Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
kediaman orang yang cerewet


__ADS_3

Pagi menyapa dengan hangat. Satya dan Bian menyambut hari dengan suasana hati yang sangat sangat kontras satu sama lain.


Jika Bian menyambut hari ini dengan segenap kebahagiaan. Apa lagi kalau bukan karena sang suami lebih memilihnya ketimbang si Linda Linda itu.


Berbeda dengan Satya yang menyambut hari dengan kegalauan di hati. Apalagi kalau bukan karena si Linda juga.


Memiliki nama sama namun memiliki arti yang sangat berbeda untuk kedua orang itu. Linda untuk Bian adalah seorang lawan yang harus di kalahkan. Apapun masalalunya degan sang suami, Bian merasa harus menang dari si Linda.


Tetapi Linda untuk Satya adalah orang yang di tunggu selama lima tahun ini. Seorang sahabat yang tiba tiba menghilang dari hidup dirinya dan yang lainnya. Kepergian gadis yang memwarnai hari hari Satya bersama sahabatnya dulu menyisahkan misteri.


Karena di samping secara tiba tiba, kepergian Linda juga di kait kaitkan dengan kecelakaan kakak dari Nurul. Entah apa hubungannya, tapi yang pesti keluarga Nurul sungguh membenci Linda.


Di kampus Satya terlihat sangat murung tapi Bian terlihat sangat ceria, Nurul yang tak tahan melihat sang abang yang paling di sayang murung, akhirnya menanyainnya.


“Abang kenapa?” tanya Nurul. Namun tak mendapat jawaban.


“Kenapa sih tu anak Bi?” Tanya Sasa yang ganti menanyai Bian.


“Jatah kurang semalem bu,” jawab santai bian yang sudah tak mau tahu lagi dengan ekspresi sang suami saat ini.


Lebih baik dengarkan lah pepatah yang berkata. Orang cerewet itu berarti sayang sama kamu. Jika dia sudah tak lagi bersuara untuk kamu. Maka kamu harus sadar diri jika orang itu sudah capek dan tak akan memperdulikan kamu lagi.


Jika sudah seperti itu maka biarkan dia pergi, karena bersamamu akan menyakitkan baginya. Tak pernah ada kata batas sebenarnya untuk kata cinta dan sayang yang di miliki untukmu jika kamu tahu. Karena kecerewetannya adalah sebuah ungkapan dia untukmu.


Orag itu hanya memintamu menganggapnya ada dengan caranya. Dan dengan caranya juga dia mencoba menghiburmu.


“Satya lu mau kemana?” Tanya Sasa yang sedari tadi hanya memperhatikan sahabatnya itu.


“Biarkan saja dia seperti itu,” ucap Bian masih dengan santainya.


Kuliah sudah berakhir di jam dua siang. Bian menaiki angkot menuju rumahnya seperti biasa. Sedangkan Satya ke cafe seperti biasanya.


Pekerjaan Bian sebagai seorang istri tidaklah sedikit. Terutama di saat siang hari. Selain membersihkan rumah yang lumayan besar untuknya. Bian juga harus mencuci dan memasak untuk Satya.


Malam begitu dingin bagi Bian yang menunggu Satya di balkon rumahnya. Dengan di temani teh hangat Bian melawan terpaan angin malam menunggu sang suami.


Jam sudah berada di angka 23.48 tapi masih belum ada tanda tanda sang suami pulang ke rumah. Bian menerima pesan dari sang mertua yang mengabarkan jika suaminya tengah kecelakaan saat balapan. Dan sekarang sedang berada di rumah sakit.


Bukan menjenguk sang suami yang tak tau keadaannya. Bian memilih untuk tidur memulihkan tenaga untuk esok hari.


Keesokan paginya Nuurul datang ke rumah Bian. Dengan membawa kabar kecelakaan Satya. Bian terlihat biasa saja, itu yang membuat Arkan yang menemani istri manjanya pun keheranan.


“Elu gak lagi marahan sama Satya kan Bi?” Tanya Arkan keheranan.


“Enggak, gue biasa aja. Emang kenapa?” Bian balik bertanya pada temannya.


“Laki elu kecelakaan Zahra Fabian!! dan sampek sekarang belum sadarkan diri. Sedangkan elu di sini enak enakkan menikmati sarapan elu. Elu itu waras gak sih hah!!” bentak Arkan pada wanita yang santai mendengar kabar suaminya kecelakaan.


“Yang kecelakaan itu dia, bukan gue. So buat apa gue repot? Lagian ya, dia kembali ke duanianya juga gak ijin atau pamit ke gua,” Bian membersihkan bekas sarapannya.


“Gua gak bisa percaya sama elu Bi, elu bener bener kayak batu.” suara Arkan masih meninggi.


“Itu pilihan dia Arkan, bukan urusan gue lagi. Dan gue udah mutusin buat masa bodo ke dia. Jadi percuma juga lu ngatain gua batu atau apa lagi,” ucap Bian yang tak mau menceritakan yang sebenarnya.


Bian tau jika Satya ke sana menemui wanita itu. Tapi inilah Bian, yang tak pernah mau terbuka dengan siapapun.


Arkan dan Nurul meninggalkan Bian yang saat itu tengah memainkan ponselnya di ruang makan. Bian menangis setelah kepergian kedua orang itu.


“Hm, sekarang apa yang harus gue lakuin? Gue harus cepet pergi dari rumah ini. Tapi kemana?” kepala Bian terasa sangat sakit memikirkan nasipnya.


Bian terus mengingat apa yang di ucapkan pada suaminya. Jika dia menemui wanita itu maka dirinya yang akan pergi. Bian gak menyangka jika suaminya lebih memilih wanita itu ketimbang dirinya yang sudah di ikat olehnya selama hampir dua tahun.


Bian mengemas baju yang dia miliki dan juga meninggalkan semua fasilitas yang di berikan oleh Satya. Bian memang tak meninggalkan dompet beserta isinya, dia patah hati bukan bodoh. Bian meninggalkan ponsel dan juga kunci mobilnya.

__ADS_1


Bian mengunci rumah dan meninggalkan rumah besar pemberian kakek dari suaminya. Bian masih bingung mau kemana dirinya akan lari.


Bian bingung memilih kemana, antara Kalimantan kota kelahirannya atau Bali kota impiannya. Bian duduk termenung dengan menatap dompet yang di milikinya.


Seperti pencuri gak sih gue kalo kayak gini? Tanya Bian dalam hati.


Bukan nyuri tapi ngerampok! Kembali batinnya menjawab pertanyaannya sendiri.


Setelah menimbang dan memikirkan matang matang Bian memutuskan untuk tak kemana mana. Bian kembali berfikir, dari pada di gunakan untuk membeli tiket dengan harga yang lumayan mahal. Dia memilih untuk mencari kontrakan di pinggiran kota.


Jauh dari rumah mertuannya dan juga jauh dari tempat tinggalnya yang di tinggalinya bersama Satya. Rumah yang lumayan besar itu memberikan pelajaran yang berharga selain kenangan indah bersama Satya.


Bian mencari kontrakan yang terbilang murah karena dirinya harus berfikir untuk kehidupan selanjutnya. Untuk kuliah dirinya memilih untuk berhenti, karena tidak akan mampu dirinya membayar uang kuliah yang sangat mahal.


Bian memasuki ruangan yang memiliki tiga ruangan. Ruang tamu, kamar tidur yang langsung kamar mandi dan dapur di sebelah ruang tamu.


Karena pemilik sebelumnya itu pergi dalam keadaan kabur. Jadi kamar itu sudah penuh dengan barang barang yang di perlukan. Seperti tempat tidur kursi meja dan juga peralatan yang ada di dapur. Sungguh beruntung Bian tak perlu mengeluarkan rupiah yang di rampoknya dari suami yang di tinggalkannya.


Di sisi lain Satya yang mulai stabil keadaannya, terus memanggil nama Bian dan meminta maaf. Begini sudah yang namannya suami yang membantah istri. Istri itu hanya mau yang terbaik untuk suami, bukan untuk mengikat tanpa alasan. Kalau ada apa apa sudah pasti istrinya yang kerepotan.


Untung saja Bian pintar menghadapi suami yang gak bisa di atur seperti Satya.


Vindya selaku orang tua dari Satya merasa sedikit jengkel. Karena menantunya sampai saat ini belum juga menunjukkan batang hidungnya. Vindya menanyakan kepada Nurul dan Sasa di mana keberadaan menantu tersayangnya.


“Tadi sih pas mau kesini Nuul ke rumahnya, tapi rumahnya tutup Bun, terus kuncinya masih nyentel gitu di pintu.” Cerita Nurul dengan bahasa yang memang tak pernah beruah.


“Kemana juga Bian ini, Bunda telfon juga gak diangkat pertamannya sih nyambung, tapi udah dari tadi bunda telfon sekarang malah gak aktiv.” kata Vindya jengkel.


“Nanti kita akan cari lagi ke rumahya, Bunda.” Jawab Arkan yang memegangu Nurul yang sudah terlihat kecapekan berdiri.


“Nurul kenapa?” Tanya Affandi yang memperhatikan Nurul sedari tadi.


“Kecapekan berdiri Yah, maklum Nurul lagi hamil muda,” Jawab Arkan yang ikut memanggil Ayah dan Bunda pada orang tua Satya.


“Sama saya Bun,” jawab Arkan yang menolong Nurul yang kesulitan saat hendak menematkan bokongnya.


“Loh kok bisa?” Tanya Affandi yang tak percaya,


“Ya bisa lah Ayah, Nurul kan istri Arkan.” Jawab Arkan dengan senyumannya.


Sebelum melanjutkan pertanyaan keponya. Affandi mendengar putranya kembali meminta maaf pada Bian sang menantu.


“Sebenernya ada apa?” tanya Affandi yang tak ada satupun yang bisa menjawabnya.


Perlahan Satya membuka matanya dan menyesuaikan penglihatannya dengan sekitar. Satya mencari bayangan Bian, istrinya di antara teman teman dan orang tuannya.


Satya mengingat apa yang di ucapkan Bian dan air mata tak mampu lagi di bendungnya. Satya tak menanyakan apapun tentang Bian. Satya berfikir jika istrinya sudah tak akan menemuinnya lagi.


“Bunda, ini di mana?” Tanya Satya yang berusaha untuk bangun.


“Jangan gerak dulu, luka di kaki sama lenganmu belum kering,” ucap Vindya yang menahan putranya untuk bangun.


“Ikuti kata Bundamu,” Affandi menasehati putranya.


“Kali ini aku akan menurut, aku tau kalian menginginkan yang terbaik padaku,” ucap Satya yang tak berniat untuk membantah.


Rasa penyesalan yang sangat mendalam di rasakan oleh Satya. Dirinya memilih menemui Linda yang hanya ingin menjebaknya dalam malam itu.


Satya ingin mengetahui kebenaran apa yang di bawa pergi dirinya dan keluarganya. Sehingga dirinya mengabaikan ultimatum sang istri.


Setelah mengetahui kebenaran yang di benarkan jika memang Linda lah yang menyebabkan kematian Nurman kakak dari Nurul.


Linda meminta Nurman untuk mengikuti balapan liar yang di adakan setiap malam minggu. Karena Nurman menyukai Linda pun menyetujui keinginannya. Linda tau jika Nurman menyukainnya, tapi hatinya terpikat oleh senyum manis yang di miliki oleh Satya.

__ADS_1


Setelah menceritakan kejadian itu kepada Satya, Linda meminta Satya untuk merahasiakannya. Satya sudah berjanji, namun fikiran Linda lain.


“Hanya orag mati yang bisa di percaya,” gumam Linda dalam mobilnya.


Linda menantang Satya untuk beradu kecepatan di jalanan sepi itu. Pertama Satya menolak, namun dengan bujuk rayu dari seorang Linda yang di anggap sebagai teman sendiri pun akhirnya menerimanya.


Ketika mendekati garis finis, Linda yang lebih dulu sampai pun memarkirkan mobilnya memotong jalur Satya. Sehungga kecelakaan pun tidak dapat terelakkan lagi. Linda yang sudah keluar lebih dulu dari dalam mobil, menghubungi Vindya dan Affandi dan megatakan jika putranya mengalami kecelakaan.


Jadi sampai saat ini Affandi dan Vindya tak mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Seminggu sudah Satya di rawat di rumah sakit dan selama itu juga Bian menghilang. Vindaya memberanikan diri untuk mencari menantunya dirumah itu. Namun hanya mendapati ponsel yang sudah mati di atas nakas.


Vindya membuka lemari baju Satya dan juga menantunya. Hampir semua baju Bian tidak ada. Vindya menangis meratapi nasib dari putranya.


Vindya kembali ke rumah sakit dan melihat putranya yang tertidur. Menatap kepolosan sang putra semata wayang, Vindya tak mampu menahan air matannya.


“Jangan menangis di hadapan putramu,” Affandi mengajak Vindya keluar dari kamar Satya.


“Bagaimana aku tidak menangis? Menantumu meninggalkan putra kita,” isak tangis Vindya tak mampu lagi di tahan.


“Apa yang kamu katakan?” tanya Affandi yang tak percaya.


“Aku baru saja dari rumah mereka, dan menemukan ini,” Vindya memberikan ponsel mati Bian dan juga cicin kawin milik gadis itu.


“Apa kecelakaan Alwa ada hubungannya dengan kepergian Bian?” Tanya Affandi menerka nerka.


“Itu tidak mungkin, karena malam Alwa kecelakaan Bunda masih bisa menelfon Bian untuk mengabarkan suaminya kecelakaan.” Jawab Vindya yang masih saja menangis.


“Terus apa yang terjadi di antara mereka?” Tanya Affandi yang tak mengerti apa yang terjadi di antara kedua orang itu.


Satya dan Bian memang menikah muda. Namun mereka tidak sama sekali mau bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Vindya berniat menanyakannya nanti saja ketika sudah berada di rumah.


Seminggu mencari kerja, Bian mendapatkan kerjaan sebagai pembantu rumah tangga di ujung gang tempat tinggalnnya. Rumah yang besar yang hanya di huni oleh seorang pemuda dan beberapa orang yang di sebut dengan manager dan asisten pribadinnya.


Bian bekerja sebagai pembantu di rumah seorang artis yang tengah naik daun. Penyanyi yang baru saja di orbitin oleh salah satu agensi, mampu menarik hati para pendengarnya. Selain suaranya yang memang bagus, wajahnya juga memiliki nilai plus untuknya.


“Sekarang, kamu bisa mulai bekerja untuk merapikan rumah ini dan juga memasak untuk kami. Kamu bisa kan?” Tanya Yoga yang merupakan kakak dari artis yang di manageri.


“Bisa, untuk bahan bahannya di siapkan apa memang saya yang harus beli sendiri?” Tanya Bian yang tidak memiliki pengalaman di bidangnya saat ini.


“Gitu saja kamu gak tau?” Tanya Yoga lagi dengan nada yang lebih tinggi.


“Kalau saya tahu, gak mungkin saya akan tanya pak,” ucap Bian yang memang tak bisa untuk menurut.


“Hahahaha pembantu kali ini bisa melawan bang, udah kasi tau saja dari pada elu setres sendiri,” ucap Rico Anggara dengan gelak tawannya.


“Elu aja yang ngasih tau, ni anak kan elu yang mau.” ucap Yoga yang sedikit ngambek dengan pilihan adiknya.


Dari sekian banyak pelamar, Gara lebih tertarik dengan Bian yang terlihat tak tau apa apa. Gara mendekati pembantu pilihannya.


“Elu bisa apa?” Tanya Gara lembut pada Bian.


“Buat mabuk elu juga bisa,” jawaban Bian membuat Yoga tertawa lebih keras dari yang Gara lakukan tadi.


“Benar kah?” Tanya Gara sedikit menyesali pilihannya.


“Gue pernah sekolah dan bia baca tulis, bukan seorang yang cuma sekedar sekolah. Gue juga lulusan terbaik di SMA,” ucap Bian menunjukkan cv yang di bawanya.


Gara membaca dengan seksama. Betapa terkejutnya Gara ketika melihat pembantunya itu lulusan SMA yang sama dengan dirinya. Dua tahun di bawahnya namun tak pernah melihat gadis didepannya.


“Lu lulusan SMA swasta yang terbilang elit lo, kenapa lu gak lanjutin kuliah? Dan gue liat elu bukan orang gak tau apa apa dari peringkat yang elu peroleh ini. Apa yang membuatmu menjadi seorang pembantu rumah tangga?” Tanya Gara yang masih tak percaya jika pembantunya ini adalah seorang yang terbilang pintar.


“Ada suatu hal yang membuat gue jadi seorang pembantu. Kalau sudah tau gue bukan orang bodoh, jadi tolong perlakukan saya seperti manusia pada umumnya. Dan gue nanya itu karena gue gak tau. Kalo cuma nyapu ngepel dan pekerjaan yang lainnya gue bisa dan hafal. Tapi kalo masalah belanja itu kenapa gue nanya, karena berhubungan dengan nominal yang sedikit banyak akan menimulkan masalah nantinya. Gue gak mau kalau di tuduh yang macem macem. Gue pernah jadi orang kaya tapi gue sudah terbiasa dengan berusaha,” ucap Bian seakan membungkam Yoga.

__ADS_1


“Ok, gue suka sama cara pandang elu terhadap sebuah kepercayaan,” ucap Yoga yang sedikit menaruh simpati pada pembantu pilihan adikya.


__ADS_2