
Hari penentuan bagi Vindya pun akhirnya datang juga. Vindya yg masih belum pulih sepenuhnya terpaksa masuk sekolah untuk menghadapi ujian akhir.
Di kampus Affandi bersikap biasa saja. Berusaha tetap tenang agar tak membuat Ayu kabur dari incarannya.
Seperti biasa Affandi selalu datang 30 menit sebelum kelas di mulai. Affandi berjalan menuju kantin di mana biasa sahabatnya nongkrong. Niatnya untuk meminta tolong tapi ternyata Ayu juga ada di sana.
Affandi datang dengan menyapa Ahmad dan Nadia tak luput juga Ayu. Affandi duduk di sebelah ayu. Affandi memberikan perhatian perhatian kecil terhadap Ayu yg membuat hati ayu berbunga bunga.
"Yu, lama gak ketemu lo makin cantik ya." Itu ucapan Affandi yg membuat Ahmad dan Nadia kaget setengah mati.
Setau Ahmad Affandi sangat mencintai Vindya. Tapi kenapa sekarang memuji cewe lain di belakang Vindya.
"Kalo lo senyum makin manis deh." Affandi ikut tersenyum bersama Ayu.
"Lllo bilang gue cantik?" Tanya Ayu dengan terbata bata yg hanya di angguki oleh Affandi.
"Cantik mana gue sama Vindya?" Tanyanya lagi.
"Cantikan lo lah sayang" Ucapan Affandi dengan menyibak rambut Ayu membuat Ahmad gerah.
"kalian kemana?" Tanya Ayu yg mendapati Ahmad dan Nadia berdiri hendak meninggalkan tempat duduknya.
"Gerah, Nyesek." Jawab simpel dari Nadia membuat Affandi melirik sebentar.
"Udah biarin aja ke kelas yuk." Ajak Affandi.
__ADS_1
Affandi dan Ayu pun ke kelas karena memang kelas akan di mulai. Ayu merasa hatinya berbunga bunga. Perasaan yg ia miliki tak bertepuk sebelah tangan lagi. Kini Affandi lebih perhatian terhadapnya. Dan beberapa kali Ayu melihat nama Vindya di panggilan telfonnya di abaikan oleh Affandi.
****
Di rumah Vano.
Liburan sekolah telah di mulai, dan Vano pun memulai usahanya. Vano memilih menyewa tempat di dekat pasar tradisional yg berdekatan dengan sekolah menengah pertama. Dengan menggunakan gerobak dan payung pantai untuk melindunginya dari panas dan beberapa tempat duduk. Vano menjual es kelapa muda dan juga jus buah. Sesekali Nadin menemani Vano, namun kadang Vano melarangnya. Dengan alasan istri hanya harus menunggu di rumah, mencari nafkah atau kerja itu sudah menjadi tugas dan kewajiban seorang suami.
Hari pertama peminatnya memang kurang, Nadin terus menyemangati Vano agar tak berpatokan pada untung terlebih dulu. Tapi bagaimana dia bisa menarik pelanggan untuk menjadi pelanggan tetap.
Kini hari ke tiga Vano membuka dagangannya. Nadin mengantar kan makan siang untuk Vano.
"Sayang pulang aja, di sini panas diem di rumah saja buatin gue cemilan ya." Pinta Vano.
"Udah tau panas kan gue bisa bantuin lo yang. kita berusaha bareng ya biar berasa gitu." Jawab Nadin membuat senyum di bibir Vano.
"Genit ah." Nadin memukul lengan Vano manja namun Vano malah tersenyum lebar.
Nadin menurut juga apa yg di pinta sang suami. di tengah jalan Nadin inget kalo bahan makanan tinggal sedikit. Nadin memutuskan untuk belanja di minimarket dekat apartemennya.
Ketika tengah asik berbelanja Nadin menabrak seseorang.
"Maaf maaf." Ucap Nadin membuat orang itu juga melihatnya.
"Nadin, lo belanja di sini?"
__ADS_1
"Oh Maria, iya. Minimarket ini aja yg deket dengan apartemen gue."
"Oh dimana lo tinggal?" Tanya Maria Nadin menunjukkan apartemen yg tak jauh di sana.
"Mampir yuk." Ajak Nadin.
"Boleh emang?" Tanya Maria.
"Boleh lah. emangnya siapa yg ngelarang?"
"mak bapak lo lah" Maria mencoba memancing Nadin.
"Gila aja mak bapak gue ikut tinggal di apartemen, yg ada setres di omelin doang gue." Ucap Nadin sambil memasukkan belanjaan ke dalam keranjang.
Iya lah kalo lo bareng emak bapak lo kan gak bisa ngajak masuk Vano. Pikir Maria.
Setelah berbelanja dan membayar di kasir. Nadin berjalan menuju Apartemennya bersama Maria. Sesampainya di dalam apartemen Maria langsung di suguhi dengan pemandangan yg sangat sangat menggetarkan. Deretan foto Nadin dan Vano terpasang rapih di dinding. Tak luput juga di atas lemari sepatu yg di letakkan di samping pintu masuk. Foto Vano dengan berbagai gaya terpampang jelas.
Foto sendiri maupun bersama Nadin telah di absen oleh Maria. Hingga Maria menyadari 1 hal. Sepatu dan sandal lelaki yg di yakini itu milik Vano telah tertata rapi berdampingan dengan hills perempuan.
"Lo tinggal sendiri Nad" Pertanyaan Maria hanya di jawab dengan senyuman oleh Nadin.
"Masuk sini ngapain bengong di sana?" Maria pun masuk lebih dalam ke apartemen Nadin.
"Lo udah lama pacaran sama Vano?" Tanya Maria hati hati.
__ADS_1
"Iya dari SMP gue pacaran sama dia."