yang duduk di kursi belakang bersamanya.


“Aku akan belajar dengan giat dan juga bekerja sebaik mungkin agar tak kehilangan beasiswaku juga mendapat bonus lebih besar lagi dari yang aku mampu.” kata Faris mantab.


“Terus bagaimana dengan Mentari?” Satya kembali mengungkit sakit hati yang masih dalam masa pemulihan.


“Aku menjauhinya dan menolak sema panggilan juga pesan dari dia. Aku sudah memblokir semua akses yang membuatnya mengingatkan aku.” jawab Fariz lagi.


“Aku masih bingung sebenarnya dengan perasaan kamu Fariz. Kamu pacaran dengan Wina, aku kira kamu memiliki hati untuknya.”


“Aku orang serakah pak, aku menyukai Wina berbarengan menempatkan Mentari di hatiku dengan tempat yang teridah.” dengan nafas besar, Fariz mengakhiri ucapannya yang menyesakkan.


“Kamu menyukai Mentari sebelum Wina?” hanya anggukan kepala yang di dapat Satya dari pertanyaannya.


“Kenapa gak kamu tunjukkan?” semakin penasaran Satya terus menanyai pemuda yang ada di sampingnya.


“Aku hanya anak seorang pembantu, gak mungkin sepadan dengan keluarga Mentari.” jawaban singkat dari Fariz membuat Satya tersenyum dan menertawai takdir sekali lagi.


“Tapi kamu malah macari anak sultan dari kerajaan BIRMA?”


Lucu sekali ‘kan? Ketika kita mati matian menghindarinya namun hal yang lebih besar malah sudah berada di dalam genggaman.


“Jangan pernah berfikir seperti itu lagi, abang gak suka cara fikirmu. Gak semua orang kaya melihat kita dari finansial, tapi kadang orang kaya itu melihat dari ketulusan.” pungkas Satya yang sudah berjalan masuk ke dalam cafe CINTA, tempat janjian dengan Levin dari perusahaan BAGANTA.


Baru saja masuk ke dalam cafe, pendengaran Satya dan Fariz sudah di sambut dengan merdunya suara Almas. Saat itu Almas tengah melantunkan lagu dari Avril yang berjudul innocence.. Menikmati alunan suara merdu yang di turunkan oleh Queen dan Levin yang menjadikan suara Almas tak dapat di lupakan.


“Apa kau mengenal yang menyanyi di sana?” Tanya Levin yang sudah duduk di depan Satya dan Fariz juga Affandi di samping Rizal.


Fariz seakan terbuai dengan alunan lagu yang di bawakan oleh gadis yang pernah tidur seranjang dengannya. Almas juga seakan mengenal Fariz dari sudut pandang Levin karena mereka saling menatap satu sama lain.


“Oh, maaf. Bukankah dia DJ di club wings?” Tanya Fariz tanpa ragu.

__ADS_1


“Iya, dia putriku.”


__ADS_2