Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Arkan Maheru Zulkarnain


__ADS_3

Penyesalan selalu datang di akhir, karena jika berada di awal itu pendaftara.


KLISE!!


Memang klise, tapi memang begitu adanya. Seperti saat ini Bian sudah berada di salah satu kamar serba putih beraroma obat sangat kuat. Di kamar Anggrek khusus untuk pasian VIP menginap.


Satya tak berhenti menangisi perlakuannya pada Bian. Gadis yang dinikahinya tanpa bertanya, apakah kamu mencintaiku?


Vindya dan Affandi yang sedari tadi tak berhenti untuk memaki dan juga mengutuki sang putra. Entah apa yang ada di fikiran putra semata wayangnya bisa berbuat seperti itu.


“Kamu pikir Bian itu binatang? Bisa kamu perlakuin seperti itu?”


“Alwa khilaf Bunda, Alwa cemburu Bunda.” Satya mencoba mengatakan apa yang di rasakan pada istrinya.


Kenapa harus cemburu? Bukankah dirimu sudah menghadirkan wanita lain di dalam rumah tangga kalian?. Sungguh sangat egois sekali dirimu Satya, jika masih menyalahkan Bian yang hanya ingin terpisah setelah pengakuanmu.


“Bian bukan gadis yang dengan mudahnya menghadirkan orang ke tiga, Alwa.” Vindya yang kini sudah berpihak pada menantunya dari pada putra kandungnya.


“Terus Bunda menuduh Alwa yang memulai semua ini?” Tanya Satya yang seakan di pojokkan oleh Bundanya.


“Bunda gak menuduh, hanya memang merasa ada yang gak beres di antara kalian. Bunda juga gak mau menuduh jika gak ada buktinya,” ujar Vindya yang enggan untuk menoleh ke arah putranya.


“Ayah sama Bunda mau pamit Alwa, jaga mantu Ayah sama Bunda baik-baik. Jangan pernah perlakuin kaya gini lagi. Berjanjilan ini yang pertama dan yang terakhir kalinya,” Pamit Affandi mengajak istrinya yang di liputi oleh rasa emosi yang tinggi.


Seharian Satya menunggui istrinya yang terbaring lemas di ranjang milik rumah sakit. Satya mendapat telfon dari seseorang yang saat ini lebih sering membuatnya tersenyum saat ini.


Dengan mengumbar kata sayang dan kata cinta tepat di samping istri yang tengah tergolek lemah. Satya seakan tak merasa bersalah sama sekali atau pun canggung. Bian sudah sadar semenjak telephone genggam Satya berdering.


Bian masih belum bisa membuka mata, tapi telinganya sudah mampu mendengarkan dengan jelas. Memang tak melihat senyum yang mengembang dari bibir suaminya. Tapi seorang istri ini sudah mampu merasakan kebahagiaan yang tengah menyelimuti suaminya.


Sabar Fabian, suamimu sedang di goda oleh seorang wanita yang tak tau jika lelakimu itu sudah menikah. Batin Bian mencoba untuk tenang dan memberikan semangat pada dirinya sendiri.


“Satya,…” Gumam Bian kurang lebih setengah jam setelah lelaki itu memutus sambungan telephonenya.


“Kamu sudah sadar, aku panggilin dokter dulu ya,” Satya mencari dokter yang bertugas.


Dokter pun memeriksa Bian secara seksama. Memeriksa bekas luka-luka memar juga. Dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan yang mendalam dan melaporkan pada pihak yang berwajib. Karena ini sudah termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga.


“Gak usah dok terima kasih,” ucap Bian sopan.


Dokter muda itu pun hanya tersenyum kasihan kepada gadis manis yang terlihat sangat mencintai suaminya. Satya yang melihat pun tidak terima dokter itu seakan ingin menggoda istrinya.


“Saya masih sah menjadi suaminya jika dokter lupa,” ketus Satya.


“ tuan, Nyonya sudah baik-baik saja. Besok juga bisa di bawa pulang,” ucap Dokter yang hendak pergi.


“Apa gak bisa hari ini juga untuk di pulangkan saja?” Tanya Satya serius kali ini.


“Bisa, silahkan untuk mengurus administrasinya. Dan saya akan menyiapkan resep obat yang harus di tebus,” ucap dokter muda yang merasa sangat kasian pada pasien yang di tanganinya.


Bian bersiap untuk pulang ke rumah ketika Sasa, Nurul dan Michael datang menjenguknya.


“Ya ampun Bian, ini kenapa?” Tanya Sasa melihat luka lebam yang ada di lengannya sebelum di tutupi dengan jaketnya.


“Gue hampir jatuh Sa, kepleset di kamar mandi.” Bian berusaha menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.


“Gak usah bohong lagi Bi, kita sudah denger langsung dari Pandu. Dia bahkan menceritakan permasalahan apa yang sedang kalian hadapi,” kata Michael sudah dalam keadaan emosi.


“Sudah lah, ini masalah kami. Emang gue yang bodoh aja ngelakuin hal kek kemarin. Jadi wajar aja gue mendapat ganjarannya,” ucap Bian sambil menundukkan kepala.


“Ya sudah kalau begitu, inget elu masih punya kita sebagai temen elu. Jangan pernah merasa sendiri lagi, ok?” Nurul menengahi perbincangan di antara para sahabatnya.


Satya masuk kedalam setelah satu jam mengurus administrasi sebagai syarat untuk keluar rumah sakit.


Perhatian yang di berikan Satya tidak pernah berubah. Bahkan membuat ketiga sahabatnya itu ragu jika lelaki yang terlihat sayang istri ini, tergoda oleh wanita lain.


Bian juga bersikap seperti tidak terjadi apa-apa meski dirinya tau sedang di hianati sang suami. Sasa tak kuasa lagi untuk menahan tangisannya. Siapa yang di sakiti, siapa yang menangis.


“Gue permisi dulu, masih ada hal yang harus gue urus.” Sasa pergi bersama Nurul.


***

__ADS_1


Di dalam mobil selama perjalanan, satya hanya diam. Bian asik bercanda dengan Michael yang duduk di jok belakang.


“Bi, kalo di sentuh gini sakit kagak sih?” Tanya Michael yang menyentuh bibir bawah Bian yang terlihat masih membiru.


“Enggak kok, cuma kalo di gigit ya sakit lah.” jawab Bian biasa saja.


“Cih, gak percaya gue. Palingan abis ini kalian ciuman,” goda Michael yang membuat Bian memukul sahabat suaminya sejak sekolah dasar itu.


“Gak akan,” jawab Bian spontan dengan senyuman khasnya.


“Ah yang beneeeeerrrr,” Michael semakin menggoda Bian yang terlihat malu-malu dan sudah memerah ajahnya.


“Mau taruhan?” Tantang Bian kali ini dengan wajah seriusnya.


“Boleh, kalo elu kalah. Lu harus menuruti apa yang gue suruh. Dan kalo gue yang kalah gantian gue ngikutin kemauan elu.”


Bian menerima tantangan Michael dengan senang hati. Karena Bian berfikir, hal semacam itu tidak akan terjadi. Di tambah dengan setelah pengakuan sang suami yang menyukai wanita lain.


---


Sesampainya di rumah, Bian dan Satya di sambut oleh Ayah dan juga Bundanya. Vindya memeluk menantu tersayangnya dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Michael membantu Satya untuk membawa barang-barang Bian dari rumah sakit.


Malam menjelang, Satya dan Bian sudah biasa saja. Walaupun keduanya tak seakrab biasanya. Akrab dalam artian Bian yang selalu ingin bermanja pada suaminya, meski sering di hindarinya.


Bian tidur dengan memunggungu lelaki yang mengaku suaminya. Mata yang enggan untuk terpejam pun membuatnya merasa capek untuk diam di satu posisi. Bian merenggangkan otot yang kaku sebelum mengubah posisi tidurnya.


Bian menghadap ke arah belakangnya, dan mendapati wajah terlelap sang suami. Begitu damai dan juga menggemaskan. Bian meraba wajah putih dengan alis tebal milik suaminya. Perlahan Bian membelai mata yang tertutup, dan di lanjut ke hidung mancung sebelum berhenti di bibir merah muda.


Bian mengecup lembut bibir yang sangat menggoda bagi kaum hawa milik lelaki yang tengah tertidur di sampingnya. Seketika Bian mengingat akan taruhannya dengan Michael, setelah merasakan lumatan kecil dari suaminya.


“Kenapa berhenti?” Tanya Satya yang ternyata dirinya juga tidak bisa tidur.


“Gue kalah dari Michael,” ucap Bian dengan menutup mulutnya.


“Gue? Kenapa menggunakan bahasa itu lagi?” Tanya Bian yang kaget ketika istrinya kembali seperti awal.


“Kita biasain lagi aja. Biar pacarmu gak menganggap aneh nantinya.” Bian kembali memunggungi sang suami.


“Kenapa kamu suka melukai diri sendiri?” Tanya Satya memeluk Bian dari belakang dan mencium tengkung istrinya.


“Maaf,” selalu kata itu yang keluar dari bibir seorang yang telah menyakiti hati.


“Jangan selalu minta maaf, jika masih menyakiti.”


Jleb. Kembali ucapan Bian tepat mengenai hatinya.


Tak ada kata lagi setelah itu karena memang semua larut dalam fikiran masing-masing hingga tertidur pulas.


Seminggu sudah Bian libur kuliah dengan alasan sakit. Padahal Bian sudah tidak apa-apa. Hanya Bian tak mau jika semua menyalahkan Satya akan luka lebam yang di milikinya.


“Lu gak lupa ‘kan denga apa yang menjadi taruhan kita?” Tanya Michael saat Bian sudah mulai masuk kuliah.


“Iya, sekarang apa yang harus gue lakuin?” Tanya Bian yang duduk di samping Satya dengan rasa kesalnya.


“Dalam hitungan ke lima, lu harus mencium orang yang baru masuk ke kantin. Laki-laki maupun perempuan,” ucap Michael yang sebenarnya geram terhadap Satya, dan ingin memberikan sebuah pembelajaran hidup untuk mempertahankan.


“Ok,” Michael dan Sasa sebagai perencana pun kaget dengan jawaban Bian.


“Jangan gila, aku ada di sini dek,” protes satya yang kurang setuju dengan apa yang menjadi hukumannya.


“Lah, bodo amat,” Jawab savag seorang Bian pun terucap.


“Ya sudah, protes elu sudah gak ngaruh sekarang Satya. Kita hitung saja sekarang, Satu…. dua….. tiga…. empat…. liiiiiiimmmmmmmaaaaaaaaa.” Hitung Sasa, Nurul dan juga Michael.


Tak ada seorang pun yang muncul setelah hitungan ke lima. Denganperasaan kecewa, Michael mengubah peraturannya.


“Ok, sekarang gini aja. Siapapun yang muncul pertama kali aja, tanpa hitungan deh. Kita tungguin selama setengah jam, sampai bel masuk aja.” Bian pun menyetujui kembali namun Satya terlihat sangat tidak senang akan hal ini.


Bian membelalakkan matanya setelah lima menit menunggu. Seorang lelaki ganteng dengan tinggi yang tak pendek juga tak tinggi. Dengan aura yang selalu menghitam di sekitarnya.


“Bi, itu… lu harus menciumnya.” Michael menunjuk pemuda yang baru saja duduk tak jauh diari meja mereka berlima.

__ADS_1


“Jangan gila!!! dia itu seorang monster, mengoda dia sama dengan membangunkan macan tidur bro” Bian menjelaskan siapa targetnya.


“Lu kenal?” Tanya Michael penasaran.


“Kenal lah, dia itu satu jurusan sama gue.” Jawab Bian santai.


“Bagus dong. Ya sudah sono,” Michael mendorong- dorong Bian ke meja lelaki yang di bilang seorang monster itu.


“Iye, iye. Sabar ngapa pak,” ucap Bian dengan nada jengkelnya.


“Arkan, sorry ya sebelumnya,” ucap Bian malu-malu.


“Buat?” Tanya lelaki yang menjadi target taruhan mereka.


Cup


Bian mencium pipi Arkan maheru Zulkarnaen teman sekelasnya. Bian menunggu reaksi Arkan setelah apa yang di lakukannya. Di luar dugaan, Arkan seperti malu-malu dan wajahnya terlihat memerah.


Bian pergi meninggalkan lelaki yang kini tengah mematung karena ciumannya. Dan kembali ke tempat duduknya di sampung Satya yang sudah menahan amarahnya.


Jam pelajaran Bian di mulai setengah jam lagi yang membuatnya meninggalkan sahabat dan juga suaminya.


“Arkan, yang tadi gue minta maaf ya,” Kembali Bian meminta maaf pada lelaki yang sudah di ciumnya.


“Ya, gak papa.” Jawab Arkan santai dan kembali melihat bukunya setelah sekilas melihat ke arah Bian.


“Bisa kita berteman mulai sekarang?” Tanya Bian di tujukan pada Arkan dengan mengulurkan tangannya.


“Memangnya, selama ini kita tidak berteman?” Arkan mengembalikan pertanyaan Bian.


“Iya juga ya, secara kita ‘kan satu jurusan.” Bian mengambil duduk di samping Arkan, teman yang baru di ciumnya.


Selama pelajaran, Bian banyak tanya juga pada dosen yang mengajar. Tak jarang juga Bian meminta tolong pada Arkan untuk mendekte apa yang di tulis di depan.


Dari kejadian ciuman itu, Bian semakin mengenal Arkan. Seorang lelaki yang selalu mengatakan apa adanya dengan jelas dan tegas. Bahkan Arkan tak pernah memikirkan yang namanya perasaan orang lain.


Ketika dia tidak suka maka akan di katakan jika dirinya tidak suka. Arkan memang lebih banyak diam dari pada manusia pada umumnya. Seakan tak perduli padahal dirinya selalu memperdulikan semua teman-temannya.


“Arkan, lu abis ini mau kemana?” Tanya Bian yang sudah akrab dengan lelaki itu.


“Palingan cari makan dulu, laper. Lu mau ikut?” Tanya Arkan


“Boleh deh, di mana?”


“Duit gue cuma cukup makan di warung pinggir jalan, lu mau?” Tanya Arkan yang tak pernah sungkan untuk mengatakan jika dirinya memang tak punya.


“Boleh lah, tapi lu yang bayarin gue ya,” Bian yang  tak sungkan lagi merengek pada lelaki savage di depannya.


“Hmm,”


 Biar terlihat dingin dan gak perdulu, Arkan tidak pernah bisa menolak apa yang di mau dari teman yang baru beberapa hari dekat dengannya.


“Iiiiiihhhh Arkan baik deh,” Goda Bian kegirangan.


“Ya udah yuk berangkat sekarang, keburu rame entar.” Arkan berjalan di depan Bian dengan menenteng tas punggungnya.


Selama perjalanan, Arkan merasa kupingnya pengar karena ocehan Bian yang tiada hentinya. Setelah sampai di sebuah rumah makan ala anak muda, Arkan mengajak turun Bian yang terlihat sangat takjub.


“Jangan kaya orang udik lu,” ucapan pedas sudah tak lagi membuat Bian sakit hati.


“Biarin aja gue udik. Secara gue ‘kan baru datang di cafe seperti ini.” Bian memukul pundak Arkan karena di katai udik.


“Paling enggak jangan malu-maluin gue, kita duduk di saung itu ya.” ajak Arkan yang berjalan di depan Bian.


Saat berjalan menuju saung yang di maksud. Tidak sengaja Bian melihat Nurul, Sasa, juga Michael sedang menikmati makannya bersama dua orang yang di kenal sebagai suaminya dan wanita asing.


Bian berjalan biasa menghampiri Arkan. Air mata yang tak mampu di bendung lagi akhirnya turun juga. Sudah beberapa hari memang teman-temannya menjauhinya.


Seperti ini ternyata rasanya orang di hianati oleh seseorang yang sudah di percayanya.


Di antara kelima orang itu tidak ada yang melihat Bian berjalan tak jauh dari lesehan mereka. Dengan bercanda, tertawa bersama menunjukkan jika mereka sudah akrab.

__ADS_1


Akulah yang tersisih di antara kalian. Terima kasih teman atas semua yang sudah kalian berikan selama hampir setahun setengah ini.


Arkan tak berkata apa-apa selain kata “Makanlah”


__ADS_2