
Minggu kelabu telah berlalu, dan kini menyambut senin cerah secerah hati Wina. Fariz bahagia melihat senyum sang istri sudah kembali lagi. Setelah semalaman dirinya berjuang menghibur istri manjanya.
Menyambut hari cerah yang terkesan panas dari pagi pagi buta. Fariz berangkat ke sekolah dengan mengguakan mobil sport miliknya. Menelusuri jalan raya di temani degan senyum manis milik Wina, si manja yang menghiasi hari harinya.
Sampai di sekolah Fariz langsung di sergah oleh Mustafa, guru BK sekaligus kakak ipar dari sepupu Wina. Mustafa meminta Fariz untuk mengawasi para siswa di depan gerbang bersama dengan Rojali dan juga Yohanes untuk menggantikan dirinya.
“Ya sudah pak saya ke kelas dulu naro tasnya,” jawab Fariz segera meninggalkan guru dan kedua temannya.
Di dalam kelas Fariz hanya meletakkan tas lalu pegi lagi. Wina yang di tinggalkan sendirian memilih untuk duduk du bangku dan kembali meratapi kesendiriannya.
Dari dulu sampai sekarang, aku tak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang mama dan papa. Bagai mana aku bisa menarik perhatian mereka? Aku rindu mereka. Mama, papa tidakkah kau menyayangi ku?
Selalu menjadi orang yang terbuang dan tak di harapkan, Wina selalu menyalahkan dirinya sendiri. Jika kehadirannya tak pernah di harapkan, kenapa mereka tetap melahirkan dirinya? Kasih sayang yang di inginkan WIna bahkan dirinya harus mengemis pada suaminya sendiri.
Jika di lihat dari cerita mama dan papanya dulu, kehadiran Wina sungguh sangat di harapkan. Tapi entah kenapa, ketika sudah mendapatkan keturunan mereka seakan melupakan usahanya. Kebahagiaan saat mengandung dan betapa sakitnya saat melahirkan yang membuat Billa enggan untuk melahirkan lagi.
Mereka tak pernah memikirkan betapa kesepiannya Wina yang menjadi anak tunggal dan selalu di tinggalkan. Orang tua yang gila kerja dan juga tak pernah memikirkan perasaannya.
Yang namanya orang gilla ya tetap saja gilaa. Tak ingat anak yang selalu merindukan meski tinggal di rumah yang sama.
Bel untuk upacara bendera pun sudah berbunyi. Wina yang berada di dalam kelas akhirnya keluar dengan mata sembabnya. Fariz yang bertugas mengecek seluruh kelas pun melihat istrinya keluar dengan mata sembabnya.
“Kalau masih gak enak badan kamu ke UKS aja nanti aku susul,” seru Fariz.
Wina tak mau menujukkan kelemahannya lag,i akhirnya tersenyum dan mengatakan jika dirinya tak apa apa. Wina berjalan memasuki barisan dan mengikuti upacara bendera sebagaimana mestinya.
Fariz berdiri tepat di belakang sang istri tanpa sepengetahuan Wina. Menjaga dari dekat namun tak ingin terlihat oleh istrinya. Mustafa melihat namun tak ingin menegusnya karena Fariz masuk di barisan yang salah.
Mengatas namakan penjagaan Fariz akan menjawab, dan itu membuat Mustafa lebih di salahkan. Kali ini papa dari Mentari datang untuk mengecek keadaan sekolah. Kerena sepeninggalan Mentari satu tahun yang lalu, papa tua itu tak pernah sanggup untuk melihat sekolah.
Bayangan Mentari yang selalu membayang bayanginya. Senyum manis gadis kecilnya saat dia berkunjung, tak pernah lepas dari ingatannya. Suara manja yang selalu di rindukan terus terngiang di telingannya.
“Selamat siang pa,” itulah sapaan Fariz yang melihat kedatangan sang mertua dari balik barisan.
Kepala sekolah pun tercengang dengan sapaan Fariz. Kepala sekolah yang sangat mengenal Faris sebagai anak yatim pun di bikin bingung. Dengan pertanyaan yang ragu di utarakan kepada pemilik sekaligus donatur terbesar di sekolah itu.
“Bagaimana? Aman?” Tanya Papa Mentari pada menantunya.
Biar sudah tak menjadi menantunya lagi, papa dari Mentari selalu menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
“Aman pa, papa mau ngecek? Silahkan, Fariz kembali ke barisan.” ucap sopan Fariz.
“Iya, silahkan. Oh iya, besok jangan lupa pulang ya. Ajak WIna juga,” pesan papa Mentari untuk Fariz.
“Pasti pa,’ Fariz kembali memasuki barisan di mana tadi dirinya berdiri.
Setelah selesai mengikuti upacara bendera, Fariz mengejak Wina ke kantin. Membeli minuman hangat dan manis untuk menambah tenaga sang istri yang terlihat sangat pucat. Mungkin ini akibat dari datang bulannya, yang membuatnya semakin pucat.
Di kantin Fariz kembali bertemu dengan papa dari Mentari. Lelaki tua itu tak lupa menyapa WIna yang menjadi kekuatan bagi putrinya. Sebelum meninggalkan dirinya dan semua dunianya untuk selama lamanya.
“Wina kenapa Fariz?” tanya papa dari Mentari yang terlihat pucat.
“Tak apa apa pa, mungkin dehidrasi saja selepas upacara,” jawab Fariz yang memberikan teh manis untuk istrinya.
“Benar? Coba priksakan ke dokter, takutnya Wina hamil tapi kalian gak menyadarinya,” ucap Frontal papa Mentari membuat kepala sekola membelalakkan mata.
“Bukan pa, Wina lagi datang bulan makanya dia kekuarangan cairan,” jawab Fariz cepat.
__ADS_1
“Oh, ya sudah kalau begitu. Jaga Wina dengan baik ya,” pesan papa Mentari lagi.
Berjaan jalan dengan sang pemilik ekolah ini kurang dari satu jam sudah membuat kepala sekolah ini sakit kepala. Banyak rahasia yang malah dirinya tak tau sama sekali, sungguh pintar anak anak jaman sekarang menyembunyikan rahasia. Namanya juga RAHASIA sudah pasti kalau hal itu tersimpan sangat rapat.
Sepulangnya papa Mentari, kepala sekolah itu memanggil Fariz ke ruangannya. Rahasia apa yang di miliki siswa terpintar di sekolahya ini?
Begitu keponya pak kepala sekolah ini dengan masalah siswa. Sampai sampai memanggil murid secara pribadi ke ruangannya.
“Alfarizi, kamu sudah tau kan apa yang hendak saya tanyakan?” Tanya kepala sekolah itu.
“Seharusnya bapak menanyakan hal itu saat ada pak Jamil. Karen beliau lah yang memiliki alasan dari semua jawaban saya pak,” kepala sekolah itu di bikin semakin tak mengerti dengan jawaban Fariz.
“Katakan saja jawaban kamu, jangan buat saya semakin pusing dengan apa yang saya dengar hari ini,” kata pek kepala sekolah itu lagi.
“Baiklah pak, dulu saya di titipi anak dari pak Jamil. Bapak masih ingat kan siswi yang meninggal tahun lalu akibat sakit yang di deritanya?” Tanya Fariz yang di jawab degan anggukan kepala.
“Dia Mentari, istri saya sekaligus putri pak Jamil. Kenapa saya berani menikahinya saat masih sekolah? Jawabannya karena umur Mentari di vonis dokter gak lebih dari satu tahu. Pertamanya Mentari menikah dengan pak Mustafa, tapi hanya bertahan satu hari saja tanpa sepengetahuan saya. Sedang kan saya tengah menjalin kasih dengan WIna, entah dari mana Wina mengetahui penyakit Mentari.”
“Akhirnya Wina mengijinkan saya menjalin hubungan dengan Mentari karena itu permintaannya yang terakhir. Dengan syarat saya tidak pernah melepaskan Wina. Saya harus adil antara keduanya,”
“Maksudnya?” Tanya Kepala sekolah itu masih belum mengerti.
“Misalnya gini pak, kalau saya mencium Mentari, maka saya juga harus mencium Wina juga saat itu. Begitupun dengan keputusan besar yang di minta oleh keluarga Mentari. Mereka menginginkan saya menikahi Mentari di sisa hidupnya. Setelah kesepakatan kami bertiga di buat, saya mendapat serangan dari keluarga Mentari seperti itu.”
“Awalnya saya takut, karena yang saya hadapi itu keluarga Revan yang terkenal dengan kekejamannya di bidang bisnis.”
“Dari mana kamu tahu kalau dia kejam di bidang bisnis?” tanya kepala sekolah itu yang kembali memotong cerita Fariz.
“Saya kerja di perusahaan SATYA, pasti bapak mengenal ounernya kan? Karena dia salah satu rekan bisnis bapak,” jelas Fariz.
“Kok kamu tau? Kan saya gak pernah bertemu dengan kamu?” Tanya kepala sekolah heran.
“Mengagumkan, ok. Lanjutkan ceritamu,” perintah kepala sekolah itu.
“Tanpa di ketahui, rupanya pak Revan dan pak Jamil itu memiliki hubungan dekat jadi kedua keluarga itu setuju kalau kedua perempuan itu saya nikahi di hari dan tempat yang sama. Itulah yang membuat saya memanggil pak Jamil dengan sebutan papa. Dan menjadikan saya sebagai pewaris tunggal dari BIRMA yang juga bekerja sama dengan AIRA. Jadi saya sebenarnya sudah mengenal bapak sebagai perwakilan AIRA bukan kepala sekolah,” lengkap sudah cerita Fariz pada kepala sekolahnya itu.
“Jadi kamu dengan Mustafa itu sekarang ipar? Dan kalian gak ada canggung atau gimana?” Tanya kepala sekolah yang sepertinya lebih tertarik dengan percintaan di antara mereka.
“Ya untuk apa canggung? Bahkan pak Mustafa sendiri yang menghubungi saya saat Mentari koma di rumah sakit dan membuat saya hampir gila,” jawab Fariz.
“Baiklah baiklah, rupanya kamu lebih dewasa dari apa yang saya lihat.” kepala sekolah itu menepuk bahu muridnya.
“Saya di sekolah ya selayaknya murid lah pak. Tapi kalau di perusahaan saya ya Fariz seorang manager dan juga sekertaris pribadi, bukan pelajar,” jawab Fariz lagi menjelaskan dirinya.
“Tapi Fariz, aku mendengar kalau penerus BIRMA itu jauh lebih kejam dari pak Revan sendiri atau bu Billa. Apa itu benar?” Tanya Ilham kepala sekolah itu.
“Bapak terlalu percaya dengan omongan orang saja. Saya itu hanya merupakan sebuah gabungan dari bu Billa dan pak Revan,” jawab Fariz dengan tatapan tajam yang biasa di tunjukkan pada para cliennya.
“Gila, pelajar tidak akan pernah memiliki tatapan seperti itu pada kepala sekolahnya,” Ilham menyindir fariz.
“Karena saya memandang anda sebagai clien pak, saat membicarakan kerjaan, tatapan sepetti itu akan anda lihat lebih sering lagi dari ku,” ucap Fariz sebelum meninggalkan ruanggan itu setelah memohon izin.
“Gila, remaja beruntung di pinang oleh perusahaan yang sangat besar. Tanpa harus berusaha keras seperti ku membawa AIRA kesana kemari.” gumam kekaguman itu pun tak terelakkan dari kepala sekolah yang mungkin memiliki usia hampir sama dengan papa mertuan Fariz.
Wina di kelas menunggu Fariz yang di panggil kepala sekolahya hampir sejam belum balik juga. Fariz datang dengan membawa minuman dan makanan di tangannya, Rojali dan teman temannya langsung menyerbunya.
Wina tersenyum dengan tingkah teman temannya. Bukankah mereka ini anak anak orang kaya? Kenapa sebegitu kelaparannya mereka? Batin Wina dengan masih saja tersenyum.
__ADS_1
“Is, kalian ini. Saku kalian itu sama dengan gaji ku satu bulan lo. Tapi kenapa kalian selalu menindasku untuk membelikan kalian jajan?” ucap Fariz dengan nada memelas.
“hilih, aku tau kau punya mobil itu harganya mahal ***, jangan suka ngaku kere deh, sudah besok besok kalo kamu kawin kita intipin deh,” ucap Rojali dengan gampangnya.
“Enak aja mau ngintip, kalo kalian pengen juga gimana?” Tanya Fariz menanggapi godaan temannya.
“Gampang aja, kita gabung sekalian. Bener gak WIn?” Yohanes menimpali.
“Enak aja, cewek di pinggir jalan aja bayarannya mahal kalo lebih dari satu. Masak kalian mau minta gratisan sih?” kali ini Wina menanggapi ucapan somplak teman temannya.
“Tunggu yang, dari mana kamu tau kalau cewek di pinggir jalan itu bakalan minta lebih kalok lebih dari satu?” tanya Fariz heran.
“Ya Tuhan, kamu gak bilang Win kalau pekerjaanmu sebelumnya suka nyetop di pinggir jalan?” Tanya Arin mendramatisir.
“Sialan kamu, enggak sayang. Aku kan cuma asal nebak saja lah,” ucap manja Wina untuk mengalihkan drama Arin yang di buat buat.
“Aku percaya kok sayang, apa lagi kalau di lihat dari bentukan kamu itu,” Fariz berucap dengan memandang Wina dari atas sampai kebawah.
“Suek juga ni anaknya bu Aminah,” ucap Wina menantang.
“Hais anaknya Revan, berani apa kamu?” Fariz menantang WIna.
“Berani menciummu,” Wina membalas tantangan Fariz.
“Hais otak mesumnya kumat.” Rojali melerai Fariz dan juga Wina.
“Tau nih, coba ajak gak lagi datang bulan. Udah aku garap kamu di pojokan,” ucapan tabuh yang keluar dari mulut Fariz membuat teman temannya tak percaya jika orang di depannya itu juga memiliki selera humor berkonten mesum juga.
“Mau dong di garap di pojokan, kira kira pojokan mana nih?” Goda Wina lagi.
“Suek emang kalian berdua ini ya,” Yohanes menoyor kepala Wina.
“Hahahaha, bercanda kali, elah” gerutu Wina sambil mengelus kepala yang kena toyor Yohanes.
“Makanya jangan mesum mesum jadi cewek,” ucap Yohanes.
“Mesum ke pacar sendiri gak ada dosa dong,” kilah Wina.
“Gak dosa buat siape ini? Jelas dosa dodol!!” geram Rojali.
“Hilih kalo aku sama Fariz itu udah gak ada dosa mau kapan pun juga. Lain sama kalian kalian mah,” kembali Wina berkilah dengan menunjukkan jari manisnya yang terisi cincin yang melingkar indah di sana.
“Hilih, kalian ini gitu aja terus. Mentang mentang sudah mendapat restu juga,” gerutu Rojali yang memang sampai saat ini belum mendapat restu dari sang calon mertua.
Begitu ketat seleksi untuk menjadi menantu dari keluarga singa Baganta itu. Padahal Rojali itu merupakan baby tiger yang masih terlihat seperti kucing.
“Makanya kamu itu gabung dengan papamu buat mengelolah perusahaan. Biar si singa itu jinak sama kamu.” saran Fariz yang selalu di patahn\=kan dengan argumen milik pemuda blasteran itu.
“Selalu saja itu yang di bahas, capek lah” gerutu sebal Rojali.
“Kamu lihat itu dagang lem sama dagang kayu bisa bersatu,” Fariz melirik Yohanes yang merupakan putra dari pemilik perusahaan furnitur yang tersohor, sedangkan imey merupakan putri kedua dari pemilik restoran jepang terbesar di kota itu.
Gak nyambung sih, tapi dasarnya Fariz suka nymbung nyambungin yang tak nyambung. Akhirnya bisa bersama seperti Imey dan Yohanes.
“Aku gak bisa apa apa Fariz, kalau di ajari papa itu sudah pasti aku malah gak nyambung. Apa kamu mau mengajari aku?” Pinta Rojali.
“Kerjaan ku banyak Jal, WIna sudah suka ngomel kalo aku pulang telat terus membawa kerjaan pulang,” sanggah Fariz yang tak menginginkan menambah kerjaannya.
__ADS_1
“Apa aku magang di BIRMA saja biar sekalian belajar sama kamu?” Usul Rojali lagi.
“jangan!!!” teriak Wina dan Fariz bersamaan.