Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Ulah Ratna


__ADS_3

“Sayang, setelah mengenal kamu rasanya Abang jadi ingin terus belajar,”


“Hah? Memangnya Abang dulu bodoh?” Tanya Bian mendengar Satya yag terus menatapnya.


“Belajar mencintaimu,” jawab Satya senyum senyum.


“Abang belajar gombal dari mana?” Tanya Bian gemes.


“Darimu yang selalu ingin aku bahagiakan.” Satya menarik Bian yang duduk di sampingnya agar lebih mendekat padanya.


“Kebahagiaan yang aku mau cuma ada kamu. Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku,” ucap Bian.


“Abang yang seharusnya mengatakan itu Dek, Abang gak mau jika adek meninggalkan Abang.”


Keduanya menikmati waktu berdua saja tanpa siapapun di rumah besar berlantai dua milik kakeknya. Satya dan Bian menempati kamar Ayahnya di lantai atas. Dengan pemandangan luar atap atap tetangga dan juga pepohonan yang menjulang tinggi.


Langit malam yang terlihat dari balkon kamar mereka. Menambah keindahan malam Bian yang mendisain kamar Ayahnya dengan gaya impiannya.


Waktu seminggu cukup untuk merombak ulang kamar yang di tempatinya. Bian memasang kasur lantai di salah satu sudut, dengan banyak bantal. Dan di sudut lainnya di tempatkan dua kursi dan meja kecil di tengahnya.


Pembantu yang di pekerjakan sang kakek hanya datang di pagi sampai sore untuk mengurus rumah dan memasak. Namun karena memasak adalah hobi dari Bian maka, pembantu hanya mengerjakan tugas rumah seperti bersih bersih dan juga menyetrika. Karena mencuci sudah di lakukan Bian.


“Bunda, jadi ke rumah Oma Agnes?” Tanya Bian saat menelfon mertuannya di sela sela kuliahnya.


“Jadi sayang, kapan kamu akan berangkat ke sana?” Tanya Vindya yang sedang memasak saat menerima telfon menantunya.


“Besok sore aja gimana Bun? Jadi minggu sore bisa balik ke rumah. Bian banyak tugas soalnya bun,” usaul Bian.


“Boleh deh, besok sore kan Ayah pulang siang itu. Jadi kita bisa ketemu di sana sorenya,” ucap Vindya menyetujui usul menantunya.


Setelah mendapat kepastian dari sang mertua, Bian mengabari suaminya.


“Abang, Besok ke cafe apa enggak?” Tanya Bian yang mencari Satya di kelasnya.


“Enggak deh kayaknya, emangnya ada apa?” Tanya Satya sembari merapikan buku bukunya yang memang baru saja selesai kelas.


“Kita di suruh nginep di rumah Oma Agnes. Ayah sama Bunda juga kesana kok,” Bian membantu suaminya merapikan buku buku suaminya yang entah bagaimana ceritanya bisa berantakan.


“Oh iya lupa Abang, Dek,” ucap Satya.


“Bang ini gimana ceritanya bisa berantakan sih buku bukunya?” Tanya Bian gemas.


“Ada orang gila yang gak terima sama Abang, jadinya semua isi tas abang di keluarin dan di berantakin,” Jawab Satya yang merasa jengkel jika mengingat kejadian tadi.


“Hmm ya sudah deh, ayo ke kantin. Anak anak sudah menunggu di sana,” ucap Bian setelah memasukkan semua buku buku Satya ke dalam tas.


Bian dan Satya sudah berada di kantin dan bergabung dengan teman teman yang lainnya. Termasuk dengan orang yang sudah memberantakkan buku buku Satya.


“Ratna, kenapa kamu tega sekali sih sama suami saya?” Bian langsung menanyai gadis yang di tiggalkan oleh suaminya di saat masih sayang sayangnya.


“Lebih tega mana Suami kamu sama aku? Aku hanya mengacak ngacak bukunya, tapi dia sudah mengacak ngacak hatiku.” jawab ketus Ratna pada Bian yang sudah tersulut emosi.


“Itu karena anda yang bodoh, terlalu gampang untuk jatuh dalam perangkap mulut manis laki laki,” ucap Bian ketus.


“Lebih bodoh mana antara aku dengan kamu yang gak bisa menjaga bayi dalam kandungan…” ucapan Ratna terhenti karena gebrakan meja dari Satya membuat suasana hening dalam beberapa saat.


“Sudah, jangan menyakiti hati istriku. Musuhmu itu aku bukan dia! Dan aku tegaskan lagi. Yang membuat keguguran itu aku yang memaksa dia untuk melayaniku.” Skak mat bagi Ratna yang sudah terlalu jauh masuk ke dalam hidup Satya dan juga Bian.


“Kalau masih membahas hal ini saya lebih baik kehilangan teman dari pada saya menyakiti istri saya.Maaf teman teman,” Satya menarik Bian untuk pergi meninggalkan keempat orang yang ada di meja kantin tersebut.


“Kecewa gue sama elu Rat,” ucap Nurul sebelum meninggalkan teman kecilnya itu.

__ADS_1


“Nurul, jangan lupa semua rahasia elu sama gue. Gue akan sebarin ke semua orang jika elu masih tetap ninggalin gue,” Ancam Ratna pada seseorang yang sudah di menganggapnya sebagai saudara sendiri.


“Silahkan, gue sudah gak perdulu lagi.” Nurul berlalu meninggalkan Ratna yang masih merasa jengkel.


Sedangkan Michael dan Sasa hanya diam mematung dengan ucapan Satya dan di tambah dengan Nurul yang selama ini di kenalnya kalem.


“Tak ada gading yang tak retak, begitupun dengan sebuah persahabatan yang tak akan pernah abadi,” ucap Michael yang duduk di samping Sasa.


“Maksud kamu apa?” Tanya Ratnayang masih belum paham akan ucapan Michael.


“Intinya gue kecewa sama elu. Padahal Nurul selalu membela elu, terutama kemarin yang elu minta gabung bareng kita kita. Dia sampai janji elu gak bakalan gangguin hubungan Satya sama Bian lagi,” ucap Michael sebelum meninggalkan gadis cantik itu sendirian karena Sasa sudah pergi lebih dulu menyusul Nurul.


Nurul dan Sasa rupanya menyusul Bian dan Satya ke parkiran dan mencegat keduannya.


“Ijinin gue ikut kalian,” rengek Nurul dengan isak tangis yang tersisa.


“Kamu kenapa Dek?” Tanya Bian yang mendapati Nurul menangis di pelukan Sasa.


“Dia di ancam Ratna,” adu Sasa pada kedua orang itu.


“Emang gak bisa di biarin tu orang,” emosi Bian sudah mereda pun kembali tersulut ketika mendengae apa yang di sampaikan oleh Sasa.


“Dia bukan tandinganmu, yang ada dia bisa mati di tagan kamu,” Satya menghentikan Bian yang hendak mencari wanita itu.


“Cantik rupa saja memang gak pantas hidup Bang,” ucap Bian penuh emosi.


“Sudah, jangan di urusi lagi dia” Satya mencoba menenangkan kembali istrinya.


“Mana Michael?” Tanya Satya.


“Itu dia di belakang elu,” Mendengar itu membuat Nurul yang tadi menangis kini sudah tertawa karena Satya.


“Makanan sudah siaaaaapppp,” teriak Bian pada teman temannya yang berkumpul di gazebo belakang rumah kakek Satya.


“Sumpah, gue betah tinggal di sini.” Sasa dan Nurul terlihat sangat menikmati rumah tua namun terlihat sangat asri itu.


“Kalau kalian mau nginep juga boleh.” tawar Bian pada kedua teman ceweknya.


“Enggak, gue bisa di gorok abang nanti,” Jawab Nurul melirik ke arah Satya.


“Hahaha ya enggak akan lah, kalian itu sudah gua anggap keluarga. Kalau mau nginep ya silahkan,” ucap Satya pada teman temannya.


“Lu boleh nginep Rul, asal elu jangn ngajak uler itu masuk ke dalam rumah gue. Bia bisa laki gue di jilat sama dia,” ucap  Bian sambil melirik ke arah Satya.


“Sudah lah jangan bahas itu lagi sayang. Tenang, cintaku hanya untukmu seorang. Bahkan jiwa dan ragaku hanya kamu yang memiliki,” gombal Satya yang mendapat beberapa tanggapan dari tman temannya.


HUUUEEEEKKKKKKK


Sasa dan Michael juga Nurul berbarengan. Sedangkan Arkan hanya tersenyum pada tingkah mereka bertiga.


Keenam pemuda yang sedang menikmati makannya di kagetkan oleh kehadiran sepasang suami istri. Vindya dan Affandi datang berkunjung ternyata juga sangat kaget. Mereka di sambut oleh keramaian rumah yang biasanya sepi.


“Waduh pantesan rumah ini berasa sangat hidup. Rupanya ada banyak bidadari di sini,” goda Vindya yang melihat ketiga cewek cewek yang terlihat sangat cantik dan fress.


“Ah Bunda bisa saja, sini Bunda makan bareng. Masakan Bian sama Arkan enak banget lo,” ajak Sasa tanpa rasa malu.


“Arkan? Siapa itu?” Tanya Affandi yang baru mendengar nama itu di sebut.


“Itu pa, anaknya Om Zul, dia teman sejurusan Bian.” jawab Satya yang sama sama mengenal orang tua dari Arkan.


“Oalah, kamu anaknya Soni. Apa kabar papamu?” Tanya Affandi yang kini sudah bergabung di meja makan bersama yang lainnya.

__ADS_1


“Baik Om, cuma ya gitu. Kesehatan beliau masih sering main main.” Jawab Arkan.


“Makanya cepet di resmiin Lisa biar papa mama mu ada yang jaga. Kenapa terus mengulur waktu, ada yang menganggumu kah?” Tanya Affandi yang juga mengerti tentang perjodohan Arkan dengan salah satu cliennya.


“Masih nunggu wangsit Om, lagian nikah itu kan butuh waktu seumur hidup untuk berdua. Makanya Arkan ingin mengenal dulu,” ucap Arkan membuat Bian seperti kecewa tetapi entah apa yang membuatnya merasa seperti itu.


“Iya juga, tapi jangan lama lama, nanti hamil duluan juga malah masalah lo. Kalian sudah tinggal bareng kan?” Tutur Affandi yang mendengar semua ceritanya dari sang papa gadis itu.


“Karena itu om, jadi gak terasa greget lagi. Nanti deh Om kalau masalah resmiin mah gampang,” ucap malas Arkan yang seperti tak ingin membahas tentang gadis yang sudah tinggal di apartemennya.


“Ya ya, tapi kenapa kalau mau menunda kamu ijinkan tinggal di apartemenmu?” kembali Affandi mempertanyakan hal yang menjadi privasi sang bujang.


“Bukan Arkan yang mau Om. Kucing di kasi pindang, mana bisa menolak.” Senyum Arkan seperti sedang menikmati sebuah permainan.


“Hmmm, hati hati anak muda. Kalau kamu gak suka lebih baik kamu tinggalkan dan bilang ke orang tuannya, jangan seperti ini. Di tiduri tapi gak di nikahi,” tutur Affandi Lagi.


“Siap Om, nanti Arkan akan coba mereungkan diri siapa yang akan Arkan pilih,” seperti memiliki pilihan lain, Arkan menggantung dua wanita yang tak pernah tau itu siapa.


“Sudah dong Ayah, jangan bahas itu lagi. Sekarang kita nikmati aja makanan yang sudah Arkan sama Bian bikin,” potong Bian pada pembicaraan yang membuatnya sedikit kecewa.


“Ini sudah pasti enak, kan mantu Ayah yang masak.” tanpa malu malu lagi Affandi mengambil nasi dan juga lauk pauk yang sudah di sediakan.


Affandi dan Vindya pun akhirnya bergabung dengan keseruan keenam pemuda yang kini meramaikan rumah orangtuanya. Tak ada perbedaan usian di saat seperti ini, karena Satya dan Ayahnya rupanya sama saja. Memiliki kegilaan tersendiri dalam hal bercanda.


Arkan Nurul yang memang selalu manja pada Satya pun tak segan untuk duduk dengan menggandeng lengan sang abang. Affandi dan Vindya pun tak merasa heran lagi karena memang sudah seperti itu semenjak kecil.


“Ya sudah sekarang kalian lanjutkan saja, Om sama tante pamit. Ini juga sudah mau malam sekali. Kasian kakek di rumah sendirian. Kalian berdua baik baik ya, jangan suka berantem, Ayah sama Bunda gak ada untuk kalian dua puluh empat jam lagi. Jadi kalian harus bisa mengontrol emosi kalian,” tutur Affandi dan Vindya sebelum meninggalkan putra dan putrinya yang mencoba untuk berdiri sendiri.


“Iya Yah, kami akan berusaha untuk saling mengontrol emosi kami.” Jawab Satya ketika mengantarkan Affandi dan Vindya ke depan pintu rumah mereka.


“Hati hati Bunda, Bian selalu kangen sama Bunda,” peluk Bian yang enggan untuk di tinggalkan mereka.


“Sudah, besok kan ketemu lagi di rumah Oma sama Opa,” Vindya menghapis air mata yang sudah jatuh di pipi menantu yang terasa putrinya sendiri.


“Inget pesen Ayah Al,”


“Siap  Ayah,” Satya memeluk Bian menggantikan pelukan sang Bunda.


Keduanya kembali kedalam rumah dan menemui keempat tema temannya. Bian menghapus air matanya sebelum gabung kembali di tengah yang lainnya. Sedangkan Satya mendapat telfon dari salah satu karyawannya di depan teras.


“Lama bener sih kalian,” Protes Michael pada Bian yang baru saja datang dari dapur dengan membawa minuman yang baru saja di raciknya.


“Biasa mah, kalo anak mau di tinggal emaknya kan isi peluk peluk juga nangis nangis dulu. Nah gitu dulu gue tadi,” Bian menyuguhkan minumannya pada semua teman temannya.


“Hilih, emang dasarnya cengeng elu mah, pernah dia nangis di cafe kaya orang gila. Malu maluin banget,” Arkan mengingatkan kembali kejadian yang di alaminya bersama Bian di sebuah rumah makan beberapa bulan lalu.


“Elu emak temen laknat, gak bisa jaga rahasia.” Bian memukul mukul Arkan yang menceritakan aibnya.


“Iya iya ampuuunnn,” semua tertawa karena ulah kedua orang yang di kenalnya sangat tenang tapi nyatanya kedua orang ini juga memiliki selera humor yang tak kalah konyolnya.


“Sekali lagi lu ingetin gue yang itu, beneran mati lu di tangan gue,” ucap Bian dengan gelak tawanya di antara ancamannya.


Keenam orang itu kembali menikmati waktu bersama mereka. Tak ada yang namanya cemburu lagi antara Bian kepada Arkan dari Satya. Karena kini suami posesif itu tau, kedekatan mereka berdua itu karena dirinya.


Terlalu kejam dan juga tega karena sudah menduakan istri yang setia melayaninya. Satya selalu mengingat hal itu jika dirinya kembali di dekati teman kuliahnya atau bahkan pelanggannya. Satya kini selalu membatasi diri dengan yang lainnya.


Tak pernah ingin melihat air mata Bian kembali tumpah sia sia demi sirinya. Satya hanya berusaha dan berfokus untuk kebahagiaan sang istri. Penyesalan yang di ingat selama ii untuk perlakuan bejatnya jika memiliki rasa jenuh.


Bian sudah mengabdikan diri padanya, maka Satya berusaha dengan keras untuk kebahagiaannya. Bahkan setelah kehilangan calon janin mereka yang membuat Satya semakin mengenal cinta yang hanya untuk sang istri.


Tak berharap ada yang lain atau siapapun lain selain mereka berdua dan calon anak mereka. Saling menjaga hati adalah prinsip Satya saat ini. Memberikan kebahagiaan bagi keluarga kecilnya adalah tujuan utamanya

__ADS_1


__ADS_2