
Sepulangnya dari rumah kakaknya, Vano dan nadin yg ingin mandiri kini mereka menempati apartement milik Vano. Vano kini ikut kerja di perusahaan papanya setelah pulang sekolah. Nadin mengurus rumah seperti Vindya yg menunggu suaminya pulang. Vano yg lebih dewasa dengan kehadiran Nadin, di sambut baik oleh kedua orang tuanya. keinginan menafkahi sang istri dengan hasil keringat sendiri ini membuat sebuah kebanggan tersendiri bagi orang tuannya.
"Van lo gak pengen gitu kaya Bang Fandi?" Tanya Nadin membuat Vano keselek yg tengah meneguk air putih dalam gelas.
"Maksud lo Nad?"
"Jadi papa Van, gue ngiri Van pengen juga." Kini Nadin mendekati sang suami dengan membasuh air yg menetes di dagu suaminya.
"Pengen sayang tapi kita masih kelas 2 SMA masih belum waktunya ya, Vindya kan udah mau lulus lagi 3 bulan. Jadi wajar kalo mereka udah kebelet. Kan mereka menikah 2 tahun lebih. Nah kita baru aja 8 bulan belum ada setahun. Jadi sabar dulu ya sayang. Sabar sampai suamimu ini memberikan kehidupan yg layak untuk kalian. Kamu dan calon anak anak kita nantinya." Vano melingkarkan tangannya dari belakang.
"Anak anak? berarti lebih dari 1 dong yang?" Nadin mengembangkan senyumnya.
"Iya lah, aku maunya punya 3 yang biar rame. Lo kan sendiri terus gue cuma berdua jadi gue merasa kurang rame yang." Lanjut Vano yg di respon dengan anggukan kecil dari Nadin.
__ADS_1
Nadin Melepaskan pelukan suaminya dan berjalan menuju kulkas. Mengambil bahan bahan masakan yg akan ia masak untuk suaminya. Vano maupun Vindya memang tidak terbiasa debgan adanya pembantu. Jadi memilih mengerjakan semuanya sendiri dengan memanfaatkan kerja sama pasangan untuk mengurus rumah.
Vano berjalan menuju kamar dan mengambil handuk yg berada di jemuran dekat kamar mandi lalu menuju ke kamar mandi untuk mandi. Vano memang terbiasa dengan mandi setellah bepergian membuatnya risih jika merasa bajunya basah oleh keringat.
Setelah masakan sudah mateng dan tertata rapi di meja makan. Nadin mencari keberadaan suaminya yg kini tengah berkutat dengan kertas kertas yg ia bawa dari kantornya.
"Makan dulu nanti baru terusin ya. Gue mandi dulu."
"Kayaknya enak ini. Tumben masak besar kamu?"Tanya Vano.
"Iya mama Agnes sama papa Sofyan mau ke sini katanya. Kita tunggu dulu ya sayang." Vano mengangguk.
Tak lama yg di tunggu pun datang juga, dengan membawa parcelan buah di tangan mama Agnes. Nadin membukakan pintu dan mempersilahkan mertuanya masuk.
__ADS_1
"Mama gak perlu repot repot lah bawa beginian. Kaya berkunjung ke rumah orang saja."Nadin dengan menggandeng mertuanya.
"Kan memang ke rumah orang, emang kalian bukan orang?"Jawab mama Agnes.
"Bukan ma, ini ke rumah anak anakmu." Kini Vano iku bicara.
"Cih anak mu itu ma, Semua sudah gak ada yg papa kenalin. Kalo anak papa kan manja manja semua." Kini papa Sofyan yg jadi melo.
"Paaaa.... papa mau Vano manja manjaan kaya dulu?" Vano
"Iya dong."Papa sofyan menjawab dengan entengnya.
"Sekarang pun Vano masih manja pa, tapi manjanya ke istrinya Vano hahahaha. Kalo sama papa manjanya gak dapet apa apa, kalo manjanya ke Nadin kan papa juga seneng nanti kan dapet cucu yg bisa papa manjain juga nanti." Kini Vano menggoda papanya.
__ADS_1