
Banyak cerita yang terjadi selama seminggu tinggal bersama. Dan hari yang di tunggu oleh Fariz dan team cerdas cermat pun datang. Hari ini juga hari pertama Mentari muncul pertama kali setelah setelah drinya berhenti sekolah.
Dengan mengenakan baju santainya, Mentari datang untuk memberikan semangat untuk Fariz. Bahagia bukan main Fariz saat ini, ketika melihat istri istrinya duduk berdampingan menyemangatinya.
Tak ada yang lebih membahagiakan lagi selain kehadiran mereka berdua. Fariz bisa merasakan energi yang mereka berikan. Fariz menjawab hampir semua soal dengan benar, usahanya selama ini terbayar sudah. Dengan terpilihnya Fariz mewakili sekolahnya melawan seklah lain.
“Selamat ya Fariz,” kiri dan kanan pipi Fariz di cium oleh kedua istrinya yang membuat teman temannya melongo.
“Menang banyak kamu Riz,” Yohanes datang menggoda Fariz dengan kedua istrinya.
“Iri ya bilag boss” kini gantian Fariz yang memeluk kedua istrinya di depan Yohanes.
“Sial kau Riz, jiwa kejombloanku meronta kalau kau seperti itu di depanku,” Yohanes menunjukkan wajah kesalnya.
“Hahaha makanya jangan suka mengodaku sekarang. Aku ada mereka berdua, tapi kamu?” Fariz menggoda kejombloan Yohanes.
“Sudahlah sayang, takut dia bunuh diri.” ucapan pedas memang tak pernah lepas dari diri Mentari.
“Asem kalian, ah sudah lah aku pamit dulu. Tapi aku gak lupa lo ngucapin selamat buat kamu,” Yohanes memeluk sekilas badan kekar Fariz.
“Sama sama bro, sori buat mata kamu ternoda,” bisik Fariz yang masih asih menggoda Yohanes karena dirinya kembali di tolak oleh Imey.
Rupanya Yohanes selalu memasangkan Fariz dengan Imey itu ada tujuan tersembunyi. Yohanes dan Imey adalah keturunan tionghoa yang paling kentara di sekolah mereka. Fariz yang terus menertawai koko pemilik mata segaris namun jahilnya tak karuan itu.
Setalah mengucapkan selamat, Yohanes segera menyingkir karena tak mau semakin di Bully. Sepeninggalannya Yohanes, kini Mustafa mendekat dan membuat suasana canggung pun hadir di antara mereka berempat.
“Selamat ya,” Mustafa mengulurkan tangan pada Fariz untuk memberinya selamat atas keberhasilannya menjadi wakil sekolahannya ini.
“Terima kasih pak. Oh iya untuk penyerahan jabatannya kapan?” Tanya Fariz yang memang tak memperpanjang jabatannya.
“Loh, kamu gak meperpanjang masa jabatan kamu?” Tanya Mustafa kaget.
“Enggak pak, sekarang saya harus bekerja di perusahaan Ayah sama bantu bantu di perusahaan orang tuannya Wina,” jawab Fariz membuat Mustafa melihat Mentari seperti orang bingung.
“Papaku kan orang sibuk pak, dan Fariz memiliki kemampuan dalam mengelolah perusahaan papa. Jadi ya papa sering meminta bantuan Fariz,” jelas Wina tanpa menyinggung pernikahan yang terjadi di antara mereka bertiga.
“Oh begitu, baiklah. Bapak belum sempat memikirkan kandidat yang tepat, mungkin kamu ada yang mau di rekomendasiin?” ucapan Mustafa tak lepas dari tatapan mencuri ke arah Mentari.
“Yohanes atau Rojali adalah orang yang paling tepat untuk jabatan itu. Mereka memang sedikit konyol tapi mereka berdua itu orang orang yang tegas dalam menghadapi anak anak yang suka melanggar peraturan,” Fariz seakan mengrti kemana pandangan Mustafa sesekali berpaling.
Fariz merangkul erat Mentari seakan mengatakan, ia milikku saat ini. Mustafa merasa hatinya mendidih, segera meninggalkan mereka bertiga.
“Jangan lakukan hal semacam ini lagi. Aku tak nyaman Fariz,” ucap Mentari yang melepas rangkulan erat di pundaknya.
“Kenapa? Apa kau masih mengharap dia? Silahkan,” itulah kata jengkel yang terlontar dari mulut Fariz sebelum meniggalkan kedua istrinya.
Wina memeluk Mentari yang menatap punggung Fariz. “sudah, biarkan saja.”
Wina mengajak Mentari istirahat di kantin dengan menikmati hidangan kantin. Rasa kangen pada makanan makanan yang setahun di nikmatinya pun membuat Mentari meneteskan air mata.
“Kamua kenapa? Apa kamu sakit?” Tanya Wina khawatir.
“Enggak, aku cuma kangen makan di tempat ini,” Mentari sedikit meraba kursi yang di dudukinya.
Tak ada kata yang terucap lagi di antara keduannya. Mentari dan Wina menikmati makanannya setelah di bawakan oleh pelayan.
Di tengah keseruan mereka berdua menikmati jajanan khas kantin sekolah. Tiba-tiba meja mereka di gebrak oleh seorang siswi yang tadi di kalahkan oleh Fariz.
“Apa kalian gak bisa liat ini meja gue!” itulah ucapan Sifa yang bersetatus kakak kelas mereka.
“Memangnya kau yang membeli meja dan bangku ini? Perasaan aku masuk sini sudah ada bangku ini deh,” ucap Wina yang terlalu gemas dengan kelakuan kakak kelasnya yang terkenal pintar ini.
__ADS_1
“Oh lupa, lu kan yang mencium Fariz di depan umum tadi kan? Tak tahu malu sekali lu sebagai cewek,” cibir Sifa.
“Kenapa harus malu? Atau jangan jangan kakak menyukai Fariz?” Mentari kalau ngomong suka asal deh, sampek gak mikirin nasipnya setelah ini.
“Eh anak luar, gak usah sok deh. Gue heran deh, kenapa gitu orang luar seperti elu itu bisa masuk sekolah ini begiu saja sih,” Sifa mendekati Mentari yang sudah berdiri.
“Gak usah banyak bacot kak. Aku bahkan bisa mengikuti pelajaran di kelas kakak biar pun aku tak memakai baju seragam kaya kakak,” Tantang Mentari yang seakakn tak memiliki takut sama sekali.
“Lu itu tamu di sini, gak usah belagu!” kembali siswi itu menggebrak meja kantin.
“Makan ni meja!” Mentari mendorong meja dengan sekuat tenaganya.
Meja membentur paha Sifa yang mengaku siswa terpintar di sekolah ini mengaduh kesakitan. Tak berhenti di sana saja, Mentari juga tak lupa mengguyur gadis itu dengan kuah bakso bekas dirinya makan.
Kaget, tak percaya itu sudah pasti di rasakan oleh Wina. Gadis itu tak menyangka jika madu yang di pilih untuk suaminya itu tak meninggalkan beruangnya. Beruang yang bisa mengamuk kapan saja dan menyerang siapa saja.
Bukan cuma Wina yang tercengang namun juga teman teman yang mengenal Mentari. Hanya mampu melongo, Sifa menerima guyuran kuah bakso dengan tiga sendok cabe. Kedua teman Sifa hanya melongo karena terkejut melihat kejadian yang termasuk dadakan itu.
Sifa rupanya termasuk dalam siswa yang di takuti oleh banya teman temannya, karena dia putri salah satu guru di sekolah ini. Mungkin Mentari tak tau atau bahkan tak mau tau akan semua hal itu, maklum dia sendiri kan type orang cuek.
“Sekali lagi kau melawan aku, silahkan kau angkat kaki dari sekolahan ini!” itulah ancaman yang di berikan Mentari pada siswi itu tanpa merasa sakit yang meyerangnya.
Ya… rasa itu seakan menghilang ketika dirinya meluapkan amarahnya. Mentari seakan tersenyum puas akan rasa takut yang terpancar dari kedua teman Sifa.
“Apa elu ngancem gue?” kata Sifa yang masih tak memiliki takut pada Mentari.
“Terserah elu aja naggepnya gimana. Tapi yang jelas, elu jangan pernah berlagak di depan mata gue,”
Ketika perang mulut itu terjadi, Fariz tiba-tiba datang dan langsung memeluk Mentari. Memisahkan wanitanya dengan orang yang membuat masalah dengan dirinya.
“Sudah, jangan pernah lakukan ini lagi,” Fariz mengusap rambut Mentari lembut.
“Aku merasa badanku ringan Fariz. Aku tak merasa sakit lagi,” terang Mentari yang memang merasakan seperti orang yang sedang terbang di udara.
“Bukan seperti itu, tapi aku mencoba untuk membela diri saja. Wina, jangan sampai aku mendenga kau di ganggu oleh gadis sombong itu lagi. Kalau kau gak mau dia keluar dari sekolah ini dan tidak di terima di sekolah manapu,” senyuman Mentari kini tengah kembali lagi seperti sedia kala sebelum sakit.
***
Di rumah rupanya Bian dan juga ibunya Fariz sudah menunggunya di ruang tamu. Bermain dengan si kecil Idham membuat mereka tak merasa jenuh.
“Kalian ini dari mana saja?” tanya ibu Fariz menghampiri Mentari dan Wina bersamaan agar tak terjadi kecemburuan sosial.
“Kami dari sekolah bu, tadi Fariz lomba cerdas cermat untuk seleksi perwakilan sekolah.” jawab Wina yang sudah duduk di samping Bian dengan mengambil Idham dari pangkuan mama muda itu.
“Emmm, boleh saya ke kamar dulu? Sepertinya sudah mulai muter muter,” pamit Mentari ragu ragu.
“Mau di anterin?” tawar Wina yang sangat menyayangi gadis yang mendapatkan setengah dari cinta suaminya.
“Gak usah lah, temanin aja ibu sama mbak Bian. Ibu maafin Mentari ya kalau gak bisa menjadi menatu yang baikuntuk ibu. Mbak Bian, Mentari juga mau terima kasih sudah menganggap suami ku ebagai adik sendiri,” itulah ucapan Mentari sebelum pergi maninggalkan tamunya ke kamar untuk beristirahat.
“Gak usah ngomong macem-macem Mentari. Cukup kau mengancam orang hari ini,” Fariz berniat mengantar istrinya.
“Maafin aku,” kembali Mentari meminta maaf.
Hari semakin sore dan Fariz rupanya hanya memiliki janji ketemu dengan clien orang tua Wina. Fariz memang selalu menghandle tamu atau rekan yang menemui di luar gedung. Sedangkan di perusahaan SATYA Fariz selalu datang untuk mengambil berkas atau menghadiri rapat penting.
Karena Fariz bekerja di dua tempat, maka gaji yang di dapat juga double. Tak jarang Fariz merasa malu dengan Satya atau Affandi. Itu di karenakan, dirinya di bebaskan untuk bekerja di mana saja . sedangkan bosnya malah kerja full di kantor.
Semua ini di lakukan karena Satya dan Affandi mengetahui keadaan Mentari. Sejauh ini semua mengetahui keadaan Mentari yang semakin kritis, dan hanya Fariz saja yang tidak mengetahuinya.
Sekitaran jam tujuh malam Wina mengajak Bian dan juga ibu mertuannya makan malam. Satya yang tengah tugas di luar kota pun membuat kedua orang itu tak memikirkan rumahnya.
__ADS_1
“Wina, kamu bangunin Mentari sana,” Ibu mertuanya memerintah dengan lembut pada menantunya.
“Iya bu,”
Wina berjalan seperti biasa ke arah kamar Mentari yang berada di samping kamarnya. Pertama Wina mengetuk pintu pelan, namun tak ada jawaban dari madunya itu. Semakin lama ketukan pintu itu berubah menjadi gedoran pintu yang sangat keras.
“Mentari bangun!!” teriak Wina yang sudah tak mampu menahan air matanya, meski tak tahu apa yang terjadi di dalam.
“Kenapa Wina?” Tanya Bian yang mendengar teriakan Wina yang sudah menjadi raungan tangisnya.
“Pintunya di kunci dan gak ada jawaban dari dalam,” tangis WIna semakin pecah jika mengingat Mentari sedari tadi merasa seperti tengah melayang.
“Dobrak saja pintunya,” Kini Wina semakin khawatir seperti orang gila.
Betapa besar cinta kalian pada Fariz. Bahkan aku tak pernah percaya jika kalian itu kakak adik yang terikat oleh pernikahan, bukan darah. Bian merasakan kesedihan gadis kecil di depannya.
“Fariz, pulang sekarang.” Wina dalam kepanikannya masih sempat menghubugi suaminya.
“Mbak, ini kunci cadangannya,” Pembantu kebersihan rumah belum pulang karena masih ada tamu.
“Makasih Mbak,” dengan tergesa Wina membuka pintu kamar Mentari.
Wina melihat Mentari tengah tertidur di kasur denan masih menggunakan mukenanya. Wina perlahan membangunkan Mentari. Menggoyang goyangkan pelan dan sesekali menyebut namanya.
Senyuman yang terlukis indah di bibir pucatnya membuat Wina semakin takut. Goyangan dan panggilan itu berubah menjadi teriakan dan guncangan untuk Mentari. Namun wanita cantik itu tak kunjung membua matanya.
“Mentari!!! tega sekali kau meninggalkan aku!! kau sungguh keterlalun terhadapku Mentari! Bangunlah Mentariiiii!!!” teriakan Wina terdengar hingga luar kamar.
Tangisan kehilangan dan juga penyesalan menjadi satu. Wina merasa gagal menjaga madunya yang sangat manis baginya. Bian mencoba menenangkan Wina yang sudah seperti orang gila.
“WIna, jangan bebani Mentari dengan tangisanmu sayang. Lihat itu Mentari sudah tersenyum bertemu dengan Tuhan, Sayang,” Bian membangunkan Wina yang kini sudah lemas.
“Mentari…. huhuhu.” hanya tangisan yang terdengar dari bibir gadis yang kini mungkin merasa matanya berkunang kunang karena menangis hebat.
Bian menghubungi keluarga Mentari dan juga keluarga Wina untuk membantunya menenangkan. Jiwa Wina tengah terguncang, mendapati kakak sekaligua madu sang suami telah meninggalkannya.
Fariz datang ketika orang tua Wina baru saja keluar dari mobilnya. Fariz langsung berlari masuk ke dalam rumah. Mencari kedua istrinya yang tak dia tau bagaimana keadaannya saat ini.
Saat melihat Fariz datang, Wina langsung memeluknya dan mengajak ke kamar Mentari. Di dalam kamar sudah ada kelaurga Mentari, yang berusaha membuka mukenanya.
“Mentari ninggalin aku….” kembali Wina menangis yang tadi sudah sedikit tenang, ya meski masih dengan omelan karena Mentari meninggalkannya.
“Bangunin dia, aku sudah memasak untuknya bersama ibu….. dia gak mau bangun, apa maksudnya itu. Tega sekali da meninggalkan aku sendiri!!!” tangisan Wina bercampur kicauan yang tak terarah.
Ibu dari Mentari memeluk gadis yang sudah membantunya menjaga sang putri. Selama dua minggu ini Mentari selalu menceritakan kebaikan Wina yang terus membantunya. Tak pernah mendengar kata keluhan untuk gadis yang kini tengah meraung di pelukannya.
“Kita harus tabah, kita harus terima ini semua. Kita gak bisa mengahalangi apa yang akan pergi,” Fariz mengecup lembut kening yang sudah dingin dan senyum sudah tak lagi hangat.
Fariz menyesali apa yang di ucapkan sebelum dia berangkat kerja tadi. Sedikit bentakan karena berbicara macam-macam pada ibu dan kakanya. Fariz juga menyesal ketika Mentari bermanja tak ingin di tinggal, tapi dirinya malah meninggalkannya saat istrinya salat asya.
Penyelasan yang terus menyerang kedua orang yang beberapa hari ini hidup bersamanya. Fariz keluar dari kamar dan menanyai orang tua mentari, sebenarnya separah apa penyakit istrinya.
“Maafkan kami yang menyembunyikan ini dari kamu. Tapi itu semua permintaan dari Mentari sendiri,” Jelas papa Mentari.
“Siapa saja yang mengetahui jika Mentari sakit parah?” Tanya Fariz semakin tersulut amarah.
“Jangan pernah katakan jika hanya aku yang menjadi orang bodoh di sini!” geram Fariz yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
“Wina!!! kemari!!” kali ini Fariz benar benar marah dengan semua orang, termasuk dirinya sendiri.
“Maafkan aku,Mentari terus saja mengalihkan pembicaraan di saat aku akan memberitahumu. Tapi Barkah bilang waktunya masih sedikit lebih lama dari ini. Aku tak tau jika….” Wina tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Jika apa”” Fariz melembutkan nada suaranya namun air matanya tak mampu di bendung karena derasnya.
“Maafkan aku,” hanya kata itu yang sanggup di katakan setelah Fariz memeluknya erat