Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Jadian


__ADS_3

"Lo kenapa sih Van marah marah terus sama gue? Salah gue apa Van?" Tanya Nadin yg dari tadi di omeli Vano.


Sepulang dari tempat kakaknya Vano memang terus mengomel. Tak tau apa yg ada di fikiran Vano sampai membuatnya terlalu emosi.


"Gue mau ke warung, lo di sini aja jangan kemana mana. Inget jangan keluar apartemen, kalo lo lakuin itu lok akan tanggung sendiri akibatnya." Vano memperingati Nadin.


"Lo kenapa Van? Apa yg salah sama lo? Ato gue udah buat salah sama lo?" Vano tak menjawab langsung meninggalkan Nadik di dalam apartemen sendiri.


Vano keluar dengan membawa semua kunci dan mengunci Nadin di dalam. Vano berubah menjadi orang yg tak Nadin kenal. Nadin hanya mampu menurut dan tak bisa berbuat apa apa karena Vano menguncinya dari luar.


Vano mencari ojek di pangkalan untuk mengantarnya ke warungnya. Sesampainya di warung kecil Vano yg kini lebih mirip Cafe kecil itu ada seorang gading dengan rambut hitam panjang sepunggung telah menunggunya. Vano langsung menghampirinya.


"Udah lama nunggunya?" Tanya Vano langsung duduk di depan gadis itu.


"Baru lima menit. Ini tempat kerja lo?"


"Iya, usaha kecil kecilan. Lo mau minum apa Va?" Tanya Vano


"Apa aja boleh asal jangan isi kopi, gue gak suka."


"Gue bikinin jus mau?"

__ADS_1


"Hmm jus wortel deh kalo gitu."


"Pantes matalo bening banget. oh iya Nova lo mau sosis bakar, entar gue bikinin." Tanya Vano.


"Boleh kok Van, lo baik ya ternyata. Peratian lagi. Beruntung dong yg jadi pacar lo nanti." Puji Nova pada Vano.


"Beruntung dong lo kalo gitu." Kata Vano sambil membuatkan jus untuk Nova yg duduk tak jauh dari tampat Vano membuatkan jus dan sosis bakar.


"Kok gue?" Ucap Nova dengan wajah memerah dan detak jantung yg tak beraturan.


"Lo gak mau jadi pacar gue?" Tanya Vano membuat Nova semakin salah tingkah.


Di apartemen Nadin sendirian. Tiba tiba ada suara ketukan pintu yg membuat Nadin takut.


"Siapa ya?" Tanya Nadin hati hati.


"Gue Rendi, lo Nadin kan?" Tanya Rendi.


"Iya gue Nadin. Ren sama siapa lo?" Tanya Nadin.


"Gue sendirian. Vano mana Nad? bukain pintu napa ah pelit banget dah." Ucap Rendi jengkel.

__ADS_1


"Nah entu die Ren, gue di kunciin pintu sama Vano. Dia di warung, lo taukan warungnya. Kesana aja lu nanti kerjain di sana hal 77 sampek 78 aja sisanya gue yg selesaiin." Suruh Nadin pada rendi.


"Ya udah kalo gitu gue tinggal ya." Ucap rendi tak menunggu jawaban dari Nadin langsung pergi mencari Vano.


Rendi melihat Vano tengah duduk merapikan rambut seorang gadis. Rendi tau kalo Vano berpacaran dengan Nadin. Rendi mengambil Foto Vano yg tengah bermesraan dengan cewek dan mengirim ke Nadin. Rendi lebih memilih pergi meninggalkan tempat itu dan ke rumah Gio untuk menyelesaikan tugasnya.


Nadin membuka hp dan dendapati gambar suaminya dengan seorang cewek. Nadin diam tak berkata apa apa hanya meneteskan beberapa air mata lalu mengusapnya.


"Lo bisa gue pun lebih bisa Vano. Jangan di kira gue diem selama ini lo bisa injek injek harga diri gue. Lo yg udh mulai dan gue yg akan mengakhiri Vano." Ucap Nadin dengan rasa berantakan.


Ketika Vano pulang ke apartement Nadin dilihatnya sudah tidur. Vano mengambil ponselnya dari saku celana dan mencari nama Nova dan menelfonnya.


"Udah tidur belum yang?" Ucap Vano yg terdengar jelas oleh Nadin karena dia belum tidur.


"(...)"


"Iya saya aku juga udah kangen, padahal baru tadi aku nganterin kamu pulang tapi udah kangen aja. gimana dong?" Vano terdengar manja. Nadin hanya mampu menahan untuk bersuara tapi tak mampu menahan air matanya.


Vano menutup telfonnya dan kembali merebahkan diri di samping Nadin. Nadin tak mampu memejamkan mata. Nadin memutuskan untuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu lanjut sholat isya.


Setelah sholat isya Nadin memilih untuk tidur di kamar mandi. Dengan beralaskan slimut tebal Nadin merebahkan diri di betab yg sudah mengering beralaskan selimut tebalnya.

__ADS_1


__ADS_2