
Selama sebulan Vano tidur di sofa ruang tamu. Selama itu juga Nadih hanya berbicara seperlunya. Bukan benci tapi Nadin mau memberi hukuman untuk suaminya agar jera.
Pagi ini karena hari libur Vano males bangun, setelah sholat subuh ke masjid yg bertempat di samping apartemennya. Vano kembali tidur dan membiarkan Nadin masak sendirian di dapur.
Pagi pagi gini tumben masak, biasanya juga nasi goreng ato enggak roti aja. Batin Vano tapi tak ambil pusing.
Nadin memasak hingga jam 8. Menata dengan cantik di atas meja makan. Nadin kembali ke kamar untuk membersihkan diri. jam menunjukkan di angka 9 Nadin keluar kamar berbarengan dengan bel berbunyi.
Vano mendengarkan tapi karena males, makanya menghiraukan suara bel terus berbunyi. Nadin melihat kelakuan Vano makin membuatnya jengkel dan hanya membiarkan saja tanpa kata. Nadin membuka pintu dan seketika membuat Vano meringsut dari tempatnya.
__ADS_1
"Ngapain lo tidur di sini Van?" Tanya Vinya.
Sebelum Vano menjawab Nadin mendahuluinya. "Kami pisah ranjang kak." Dengan santainya Nadin melenggang ke arah meja makan.
Vindya dan Affandi terdiam di tempat mendengar ucapan sang adik ipar. Vindya tak pernah berfikir begitu tega adik iparnya membiarkan Vano adik tersayangnya itu tidur di sofa. Affandi merasa bahwa masalah di Bandung belum selesai tapi Nadin tak mau membuat masalah lagi dengan mengadukan Vano kepada keluarganya.
Nadin hanya diem saja dengan pertanyaan kakak iparnya itu. Nadin rela mendengar ocehan kakak iparnya dari pada menceritakan kegagalannya menjaga suaminya. Affandi melihat Nadin pasrah saat sang istri ngomel membuatnya tak tega.
"Yang, apa gak kita dengar dulu apa alasan Nadin perlakukan Vano sampai kayak gini? dari yg sudah sudah kan Vano yg salah. Jangan menyalahkan Nadin dulu lah, Sayang kan juga pernah lakuin itu ke kakak. Tapi bedanya kita pisah rumah sedangkan Nadin dan Vano pisah ranjang. Mungkin mereka tak mau kalo ada yg tau tentang masalah ini." Ucapan Affandi yg membuat Vindya berhenti mengomel.
__ADS_1
"Kakak gak salah kok bang, memang gue sebagai istri gak bisa menjaga keharmonisan keluarga. Buktinya setiap di suruh ke rumah orang tua ato pun kerumah abang, Nadin cuma mencari cari alasan. Memang bener Nova, Maya, Ratna juga Velli lebih baik mendampingi Vano bukan Nadin. Nadin menyerah sampai disini!!" Nadin beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar.
Vindya Vano juga Affandi mematung di tempat. Mendengar Nama keempat perempuan dari mulut Nadin untuk Vano, Vindya hanya mampu menutup mulut dan memandang tajam ke arah Vano yg tengah tertunduk. Nadin keluar dengan menggandeng koper besarnya. Vano melihat itu langsung bersujud di hadapan Nadin.
"Yang gue mohon jangan tinggalin gue, gue udah nurutin semua apa yg lo mau. Pliss jangan tinggalin gue. Gue gak masalah kok tidur di sofa, tapi tolong jangan pergi dari sini, jangan tinggalin gue. Gue mohon Nad, jangan masukin ke hati omongan Vindya...." Vano menangis di kaki Nadin.
"Kakak lo bener Van, gue udah gagal membangun rumah tangga sama lo. Gue gak bisa jaga elo, membuat gue satu satunya buat lo. Sekarang gue bebasin lo jalan dengan cewek cewek lo. Hati gue kuat bukan untuk di hancurkan terus menerus. Tapi Hati gue kuat hanya untuk menghadapi ujian kehidupan bersama bukan sendirian."
"Tolong jelasin." Vindya semakin menunjukkan raut muka penuh amarah.
__ADS_1