
Hari ini adalah hari pernikahan Almas Baganta yang di persunting oleh sahabat lamanya.
SAHABAT?
Seperti tak asing dengan kata itu? Ya, mama dan papanya juga berawal dari persahabatan, juga kakek neneknya. Namun yang berbeda adalah kedua orang ini pernah tergoda oleh orang lain. Bahkan mempelai wanita sudah tak perawan, entah apa alasanya sampai dia melakukan dengan sepupunya sendiri.
Membahas sepupu yang selalu ada untuknya, kini tengah termenung dengan segala kehancurannya. Di sudut kamar yang membuat Kliene merasa iba kepada putra pertamanya.
“Gas, kamu tau kalau kalian itu salah? Untuk apa juga kamu melakukan hal itu? Dan itu kapan kejadiannya?” Kliene membrondong putranya dengan pertanyaan setelah mendengarkan pengakuannya.
“Selama kuliah di kota, aku dan Almas tinggal bersama Pa. Dia suka mabuk pulang ke apartemen, dia yang sering memintaku. Aku normal pa….” Tangis Agas mengingat kejadian saat masih kuliah.
“Dan kamu memanfaakan dia dalam keadaan mabuk? Otak kamu kemana!!” geram Kliene mendengar cerita yang tak seharusnya dia dengar, bahkan tak seharusnya terjadi.
“Enggak pa, kami lebih sering melakukannya dalam keadaan sadar. Dan itu Almas yang memintanya dulu, pa aku mau pernikahan Almas dengan Mustafa gagal.” ucap Agas dengan segala kekecewaannya.
“Apa kamu sudah gila hah, bukankah Mustafa itu juga teman kamu kuliah?” Kliene tak tau lagi harus berbuat apa dengan putranya yang tak pernah memangdangnya.
“Aku dan dia bahkan sering berbagi pa,” Bentak Agas yang tak pernah di ketahui berbagi apa itu.
Akankah mereka berbagi wanita?
Bukan, tapi Mustafa dan Agas sering berbagi makanan karena memang mereka bertiga adalah teman dekat. Di antara ketiganya memang tak pernah saling terbuka dengan masalah pasangan. Saling menutupi, entah apa maksudnya.
Wina mendengar ada keributan pun masuk ke dalam kamar kakak sepupunya. Tanpa sengaja mendengar hampir semua yang di ketakan oleh Agas. Gadis yang bersuami namun masih duduk di bangku sekolah menengah pun mencoba menenangkan kakaknya.
“Kak, kakak harus bisa menahan semua ini. Kakak gak boleh seperti ini,” ucap Wina yang mendapat tatapan tajam dari sang kakak sepupunya yang patah hati.
“Apa kamu pikir suamimu juga bersih?” tanya sinis seorag Agas yang mengingat kejadian di mana dirinya mendapati Almas menghancurkan apartemennya.
__ADS_1
“Aku tau, dan itu sudah masa lalu. Biarlah kak,Mustafa juga duda dari istri Fariz yang dulu.” geram WIna yang mencoba mengusik masa lalu suaminya yang menjadi misteri baginya.
“Jangan bodoh kamu WIna, suamimu pernah bermalam dengan Almas. Dan dia berhasil menghancurkan dan mengobrak abrik apartemen, oh bukan cuma apartemen tapi juga hati Almas. Dia sering minum kala malam setelah kejadian itu. Dan bahkan suamimu selalu dalam imajinasi Almas, entah seberapa liar permainan mereka sampai tak bisa membuat wanita jaallaanngg itu tak mampu berpaling dari suamimu!!” ucapan Agas membuat WIna tak percaya.
Kliene, Ayu yang baru datang mendengarkan apa yang di ucapkan sang putra hanya menutup mulut tak percaya. Nurun siapa kah kelakuan bejat Almas itu! Seperti wanita yang tak pernah di atur oleh orang tuannya.
Padahal Levin dan juga Queen sudah sangat keras memberikan pelajaran bagi putrinya. Tapi kenapa bisa kecolongan seperti itu. Kelakuan ini sungguh tak bisa di terima oleh semua orang yang tau, tapi Fariz yang tak pernah di bayangkan pun masuk dalam lubang buaya yang menyesatkan itu.
Oh Fariz, apa yang sebenarnya terjadi? Benak Wia sungguh membuatnya sesak.
“Iya kak Wina sudah tau. Dan itu sudah masa lalu lupakan saja,” bibir boleh berkata lupakan, tapi kepala terasa berat dan juga hati rasanya semakin hancur.
“Wina, jangan pernah kau biarkan mereka berdua kembali bertemu dengan alasan apapun. Itu kadang alasan mereka saja,” Sok sekali menasehati di kala hatinya tengah hancur.
Agas tak tau dengan apa yang di ucapkan sebenarnya sudah sangat menyakitkan bagi gadis itu. Ayu sudah terduduk lemas memandangi putranya yang teramat sangat tak di inginkan saat ini.
“Bagaimana mama gak menangis mendengar kelakuan bejatmu hah!!” ingin teriak namun hati wanita itu terlalu lemah di hadapan putra yang termasuk menjadi kebanggannya.
“Papa akan kirim kamu ke Inggris untuk sementara waktu Agas. Papa malu pernah menyayangi kamu. Ya Allah, salah hamba di mana membesarkan anak ini?” runtuk Kliene yang tak sanggup untuk melihat kembarannya.
“Dulu kamu ngaji enggak sih Gas? Kok kelakuan kamu itu kayak binatang. Perasaan kamu itu di besarkan di rumah manusia…. bukan di kandang hewan, tapi kok kelakuan kamu kaya….. Ya Tuhaaaannnn. Minta ampun sana sama dadymu,” Kliene tak sanggup lagi memandang putranya yang seperti orang gila.
Siapa bilang cuma punya anak perempuan aja yang harus was was. Kalau kayak gini siapa yang patut di salahkan? Setan! Mana setannya mau. Jelas itu manusianya yang berkelakuan seperti binatang.
Setan yang lagi makan sate pun malah tertawa senang ini. Tanpa di goda pun sudah mengikutinya.
Agas di bantu dengan Wina dan juga Ayu mamanya bersiap untuk berangkat ke Ingris. Di sana sudah ada Rama yang menjadi walinya nanti di sana. Orang tua yang sudah tak pernah berkabar terutama setelah kematian Rena akibat sakit komplikasinya.
Sebelum akad di gelar, Agas berpamitan ke keluarga dadynya terutama pada Almas. Wanita itu nampak kaget dengan kepergian sang saudara rasa suami itu.
__ADS_1
“Almas, aku sudah mengakui hubungan kita di depan papa. Ini adalah hukuman bagiku yang tak pernah bisa mengendalikan diri,” kaget dan juga tak percaya.
Kaget karena Agas lebih menuruti orang tuannya untuk menjauh darinya. Tak percaya jika lelaki di depannya tengah bersimpuh di depan dirinya duduk itu telah mengakui hubungan terlarangnya.
“Apa kau gila? Lu gak pernah mikir gimana jadian gue kedepannya hah?” kini Almas menahan tangan Agas yang seperti tengah memohon padanya.
“Kita memang harus mengakhiri ini semua Al. Sekarang aku sudah gak mau kamu memasukkan laki laki lain kedalam apartemenmu lagi. Hormati suamimu nantinya, jangan lagi mengingat apa yang dulu pernah kita lakukan Al. Itu kesalahan terbesar kita namun kenangan termanis bagiku,” itulah uapan terakhir yang terucap dari seorang lelaki yang sedang patah hati.
“Bawa aku bersamamu Gas, aku tak bisa hidup tanpamu. Aku menerima pernikahan ini hanya untuk menutupi hubungan kita Gas. Kenapa malah meninggalkan aku?” Almas menangis menahan kepergian lelaki itu.
“Jangan lakukan ini nak Almas, kasihan papa kamu juga tolong pikirkan kami orang tua Agas. Betapa malunya kami kalau harus menikahkan kalian yang statusnya saudara sendiri.” kini Kliene yang sedari tadi menunggu di luar pintu akhirnya mengambil keputusan.
“Paman tolong jangan kirim Agas ke Inggris,” kini wanita yang sudah cantik dengan riasan pengantin adat jawa pun memohon pada paman yang selalu menyayanginya.
“Maaf Almas, ini untuk kebaikan kalian berdua.” Kliene mengajak pergi Agas yang juga terlihat sangat berat meninggalkan gadisya.
Levin melihat pertunjukan itu sedari tadi dari balik pintu kamarnya bersama sang istri. Levin kembali mengingat kejadian dirinya dulu yang sampai melarikan istrinya. Apa ini karma untuknya?
Levin hanya bisa melihat tanpa bisa mengatakan apa apa. Biar bagaimana pun dirinya dulu juga menikahi anak dari pamannya sebelum tau kebenaran apa yang tersimpan selama ini. Queen juga sepertinya memikirkan hal yang sama dengan sang suami.
Setelah kepergian sang kakak kembarnya. Levin dan Queen segera menemui putrinya yang kini tengah sesenggukan di tengah pintu.
“Jangan tunjukkan lagi air matamu. Ini yang terbaik untuk kalian. Jika kalian memang berjodoh, papa dan mama gak akan pernah menghalangi kalian.” itulah sepatah kata yang terlontar dari mulut Levin yang menenangkan putrinya.
“Benar Pa?” Queen memastikan apa yang di katakan oleh papanya.
“Benar, tapi jangan pernah kau meninggalkan acara ini,”
Seperti di ajak terbang tinggi dengan kecupan dan pelukan mesrah lalu di hempaskan kembali ke bumi. Itulah kata kata Levin bagi Almas.
__ADS_1