Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Arti kesetiaanmu menurut Author


__ADS_3

Setelah masalah dirinya dangan sang istri terselesaikan. Fariz segera membersihkan diri sebelum mengistirahatkan badan kasarnya yang lelah.


“Fariz, besok aku mau ikut mama ke rumahnya oma. Kamu ikut juga ya,” Ajak Wina pada suaminya yang baru saja keluar kamar mandi.


Dengan menggosok gosokkan rambut basahnya, Fariz hanya mengangguk kecil. Entah hanya perasaan Wina saja atau memang lelakinya itu sudah berubah dalam hitungan menit. Fariz terlihat lebih cuek dan seakan tak menganggap WIna ada.


Wina berusaha menyembunyikan rasa anehnya dan juga rasa cintanya. Saat ini menjasi orang yang cuek adalah jalan yang baik untuk di tempuh.


Wina berjalan ke arah lemari khusus miliknya dan mengambil baju tidur miliknya. Bukan untuk menggoda, tapi Wina merasa malas jika untuk ke kamar mandi mengganti baju,


“Apa kau menggodaku?” rupanya Fariz masih menganggapnya ada.


Dengan mengenakan dalaman saja, Wina di peluk dari belakang oleh sang suami.


“Apa aku masih terlihat menggoda? Ketika kau sudah pernah di raba oleh wanita sexy dan juga bahenol?” tanya Wina yang berusaha menyingkir dari pelukan Suaminya.


“Tapi hanya kamu yang halal untuk ku sentuh,” nafas yang seakan memburu kini menggelitik di leher belakang Wina.


“Terus kalau ada wanita selain aku yang bisa kau sentuh. Apa kau lebih memilih menyentuhnya?” pertanyaan yang mungkin berat bagi seorang yang hanya ingin setia.


“Aku akan tetap menyentuhmu, setelah itu aku juga akan menyentuh dia. Aku bukan orang yang rakus untuk menyentuh kalian bersamaan,” ketika Fariz sudah terbang dengan nafsunya.


Rupanya istrinya tengah jengkel terhadapnya.


“Enak aja mau lakuin barengan,” pukul Wina pada lengan kekar yang melingkar di perutnya.


“Aduh, sadis sekali sih istriku ini. Kan tadi juga sudah aku bilang kalau aku bukan orang rakus. Jadi ya jalan satu satunya cuma bisa menggilir kalian,” jawab Fariz dengan menggosok lengannya yang di pukul Wina.


Kesempatan ini pun di manfaatkan Wina untuk meloloskan diri dan segera memakai bajunya.


“Kalian siapa?” tanya Wina yang sidah mengenakan baju tidurnya.


“Siti Aisyah mungkin kalau dia mau,” jawab Fariz sekenanya.


“Siti Aisyah? Siapa itu?” Tanya Wina yang kembali tersulut api cemburu.


“Itu penulis novel SAHABAT? Sama Dia Gadisku, masak gak tau sih?” tanya Fariz kembali sembari menggoda Wina.


“Hahahahaha, dia mau sama kamu yang masih anak sekolah kelas dua SMA? Dia itu suka sama yang sudah mateng, biar terbilang brondong juga. Lagian dia kan lagi gila sama SUGA BTS. Kamu mah lewaaaaaaatttt” Wina menertawakan kebodohan suaminya yang merekomendasikan seorang ARMY menjadi madu dalam rumah tangga mereka.


“Cih, apa sih hebatnya SUGA itu di bandingkan aku?” cibir Fariz.


“Dia itu keren, ganteng juga senyumnya itu yang bikin para ARMY ambyar,” jelas Wina.


“Hilih, biar ambyar seambyar ambyarnya hati tu author juga tetep kagak bisa dapein itu si SUGA. Lagian kerjaannya cuma bisa ngehalu aja bangga,” faris kembali mencibir.


“Itu mulut di jaga ngapa sih, kamu tau tidak orang yang kerjaannya mengarang itu susah. Otaknya harus banyak, gak cuma mikirin satu aja. Jadi orang jangan suka menghina kemampuan orang yang mungkin kamu juga gak bisa, hargai pekerjaan orang. Lagian kalo dia gak ngehalu, kagak bakalan kamu itu tercipta. Syukuri kamu itu di diskripsikan menjadi orang yang sempurna selayaknya SUGA, padahalan mah, gatot.” omel Wina.


“Lagian tu orang suka ngasal kalo bikin cerita. Sekarang nempatin kita di novel dia yang judulnya KESETIAANMU, tapi isinya malah gak ada yang setia. Dari jamannya Ayah Affandi sudah gak setia, terus Ayah Vano juga nikah dua. Bang Satya juga kepincut cewek bar bar, dan sekarang kita di bikin adanya Mentari. Kesetiaan dari mana coba itu.” geram Fariz.


“Novel kesetiaanmu itu di bikin kenapa penuh dengan pelakor? Karena penulis itu mau menyampaikan jika mempertahankan jauh lebih baik dari pada harus mencari yang lain. Inget, Cinta yang tulus itu selalu memberi kesempatan kedua, bukan ke tiga.” jawab Wina santai dengan memposisikan dirinya di samping Fariz yang sudah merebahkan diri.


“Kenapa gak ada kesempatan ketiga?” Tanya Fariz.


“Karena kesalahan itu hanya di lakukan satu kali. Makanya adanya kesempatan kedua. Dan jika kesalahan itu di lakukan kembali itu namanya kesengajaan atau atau sebuah perencanaan. Itulah kenapa tak ada kesempatan ketiga, jika ada kesempatan ke tiga. Maka akan adanya kesempatan keempat dan kelima hingga tak terbatas. Kenapa? Karena si pelaku akan menyepelekan si pemaaf.” jelas Wina yag sudah menutupi dirinya dengan selumut tebalnya.


Malam ini hujan turun sangat derasnya, membuat mereka merasa kedinginan menusuk tulang. Wina merasakan sesuatu yang aneh di belakangnya. Posisi memunggungi sang suami rupanya bukan posisi aman untuknya.


“Kamu mau apa? Besok kita sekolah, makanya sekarang kita harus istirahat yang cukup,” Wina langsung mengubah posisi tidurnya sengan menghadap pada suaminya.

__ADS_1


“Maaf, si dedek gak bisa di kontrol. Bayanganmu tadi masih berkeliaran di kepalaku,” bisik Fariz dengan mata yang sudah tertutup.


“Tunggu setahun lagi kita lulus sekolah baru bisa belah duren,” tegas Wina.


“Ok, mulai besok siapin sabun batang yang banyak. Jangan lupa lotion juga stocknya di tambah,” Fariz sudah bangun dari tidurnya karena mendengar jawaban sang istri.


“Buat apa?” tanya Wina heran.


“Buat aku jadiin selingkuhan.” gantian Fariz yang kini memunggunginya.


Wina tertawa mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya. Wina mengerti sih apa maksud dari suaminya, hanya ingin menggoda suaminya saja. Wina pun tidur dengan memeluk Fariz dari belakang.


Pagi sudah menyapa kedua orang yang sudah bersiap untuk ke sekolah. Aroma segar embun pagi yang menyapa mereka saat membuka pintu rumah. Memasuki mobil yang sudah di persiapkan di depan pintu.


Jalanan yang terdapat beberapa genangan air akibat hujan malam tadi membuat Wina malas untuk turun dari mobi.


“Sayang, bias gak sih kita bawa mobil sampai depan pintu kelas?” Tanya WIna.


“Bisa, kalau kita meminjam mobilnya Ron yang di harry poter,” jawab Fariz.


“Kenapa harus minjem dulu sayang?” Tanya WIna polos.


“Karena hanya mobilnya Ron saja yang saya tau bisa terbang. Kan kelas kita ada di lantai dua,” dengan lemah lembut Fariz menjelaskan meski sebenarnya dirinya sangat malas..


Dengan terpaksa Wina keluar dari mobil mereka dan berjalan menjinjit dan sedikit melompat-lompat menghindari genangan air yang bercampur dengan lumpur.


Sesampainya di kelas, Wina lagsung melemparkan bokongnya kasar pada bangku kayu di depan guru nomer tiga. Wina duduk dengan Arin sepupunya, meski sering berantem namun keduanya tak pernah berniat untuk menjelekkan satu sama lain.


“Fariz, kamu di cari pak Mustafa,” panggil Yohanes yang baru saja keluar dari kelasnya.


“Ngapain?” Tanya Fariz malas.


“Mana aku tau, kan dia yang manggil kamu. Bukan aku,” jawab Yohanes dengan gaya slengekannya.


“Ah, yang bener kamu!” Yohanes sudah terbakar api cemburu rupanya.


Fariz meninggalkan Yohanes yang masih penasaran. Dengan siapa gadis pujaan hatinya itu boncengan. Fariz merasa puas sudah membuat temannya itu di bakar api cemburu di pagi hari.


Setelah menemui Mustafa yang meminta pendapat tentang kedua kandidat penggantinya. Fariz keluar menuju kelasnya karena sudah di mulai jam pertama.


Jam pelajaran terakhir adalah obat tidur. Ya, matematika di jam terakhir itu sudah bagaikan obat tidur bagi murid. Karena rumus yang membingungkan, sering kali itu membuat mata menjadi berat.


Berasa di nina boboin, tak sedikit para murid yang menguap. Atau bahkan menutup matanya tak sengaja. Seperti saat ini, Rojali selaku ketua OSIS periode kedua tengah tertidur dengan bertopang dagu.


Guru pun datang dengan mengipasi dirinya yang memang saat itu cuacanya gak baik. Karena Rojali berbicara di sela sela tidurnya pun membuat Guru itu semakin gemas.


“Kamu tau Rin? Kalo aku itu masuk IPA hanya untuk mencari ilmu kepastian untuk masa depan kita di pelajaran matematika.” begitulah sekilas yang di dengar oleh guruya.


“Memangnya kenapa di IPS sama BAHASA?” tanya guru itu, sedangkan yang lain memperhatikan dan bahkan ada yang sengaja memvidio.


“Karena aku tak suka sama sejarah. Sudah tau sejarah, itu berarti cerita yang sudah berlalu. Sedangkan cerita kita baru saja di mulai, seharusnya di lupakan saja,” begitulah jawaban Rojari yang mengundang tawa teman satu kelas.


“Benar kah? Tapi aku terharu lo dengan kisah cinta di masa lalu,” kata guru yang masih bersetatus lajang itu jail.


“Kisah cinta siapakah yang membuatmu terhari? Roro jonggrang yang licik karena menggagalkan usaha Raden Bondowoso membuat seribu candi seperti permintaannya? Itu sih salah dia sendiri sayang, kalau gak mau ya tinggal bilang saja jangan memberi harapan. Benarkan yang di lakuin Raden Bondowoso yang mengutuk menjadikannya sebagai pelenkap 1000 candinya.” jawaban panjang yang di lantunkan Rojali yang masih setia dengan dunia bawah sadarnya.


“Tapi kan Raden Bondowoso sudah membunuh ayah dari Roro jonggrang.” selidik Guru bernama Abigil itu.


“Yang namanya perang itu tak mengenal keluarga atau papa siapa sayang, hanya ada kemenangan di dalam tekad. Sama kaya perjuanganku mendapatkanmu, aku tak mendengarkan kata orang yang mengatakan papamu sianga.” jawaban Rojali yang masih dengan gombalannya.

__ADS_1


“Kalau itung itungan matematika, aku dan kamu itu gimana?” Tanya Abigil yang masih menggoda muridnya yang masih tertidur pulas.


“Kalo matematika itu selalu ada Sin Cos Tan. Tau gak artinya apa? SINi keCOS aku TANgen,” jawab Rojali dengan senyum antara sadar dan gak sadar.


“Terus?”


“Satu di tambah satu itu ada dua, tapi kalo aku di tambah kamu itu jadi kita hihihihi,” Rojali terkiki namun hanya sebentar. Setelah itu dirinya seperti ada tepukan dari samping.


Ya Abigil sudah capek tertawa pun membangunkan Rojali. Guru itu herang, kenapa bisa ketua OSIS yang sering terlihat garang itu ternyata bucin juga.


“Sudah, sekarang kalian bisa pulang. Dan kamu Rojali, kamu cuci muka dulu baru pulang,” ucap Anigil yang sudah sakit perut karena menahan tawa dari tadi.


Menuruti apa yang di ucapkan oleh gurunya, Rojali mencuci mukanya sebelum pulang yang memang sudah jam pulang. Sedangkan Abigil sebagai guru dan orang yang lebih dewasa pun merasa geli dengan apa yang terjadi.


Fariz menunggu Wina yang belum keluar dari kelasnya. Fariz melihat sesosok wanita yang di kenalnya di sebrag jalan. Fariz mendekati wanita itu untuk memastikan jika dia memang benar wanita yang pernah menolongnya saat mabuk.


“Al, jemput si kembar ya?” Tanya Fariz yang kini sudah duduk di bangku samping Almas.


“Iya lah, masak iya jemput suami orang,” jaawab jutek Almas.


“Laaaahhhh, masih suka DJ?” Tanya Fariz dengan memandang mata cantik Almas yang berbentuk lebar dan sedikit menonjol di tambah dengan bulu mata lentik nan panjang alami menambah keindahan dalam wajah ayunya.


“Masih, tapi sudah gak seperti sebelum lo masuk Wings. Dunia gue berasa hambar,” Almas membalas tatapan yang di lontarkan lelaki pemilik mata tak terlalu lebar namun terkesan tajam karena dia jarang tersenyum.


Diri Fariz merupakan misteri yang terbesar bagi Almas. Entah apa yang di miliki pemuda beristri dua itu. Pemuda yang membuat dirinya terjatuh dalam jurang paling curam dalam sekali pertemuan.


“Fariz,” panggil Wina yang mendapati suaminya yang bertukar pandangan dengan kakak sepupunya.


“Pamit ya,” pamit Fariz sambil memainkan salah satu alisnya yang semakin membuat jantung Almas berdetak lebih kencang.


Selepas kepergian Fariz, Almas langsung menghampiri kedua adiknya, Arin dan Arvy. Saat baru sampai di hadapan mereka, Almas di kejutkan oleh salah satu sahabatnya yang dulu sempat pamit untuk kuliah di luar negri.


Mustafa adalah sahabat Almas sedari SMP hingga SMA. Sudah tak ada kabar lagi setelah perpisahan mereka selepas lulus sekilah.


“Almas jamaludin!!!” teriak Mustafa yang berjarak tak jauh darinya.


“Heiiii Mustajiiiiimmmm apa kabar lo?” Teriak Almas yang teramat senang.


“Ancur, elu sendiri gimana? Tapi lu gak pernah berubah ya, rambut udeh kaya gulali. Ganti ganti mulu warnanya,” tangan Mustafa yang menjambak kasar pada sahabatnya setelah berpelukan hangat.


“Ancur gimane? Gua udah jadi DJ dong di Wings. Lo lama sekali gak nongol, eh btw angcur kenape?” Tanya Almas heboh.


“Panjang ceritanye, elu entar malem kemane? Gua cari elu dah,” ucap santai Mustafa yang tak pernah terucap sebelum ini di hadapan anak muridnya.


“Ini alamat apartemen gua, lu kesono aja entar jam dua belas malem,” Almas menyodorkan kertas berisi alamatnya.


“Buset, gak takut di grebek lu?” cibir Mustafa.


“Biar aja di grebek, itu lebih baik buat gue. Bisa cepet nikah, apa lagi sama elu,” Almas menggoda duda kembang.


“Baiklah kalau begitu. Mereka adik elu?” Tanya Mustafa melihat kedua anak didiknya.


“Iya, emangnya gak mirip ya?”


Obrolan mereka terputus karena Aris yang mengeluh lapar. Mereka bertiga pun langsug meninggalkan sekolah si kembar juga beberapa orang yang di kenalnya.


Almas telah sampai di apartemennya setelah mengantar kedua adiknya. Almas mendaratkan badannya pada sofa dengan keras. Dirinya tak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang pernah mencuri hatinya.


Tak tahu harus bagaimana lagi dengan Fariz. Kini malah muncul lagi seorang Mustafa kembali dalam hidupnya. Susah payah melupakannya, dengan gampang dia kembali pada dirinya seakan tak berdosa.

__ADS_1


Mencintai seseorang itu memang bukanlan dosa, tapi siksaannya nyata jika tak terbalas. Di tinggal saat sayang sayangnya, sungguh menyakitkan. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyembunyikan luka hati itu. Tapi apa dia tau tentang perasaan Almas?


Jawabannya adalah TIDAK! MUSTAFA TAK MENGETAHUI PERASAAN ALMAS YANG TERAMAT PINTAR MENYEMBUNYIKAN RASA SUKANYA.


__ADS_2