
Di minggu pagi Satya dan juga Bian sedang berada di lapangan tak jauh dari rumahnya. Acara car free day yang di adakan dua minggu sekali itu memang selalu ramai. Dengan mengendarai sepedah gayung, Satya dan Bian berkeliling lapangan yang lumayan luas.
Setelah tiga kali putaran akhirnya Bian tumbang juga. Duduk di rerumputan di sisi lapangan pun menjadi pilihan mereka. Dengan nikmati bubur kacang hijau yang di temani susu kedelai kemasan pun menjadi menu sarapan mereka berdua.
“Hai, kalian ke sini juga?” Tanya Bian saat mendapati ketiga temannya bersama dengan satu wanita yang mungkin masih memiliki dendam pada pasutri yang tengan mencoba untuk saling setia satu sama lain.
“iya, kirain kalian belum bangun jam segini.” Sasa duduk di samping Bian.
“Enak aja, istriku ini makmum setia salat gue ya asal kalian tau,” ucap Satya, entah di sengaja atau tidak. Yang jelas saat ini ada hati yang tengah hancur.
“Iya kah? Tampang ahli neraka kaya gini bisa salat?” Ejek Michael dengan mendorong Bian ke samping.
“Enak aja lu, biar tampang kaya ahli neraka tapi hati gue ini tetap seperti bidadari penghuni surga membawa kunci buat Satya.” jawab Bian yang tek terima di bilang ahli neraka.
“Iya deh bu nyai. Eh habis ini kalian mau kemana rencananya?” Tanya Nurul setelah meminum susu coklat miliknya.
“Pulang lah mau masak, nyuci, nyterika. Kerjaan istri itu banyak lah, gak kaya kalian yang bisa senang senang di hari libur.” Jawab Bian dengan penuh semangat dan juga senyumnya tak lepas dari bibirnya.
“Emang dasarnya kere, sekarang jamannya pembantu non. Gitu saja masih gak bisa mikir, biar di bilang istri teladdan!!” celetuk Ratna yang tidak suka dengan apa yang di dengar dari saingannya.
“Itulah bedanya kamu dengan istriku. Dia mengerjakan semua pekerjaan seorang istri, bukan kerja atau main dengan teman teannya.” Jawab Satya yang membuat Ratna semakin geram.
“Halah alasan aja. Dia seperti iku kan karena ada kamu saja Sat, buka mata kamu jangan mau di bodohi sama perempuan bar bar macam dia” Ranta memutar mata jengah.
“Lah iya dong gue ngerjain semua itu karena Satya, masak iya gue ngerjain itu karena elu. Yang ada bukan karena cinta, tapi karena gue pembantu elu,” ucap Bian dengan di barengi candaan dari teman teman lainnya.
“Uwu banget dah istrinya mas Satya ini. Ngemeng ngemeng boleh minjem sehari aja buat bantuin gue di rumah?” Tanya Michael menggoda Bian dan juga Satya.
“Lu udah punya pembantu, ***.” Satya menabok punggung satu satunya lelaki di sana selain dirinya.
“Buat bantuin gue yang lain lah,” Michael menaik turunkan alisnya dengan senyuman nakalnya.
“Enak aja, jatah gue semalem aja masih kurang!! makanya lu nikah sono biar gak senam tangan terus lu,” Ledek Satya pada Michael.
“Sa, kawin yuk….!!” Bian langsung memukul keras kepala teman somplaknya.
“Enak bener lu minta kawin, Nikah dulu baru kawin!!” gantian Bian yang mendorong Michael ke arah samping.
Canda tawa mereka, membuat pengunjung lapangan melihat ke arah mreka.Satya mentraktir teman temannya dengan bubur yang seprti di makannya. Namun teman temannya memilih teh hangat untuk minumannya.
“Kalian naik apa ke sininya?” Tanya Satya.
“Naik sepedah motor, noh,” jawab Michael menunjuk ke arah deretan sepedah motor matic di pinggir jalan yang memang di jadikan parkir sepedah motor.
“Terus kalian ke sini cuma niat cari sarapan gratisan?” Tuduh Bian yang pasti itu hanya gurauan saja.
“Kita bukan pengemis, ya!!” Ratna tak terima jika dirinya di samakan dengan kaum peminta minta.
“Ya terserah aja sih ya, lu nanggepin ucapan gue kaya apa. Tapi yang pasti gue nanya temen temen gue. Bukan elu!!” Bian tak kalah emosinya mendengar apa yang di katakan Ratna.
“Sudah sudah, ayo sayang kita pulang. Bunda pasti nyariin kita deh, kan kita gak pamit tadi,” Satya melerai adu mulut antara istri dan juga mantan selingkuhannya.
"Kita? lu aja kali," celetuk Bian membuat temant temannya kembali tertawa.
"Iya deh Eneng adeknya Abang. Aku dan kamu aja kalau gitu," Goda Satya dengan mencolek dagu istrinya.
Namun baru beberapa langkah, Bian malah berjongkok di samping Satya dengan memegangi celana trening suaminya itu
“Bang, adek capek kalau harus jalan ke sana. Jauh banget itu bang,” Bian merengek manja pada suaminya yang mendapatkan cibiran dari gadis cantik mantan dari suaminya.
"Dih, ya udah ayo." Biar pun Satya terlihat jengkel, tapi akhirnya dengan senyuman ikut berjongkok di depan Bian.
Bian di gendong oleh Satya sampai di perkiran sepedah milik mereka. Keduanya pulang keruma dengan sepedah masing masing.
__ADS_1
***
Ketika malam tiba saat keluarga Satya berkumpul bersama dengan Vano juga putri dan satu istrinya istrinya. Tiba tiba Nadin selaku istri pertama Vano merasa mual. Padahal pas makan malam tadi, Nadin makan dengan lahapnya.
Karena merasa penasaran, akhirnya Bian mengusulkan untuk membawa tante yang di panggil mama sama seperti sang suami ke klinik terdekat.
Akhirnya semua ikut mengantar Nadin ke klinik. Sesampainya di klinik, Nadin langsung di suruh masuk untuk pemeriksa. Bian yang baru pertama kali menemui hal seperti ini merasa sangat cemas.
Bian takut apakah ini karena makanan yang dia masak mengandung racun atau apa. Vindya melihat kekhawatiran sang menantu pun mendekatinya dan menenangkan gadis yang di nikahi putranya dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke sembilan belas.
“sudah lah nak, tenang. Mama Nadin gak bakalan kenapa kenapa,” ucap Vindya sambil membelai menantu yang kini sudah dalam dekapannya.
Selayaknya seorang ibu yang menenangkan putrinya, Vindya seakan tak pernah memiliki menantu. Karena sudah menganggap Bian seperti putrinya sendiri.
Nadin bersama Vano yang menemaninya ke dalam pun akhirnya keluar. Vano keluar dari ruang pemeriksaan pun dengan wajah yang sangat cerah. Sedangkan Nadin seperti orang yang mau menangis, etah apa yang terjadi sebenarnya. Tapi jujur, hal ini membuat Vindya dan Bian semakin khawatir.
“Ada apa sebenarnya Van?” Tanya Vindya penuh kehawatiran.
“Nadin hamil tiga minggu Vin, sumpah gue senang banget. Akhirnya gue bisa punya anak lagi,” Jawab Vano yang seakan tak pernah memiliki seorang putri dari istri keduanya.
“Apa??? jadi Nadin masih bisa hamil lagi?” tanya Affandi yang tidak percaya.
Pernah dokter yang menangani Nadin pas melahirkan mengatakan jika istri pertama dari seorang Vano sudah tidak bisa hamil lagi.
“Keajaiban itu selalu datang di saat yang sangat tidak terduga. Seperti saat ini, hanya menikmati kebersamaan. Allah ternyata mempercayai kami lagi untuk menjadi orang tua kembali,” ucap Vano yang terlihat sangat bahaga.
“Dokter itu hanya manusia yang sama seperti kita pa, bukan seperti Tuhan yang sudah pasti ketentuannya.” Bian menyambut kebahagiaan om papanya.
“Iya Bian, tapi om papa harus membayarmu. Karena kamu menang dan om papa kalah,” ucap Vano yang pernah teruhan dengan istri keponakannya tentang istrinya bisa hamil lagi atau tidak.
“Om papa, cukup doakan kami aja untuk segera menyusul,” ucap Bian sambil memeluk sang suami.
“Itu pasti.”
Kini semua kembali ke rumah masing masing. Dan untuk hari ini Nova tidak ikut, dan hanya putrinya saja yang ikut. Setelah mengantar Nadin ke klinik, Bian menjadi sedikit murung, hanya akan bicara jika di tanya. Vindya merasa adanya keanehan dengan diri menantunya pun langsung menanyainnya.
“Bunda, Bian bisa gak ya seperti mama suatu hari nanti?” Tanya Bian malu malu.
“Seperti mama? Mau di madu?” Tanya Satya yang langsung mendapat lemparan bantal kecil dari Ayah dan Bundanya.
“Mulut itu kalau ngomong di jaga!!” bentak Affandi yang duduk tak jauh dari putranya.
“Parasaan dulu Ayah besarin kamu dengan ilmu agama yang cukup deh. Pendidikan yang terbaik, tapi kenapa pemikiranmu seperti ini? Yang salah itu otakmu apa memang cara didik Ayah Bunda dan juga guru gurumu yang salah?” Geram Affandi.
“Dih, ayah. Bercanda Ayah, Satya juga gak mau membagi Bian lagi dengan orang lain,” ucap Satya yang mengingat betapa sakitnya saat melihat istrinya bersenda gurau dengan teman lelakinya.
“Ya sudah, sana kalian istirahat saja. Besok ada kelas gak?” Tanya Vindya yang melerai pertikaian kata antara Ayah dan anak di depannya.
Kedua pemuda pemudi yang sudah di satukan dengan pernikahan tanpa cinta pun masuk kedalam kamar. Seperti biasanya, Bian langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudu sebelum sholat berjamaah dengan sang imam dalam rumah tangga kecilnya.
“Bang, Adek pengen hamil.” Kata Bian setelah salat tepat setelah kedua salam kiri dan kanan.
“Apa?” Tanya Satya yang kaget dengan permintaan istrinya.
“Kamu pingin hamil?” Satya mengulang kembali pernyataan Bian.
“Iya,” jawaban singkat yang di berikan padanya pun membuatnya sedikit semangat.
“Ya ayo kalo itu,” seketika Satya langsung menggendong Bian yang masih mengenakan mukenanya.
“Ganti baju dulu lah,” ucap Bian yang sangat geli dengan reaksi sang suami.
“Oh, ok silahkan.” Satya memberi istrinya waktu untuk mempersiapkan diri.
__ADS_1
Sedangkan Bian sendiri sedang merapikan alat alat salat yang baru saja di gunakan. Setelah itu gadis kecil itu ke kamar mandi dengan membawa baju tidurnya.
Tak berapa lama Satya yang menunggunya di atas tempat tidur pun tercengang dengan penampilan istrinya.
“Terlalu berani kamu menggunakan baju kurang bahan ini sayang,” ucap Satya dengan pandangan menggoda gadis polos yang makin berani menunjukkan lekuk tubuhnya di hadapannya.
Dengan mengenakan baju tidur transparan warna putih bermodel kemeja tepat di atas lutut. Bian menaiki tempat tidur di mana suaminya menunggunya. Baju yang tak di kancing semuanya, Bian mendekatkan diri pada Satya yang sudah pasti tengah pusing.
“Kalau aku tidak berani, maka akan ada yang lebih berani lagi menggoda Abang di luar sana,” Bian menarik kerah kaos milik suaminya.
“Belilah yang lebih sexy untuk menggodaku sayang,” Satya langsing memeluk istrinya
Kecupan beralih menjadi ciuman, ciuman semakin panas. Hingga akhirnya pengadonan baby pun di mulai. Dengan Bismillah, Satya mulai membuka baju yang di bilang kurang bahan milik Bian.
Dua jam sudah berlalu dari puncak kenikmatan pertamanya yang membuat Satya tertidur pulas. Rasa lelah yang mereka rasakan rupanya tak membuat Bian melupakan untuk membersihkan diri. Rasa lengket dari keringat membuat Bian tak bisa tidur dengan nyenyak.
Bian keluar kamar mandi dengan mengenakan kembali baju tidur kurang bahannya. Bian mengelap tubuh satya yang lengket akibat keringat mengering dengan air hangat.
Dengan telaten, Bian membersihkan setiap inci tubuh suaminya. Setelah di rasa sudah cukup, Bian membaringkan diri di samping suaminya melanjutkan malamnya.
Pagi sudah menyapa dengan dinginnya air hujan yang sangat derasnya. Bian mengingat semua nasehat mertuanya untuk tak malu memulai duluan.
“Bang, Adek lagi malas bangun,” Bisik Bian tepat di telinga Satya.
“hmm? Tumben Adek malas bangun?” Tanya Satya merasa sedikit heran.
Memang tidak biasanya Bian sangat menggoda seperti saat ini. Biar terkesan aneh, tapi Satya masih menikmati keanehan yang istrinya tunjukkan.
“Hujan hujan gini emang bikin males, dingin.” Satya mengeratkan pelukannya pada sang istri.
“Tenang Abang, ada Adek yang akan menghangatkanmu,” ucap Bian membalas dekapan suaminya.
“Dek, kamu gak sedang kehabisan obat kan ini?” Tanya Satya yang semakin tak mengerti apa yang di fikirkan istri nya.
“Obat Adek ‘kan cuma Abang,” Bian memainkan jemarinya di wajah suaminya.
“Adek, bagian mana yang minta di garuk? Biar Abang bantu,” Satya yang merasa gadis polos miliknya sudah menjadi seorang wanita genit pun menawarinya untuk menggaruknya.
“Kalau Abang yang menggaruk, dia bagian mana pun Adek pasrah,” kembali Bian menggoda suaminya.
“Gak salat subuh sayang?” Tanya satya dengan senyum menantang.
“Adek mah, terserah Abang saja.”
Ronde kedua pun terjadi setelah rayuan demi rayuan terucap dari keduanya. Sekitaran jam setengah tujuh pagi Bian bangun dengan terburu setelah mandi besarnya membantu mertua untuk memasak sarapan.
“Suamimu belum bangun?” Tanya Vindya yang menyadari jika menantunya ini menghabiskan malamnya untuk mencetak cucu untuknya dari beberapa bekas ciuman berwarna merah keunguan di bawah telinga.
“Belum Bunda, nanti juga ada kelas sore, katanya agak siangan ke cafenya,” ucap Bian menjawab pertanyaan mertuannya dengan sopan.
Satu jam sudah Bian menemani mertuannya menyiapkan sarapan. Satya dan juga Affandi sang Ayah keluar kamar bersamaa. Bedanya jika Affandi sudah dengan pakaian formal ke kantornya, Satya hanya mengenakan baju santai untuk bekerja di Cafe yang didirikan papanya tersebut.
“Bunda, Alwa nanti ngajak Bian berangkat dari Cafe ya,” Satya meminta ijin pada Bundanya untuk membawa istrinya.
“Tumben, memangnya ada apa?” tanya Vindya yang pura pura tidak tau.
“Menantumu ini mulai ganjen, Alwa takut Bun,” ucap Satya santai.
“Emang Bunda yang ngajari,” ucapan Vindya tak kalah santainya.
Affandi dan Satya melongo mendengar jawaban wanita yang selama ini terlihat sangat kalem. Vindya seorang Bunda yang terlihat sangat maskulin pun ternyata memiliki sisi genitnya juga.
“Kenapa Bunda mengajari Bian ganjen sih? ‘kan Alwa jadi was was sekarang. Takut semua di gombalin sama ni anak,” Satya terlihat sedikit setres dengan apa yang di sampaikan Bundanya.
__ADS_1
“Biar kalian tau, kalau kami para wanita itu bisa beraksi dan membuat kalian kelimpungan sendiri. Lanjutkan nak, jangan takut cuma karena suamimu yang ketakutan kehilanganmu.” nasehat mertua yang sangat jarang terucap dari seorang mertua pada menantunya.
Bian hanya mengangguk dengan sedikit heran pada mertuanya. Sedangkan suami dan Ayah mertuannya menggeleng tak tau lagi harus mengataka apa.