Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Lucunya takdir


__ADS_3

    “Pak Revan”


    Fariz terkejut dengan apa yang di lihat pertama masuk ke dalam rumah megah ini. Tak heran juika Wina memiliki wajah cantik juga kepribadian nan mengagumkan. Rupannya Wina merupakan keturunan langsung orang besar pemilik perusahaan BIRMA.


    Dengan hanya mendengar cerita dari Satya dan Affandi yang mengagumi ketenangan Revan. Membuat Fariz percaya seberapa besarnya nama Revan di bidangnya. Revan memiliki istri seorang iblis pun juga di dengar Fariz dan membuat nyalinya menciut.


    “Kamu mengenal papaku? Bagus dong,” kata Wina yang terlalu senang dengan apa yang di ketahui oleh Fariz.


    “Bahkan aku juga mengetahui jika mamamu itu iblis,” ucap jujur Fariz yang masih menatap wajah ayu Billa.


    “SIalan kamu, mamaku bukan iblis, tapi dia malaikat.” Bela Wina yang tak mau mamanya di sebut sebagai iblis.


    “Itu yang aku dengar dari cerita cerita orang,”


    “Yang kamu dengar itu salah Fariz, sekarang lebih baik kamu ketemu langsung deh,” Wina memaksa Fariz yang sudah ke takutan untuk masuk ke dalam rumahnya.


    “Wina, nanti aku di makan sama mama kamu,” Fariz benar benar ketakutan.


    “Loooo ada tamu?” ucapan mengagetkan Billa membuat Fariz seperti akan berlari namun tertahan oleh tangan Wina.


    “Mama menakuti pacar Wina, tau tidak?” ucap Wina frontal membuat Fariz hanya mampu menelan ludah yang di rasa sangat susah karena tenggorokannya sudah kering.


    “Apa? Menakuti gimana? Emangnya mama kaya lampir apa bisa menakuti pacar kamu. Gerandooonnnggggg sini kau gerandooonnngggg,” Goda Billa reflek Fariz bersembunyi di belakang Wina yang terus memegangi tangannya.


    “Sayang, sudah kasian itu anak orang.” suara menggema dari belakang wanita cantik membuat jantung Fariz hampir copot.


    “Papa, mama sudah hentikan, Fariz sungguh takut,” ucap Wina menggandeng Fariz duduk di ruang makan.


    “Kamu gak boleh pulang sebelum makan malam bersama nak, katanya kamu pacarnya Wina. Kamu jangan takut sama tante, lagian kamu kenal sama kami dari mana?” Tanya Billa penasaran dengan menyuruhnya duduk dan meminum air di depannya.


    “Maaf tante, om. Pak Satya sama pak Affandi sering cerita bapak kalau lagi di rumah,” jawab masih dengan dada naik turun karena takut.


    “Satya yang di Mall A itu ya?” tanya Revan yang rupanya mengenal bos dari pacar putrinya.


    “Iya pak, beliau.”


    “Baiklah, besok aku akan main ke rumah kamu. Kamu Alfarizi kan? Adik semata wayang dari Satya?” Perkataan yang membuat kaget Wina dan juga Fariz sendiri.


    “Bukan pak, maaf. Saya hanya anak pembantu di rumah pak Satya," Fariz mencoba memenjelaskan kebenaran yang di milikinya.


    “Ya ya, sekarang kamu makan lah. Sayang ajari Wina untuk melayani pacarnya,” titah sang kepala keluarha.


    “Maaf sayang, bukannya aku kan gak pernah melayani tapi selalu di layani.” Jawab Billa dengan nada menggoda tapi melayani sang suami.


    “Mulai darama, besok kalau ada teman Wina datang jangan lah kalian muncul. Malu Wina kalau harus mempertontonkan drama seperti ini,” gerutu Wina yang merasa malu dengan apa yang di lakukan oleh mama papanya.


    “Sayang, mama gak lagi drama. Tapi memang papa itucinta mati sama mama,” mata Billa bermain seperti orang yang lagi kelilipan gajah.


    “Sudah setop, Fariz kalau kamu mau muntah, itu bisa pakai kobokan sdi samping kamu,” Wina menunjukkan air putih yang di tempatkan pada mangkok kecil.


    “Oh, ini bukan soup?” tanya Fariz polos.


    “Bukaaann, aduh Sayang beneran itu layanin dulu Fariz. Takut mama,” Billa langsung menyingkirkan manggok isi air putih di samping Fariz.


    “Iya ma,”


    Acara makan malam yang terkesan membingungkan namun tetap terasa hangat pun berlalu. Saat Fariz izin untuk pulang, tiba tiba Bian menelfonnya.

__ADS_1


    “Iya mbak Bian, ini Fariz mau pulang sekarang.” jawab singkat Fariz pada istri bossnya.


    “Ya sudah kalau begitu, Fariz pamit dulu om, tante.” Fariz mencium tangan kedua orang tua yang terkenal garang namun ternyata sangat hangat dan ramah.


       Fariz mengendarai mobilnya dengan perasaan yang sedikit plong. Setelah menahan rasa takut sedari tadi di hadapan orang tua Wina yang terkenal sebagai iblis dan juga singa. Mereka berdua tak akan segan untuk menghancurkan siapa saja yang menyakiti keluarganya.


    “Sepertinya aku salah menyukai wanita,” gumam Fariz yang memarkirkan mobilnya di garasi milik majikannya.


    “Mampir kemana saja kamu Fariz? Ibu khawatir sama kamu” belum sempat menutup pintu Fariz sudah di berondong pertanyaan khawatir seoramg ibu.


       “Dari kandang singa bu. Maafkan Fariz yang tak mengabari rumah, tadi niatnya hanya mengantar sebetar. Tapi baru saja di persilahkan masuk ke dalam rumah, ternyata itu kandang singa bu. Makanya Fariz takut untuk pamit pulang, untung mbak Bian tadi menghubungi Fariz,” jelas Fariz dengan memeluk pundah sang ibu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


    “Lama sekali kamu Fariz? Mbak Bian sampai ketiduran menunggu pizza yang kamu belikan.” Satya menegur Fariz.


    Pelan sih Satya kalau menegur, tapi dasarnya Fariz yang suka dengan kesempurnaan menjadi merasa bersalah dan segera menyesalinya.


    “maafkan aku pak, tadi Fariz mengantar teman sekolah dulu. Tapi gak taunya itu ruumah penangkaran hewan buas pak.” Jawab Fariz sekenanya.


    “Maksud kamu?” Satya tak mengerti dengan apa yang di katakan Fariz.


    “Ke rumah pak Revan dan bu Billa,”


    “Kamu mengantar anaknya?” tanya Satya terkejut.


    “Sudah memacari anaknya pula pak, ini bagaimana nasipku?” Tanya Faris yang terlihat frustasi.


    “Hahahaha jadi kamu bisa menundukkan seorang Wina Ali Baba Sahid? Salut abang sama kamu Faris. Bahkan banyak pemuda sukses yang di tolak mentah mentah olehnya, sedangkan kamu yang sudah d incar papanya malah mengikat diri dengan anaknya.”  gelak tawa Satya menertawai takdir yang terkesan lucu baginya.


    “Maksud bapak apa?” tanya Fariz.


    “Gini saya kasi tahu, tapi nanti kamu juga harus bilang ke abang bagai mana bisa kamu menaklukan gadis itu.”


    “Setelah mengatakan itu, banyak pengusaha yang mendengar kalau pak Revan mencari jodoh untuk putrinya. Satu persatu mereka mengenalkan putranya pada Wina, secara tegas Wina menolak mereka. Tapi malah Wina sendiri yang tunduk sama kamu,” begitulah cerita yang di dengar oleh Satya dari cerita papanya yang mengantar beberapa orang kenalannya.


    “Sebenarnya aku minder pak, di sekolah itu semua terlihat kalau mereka anak orang kaya semua. Terus sampai akhirnya aku mengenal Wina di lomba cerdas cermat. Terus kami akrab dan bangkunya di depanku pak, setelah itu ya aku deketin. Berbulan bulan aku deketin, aku di tolak.” sepenggal cerita Fariz membuat Satya tertawa lebar dan membangunkan Bian yang tidur di pangkuannya.


    “Hahaha lanjut,” ujar Satya semaki penasaran.


“Kalian ini cerita apa?” tanya Bian dengan suara seraknya.


    “Ini, Fariz rupanya pacaran sama anaknya pak Revan, padahal papa menolak secara halus saat beliau terang terangan mengatakan tertarik pada Fariz untuk anaknya. Eh malah Fariz sendiri yang ngejar ngejar Wina, anaknya pak Revan. Lucu kan?” mendengar penjelasan suaminya Bian ikut tertawa sambil memakan pizza yang sudah dingin seperti hati jomblo karatan.


    “Lanjut”


    “Hiiissss kalian ini, setiap Faris gombalin Wina di tolak. Eh gak di tolak juga sih, hanya Wina sering mengatakan gini. Gak usah menggodaku Fariz, nanti aku jatuh cinta sama kamu. Gitu,” jelas Fariz yang memang memiliki wajah yang imut dengan hidung mungil yang mancung.


    “Hahaha dia sebenarnya udah suka sama kamu, tapi gak tau apa yang dia fikirkan bisa menolak kamu.” celetuk Bian yang tengah asik memakan pizzanya yang molor seperti janjinya orang Indonesia, suka molor dari waktu yang di tentukan.


   " Terus kamu jawab apa?” Satya menetralkan situasi yang di ciptakan oleh Bian yang tak bertanggung jawab.


        “Ya aku bilang kalau itu tujuanku,” Jawab Fariz polos.


    “Hahaha terus dia nerima kamu?”


    “Enggak, dia terus aja menolakku. Tapi tak menjauhiku,” jawab Fariz lagi.


    “Lah, terus bagai mana bisa kamu mengakui dia pacar?” Tanya Satya gemas.

__ADS_1


    “Ya karena perjuangan tak semudah membalikkan telapak tangan pak. Sampai akhirnya saya membawa mobil itu ke sekolah…”


    “Dia menerimamu?” tebak Satya asal.


    “Malah di tolak mentah mentah pak, sampai dia mau menjauhi aku. Terus aku katakan kalau aku membeli mobil itu dari bapak dan mengatakan sejujurnya siapa saya. Dia baru mau kembali berteman dengan ku. Dan tadi pas mengantar dia pulang, kembali aku mengungkapkan perasaan ku dan di terima.” jujur Fariz dengan apa yang di lakukan.


    “Dia ingin di perjuangkan, sama seperti mamanya. Dulu aku sempet denger sedikit tentang cerita mbak Billa. Sudah, intinya Wina itu sebenarnya menaruh hati sama kamu. Gak lama pasti kamu di kenalkan pada keluarganya.” ucap Bian memberi dukungan pada Fariz.


    “Sudah, tadi aku langsung di kenalin ke mama papanya sebagai pacar Mbak. Makanya lama pulangnya, orang di suruh makan malam dulu baru di kasi pulang,” kembali kejujuran Fariz mengalir deras bak hujan yang turun di luar rumah.


    “Hahaha, di terima?” Tanya Satya yang masih tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.


    “Iya,”


    “Hahahah jelas saja itu,” kembali Satya mengeluarkan tawanya.


    “Tapi aku jadi minder pak. Aku anak seorang pembantu, bermimpi pun aku tak berani. Padahal aku mencari orang yang aku anggap paling sederhana dan mau berteman dengan semua. Tapi malah anak singa yang aku pilih,” kembali Fariz merasa kecil dan tak pantas bersanding dengan Wina yang seorang anak sultan dari kerajaan BIRMA.


    “Mereka bukan orang yang memandang dari materi asal kamu tahu. Dulu kakenya Wina itu pejuang cinta sejati. Yang aku dengar pak Rizal itu benar benar mencintai istrinya yang dulunya sahabat kecilnya. Punya anak kembar yang satu malaikat dan yang satu iblis, dan yang terakhir singa itu calon mertua kamu.” imbuh Bian dengan bercerita sedikit yang dia tahu tentang keluarga Wina dari rekan kerja suaminya.


    “Jangan di takut takuti begitu Fariznya, sayang. Fariz kamu harus ingat perkataan abang. Wina itu di asuh oleh ketiga orang ibu, satu singa yaitu mamanya dan dua macan yaitu istri dari di kembar. Dan nenek nya yang terlihat kalem, tapi dialah induk singa dan macan sekaligus. Ibu dari para iblis yang di asuhnya, Kliene paman dari Wina itu terlihat seperti malaikat jika melihat wajah tampannya. Tapi ketika kamu menyakiti keluarganya, dia bisa menjadi malaikat maut yang langsung melemparmu ke neraka jahanam.” sepenggal cerita Satya yang membuat Fariz nyalinya menciut.


    “Lagian kamu kenapa bisa pacaran sama anak orang kaya seperti itu Fariz? Ingat apa keadaan kita ini, apa gak malu kamu dengan kehidupan kamu? Kita susah payah hidup minta bantuan pada pak Satya, tapi kamu malah pacaran di saat sekolah,” omel ibunya yang khawati sedari tadi mendengar ucapan majikannya.


    “Maafkan saya, apa harus saya putuskan saja dia?” tanya Fariz takut.


    “Hal itu wajar, jangan di marahi Fariznya. Kami saja menikah saat masih sekolah,” tutur Satya yang tak mau menghalangi Fariz untuk mendapatkan kebahagiaannya.


    “Dia boleh pacaran dengan siapapu bu, jangan halangi dia. Yang penting dia sudah jujur dan pacarnya tak memperhitungkan itu, kenapa tidak di coba? Fariz juga pemuda biasa yang juga berhak merasakan pacaran bu,” tutur lembut Bian membela Fariz.


    “Bukan begitu Mbak, saya takut nanti Fariz terjebak dalam kesenangan sesaat dan yaaa begitulah.” ibu Fariz merasa khawatir pada putra semata wayangnya.


“Nikahkan saja bu kalau takut,” jawab Satya asal.


    “mau di kasi makan apa anak orang mas kalau menikah nanti? Sekarang saja masih bergantung pada mas Satya.” ibu Fariz semakin risau dengan kehidupan sang putra.


    “Nasi lah bu, masak di kasi makan batu. Masalah pekerjaan jangan khawatir, Fariz itu anak yang cerdas. Kalau dia mau, dia bisa membantu papa untuk mengelolah perusahaan. Jadi nanti ketika saya sudah siap menggantikan papa, saya bisa menjadikan Fariz sebagai kaki tangan saya.” terang Satya yang membuat Fariz semakin tak enak hati.


    “Apa pak Satya sudah tak menginginkan saya lagi?” tanya Fariz.


    “Siapa bilang? Saya mau kamu belajar terlebih dulu di perusahaan. Mungkin nanti setelah mbak Bian melahirkan baru akan bergabung dengan kamu dan papa akan mengurus cafe,” kembali Satya menjelaskan untuk kesekian kalinya pada Fariz.


    “Ya sudah kalau seperti itu kemauan bapak, maka saya nurut saja.” Untuk pertama kalinya Fariz menurut dengan apa yang di ingikan Satya mengurus perusahaan bersama papanya.


    Satya tahu seberapa kemampuan anak dari pembantunya. Kegigihan yang di tunjukkan dalam bekerja, meyakinkan Satya jika Faris akan menjadi orang besar suatu hari nanti. Fariz memiliki ketekunan dalam belajat yang sangat tinggi.


    Ketelitian yang di miliki Fariz beberapa kali menggagalkan oknum oknum yang ingin bermain main di perusahaan. Setiap manusia yang memiliki kelebihan yang menonjol, sudah pasti memiliki kelemahan yang tersembunyi.


    Ya, Faris memiliki kelemahan Ibunya dan juga hatinya. Hatinya yang mudah sekali tersentu meski kadang terkesan acuh. Satya sudah sering sekali mengajarkan untuk sedikit kejam menghadapi orang orang yang terkesan jahat padanya. Tapi memang dasarnya Fariz yang memiliki hati yang besar untuk memaafkan.


    “Ya sudah, kamu tidur sana sudah jam sembilan ini.” Satya menyuruhnya beristirahat.


    “Baiklah pak, oh iya. Kata pak Revan. Besok beliau berkunjung kesini.”


    Satya hanya tertawa dan memberi kode untuk Fariz tidur dan tidak memikirkan hal ini.


    “Besok papa harus di undang juga untuk menyaksika lucunya takdir yang mempermainkan kedua pemuda itu,” ucap Satya.

__ADS_1


    “Bagaimana dengan Mentari sayang?”


    Deg


__ADS_2