Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Kasih sayang untuk Wina


__ADS_3

Mencintai seseorang itu susah susah gampang. Susah sekali saat mendapatkan dan menjaganya. Gampang banget bapernya kalau sudah di dapetin.


Seperti dulu perjuangan Fariz untuk mendapatkan Wina. Menjaganya dalam keadaan baik pun juga sangat susah. Tapi gampang banget di bikin baper, di lap ingusnya saja udah baper.


Kadang Fariz tak mengerti apa yang di mau oleh sang istri. Sedikit sedikit ngambek, sedikit sedikit tersinggung. Tapi yang paling Fariz tak tau harus apa itu pada saat istrinya datang bulan.


Suka sekali menggoda, tapi dirinya gak bisa di apa apain. Bikin kepala sakit saja kalau sudah datang bulan. Di jauhi ngambek, di deketin takut gak kuat. Hadeeeehhh jadi serba salah saja kalau sudah si tamu bulanan datang.


“sayang, jangan deket deket kenapa? Sudah tau lagi datang bulan, masak masih godain sih?" sungut Fariz yang jengkel sendiri akibat sang istri.


“Kenapa gak mau di deketin? Sudah punya yang lain kah?” Tuduh Wina yang tak mau di suruh menjauhi sang suami.


Sebenarnya wina itu hanya minta di perhatikan saja di saat dirinya kedatangan tamu. Rasa sakit di perutnya itu akan reda ketika tangan sang suami bermain manja di perutnya. Menggelitik dan menari indah di pusarnya adalah salah satu cara meredakan rasa sakit saat datang bulan.


Namun, apalah daya Fariz yang tak merasakan hal itu. Hanya mendapat kode tak mungkin dirinya tahu seperti Demian yang mampu menebak sesuai arahannya.


Fariz hanya bisa pasrah dengan apa yang di inginkan sang istri. Fariz tau kalau istrinya lagi datang bulan itu jauh lebih sensitif di bandingkan hari hari biasanya. Bersikap lebih manja padanya, hingga dirinya hanya menemaninya rebahan saja.


“Sampai kapan sayang? Kerjaan ku masih banyak,” kata Fariz yang sudah tak sabar lagi untuk rebahan.


“Tunggu lah sampai aku merasa tak sakit lagi sayang,” Wina masih menggosok gosokkan tangan Fariz ke perutnya.


“Kenapa makin manja gini sih kamu sayang?” Tanya Fariz lagi yang sedikit jengkel.


“Ya karena aku hanya ingin di perhatikan saja. Apa aku salah kalau minta di perhatikan suamiku? Apa perlu aku mencari perhatian sama karyawan minimarket?” mood Wina benar benar hancur karena Fariz yang begitu menyebalkan menurutnya.


“Ya jangan dong…” Fariz mendekap istrinya lebih erat lagi tanpa di minta seperti sebelumnya yang terkesan terpaksa.


“Makanya jangan ngeluh aja. Sudah tau aku lagi sakit juga masih aja kau mikir kerjaan.” gerutu Wina yang tak suka degan sikap Fariz.


Mementingkan pekerjaan yang sudah setiap hari mendapat perhatiannya. Sedangkan saat perhatian pada istrinya cuma pada saat di minta saja. Itu pun dengan keadaan terpaksa.


Seandainya aku menikah dengan orang yang mencintaiku, mungkin hal semacam ini tak akan pernah terjadi. Itulah batin Wina saat memikirkan jika dirinya lah yang mencintai. Sedangkan sang suami, entah untuk siapa hatinya itu kini.


Untuk wanita dirinya atau adalagi sosok Mentari lain yang mendapatkan hati suaminya. Atau mungkin kakak sepupunya yang hanya semalam di tidurinya itu memberikan arti lain baginya? Benar benar kacau fikira Wina.


“Kenapa kamu tiba tiba menangis?” Tanya Fariz yang melihat air mata jatuh dari mata indah milik istrinya.


“Seandainya aku menikahi orang yang mencintaiku, mungkin gak akan seperti ini kejadiannya. Mama benar, menikahi lelaki yang kita cintai itu tak akan sebahagia menikahi lelaki yang mencintai kita,” ujar Wina dalam kekosongan hatinya.


“Bicara ngawur apa kamu?” datar dan dingin pertanyaan Fariz membuat Wina jengah sendiri.


Meninggalkan Fariz yang kini duduk di ruang tamu sendiri. Rasa sakit yang di miliki Wina rupanya masih saja menyisakan dendam. Entah dendam pada siapa, apa itu pada kehidupan? Atau bahkan pada dirinya sendiri?


WIna berjalan kekamar dengan langkah pelan namun pasti. Sedangkan Fariz hanya menatap istrinya dengan perasaan yang tak menentu. Apa sebenarnya yang di fikirkan wanita itu, tidak bisakan dia berfikiran lebih dewasa sedikit saja?


Lama Wina berada di kamar yang ada di lantai dua. Fariz yang merasakan perasaan tak karuan pun menyusulnya. Terkejut melihat istrinya yang memasukkan baju baju miliknya ke dalam koper.


Dengan langkah seribu, Fariz menghampiri istrinya. Mencekal tangannya yang terus memasukkan hampir semua baju bajunya ke dalam koper.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Fariz memegang tangan Wina yang berusaha memasukkanbajunya ke dalam kper besarnya.

__ADS_1


“Untuk apa aku bertahan dengan orang yang tak mengharapkan aku sama sekali,” ucap Wina dingin.


“Maksudnya apa? Kamu sudah tak menganggap aku ada?” Kini Fariz sudah mengunci tangan Wina sekuat tenaga.


“Aku hanya minta perhatian kecil darimu Fariz. Aku gak meminta hidupmu, segitu cintanya kau dengan pekerjaanmu sampai aku tak lagi berarti buatmu!” bentak Wina yang membuat Fariz tersadar dengan apa yang di berikan pada wanita di depannya itu.


“Maafkan aku, aku gak bermaksud untuk menomor duakan kamu. Tapi pekerjaanku ini yang bisa memanjakan kamu,” ucapnya mencoba memberi pengertian pada istrinya tentang pekerjaannya untuk wanita yang menyadang status sebagai nyonya Alfarizi


“Aku hanya ingin di manjakan dengan kasih sayang bukan dengan uang. Ketahuilah kau suamiku, aku sudah di manjakan oleh uang sejak kecil. Aku kurang kasih sayang dan juga perhatian, itulah sebabnya aku mencari suami yang biasa saja. Karena aku ingin merasakan kasih sayang,” Teriak Wina.


Inilah kesalahan Fariz yang paling fatal. Tak mengerti apa yang di inginkan seorang WIna. Anak sultan yang terbiasa hidup enak dan juga berlimpah harta.


Bukan kemewahan yang di inginkan seperti bayangan Fariz selama ini. Tapi kasih sayang yang tak pernah di dapatkan dari kedua orang tuanya.


Kerja, boleh, bahkan sangat di anjurkan untuk mempertahakan kehidupannya. Tapi jangan menjadi gila kerja dan mengumpulkan kekayaan yang bahkan tak habis untuk tujuh turunan empat tanjakan. Ingatlah ada anak yang juga memerluka kasih sayang kita sebagai orang tua.


Banyak anak kecil yang ikut bekerja karena mereka hanya ingin bertahan hidup. Tapi mereka juga bahagia ketika memandang mama dan apapnya duduk menemaninya belajar di rumah.


Tapi pada orang yang sudah memiliki kekayaan yang cukup, kadang melupakan itu semua. Jangan kan menemaninya untuk belajar, tetapi untuk sekedar sarapan bersama pun sangat susah.


“Aku selama ini hanya di temani dengan pembantu dan kadang oma, bukan mama sama papa. Aku kangen dengan mereka. Sekarang aku sudah menikah, aku ingin mendapatkan semua itu dari suamiku. Apa aku salah kalau menginginkan itu?” Tanya WIna yang membuat Fariz merasa bersalah.


“Terus mau kamu apa sekarang?” Tanya Fariz pasrah.


“Aku mau di perhatiin sama kamu, aku pengen di sayang sama kamu. Aku tau kalau kamu sampai saat ini pun masih belum bisa menerimaku sebagai ist…”


“Jangan berfikir macam macam, kalau aku tak menerimamu sebagai istriku. Gak mungkin aku menikahimu” sergah Fariz memotong pembicaraan Wina.


“Apa kamu sudah mencintaiku sepenuh hatimu?” Tanya WIna hati hati.


“Jawaban aku mencintamu,” cicit Wina manja.


“Aku mencintaimu? Memangnya aku selama ini tidak mencintaimu?” Selidik Fariz yang membuat WIna menjadi sedikit memerah.


“Ya karena kamu tak pernah mengatakan itu sama sekali semenjak kita nikah,” Wina menundukkan kepalanya, entah malu atau merasa tak berdaya di depan Fariz.


“Benar kah?” Tanya Fariz.


“Baiklah, apa mau kamu? Aku mengucapkan kata cinta setiap hari dan memberikanmu bunga mawar?” Tanya Fariz menggoda Wina.


Diam seribu bahasa, itulah Wina saat ini ketika Fariz mencoba menggodanya. Dengan bisikan bisikan kata aku mencintaimu di telinga Wina membuatnya terbang melayang.


“Jangan pernah ada yang lain selain aku Fariz. Aku tak sanggup lagi jika harus berbagi dngan yang lainnya,” pinta WIna yang sudah berada di dalam dekapan hangat sang suami.


“Tak akan pernah, karena hanya kamu yang aku mau mendampingiku. Baiklah, sekarang kamu maunya gimana? Mumpung sekarang hari minggu, kita main ke rumah bang Satya yuk,” ajak Fariz yang sudah merindukan ibunya.


“Aku mau ke rumah mama juga nanti sebentar,” pinta WIna yang di angguki oleh Fariz.


Setelah menata kembali baju bajunya ke dalam lemari. Wina langsung bersiap untuk mengunjungi mertuanya yang saat ini mengurus Idham anak dari majikannya Fariz dulu.


Di tengah perjalanan Wina minta di antarkan dulu untuk membeli bolu tape kesukaan ibu mertuannya. Tak lupa juga membeli buah setrowberi kesukaan Bian sebagai buah tangannya. Perjalanan yang di tempuh selama tiga puluh menit pun terhendi di rumah mewah milik Satya.

__ADS_1


Kedatangan kedua orang ini rupanya sudah di sambut oleh wanita tua. Dengan menggendong anak berusia hampir dua tahun. Ibu Fariz menyambut dengan senyum kerinduannya. Mungkin hampir sebulan putranya tak mengunjunginya.


Bukan karena menelantarkannya, namun bosnya membuat dirinya sangat sibuk. Bahkan di hari sabtu dan minggu masih harus menghandle investor luar negri. Jujur Fariz juga merasakan capek yang terlalu.


Di dalam ada Satya dan juga Bian yang sedang asik bermesraan karena kehamilan keduanya. Satya melihat Fariz datang pun langsung memeluknya dan mengajaknya untuk makan.


Entah kenapa lelaki yang sering mengaku sebagai abangnya itu selalu mengajaknya makan ketika bertemu. Aneh bukan? Tapi mau gimana lagi kalau itu sudah di atas namakan ‘BAWAAN’


Fariz mengikuti keinginan Abang angkatnya itu makan di rumahnya. Di rumah Satya kini ada pembantu lain yang mengurusi rumah dan masaknya. Sedangkan ibu Aminah orang tua tunggal Fariz hanya di serahi Idham yang di perlakukan seperti cucunya sendiri.


Tak salah memang jika keluarga Satya menganggap keluarga Fariz sebagai keluarganya sendiri. Itu semua karena kebaikan yang di berikan kepada mereka di sambut baik. Kedua orang itu selalu tau balas budi untu keluarga Satya.


Ibu Aminah memilih untuk mengabdikan diri di keluarga Satya untuk mengurusi anaknya. Ketimbang mengikuti Fariz hidup di rumah mewah bersama menantunya. Dan Fariz juga memilih tetap bekerja di perusahaan SATYA dari pada mewarisi BIRMA.


Setelah makan bersama, Fariz baru bergabung dengan istrinya, ibu dan Bian di ruang tengah. Bian yang menikmati buah yang di bawakan oleh Wina, sedangkan Fariz mengambil piring untuk kue tapenya. Karena Bian tidak di perbolehkan makan, maka Bian hanya di suguhi buah saja.


Perbincangan yang tak begitu lama namun berkesan itu harus berakhir. Fariz harus berpamitan karena mau ke rumah orang tua Wina. Setelah mendapat pelukan hangat dari sang mertua, Wina pamit berangkat ke rumah orang tuannya.


Seperti yang di lakukan saat ke rumah omertuannya. Wina mengajak mampir ke sebuah toko kue. Membeli brownis kesukaan sang mama sebagai oleh olehnya. Sedangkan Wina sendiri membeli puding kesukaan Fariz.


Sesampainya di rumah mewah berpagar tinggi di kawasan elit. Fariz bersama dengan Wina turun dari mobil dan mencari mamanya. Namun pembantu rumah itu mengatakan jika sang tuan rumah tengah ke Jerman.


Perusahaan yang sering di tinggalkan oleh bos besarnya itu memang lebih sering terjadi masalah. Masalah yang terjadi dari lingkungan dalam sendiri. Perusahaan itu di percayakan kepada paman dan juga papa dari Revan untuk di kelola.


Oleh karena itu Revan dan juga Billa sering meninggalkan Wina di rumah bersama Oma atau pembantu. Wina tak jarang juga dia pulang sekolah mendapati orang tuannya sudah pergi. Hal yangdi lakukan Wina hanya menangis dalam diam, tanpa sepengetahuan siapapun.


Wina membuka rumah dan meletakkan kue kesukaan mamanya di dalam lemari pendingin. Tanpa mengistirahatkan badannya, Wina mengajak Fariz untuk pulang ke rumahnya.


Mengetahui apa yang di rasa Wina saat ini, Fariz memilih menuruti apa yang di mau istrinya.


Di dalam perjalanan suasana hening mendominasi keduanya. Tanpa ada ucapan sepatah katapun selam empat puluh lima menit lebih. Ketika sampai di rumahnya, Wina langsung masuk ke dalam rumah.


Duduk di sofa ruang tamu untuk menetralkan hatinya yang kini tengah gondok. Fariz melihat Wina tengah menatap satu titik dengan tatapan kosong. Fariz mendekati Wina dan memeluknya dari samping.


Mencba memberikan kenyamanan yang mungkin tak di dapatkannya di dalam keluarganya.


Ini adalah hari minggu, yang biasanya di gunakan untuk berkumpul dan juga bercengkrama dengan keluarga. Apa mungkin Revan dan Billa itu tidak memiliki keluarga, selain kerjaannya?


Wina mulai terisak dengan air mata sudah deras membasahi pipinya. Tak ada kata penjelasan dan kata tolong, Wina terus meluapkan perasaannya di dada suaminya.


Sesuatu yang tak ingin di lihat Fariz sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Ya beginilah kehidupan keluarga istrinya. Orang tua yang gila kerja, sehingga melupakan anak mereka yanga juga membutuhkan kasih sayangnya.


Tak tau harus mengatakan apa, Fariz hanya mengatakan


“Aku selalu ada untukmu. Jangan pernah berfikir aku tak mencintaimu, karena aku menyayangimu melebihi aku menyayangi siapapun.”


“Bahkan ke Mentari?” mungkin karena terlalu tak percaya diri, Wina selalu menghubungkan perasaan Fariz dengan keberadaan Mentari yang sudah almarhum.


“Kaulah Ratuku, jangan pernah kau membandingkan dirimu dengan siappun di dalam hidupku. Karena kamu jauh di atas semuanya,” Bisik Fariz membuat Wina sedikit tenang.


Rupanya di dunia ini masih ada orang yang meyayangi dirinya. Mencurahkan kasih sayang untuk dirinya. Wina merasa sangat beruntuk mendapatkan Fariz sebagai suaminya.

__ADS_1


Apa yang selama ini di kejarnya kini sudah membuahkan hasil yang sangat memukau. Limpahan kasih sayang dari suami dan juga mertua, meski hanya tingga seorang ibu.


Wina merasakan kenyamanan pelukan Fariz sehingga dirinya terlelap di dalam pelukan lelaki yang menjadi masa depannya.


__ADS_2