
Tanpa terasa sudah setahun Bian pergi meninggalkan Satya. Bukan kesedihan yang di dapat, tapi ternyata kebebasan yang tak pernah dirinya miliki. Bian juga sudah tak memikirkan Satya sama sekali.
BIan menjadi seorang yang lebih tegar dan juga tegas dalam mengambil sebuah keputusan. Keadaan yang membentuk pribadi Bian yang membatu akan Cinta atau hatinya. Karena sampai sekarang Bian masih menutup rapat pintu hatinya, meski Yoga sering memintanya untuk mejadi kekasihnya.
Penolakan terus terlontar meski dengan cara yang terbilang halus. Bian dengan tegas mengatakan tidak dengan beribu candaannya supaya Yoga tak terlalu sakit hati atau kecewa padanya. Selain itu Bian juga tak mau menjadikan suasana kerjanya menjadi canggung.
Hari ini adalah hari yang di tunggu Gara, di mana hari kelulusan dirinya di sebuah universitas. Gara mengajak semua orang yang menurutnya sangat berarti baginya, termasuk Bian. Gara memiliki kekaguman tersendiri pada diri Bian.
Kepribadian Bian yang cuek dan juga terkesan Bar bar itu rupannya membuat nyaman adik dan kakak. Bian tak bermaksud untuk menggoda atau menarik perhatian dari keduannya. Bian hanya ingin bertahan dari sakit hatinya sendiri yang di berikan suami tercintanya.
“Kenapa gue harus ikut sih?” tanya Bian yang di berikan sebuah gaun untuk menggantikan baju yang ia kenakan.
“Karena gue mau elu ikut nyaksiin gue wisuda dan gak terus mengatakan gue bodoh, tahu tidak?” Jawab Gara majikan yang sering di bodohi oleh pembantunya.
“Apa lagi? Memang anda bodoh tuan,” ucap Bian dengan senyum manisnya.
“Jangan senyum senyum gak jelas gitu,” bentak Gara pada Bian.
“Lah kenapa emang?” Tanya polos Bian.
“Takut meleleh hati gue entar,” ucap malu malu Gara yang membuat Bian semakin tertawa lebih keras.
“Gila elu ya, coba lu mikir lagi deh kalo mau goda gue.” jawab Bian dengan pedenya .
“Gila apanya?” Gara semakin mendekati pembantunya yang masih tertawa.
“Abang elu yang lebih lembut dari elu aja gue tolakin mulu. Apa lagi elu yang jelas jelas memiliki kekasih. Hahahaha maaf tuan anda berdua bukan type saya.” Bian berlalu setelah mengatakan hal itu dengan gelak tawa yang masih tersisa.
Bukannya sakit hati, Gara rupannya malah menertawai dirinya sendiri. Di antara ribuan gadis yang mengeluh eluhkan dirinya hanya satu Bian yang menolak dirinya. Bahkan Sheila pun dulunya yang mengejarnya.
Gara memang tidak pernah merasakan berusaha selain untuk mencapai apa yang sudah di capai saat ini. Ya, sebuah popularitas dan juga ketenaran dalam dunia tarik suara.
Bian menangis dalam diam, merenungi nasip percintaannya. Jangan percaya seratus persen pada orang yang ceria jika dirinya itu tak memiliki air mata di saat kesendirianya. Bohong kalau Bian tak pernah menangis dalam kesendirian setelah menolak Yoga sekalipun.
Gadis ini merindukan suami tercintanya. Tapi egonya yang menjulang tinggi memaksanya untuk tetap bersama mereka di sini. Bian menghapus air matanya dan segera keluar dengan dress pemberian Gara.
“Sumpah elu cantik banget,” Ucap Gara yang terpanah melihat pembantunya keluar dari kamar tamu.
Mengenakan dress warna putih dengan motif polos memiliki paduan warna ungu menyala dari bawah. Warna kesukaan Bianberpadu dalam satu gaun yang terlihat manis di kenakan oleh Bian.
Bian menata rambutnya sedikit memperlihatkan leher jenjangnya, dengan menggulung ke atas. Model dress berlengan pendek se lutut memperlihatkan pentuk tubuh Bian yang selama ini di tutupi dengan outfit yang kedondoran.
“Sudah gue bilang, kalo gue udah beraksi kelar sudah hidup elu.” Kembali Bila mengucapkan kata yang mengundang decakan Gara.
“Ok miss PD sekarang ayo berangkat, dan nanti elu kasi bunga ke gue ya,” Pinta Gara secara langsung di hadapan Sheila.
“Dih ogah, apa gunanya Sheila kalo elu masih nyuruh gue?” Tolak Bian dengan caranya sendiri.
“Elu tau kan kalau Sheila itu model terkenal dan gue itu publik figur, nanti yang ada tu sorotan media yang membuat agensi gue ngamuk,” ucap Gara yang sebenarnya selama ini menyembunyikan hubungannya denga Sheila dari agensi.
Karena Agensi gak mengizinkan artisnya menjalin hubungan dengan orang yang juga terkenal. Karena tak mau adanya sebuah kata menaikkan popularitas atau ikut tenar.
“Hmm sekali ini aja, abis itu gue gak mau lagi,” ucap Bian yang melihat ke arah Sheila.
“Kesian elu ye Shei, di pakek tapi gak di kasi tau ke orang. Berasa kaya selingkuhan gak sih elu?” Tanya Bian yang berawal dari sebuah rasa kasihan.
“Ya seperti itu lah,” Jawab Sheila yang tak mau mengerti tapi tak bisa berbuat apa apa.
__ADS_1
“Sabar ya, suatu saat kalian pasti akan bersatu tanpa ada kata sembunyi lagi di antara kalian,” Ucap Bian yang mengembangkan senyum Sheila.
Rupanya, orang yang sering di rendahkan ini memiliki pandangan sendiri pada dirinya. Sheila tak berharap apapun selain doa yang membuat hatinya melayang seperti saat ini.
Mobil yang membawa mereka berlima pun sudah memasuki sebuah kampus terkenal di kota itu. Bian kaget jika dirinya akan kembali kesini, ke universitas yang di tinggalkannya.
“Elu kenapa? Buaknkah elu pernah kuliah disini juga?” Tanya Gara yang sedikit meremehkan.
“Karena gue pernah kuliah disini membuat gue kaget,” ucap Bian yang melihat kekirin dan ke kanan sebelum keluar dari mobilnya.
“Kenapa? Elu gak percaya kalo gue bisa masuk uiversitas yang sama kaya elu?” Tanya Gara menariknya turun dari mobil dan bertepatan dengan mobil sport warna hitam milik Satya terparkir di sampingnya.
“Bukan begitu,” pandangan Bian tertuju pada seseorang yang baru keluar dari mobil di sampingnya.
“Ada apa?” Gara juga melihat dua orang yang keluar dari mobil yang parkir di samping mobilnya.
Seorang yang mengenakan jas dan satunya mengenakan toga yang sama dengan dirinya. Seseorang yang juga melihat ke arah Bian dengan tatapan tajamnya. Bian terlihat menundukkan kepala entah apa yang di rasa oleh gadis ini.
Gara menggandengnya masuk ke area kampus dan melewati lelaki itu. Hati Bian sangat berat melihat suami dan mertuannya namun tak bisa menyapanya. Bian berusaha untuk tetap menahan air matanya agar tak terjatuh.
“Ada apa? Apa kamu mengenalnya?” Tanya Yoga yang kini menggantikan posisi adiknya.
Bian hanya terdiam tak menjawab apapun. Bian mengikuti apa yang di minta Gara dengan memberikan bunga padanya. Bian mendengar nama suaminya di panggil sebaai lulusan terbaik dengan percepatan pun membuat dirinya bangga.
“Bian!!” sebuah teriakan dari arah belakang membuat Bian dan juga Yoga terkejut.
Seorang wanita mendekati Bian dan tanpa aba aba langsung menampar wanita yang kini tengah menahan hatinya.
“Elu gila atau apa hah? Elu ninggalin Satya disaat dia tengah berjuang untuk hidupnya di rumah sakit!!” teriak wanita itu yang seakan tak terima sahabatnya di tinggalkan oleh istrinya begitu saja.
“Itu pilihan dia Sa, bukan gue yang nyuruh,” ucap Bian masih tak mau mengatakan yang sejujurnya.
“Hah!! suami??” tanya Yoga yang tak percaya jika wanita yang menghuni hatinya ini adalah seorang istri yang meninggalkan suaminya.
“Oh, elu mengantar lelaki baru elu! Benar, wanita murahan sepertimu gak pantas mendampingi Satya!” Sasa meninggalkan Bian dengan perasaan yang tak karuan.
“Ijinkan gue pergi dari sini,” Tanpa menunggu jawaban, Bian langsung pergi dari ruangan itu.
Affandi melihat menantunya yang di maki maki oleh sahabat putranya pun tak bisa berkata apa. Sejatinya dirinya juga memiliki rasa sakit hati pada menantunya.
Tak lama setelah itu terlihat Satya juga turun dari atas podium lan mengejar wanitannya. Melihat ada seorang yang mengejar Bian, Yoga mengikutinya dari belakang. Bahkan bukan cuma Yoga, Gara dan para sahabat Satya pun mengikuti merek.
Satya menarik Bian yang tengah menangis di sebuah taman. Kejadian itu di saksikan oleh semua yang mengejar mereka berdua. Tangis bian tak bisa di tahan lagi dan semakin pecah ketika tahu siapa yang memeluknya.
“Kemana saja kamu? Aku rindu,” Satya memeluk Bian lebih erat karna Rindu yang tengah memenihi hatinya.
“Lepasin Satya, kita gak bisa seperti ini” Bian memberintak di peluk oleh Satya suaminya sendiri.
“Kamu mau berdosa lebih banyak lagi?” Kini Satya mengingatkan akan dosanya sebagai istri yang meninggalkan suaminya.
“Kenapa hanya istri yang berdosa jika pergi meninggalkan suami? Tapi suaminya tak mendapat dosa apa apa saat menemui wanita lain?” ucapan Bian membuat Satya merasa bersalah.
“Maafkan aku Bi, aku sudah mendapat ganjaran dan juga siksaan terberat dari kepergian kamu,” ucap Satya yang masih di saksikan teman teman dan juga majikan dari Bian.
“Kamu yang mau aku pergi Satya, bukan aku yang meninggalkan kamu. Dan saat ini aku memiliki kehiduan yang aku bangun sendiri,” Bian memukul mukul pelan punggung Satya.
“Maafin aku Bi,” Satya melepas palukannya.
__ADS_1
Terlihat Yoga ingin menjemput wanita yang di cintainnya. Tapi Gara menahannya.
“Biarkan dia Bang, hatinya di jaga hanya untuk suaminya. Bukan untuk kita berdua,” ucap Gara pada Abangnya agar melepaskan hatinya meski berat.
“Apa kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang? Apa kamu bahagia terpisah dari suamimu ini Bi?” Tanya Satya yang juga di dengar oleh semua yang menyaksihan. Karena memang jarak meraka yang terlalu dekat dengan Satya dan Bian.
Bian hanya menggeleng kepala. Dirinya tak sanggup lagi berkata apapun.
“Bian, gue memecat elu jadi pembantu gue. Gue gak sudi punya pembantu yang lebih pinter dari gue,” teriak Gara yang hanya di senyumi oleh Bian.
Bian tau apa yang di maksud dari Gara. “Tanya hati elu Gara, lu ikhlas gue balik jadi orang kaya? Dan lebih kaya dari elu?" Tanya Bian dengan tawa yang menghiasi bibirya meski air mata masih deras membanjiri pipnya.
“Hah, sialnya nasib gue punya pembantu dengan outfit yang tak mampu gue terima sebagai pembantu,” kembali Gara mengutuki kebodohannya sudah memilih Bian sebagai pembantunya.
“Baik lah, siapkan saja gaji saya 2x lipat tuan,” ucap Bian mendekati teman teman dan juga majikannya.
“Kenapa begitu?” tanya Yoga yang juga tak memahaminya.
“Saya di pecat pak bukan mengundurkan diri, jadi wajar saya meminta pesangon,” jawab Bian yang membuat tawa untuk teman teman juga mertuannya.
“Ayah kangen kamu sayang,” kini giliran Affandi yang memeluk Bian.
“Tolong jangan lama lama memeluk istri saya, pak tua. Mau cucu apa enggak?” ancam Satya pada orang tuanya sendiri.
“Ck, segini posesifnya suami elu Bian?” Tanya Gara yang tak percaya jika suami seorang Bian itu posesif tingkat tinggi.
“Iya, tapi masih berani nemuin cewek di belakang. Baru di tinggal setahun aja udah mewek kayak gini,” ledek Bian yang masih memeluk mertuannya.
“Elu pikir lu gak mewek?” Gara kembali mempertanyakan air mata yang mengguyur pipinya.
“DIa mana ada mewek, cuma tanggul aja jebol,” Celoteh Satya yang sudah mulai mencair hatinya.
“Ya sudah besok elu ke rumah pagi pagi ambil gaji elu. Sekarang gue gak bawa uang,” ucap Gara yang mendapat tanggapa gak mengenakan dari sang pembantu.
“Jujur, gue jadi meragukan kalo elu beneran superstar dech. Masak ngaku artis papan atas keluar rumah gak bawa uang sih, asal elu tau ya lakii gue aja setiap keluar rumah pasti ada uang cash minimal lima juta di dompet,” Bian mengeluarkan dompet yang ada di kantong sang suami.
“Gila, masih aja lu inget ya,” Yoga yang tadinya sedikit kecewa sekarang berubah menjadi kagum pada Bian yang masih sangat mengingat kebiasaan sang suami.
“Iya iya gue percaya, elu emang istrinya sultan.” Gara yang merasa panas pun hanya melemah menghadapi pembantu sultan nya.
“Hahaha ya sudah, terima kasih sudah menjaga istri saya. Kalau lu bisa mampir ke cafe saya yang ada di Mall A. saya akan memberikan pelayanan yang terbaik dan juga gratis untuk kalian selamanya.” ucap Satya sebagai rasa terima kasihnya.
“Saya gak sekere itu bung, tapi kalau bung memaksa, saya akan menerimanya dengan terpaksa,” ucap Gara yang tertular gaya bicara dan juga banyolan Bian.
“Gue juga kan Bi?” tanya Susi yang ada di samping Gara.
“Iya dong sayang, tapi kalau Sheila harus bayar full.” Goda Bian yang melihat Sheila sedikit jengkel karena ledekan Bian.
“Jahatnyaaaaa, padahal elu sering ngerjain gue lo. Hmmm iya iya gue kan gak kere, tapi kalo elu masih mau berubah pikiran untuk memberikan tiket gratis selamanya juga gue gak bisa nolak,” ucap Sheila yang mencoba merayu Bian.
“Hahaha iya iya, lu juga. Biar kata elu paling bodoh juga gue gak akan tega sama elu,” pungkas Bian sebelum pulang ikut dengan sang suami.
Semua pulang ke rumahnya masing masing termasuk Bian dan juga Satya. Bian memasuki rumah yang sudah di tinggalkannya selama setahun ini. Bian meneliti setiap inci semua ruangan yang di tinggalkannya selama setahunan ini.
Satya hanya mengikuti Bian dari belakang dengan terus memperhatikan istrinya. Tak memiliki perubahan yang berarti memang, namun tetap ada yang berubah.
Iya perubahan di rumah itu adalah, banyaknya foto dirinya yang terpajang di hampir semua dinding yang ada di ruang keluarga atau ruang nonton tv. Tak melupakan kamar yang masih sama namun terdapat perubahan yang sangat sangat besar.
__ADS_1
Penataan ruang yang di rubah total menjadi sebuah kamar yang hampir semua lesehan. Dari tempat tidur yang tak menggunakan dipan. Bantal yang di tata kesna kemari dengan karpet bulu yang sangat di inginkan Bian sudah tertata di samping kasur.
Kebahagiaan Bian sunguh tak terduga setelah kepergiannya.