Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Maaf, anda telat


__ADS_3

“Seperti ini ternyata kelakuan gadis cantik,”


“Satya!!”


Betapa terkejutnya Ayumi melihat Satya sudah duduk di sofa yang menghadap ke pintu masuk. Hanya dengan pencahayaan lampu dari luar pun Satya sudah tau jika Ayumi tengah membawa Pandu ke dalam apartemen Ayahnya.


“Lebih baik kalian pergi dari sini. Bawa wanitamu ini jauh-jauh dari kehidupan gua. Inget, mobil elu sudah mejadi milik gua,” ucap Satya sambil melangkah pergi dari apartemen yang di tinggali oleh gadis cantik nan tinggi itu.


“Satya, terima kasih.” Ayumi mengucapkan kata terima kasih sebelum Satya benar-benar meninggalkan ruangan gelap penuh dosa.


“Jangan sungkan. Dan ya, gua akan mengambil Bian dari tangan elu. Jangan pernah panggil gua Satya jika gua gak bisa mengalahkan elu,” ucap Satya sebelum benar-benar meninggalkan mereka berdua.


Satya pulang kerumahnya dengan rasa kecewa yang sangat mendalam. Jam setengah empat subuh, Satya baru tiba dari membuang rasa kecewanya bersama angin malam. Satya di sambut oleh gadis yang duduk di depan pintu kamar teras miliknya.


“Ngapain lu kemari?” Tanya Satya dengan sedikit penekanan.


“Maafin gue Sat, Gue gak tau kalau Pandu sudah menunggu di ruang tamu. Pandu meyakinkan papa untuk membawaku.” Jelas Bian dengan derai air mata yang semakin deras.


“Mau elu apa sekarang? Ayah sama Bunda gak akan suka ada elu di jam segini kerumah,” ucap Satya yang tak tau harus apa lagi.


“Gua gak mau pulang Satya,” Bian memeluk Satya yang berdiri tak jauh darinya berdiri.


“Alwa!!”


Rupanya Affandi telah menunggu Satya di dalam kamarnya dan menyaksikan semua drama yang terjadi.


“Yah, nikahkan Alwa dengan Bian.” Affandi sangat terkejut dengan apa yang di minta putranya di pagi-pagi buta seperti ini.


“Apa kamu sedang mabuk?” Tanya Affandi tak percaya.


“Kalau Ayah gak mau, berarti Ayah mendukung perzijahan terjadi antara aku dengan Bian.


“Apa kamu gila?” Tanya Affandi lagi memastikan apa yang di minta oleh putranya.


Sedangkan Bian hanya diam mematung di samping Satya.


“Tapi kamu tau gadis ini sudah bertunangan dengan Pandu.” Kali ini Ayahnya membuat Satya semakin kehabisan kesabaran.


“Alwa gak perduli, yah. Alwa yang akan menikahinya,” ucap Satya memeluk Bian yang sedari tadi hanya melongo.


“Hemmmm iya, iya. Besok Ayah akan menemui papanya Bian untuk membicarakan ini.” Affandi menyerah dengan permintaan sang putra.


“Pagi ini Alwa mau menikahi Zahra Fabian secara siri,” ucap Satya lagi membuat Ayahnya sakit kepala.


“Aduh ini anak, kenapa ngebet banget sih. Udah di ubun-ubun emangnya?” Tanya Affandi gemas.


“Bukan cuma di ubun-ubun Ayah, tapi sudah sesak.” Affandi hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.


“Ya sudah kalau seperti itu jadinya. Nak Bian, kamu tidur dengan tente apa di ruang tamu?” Tanya Affandi yang masih sedikit sakit kepala dengan apa yang di minta oleh putranya.


“Di ruang tamu aja Yah, nanti Bunda gak bisa tidur. Anak ini kalo tidur menguasai kasur,”


Satya mengantar Bian ke ruang tamu lalu kembali ke kamarnya. Bian masih belum percaya jika dirinya akan menikah dengan Satya yang di anggapnya sahabat atau teman selama ini. Tapi Bian gak bisa menolak, mungkin dengan begini dirinya akan terbebas dari yang namanya Pandu.


Jam sepuluh pagi orang tua Bian dan juga pak ustad masih berada di rumah Affandi. Satya dan Bian baru saja melangsungkan pernikahan secarah sah, karena papa Bian membawa semua dokumen untuk sayarat menikah.


Entah kapan mengurusnya, yang jelas semua berkas sudah siap.


Assalamualaikum


Terdengar suara salam dari balik pintu besar rumah Affandi. Vindya membuka pintu rumahnya yang tertutup setelah beberapa orang saksi pernikahan Satya dan Bian.


“Ayumi? Nak Pandu, ada apa ya?” tanya Vindya heran.


“Ini tante, Pandu mau mengantarkan mobil untuk Satya. Semalam, Pandu kalah lagi tante.” Jawab Pandu yang memang awalnya adalah sahabat baik dari Satya.


Satya keluar dan menemui kedua orang yang semalam di temuinya. Satya hanya tersenyum simpul melihat Ayumi yang sudah menenteng tas rangsel miliknya.

__ADS_1


“Makasih kadonya, saya sangat tersentuh. Dan ini terakhir kali gua ketemu wanita munafik macam elu,” ucap Satya menunjuk ke arah Ayumi.


“Jangan kasar Alwa, biar bagaimanapun dia wanita. sama seperti Bunda,” mendengar omelan singkat Vindya pada putranya, Pandu hanya tersenyum.


“Ingat, minggu depan sudah semesteran. Dan saat libur semesteran gua akan menikahi Bian,” Ayumi syok dengan apa yang terlontar dari mulut Pandu.


“Maaf, anda telat.” Satya pergi meninggalkan Pandu dan Ayumi yang masih belum paham apa yang di maksud Satya.


“Maaf ya nak, di dalam masih ada tamu,” ucap Vindya sedikit mengusir Pandu dengan Ayumi sebelum menutup pintu rumahnya.


“Lu tau apa maksud dari ucapan Satya?” Tanya Pandu masih penasaran.


“Aku pun gak tau apa yang kamu bicarakan dengan Satya tadi.” Ayumi meninggalkan Pandu di depan gerbang sendirian.


Sedangkan di dalam rumah Affandi, terlihat Bapak Darmawan Ical sangat bahagia. Melihat putrinya menikah dengan Satya.


“Bukankah papa yang mempertunangkan Bian dengan Pandu?” Tanya Satya yang sudah memanggil orang tua Bian dengan sebutan mama papa atas permintaan mereka.


“Sebenarnya papa di ancam sama Pandu, dia itu anak dari ketua komite di sekolahan. Makanya papa menyetujui permintaan Pandu.” Jawab Darmawan dengan nada menyesal.


“Dan kamu percaya Cal?” Tanya Affandi kali ini yang sedikit geram.


“Iya Fan, secara saya kan baru di sekolahan itu.” Jawab Darmawan yang tak mau dipersalahkan.


“Kamu gak mau tanya sama aku Cal, Aku ketua komite disana Cal. Sedangkan papanya Pandu itu hanya pengurus biasa. Ya kaya staf gitu kalau di kantor. Dia kan punya percetakan besar yang membuat Pandu menjadi sombong seperti itu.” Jelas Affandi pada sahabat kecilnya itu.


“Ya tuhan, ternyata aku masih bisa di bohongi oleh anak sekecil itu. Tapi aku sudah bersyukur Bian sudah mendapat suami yang bener sekarang.”


“Fajar Alwa satya bisa menjadi suami yang bener jika istrinya itu bukan wanita munafik,” ucapan Satya mengagetkan semua yang ada di dalam rumah, termasuk orang tua Satya sendiri dan juga pak ustad yang menikahkan mereka berdua.


“Maksud nak Satya ini apa ya?” Tanya Pak usatad yang masih merasa bingung.


“Pertanyaan pak ustad bisa terjawab ketika rumah tangga Satya sudah berjalan,” ucap Satya mantab.


“Kamu gak bermaksud untuk balas dendam 'kan Sat?” Kini Bian mencoba mengartikan perkataan Satya.


“Aku akan berusaha.”


:Jangan hanya berusaha, tapi jalankan.” Satya meninggalkan ruang tamu karena hatinya sedikit sesak akan kejadian tadi malam.


Tak bisa di pungkiri jika Satya sakit hati dengan Bian tak menuruti apa yang di perintahkan oleh Satya. Dan lebih memilih untuk datang bersama dengan Pandu ke tempat balapan.


Semua orang, termasuk orang tua Bian telah berpamitan untuk pulang. Kini Bian masuk ke dalam kamar Satya yang juga kini menjadi kamarnya.


“Bian, sekarang Gua mau jujur sama elu, kenapa gua mau menikahi elu hari ini.” Satya ternyata tak memiliki hati untuk menyakiti Bian lebih lama lagi.


“Katakan Satya, jika memang karena kesalahan semalam. Gue minta maaf ke elu,” ucap Bian yang sudah duduk di samping Satya di pingir tempat tidur.


“Iya, gua sakit hati karena semalam, Tapi bukan karena elu. Semalam gua ke tempat Ayumi, dan gua menantang Pandu untuk merebut elu darinya.” Satya menunduk seperti menyesali apa yang sudah di lakukan.


“Kita jalani aja sekarang Sat, sebisa mungkin  jangan ada perubahan di antara kita. Gua akan berusaha buat bantuin elu kalo perlu sih,” ucap Bian yang sedikit mengerti apa yang di inginkan oleh teman yang baru saja menikahinya.


“Ok, kita biasa saja. Tapi kayanya satu yang gak mungkin biasa saja,” Kali ini satya lah yang nyosor Bian lebih dulu.


“Lu mau goda gue?” Tanya Bian menantang Satya.


“Elu yang selalu menantang gua,” bisik Satya tepat di telinga Bian.


“Sepertinya kamu harus menahan itu dulu,” ucap Bian membuat Satya sedikit kecewa.


“Aku lagi datang bulan suamiku,” bisik Bian membuat Satya tegang sebentar dan langsung lemes karena kecewa.


“Yaaaah gak jadi belah duren dong. Nasib gua jelek banget dah. Mana gak bisa di ulang lagi hikz,” ucap Satya dengan mimik muka di buat sesedih mungkin.


“Sabar lah, masih ada malam-malam berikutnya..” Bian membuka baju kebaya yang dikenakannya.


Siang berlalu dengan damai mengarungi alam mimpi masing-masing. Sore hari, Bian membantu mertuannya untuk memasak makan malam. Hal yang pertama kali di rasan oleh Vindya selama ini.

__ADS_1


Dirinya masak di temani oleh menantu. Bahkan dirinya dulu gak pernah membantu mertuanya masak.


Bian terlihat sangat mahir dalam meracik beberapa bumbu untuk membuat masakan nusantara. Vindya hanya mengatakan mau memasak sayur asem atau ayam bakar bumbu rujak. Bian langsung menyiapkan bumbu-bumbu yang di butuhkannya.


Vindya melihat ketrampilan sang menantu menjadi takjub sendiri. Ternyata gadis bar-bar yang dia kenal selama ini merupakan seorang istri idaman.


“Sekarang kamu mandi dan ajak suamimu untuk makan malam.” Vindya merapikan piring dan perabot yang baru saja di cuci oleh sang menantu.


“Iya Bunda,” ucap Bian sambil mengelap tangan basahnya dengan serbet kering di samping rak piring.


“Jangan lupa suruh suamimu sholat magrib dulu.” Vindya mengingatkan pada menantunya.


Bian masuk kedalam kamar dan mendapati suaminya tengah sholat magrib. Bian menunggunya duduk di tepi ranjang. Bukannya sengaja, tapi pintu kamar mandi tepat di belakang Satya sholat.


Setelah sholat, Bian permisi mau kekamar mandi untuk membersihkan diri. Saat hendak melewati Satya yang masih berdzikir. Bian di tarik oleh suaminya dan membawanya dalam pangkuannya.


“Satya, gue belum mandi,” ucap Bian malu-malu.


“Biari,”Satya kembali melanjutkan pelukannya pada sang istri.


“Lu lupa kalo gue lagi datang bulan?” Tanya Bian pada suami yang baru di nikahinya tadi pagi.


“Enggak, biar lu kotorin sarung gua juga gak akan ada pengaruhnya. ‘kan gua udah selesai,” ucap Satya yang malah menyembunyikan wajahnya pada leher Bian.


“Gue mau mandi, keburu malem Alwa” Bian memanggil nama suaminya seperti Ayah dan Bundanya.


“Hmmm, kapan selesainya sih?” tanya Satya sambil membuang nafas berat.


“Sabar, ini baru hari kedua. Jadi masih harus nunggu lima hari lagi,” ucap Bian lalu beranjak dari pangkuan suaminya saat lelakinya lengah.


“Liat aja entar malem,” kata Satya di depan kamar mandi.


“Bodo Satya, mesum banget sih.”


Satya keluar kamar setelah berganti baju santainya. Satya mendekati Ayahnya yang tengah sibuk dengan berkas-berkas yang ada di depannya.


“Ya, ajari Alwa untuk kerja di cafe atau di perusahaan opa.” Satya membuyarkan fokus sang papa dengan keputusan yang sudah di nantikan dari seorang anak untuk Ayahnya.


“Mending kamu pegang cafe Ayah yang ada di mall A, Ayah gak pernah bisa handle di sana. Terlalu rame,” Affandi langsug menyerahkan berkas yang harus di cek oleh Satya.


Jam sudah menunjjukkan di angka sebelas malam, tapi Satya dan juga Ayahnya masih asik dengan dunia mereka. Vindya yang melihat kedua lelaki yang di milikinya tengah asik bekerja, malah ngomel-ngomel gak jelas.


“Kalian ini seperti gak ada hari esok aja. Alwa, besok kamu harus sekolah dan gak belajar. Kata Bian besok ada Try out malah asik kerja!!” omel Bundanya.


“Iya Bunda maaf, Alwa pasti mendapat nilai yang memuaskan lagi dan gak akan mengecewakan Bunda.” Janji Satya yang membuat Vindya tersenyum pada sang putra.


“Bunda hanya mengharapkan kamu lulus dan di terima di kampus terbaik saja. Bunda dan Ayah gak mau membebani kamu dengan harus mendapat nilai yang sempurna. Inget nak kamu hanya manusia biasa,” ucap Bundanya yang menenangkan bagi Satya.


Satya berpamitan pada orang tuanya untuk beristirahat sebelum esok akan menjalani ujian tanpa belajar. Satya melihat istrinya tengah tertidur di meja belajar miliknya dengan buku yang masih berantakan.


Satya tersenyum memandang wajah lelah sang istri sebelum mengangkatnya ke tempat tidur. Satya tak percaya jika dirinya sudah menikahi gadis berisik dan juga terkesan bar-bar jika di bandingkan dengan gadis lain. Satya menggelengkan kepala saat mengingat kembali wanitanya itu membuka bajunya dengan santai di hadapannya.


“Awas aja kalau hal itu lu lakuin di depan lelaki lain. Bakalan gua karungin lu. Gak akan gua kasi keluar lagi,” ucap Satya dengan senyuman dan merasa geli dengan apa yang di ucapkan sendiri.


Satya membereskan buku-buku yang di berantakin oleh istrinya, setelah memindahkan istri berisiknya.


Kini Satya sudah duduk di samping Bian berbaring. Rambut lurus, panjang, lebat dan juga hitam legam milik Bian tak hentinya di belai oleh Satya. Pemuda yang terus memikirkan hari esok yang harus menghidupi dan mencukupi kebutuhan si gadis yang pernah meluluh lantakan hatinya.


Pandangan terus menerawang ke masa depan di buyarkan oleh suara serak yang terus meminta ampun dan memohon untuk di lepaskan.


“Ampuuunn bang, ampun… tolong lepaskan saya….”


 


 


 

__ADS_1


Bantu Author dengan Vote, like dan juga komen ya. Satu like kalian bisa memberika 1% semangat yang author miliki di samping kelelahannya. Kalian adalah penyemangat ku. luphiyu aya sayang-sayangku


__ADS_2