
Malam itu Fariz pulang dengan membawa bunga mawar sejumlah sembilan puluh delapan. Sesuai dengan permintaan calon mama muda yang menjadi majikannya. Fariz menyenangkan bumil yang tengah ngidam.
“Bermanfaat juga kan kamu dirumah? Tenagamu itu sangat di butuhkan Fariz, jadi tolong jangan merasa kecil hati. Apa kau mengerti?” Satya menyantab makan malamnya bersama istri dan kedua pembantunya.
“Maaf kan Fariz pak yang tak mengerti apa yang pak bos fikirkan,” jawab Fariz sopan.
“Iya lah kamu gak tau, kan fikiran itu ada di otak saya. Hahahaha,” gelak tawa yang menemani makan malam harus terhenti setelah makan malam itu berakhir.
Fariz membantu ibunya membersihkan piring dan juga meja makan setelah makan malamnya.
“Fariz, sudah biar ibumu saja yang mengerjakan ini. Kamu belahar sana jangan pacaran saja,” goda Satya setelah memerintah pemuda yang mungkin tengah merasakan bunga bunga cinta di hatinya.
“Iya pak, saya permisi dulu.” Fariz pamit untuk kembali ke kamarnya.
Fariz memang seorang anak pembantu di rumah besar ilik Satya. Tapi perlakuan majikannya serta fasilitas yang di berkan kepadanya pada ibunya, seperti bukan kepada pembantu tetapi kepada kerabatnya.
Tak ada alasan untuk tidak betah bekerja dengan Satya. Satya seorang boss yang memperlakukan karyawannya selayaknya kerabatnya sendii. Satya selalu mengatakan jika kita ini sebuah keluarga besar yang harus saling mendukung untuk mencapai tujuan yang sama.
Malam berlalu begitu cepat dengan mimpi yang tak kuran untuk Fariz. Pagi di sambutnya dengan memikirkan apa yang menjadi mimpinya.
“Fariz, kamu bisa mengendarai mobil?” Tanya Satya yang tengah menikmati sarapannya dengan mengenakan pakaian rapi namun santai.
“Bisa, tapi belum memiliki SIM boss, kenapa?” Fariz yang duduk di sebrang meja menjawab dengan menghentikan sarapannya sejenak.
“Bawa mobilnya Mbak Bian untuk ke sekolah. Biar gak nganggur nantinya akan rusak,” Satya menjelaskan sebelum Fariz bertanya.
“Maaf boss, saya takut menjadi orang yang sombong dan arogan nantinya jika pak boss memanjakanku seperti ini. Dengan mengijinkan kami makan satu meja dengan kalian adalah sebuah kehormatan bagi kami.” Tolak halus Fariz membut Satya kagum dengan pemikiran pemuda yang sudah di anggapnya sebagai adik ini.
“Jangan menganggap dirimu itu pembantu di sini. Karena kamu itu adik ku dan ibu mu juga ibu ku hanya saja kita tidak di lahirkan dari rahim yang sama.” Satya menjelaskan apa yang di fikirkan olehnya.
“Tapi boss, itu tetap saja akan membuat ku tumbuh dengan keangkuhan. Jika bos terus memfasilitasi aku dengan apa yang pak boss miliki,” Satya hanya mengangguk anggukkan kepalanya mengerti.
“Baikla kalau kamu tak mau, mungkin aku harus meminta uang padamu agar kamu mau merawat mobinya Mbak Bian,” Satya akhirnya menyebut nominal pada Fariz.
Sepuluh juta untuk mobil yang di dapatnya dari balapan mempertaruhkan nyawa. Sepertinya nomilan itu tidak lah sepadan dengan perjuangan mndapatkan mobil itu. Tapi Satya merasa itu sangat sepadan dengan kerajinan dan juga loyalitas yang di miliki oleh pemuda di depannya.
Dengan senang hati Fariz memberikan sebagian uang yang di milikinya untuk membayar mobil sport milik bosnya. Fariz membawanya ke sekolah dengan rasa bangga. Sebelum berangkat ke sekolah, Fariz tak lupa menghampiri Mentari teman sekelasnya yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggalnya.
“Cieeeee mobil baru niyeeee,” goda Mentari yang sudah menunggu Fariz di teras setelah mendapat pesan singkat dari pemuda itu.
“Ini mobilnya Mbak Bian yang di jual padaku pagi ini,” Jawab Fariz yang sudah duduk di belakang kemudinya.
“Eh Riz, kita kan masih kelas satu SMA. Memangnya kamu sudah memiliki SIM?” tanya Mentari sebagai penumpang pertama Fariz di mobil yang baru saja di belinya.
“Ya belum lah, tapi kalau kita lewat jalan biasanya itu gak akan ada polisi. Kan itu jalan perkampungan kecil,” jelas Faris yang sudah menjalankan mobinya dengan kecepatan standart.
“Baiklah baiklah, kau lah pemilik jalanan saat ini,” Mentari mengakhiri perdebatan kecilnya.
Perjalanan selama sepuluh menit sudah berlalu. Dan mereka berdua juga sudah berada di parkiran sekolah. Wina melihat Fariz dengan mengendarai mobil sport yang harganya selangit bagiya pun membuatnya semakin minder. Namun tidak menghindarinya, tapi malah menggodanya.
“Cieeee mobil baru ini? Boleh di naiki?” tanpa meunggu Fariz mengijinkannya, Wina langsung menaiki mobil dengan kap terbuka.
Maaf ini bukan mobil pick up ya, tapi mobil yang kap atasnya bisa di buka tutup seperti hatiku untunya, hahahaha.
“Sepuas hatimu lah Wina kamu kan memang seorang Winner untukku,” Fariz masih selalu menggoda gadis yang kini sudah turun dari mobilnya.
__ADS_1
“Ayolah Fariz, jangan suka menggodaku seperti itu. Kamu pikir aku tidak tersiksa?” Wina memukul pelan lengan teman yang duduk di belakang bangkunya.
“Kenapa kamu selalu mengatakan aku menggodamu? Kapan kamu akan melihat keseriusan aku Wina?” kali ini dengan nada yang tak seperti biasanya.
“Sudah lah lupakan saja,” Wina hendak pergi namun di tahan oleh Fariz yang membuat Mentari jengah.
“Misi aku mau kekelas,” Tanpa ada yang tahu rupanya ketidak perdulian Fariz mampu melelehkan air mata sang Mentari.
Gadis ringkih yang hidupnya di sokong oleh obat obatan dari dokter.sakit jantung yang di deritanya sejak lahirlah yang membuatnya hidup dengan belas kasihan orang.
“Aku gak main main Wina, kamulah satu satunya orang yang bertahta di dalam hatiku dan merajau semua otakku. Hanya kamu yang mampu membuat aku berusaha dan terus berusaha.” Tetap Fariz yang masih mencekal lengan Wina gadis yang memiliki kulit sawo matang dan mata yang tak sipit juga tak lebar.
“Jangan membuatku bermimpi lebih tinggi dari berteman dengan kamu Fariz, sosialkita sangat jauh berbeda,” Ini adalah pertama kalinya Wina mengungkapkan alasannya selalu menolak pemuda manis dengan senyum menawan meski hanya menyisakan garis lurus.
“Sosial? Maksud kamu apa Wina? Apa kamu mengira aku adalah anak orang kaya?” pertanyaan semakin mengalir begiu saja dengan tangapan yang hanya anggukan kepala.
“Kamu Salah besar Wina, aku adalah anak seorang pembantu yang sepuang sekolah bekerja sebagai cleaning service. Bukan anak orang kaya yang kerjaannya foya foya di cafe mentereng dengan segalas jus yang harganya selangit. Percayalah aku juga memiliki rasa sayan untuk membeli minuman itu. Jangan parnah mengatakan hal itu lagi aku mohon Wina,” ini lah pertama kalinya Fariz mengungkapkan jati dirinya yang tak pernah di utarakan pada siapapun karena memang tak pernah ada yang bertanya.
“Jagan suka membohongiku Fariz, itu buktinya,” Wina menunjuk ke arah mobil yang tadi di kendarai oleh pemuda yang kini masih menahan lengannya.
“Mobil itu milik majikan ku yang tengah hamil muda. Aku membelinya tadi pagi dengan harga yang tak akan pernah di bayangkan oleh siapapun. Sepuluh juta, itulah harga yang Bossku tawarkan. Karena mobil itu di dapatnya dengan mengalahkan lawannya di arena balap saat dirinya masih sekolah dulu,” ujar Fariz pada gadis yang kini tersipu malu.
“Jadi?” pertanyaan ambigu terlontar dari bibir mungil dengan sedikit tebal di bagian bawah.
“Jadi apanya?” berpura tak tahu adalah hal yang sangat menguntungkan saat ini, fikir Wina.
“Ya sudah aku akan menunggu jawaban kamu nanti sepulang sekolah.”
Keduannya berjalan bersamaan ke dalam kelas dengan sedikit percandaan. Setibanya di dalam kelas Fariz di suguhkan dengan pemandangan yang tak biasa. Mentari yang sedang sibuk mengelap darah yang terus keluar dari hidungnya.
“Mentari!! apa yang sedang kamu lakukan!! cepat pergilah ke UKS,” bentakan Fariz membuat semua teman yang tadinya mengabaikan Mentari pun memenang gadis di bangku deretan ke tiga dari depan meja guru.
“Diam lah aku mohon ikut aku ke rumah sakit.” Kali ini Fariz sedikit memohon pada gadis yang kini kebingungan mencari tisu lain karena tidu ang di gunakannya sudah habis penuh darah namun darah yang keluar dari hidungnya masih belum berhenti juga.
“Aku gak mau Fariz, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Cukup belikan aku tisu saa kalau kamu masih merasa khawatir,” ucap Mentari dengan sedikit mendorong tubuh pemuda di sampingnya.
“Ya aku akan membelikan kamu tisu, tapi tolong jangan buat aku khawatir lebih dari ini,” ucapan Fariz sebelum meninggalkan kelas untuk mencari tisu di koprasi sekolah.
Mentari selalu menutupi dari teman sekelasnya jika dirinya tengah mengadapi penyakit yang juga bisa di sebut kelainan dari kecil. Mentari tak pernah mau menerima belas kasihan dari orang yang membuatnya membangun benteng tinggi dalam hidupnya.
Wina yang dititipi untuk mengawasi Mentari pun merasa ketakutan ketika gadis itu meletakkan kepalanya di atas meja. Wina berusaha membangunkan Mentari namun apa daya ketika kesadaran sudah tak bersama dengan temannya itu.
“Mentari bangun, hei cepat cari Fariz jangan hanya memandanginya.” seru Wina yang kini sudah memeluk Mentari yang masih mengeluarkan darah segar dari hidungnya.
“Sudah Arin yang mencarinya, Win. Memangnya Mentari kenapa?” Lasmi bertanya pada Wina ke adaan teman sekelasnya yang sering jutek terhadap siapapun.
“Gak tau, hanya saja tadi pas aku sama Fariz masuk dia sudah mimisan, eh sekarang dia malah semaput.” Wina memang berbanding terbalik dengan gadis yang tengah tak sadarkan diri di pelukannya.
Tak berapa lama Fariz datang dengan membawa tissu di tangannya. Melihat Mentari tak sadaran diri, Fariz langsung mengangkat tibuh lemas Mentari dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Mentari merupakan anak dari kepala yayasan pun membuatnya bebas keluar masuk meski kadang tak luput dari hukuman pak Mustafa.
“Fariz, mau kemana kamu?” cegak pak Mustafa yang kini berada di depannya.
“Pak, bisa apak ikut saya? Keadaan Mentari semakin lemah.” tanpa berfikir panjang lagi pun guru BK yang terkenal kejam pun menurut pada siswanya.
__ADS_1
“Mau kamu bawa kemana dia?” Tanya Mustafa selaku guru Bk.
“Ke rumah sakit terdekat pak. Bapak bisa minta tolong membawa mobilnya?” Tanya Fariz sopan.
“kenapa kamu gak minta tolong saya untuk memangku gadis itu saja?” Tanya spontan seorang guru yang umurnya mungkin baru menginjak dua puluh tujuh, dan jomblo bahasa kasarnya.
“Yah bapak, Fariz takut bapak itu tak kuat memangku Mentari, melihat umur bapak yang sudah tak muda lagi. Di tambah bapak kan gak pernah memangku perempuan,” jawaban Frontal dari Fariz membuat gurunya mengumpat.
“Sialan kau ini Fariz. Sini kuncinya, yang mana mobil kamu?” Tanya Mustafa sambil meminta kunci mobil muridnya.
“Mobil itu pak,” Fariz memberikan isyarat pada sak kemeja putihnya yang sudah berlumuran darah gadis di gendongannya dan menunjukkan mobil barunya.
“Sial, dari gerak bapak kalah sama kamu. Apa lagi dari segi tunggangan, bapak mengaku kalah telak dari murid yang suka menerima hukumanku,” obrolan santai Mustafa dengan muridnya yang terkesan menggelikan.
“Sudahlah bapak gak akan pernah bisa bersaing dengan ku. Lihatlah diri bapak yang masih umur dua puluh sekian tapi wajah sudah lima puluh. Anda itu terlalu pemborsan tampang pak, makanya lembutlah sedikit pada murid muridmu,” Fariz menasehati gurunya dengan berani.
“Apa kau menasehatiku, anak kecil?” cibir Mustafa yang sudah memarkirkan mobil yang di kendarai di parkiran rumah sakit.
“Bukan menasehati, hanya mengingatkan,” akhir dari pembicaraan yang hampir tak pernah di ketahui oleh siapapun.
Ya mereka berdua memang menjadi seperti teman setelah pelantikan Fariz menjadi ketua kedisiplinan.
Kedua orang berbeda usia kini telah berada di depan ruang UGD menunggui seorang Mentari.
Gadis yang di bawanya dengan keadaan tak sadarkan diri. Dalam kecemasannya, Fariz tak lupa menghubungi keluarga dari gadis yang telah mengotori kemeja putihnya.
“Bagaimana keadaan Mentari, Fariz?” tanya lelaki setengah baya namun masih terlihat kecil karena ukuran badannya yang tak melebihi ukuran tinggi badan Fariz.
“Masih belum keluar dari ruang UGD pak, oh iya kenalin ini pak Mustafa salah satu guru BK di sekolah pak.” Fariz memperkenalkan Mustafa pada orang tua Mentari.
“Oh, maaf sudah merepotkan bapak. Saya harus meminta maaf sekali lagi karena saya sudah menitipkan Mentari pada Fariz jadi murid bapak ini sudah pasti akan mendapat banyak masalah dari sekolah karena ulah anak nakal itu,” Jelas Orang tua Mentari.
Mendengar apa yang di sampaikan oleh orang tua Mentari. Membuat Mustafa mengerti kenapa murid nya itu selalu melindungi bahkan bersedia menggantikan hukuman gadis lemah itu.
“Sebenarnya Mentari sakit apa pak?” Tanya Mustafa pelan takut jika melukai hati orang tua yang di perkirakan memiliki umur sekitaran empat puluh tahunan ini.
“Saat lahir Mentari memiliki kelainan jantung, tapi setelah besar jantungnya suda bisa di katakan normal. Hanya belakangan dia seperti malas meminum obatnya, mungkin dia sudah bosan dengan rutinitasnya yang terus mengonsumsi obat obatan sedari lahir.” Tutur Pak Toha Bayu Aji yang lebih akrab di sapa pak Aji.
“Sungguh malang gadis secantik itu harus menderita,” gumam Mustafa pelan dan saking pelannya mungkin hanya di dengar Fariz di sampingnya.
Ya hanya Fariz, dan dia hanya tersenyum menyikapi gumaman sang guru killer paling di benci leh Mentari. Fariz menundukkan kepalanya agar tak terlihat oleh gurunya dan akan melukai perasaannya.
Setelah Mentari di pindahkan ke ruang rawat. Fariz dan juga Mustafa ijin untuk kembali ke sekolahan. Kedua orang itu kini sudah berada di dalam mobil yang masih di kemudikan gurunya.
“Jadi itu alasan kamu melindungi Mentari?” Tanya Mustafa penasaran.
“Kalau bapak mau, silahkan maju. Saya masih harus berjuang untuk gadis ku,” bukannya menjawab, Fariz lebih ke mendorong gurunya untuk maju menggantikan posisinya menjaga gadis lemah yang soh kuat.
“Jangan sembarang bicara kamu Fariz,” sangkal guru muda yang sudah terlihat berumur.
“Bapak fikir saya gak mendengarkan gumaman bapak? Ayolah Mister Mustafa jangan membohongi dirimu sendiri,” goda Fariz dengan menikmati wajah memerah gurunya.
Jarang jarang bisa mengerjai guru Hitler ini, batin Fariz di sela senyuman gelinya.
“Benar kamu sedang tidak memperjuangkan dia?” malu malu tapi akhirnya lelaki telat menikah itu membuka sedikit rahasianya yang memang mengagumi Mentari sedari pertama masuk sekolah.
__ADS_1
“Iya, saya lagi memperjuangkan Wina. Gadis sederhana yang selalu menolak saya.”
“Mari berjuang bersama.”