
Suamu keluarga berkumpul di ruang tamu yg berdekatan dengan ruang makan dan dapur. Karena tak ingin mengganggu istirahat Vindya, semua diam tak bersuara meski sebenarnya banyak pertanyaan di benak masing masing. Affandi terkejut ketika Ia ingin ke dapur mengambil air minum dengan membawa gelas kaca di tangannya.
"Mama papa!!!"
"Ssssttt!!!" Hampir semua orang berbarengan dengan aksinya.
"Kenapa kalian semua kesini?" Tanya Affandi sedang berbisik.
"Niatnya kami mau ngasih kejuatan buat lo bang tapi malah kita yg jadi terkejut. Cerita dong ada apa sebenernya." Ucap Nadin yg sudah resmi menjadi Istri Vano sejak 8 bulan lalu.
"Iya Fan apa bener yg kami denger tadi?" Kini mama Dita angkat bicara.
"Emang apa yg kalian semua denger?" Affandi makin tak mengerti apa yg para orang tuanya tanyakan.
"Tentang Vindya mengandung anak kamu." Papa Sofyan tak sabar mendengarkan penjelasan menantunya.
__ADS_1
"Affandi sendiri juga belum percaya, tadi pas lagi di cafe Affandi di telfon sama Vindya katanya cepet pulang ada hal penting yg mau di bicarakan. Terus Vindya ngasih kotak kecil sebagai hadiah ulang tahun. Pas aku buka isinya tespeck garis dua. Affandi seneng dong terus peluk Vindyanya eh malah ketiduran. Jadi belum sempet periksa ke dokter." Jelas Affandi dengan mengambil air minum.
"Apa perlu Vindya homescooling?" Mama Agnes merasa khawatir.
"Gak perlu ma Vindya kuat kok." Kini Vindya yg mengagetkan para keluarga yg tiba tiba muncul dari balik pintu.
"Sini duduk sayang jangan berdiri nanti kesemutan lo. Jangan capek capek ya jaga kandungannya. itu cucu papa lo." papa Biantara memapah menantunya duduk di sofa.
"Cucuku juga itu Bi" Kini papa Sofyan tak mau kalah dan ikut menghampiri putrinya.
"Hahahaha papa papa kecewa pemirsa ternyata cuma mau sama si calon papa" Kini Vano yg terkekeh mendapat jeweran dari Nadin istrinya. "Sakit sayang" kini berbalik Vano lah yg di tertawakan.
"Ini adalah kado ulang tahun yg sangat special di hidup Affandi. Kumpul bersama keluarga dan juga hadiah terindah dari Allah yg telah mempercayakan kami menjadi orang tua. Di sini di hadapan para keluarga Saya Affandi Satya kembali berjanji untuk membahagiakan Vindya Andari. Vindya Andari mungkin kakak bukanlah seorang suami yg baik tapi kakak berusaha menjadi suami yg bertanggung jawab. Vindya Andari mungkin kakak gak bisa memberi apa yg sesuai dengan keinginanmu tapi selama kakak mampu memberi yg terbaik kakak akan memberikan. kakak gak mau berjanji terus berada di sampingmu karena kakak juga gak tau rahasia allah kedepannya. Tapi kakak bisa pestikan selama kakak hidup maka kakak akan terus berada di sampingmu. Terimakasih sudah memilih kakak. terimakasih sudah memaafkan kesalahan kesalahan kakak dan memberikan kesempatan kedua." Affandi mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Dalam keheningan sesaat berubah ketika mama Dita menyuruh Affandi dan Vindya duduk dan memotong kue yg sudah di siapkan. Affandi membimbing Istrinya yg mesih setia melingkarkan tangan di perutnya duduk di sofa.
__ADS_1
"Posesif sekali sih lo kak. kasi napa lakik lo potong kue. laper ni" Celetuk Vano mengundang gelak tawa yg ada di ruang tamu.
"Gue masih ngantuk Van, rasanya ni mata pengennya merem aja." Vindya terlihan sudah ingin memejamkan mata.
"Kok tidur disini? Kekamar sana." Vano yg melihat mata kakaknya susah di buka membuatnya hawatir.
"Nanti kalo kekamar malah di tinggal lagi sama kakak. Pengennya tidur di peluk." Mata boleh merem tapi mulut masih ngoceh.
"Fan jangan jangan istri kamu hamilnya kayak mama dulu hamil kamu." Papa Biantara berkomentar.
"Emang gimana mama dulu hamilnya pa?" Affandi penasaran dengan membagikan kue yg sudah di potong dengan tangan Vindya masih memeluknya meski sudah tak erat lagi.
"Ya gitu, dulu mama tiap papa peluk langsung tidur, kalo di tinggal gak lama udah bangun." Jelas papa Biantara yg mendapat anggukan dari sang mama.
"Waduh bahaya dong. Gimana nanti sekolah Vindya sama kuliah Affandi?"
__ADS_1
"Cuma akan tidur saat di peluk Fandi bukan posesif ngintilin." Jelas mama Dita yg membuat lega Affandi.