
Affandi mengajak Vindya keliling Mall di mana cafe mereka dibuka. Dengan senyum yg mengembang di bibir manis Vindya menyusuri pertokoan. Pandangan Vindya tertuju pada sebuah toko aksesoris. Dimana menjual pernak pernik untuk menghiasi diri. Vindya menggeret Affandi masuk lebih dalam toko.
"Kakak Vindya pengen deh beli gelan itu." Vindya menunjuk gelang benang di gantungan dekat dengan deretan boneka.
"Bener cuma mau itu?" Affandi berjalan dan mengambil gelang yg di maksud Vindya.
"Iya kak. Vindya cuma mau itu. Abis ini pulang ya Vindya capek." Ajak Vindya.
Setelah membayar gelang tadi Vindya dan Affandi keluar dari toko tersebut. Affandi yg berjalan di samping Vindya terus menatapi istrinya itu. Sesederhana inikah bisa buat kamu bahagia sayang? Batin Affandi. Dengan terus berjalan sampai di depan eskalator tiba tiba.
BRUUK
__ADS_1
"Vindya" Teriak Affandi yg di dapati istrinya jatuh terguling guling dari tangga berjalan itu.
Seseorang yg mengenakan jaket hitam bertopi biru itu menabrak Vindya hingga terjatuh. Tanpa memikirkan apa apa lagi Affandi langsung berlari mengejar Vindya yg telah mendarat di dasar eskalator.
"Vindya..." Tangis Affandi pecah mendapati istrinya bersimbah darah dan tak sadarkan diri.
Luka mungkin tak seberapa, namun darah yg keluar melewati pahanya itu yg membuat Affandi menangis semakin kencang. Affandi menggendong Vindya ke mobil lalu membawanya menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit Vindya yg masih belum sadar langsung di bawa ke UGD. Setengah jam sudah berlalu dan dokter yg menangani Vindya pun keluar ruangan.
"Gimana keadaan istri saya pak dokter?" Tanya Affandi memburu.
Rasa kehilangan, terpukul dan takut kini menyelimuti hati Affandi. Air mata yg tadi mengering kini mulai tumpah lagi.
__ADS_1
"Maaf pak kami harus melakukan kuret untuk membersihkan rahim sang ibu agak tidak menimbulkan bahaya di kemudian hari." Pak dokter melihat Affandi hanya dengan menganggukkan kepala untuk menyetujui pak dokter.
"Yg tabah ya pak, bapak masih muda dan ibu juga masih muda. jadi jangan khawatir 3bulan lagi Ibu sudah boleh mengandung lagi."Ucap dokter sebelum meninggalkan Affandi.
Affandi terus berfikir. Apa yg akan dia katakan pada istrinya nanti kalo sudah sadar dan menanyakan kandungannya? Affandi tak mampu lagi berfikir. Affandi memejamkan mata dengan begitu banyak fikiran di kepalannya. Affandi takut menghubungi orang tua maupun mertuanya. Affandi merasa gagal menjadi seorang kepala keluarga.
Vindya akhirnya sadar dari pingsan juga pengaruh obat. Vindya mengingat apa yg telah terjadi sebelum dia bisa berada di tempat ini. Vindya melihat sekeliling tak ada seorang pun yg menungguinya. Vindya mencoba menenangkan diri dengan memikirkan hal yg positif.
Mungkin Affandi lagi ke kamar kecil atau lagi ngadem di luar. itulah hal hal yg Vindya pikirkan.
" Kak" Panggil Vindya ketika mendapati seorang lelaki yg ia kenal sebagai suaminya itu.
__ADS_1
"Iya sayang kamu sudah sadar. Vindya mau apa?" Ucap lelaki itu dengan lembut.
"Kakak, maafin Vindya gak bisa jaga kepercayaan Allah yg dititipkan pada kita. Vindya bukan istri yg baik kak" Kini Vindya tak mampi lagi menahan air matanya. Tanpa bicara lagi Affandi memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.