Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Bidadari vs Iblis


__ADS_3

Pagi menyapa dan Bian sudah tidak ada di sampingnya ketika Satya membuka mata. Satya berusaha mencari istrinya. Sempat satya berfikir jika dirinya tengah bermimpi sudah menikahi gadis cantik berambut panjang.


Satya beranjak dari tempat tidurnya dan berniat untuk mengambil air wudhu sebelum sholat subuh. Dalam kamar mandi, Satya tersenyum melihat baju tidur milik wanita tergantung di belakang pintunya.


Setelah sholat subuh, biasanya Satya langsung tidur lagi. Tapi tidak lagi untuk saat ini dan seterusnya. Satya memilih untuk ke ruang kerja Ayahnya dan membantu menyiapkan dokumen.


Satya melihat Bian tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk semua. Di bantu oleh sang Bunda, Bian terlihat sangat menawan.


"Penter juga kamu memilih istri, Bundamu gak berhenti memuji kecekatan dalam meracik bumbu masakan," ucap Affandi yang memuji pengantin baru di depannya.


"Alwa juga heran Yah, dari mana gadis ceroboh seperti dia bisa membedakan mana ketumbar dan mana merica." Jawab Satya sambil tersenyum bangga.


"Ayah harap kalian itu akur, dan jangan ada orang ketiga di antara kalian." Affandi mengingat kesalahannya dulu.


Affandi tak ingin kesalahannya terulang lagi pada putra semata wayangnya. Affandi sebenarnya juga takut jika Vano mengajari putranya yang bukan-bukan.


"Satya, Ayah. Sarapan dulu," ucap Bian di tengah pintu.


"Sudah jam berapa sih ini?" tanya Affandi pada menantunya yang baru saja datang.


"Sudah jam enam Yah," jawab Bian sambil melihat jam di dinding ruang tengah.


"Ya sudah kalian bersiap saja, biar Ayah yang lanjutkan." Affandi menata berkas yang hendak di bawanya.


"Ya sudah Yah, Alwa siap-siap dulu" Satya dan Bian bersiap untuk ke sekolah.


Seragam dan beberapa baju Bian sudah di antarkan oleh kakaknya. Jadi Bian sudah tinggal memakainya.


"Bian, lu pakai mobil gua apa mau makek mobilnya Pandu?" tanya Satya yang tengah sibuk dengan seragamnya.


"Gue bareng sama elu aja lah Sat, males gua kalo harus bawa mobil sendiri." Jawab Bian yang sedang berhias di depan cermin dengan berdiri.


"Lu dari tadi gak kelar-kelar sih? Banyak banget rangkaian make up lu. Padahal juga sama aja," cibir Satya pada istrinya yang kini tengah mengoleskan krim pada wajah miliknya.


"Satya, memiliki kulit halus dan bercahaya itu gak di dapat dengan bantuan tepuk tangan dari pak Tarno. Atau bantuan Jini oh Jini yang tinggal cring langsung cantik. Semua butuh proses dan perawatan yang rumit, biar di kata sama aja. Emang mau lu, kalo punya istri burik? Jerawatan? Atau lebih parahnya lagi kusam dan juga dekil? Enggak kan?" cerocos Bian membuat Satya gemas lalu mecubit hidungnya.

__ADS_1


"Tapi gua lebih suka elu polosan," goda Satya mencolek dagu istrinya.


"Kalau di suruh ngerawat istrinya selalu bilang, Aku suka kamu yg apa adanya, terlihat polos dan juga natural. Tapi kalo liat cewek cantik lewat, matanya melotot hampir copot. Dan ketika suaminya di gondol pelakor yg lebih cantik, yang di salahin istrinya. Salah sendiri kamu bulukan, salah sendiri kamu gak pinter merawat diri. Padahal, suaminya kalo di suruh modalin istrinya gak mau." omelah Bian semakin membuat tawa Satya pecah sampai membuat orang tuanya yang mendengar di luar kamar hanya menggeleng kepala.


"Bukan begitu sayang, gua itu suka elu polosan. Tanpa apapun, bukan masalah elu perawatanya yang mahal." Bisik Satya pada Bian yang sedang memoles bedak di pipinya.


"Iiissss kumat, mesumnya." Satya hanya terbahak mendengar reaksi istrinya.


"Maaf, gua akan berusaha buat memenuhi semua kebutuhan dan keperluan elu. Mulai hari ini gua kerja di cafe milik Ayah yang ada di Mall A. Lu mau ikut?" tanya Satya yang merapikan buku yang hemdak di bacanya.


"Hmm, gak usah deh. Gue mau mengenal keluarga elu dulu. Secara selama ini gua gak pernah memberi nilai baik buat keluarga elu," ucap Bian mengambil tas miliknya.


"Untung deh kalo elu sadar. Ayah sama Bunda itu menganggap elu gadis bar-bar asal lu tau. Bahkan Ayumi lebih baik dari pada elu," ucapan Satya membuat mood gadis pemilik lesung pipi saat senyum itu rusak.


"Ngapa nikahnya sama gue kalo yg baik itu Ayumi?" teriak Bian sebelum meninggalkan Satya di kamar sendirian.


"Hmmm anak-anak ini. Apalagi yang di ributin pagi-pagi," ucapa Affandi yang melihat Bian pergi tanpa sarapan.


"Alwa!!!" panggil Vindya saat melihat putranya keluar kamar.


"Apa yang kamu lakuin sampek istrimu berani meneriakumu?" tanya Vindya.


"Gak ada Bunda," ucap Satya santai dengan memakan sarapan yang tersedia di depannya.


"Kenapa bawa-bawa Ayumi?" selidik Affandi pada putranya.


"Cuma bilang kalo Ayumi lebih baik di mata Ayah dan Bunda dari pada cewek bar-bar seperti dia." jawab jujur Satya akan pertanyaan Ayahnya.


"Kamu tau itu sangat menyakiti hatinya? Hati wanita itu seperti lapisan es yang baru saja membeku Alwa, mudah hancur. Memang bisa membeku kembali, tapi masih berbekas meski samar. Dan itu sungguh menyeramkan," tutur sang Bunda membuat Satya tersadar akan kesalahannya.


"Ya Bunda, maaf," Satya beranjak ke dapur dan mengambil kotak bekal yang biasa di gunakannya.


"Untuk apa itu?" tanya Vindya heran.


"Bian belum sarapan Bunda," Satya mengisi kotak bekalnya dengan nasi dan lauk pauk yang tersedia di meja makan selain yang berkuah.

__ADS_1


Satya berpamitan lalu berangkat ke sekolah dengan mengendarai mobilnya.


***


Bian terlihat duduk di kantin dengan nasi uduk di depannya. Michael yang melihatnya pun langsung duduk di depannya.


"Tumben sarapan di sekolah nona?" tanya Michael basa basi basah.


"Di rumah lagi ada garong ngamuk. Jadi males buat sarapan," ucap Bian santai dengan menyantap nasi uduknya.


Bian masuk kekelas ketika bell berbunyi dan ujian sudah hampir dimulai. Satya yang sudah datang dari setengah jam yang lalu pun heran, kemana saja istrinya ini pergi.


Bian duduk di samping lelaki pemilik badan gempal dan tinggi tanpa mengajaknya berbicara.


Try out kali ini tidak menggunakan nomer atau mengacak tempat duduknya. Bian yang duduk di samping lelaki pemilik mata sipit namun terlihat tajam karena alis yang di miliki sangat tebal dan hitam, hanya mampu diam dan fokus pada lembar jawaban dan soalnya.


Waktu satu jam yang di berikan oleh pihak sekolahan pun sudah hampir habis. Namun banyak siswa yang masih mengerjakan soal matematika yang ada di meja mereka.


Satya dan juga Bian rupanya sudah selesai mengerjakan soal ujian. Hanya saja, mereka masih enggan untuk mengumpulkan. Dengan alasan ingin memastikan ulang jawaban mereka.


Bel pun sudah berbunyi, pertanda berakhirnya waktu yang di berikan untuk siswa mengerjakan soal ujian. Satya sebagai ketua kelas, di tunjuk untuk mengumpulkan kedepan. Kertas jawaban miliknya juga milik teman-teman sekelasnya.


Setelah mengumpulkan ke depan, Satya kembali ketempat duduknya.


"Maaf," ucap Satya sambil mengeluarkan kotak nasi yang di bawanya.


Bian tersenyum menunjukkan lesung pipinya saat mendengar suaminya meminta maaf padanya. Melihat senyum mengembang di bibir wanita terkasihnya, yang entah dari kapan rasa itu muncul Satya sudah merasa bahagia.


"Terima kasih. Tapi, aku masih kecewa dengan kamu. Maaf," ucap Bian menundukkan kepala.


Di kelas yang hanya tersisa mereka berdua pun, membuat Satya leluasa mengungkapkan apa yang seharusnya di ungkapkan pada sang istri.


"Gua tau, karena memang itu kebodoohan gua. Membandingkan bidadariku dengan iblis," Bian tersipu malu.


Namun Satya sedang tersulut emosi. Ayumi, sudah membuatnya merasa kecewa sudah menolongnya. Merasa di bongongi dan di khianati oleh gadis berambut bergelombang itu.

__ADS_1


__ADS_2