Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Pacaran


__ADS_3

"Ya gak ada apa apa, emang napa sih lo tanya tanya utusan orang. kepo aja di gedek in" nyinyir Vindya.


"Ya enggak, pengen tau aja gue tentang perasaan lo ke dia. Soalnya gue peratiin Arief demen deh sama lo kak." Kata Vano.


"Ya itu urusan dia lah Van, dia mau demen kek kagak kek serah dia. Yg jelas gue enggak, gue sadar gue punya lakik Van." Jawab Vindya santai sambil memarkir mobilnya di sebuah garasi sebuah rumah mewah.


"Udah nyampek, yok masuk." Ajak Vindya.


"Lo beneran ga pa pa kan kak....?" Tanya Vano ragu ragu.


Tanpa menjawab pertanyaan Vano. Vindya langsung masuk ke rumah itu. Keluarga besar sudah berkumpul di ruang keluarga, termasuk Om Barata dan istri juga Mona duduk di samping Affandi.


Affandi yg kaget melihat langsung bangkit dari duduknya. Biantara pun berusaha untuk bangun dan menghampiri Vindya menantunya.


"Papa mohon jangan salah paham dulu sayang, Om Barata dan keluarga mau membatalkan pertunangan ini." Ucap papa Biantara mencoba untuk berlutut namun di tolak oleh Vindya.

__ADS_1


"Iya pa.... Vindya ke sini untuk papa juga untuk minta maaf. Kerena Vindya papa jadi anfal. Vindya bukan menantu yg baik untuk papa."


"Kamu ngomong apa nak. papa sama mama tak pernah berfikir seperti itu. mama juga akan melakukan hal yg sama denganmu jika mama di posisi kamu, mungkin mama bisa lebih parah dari kamu. Semua kesalahan ada pada keluarga kami nak, dan seharusnya kami yg meminta maaf bukan kamu." Kini mama Dita juga memohon maaf.


"Sudah lah ma pa, Vindya juga gak jadi menceraikan kak Affandi. Tapi Vindya masih belum memaafkan kakak sepenuhnya. maaf ma pa Vindya masih belum siap untuk kembali tinggal bareng dengan kakak." Ucap Vindya yg di maklumi oleh mertuanya.


Vindya menuntun Biantara selaku mertuanya untuk istirahat di kamar yg di susul oleh Vano dan Affandi. Merasa sudah jelas Barata pun pulang bersama dengan istri dan anaknya.


Mama Dita menyusul ke kamar yg kini tengah rame dengan kedatangan menantunya. Mama Dita membawakan minuman dingin dan buah semangka kesukaan Vindya. Vano langsung meminum minuman dingin itu karena sedari tadi tenghorokannya kering setelah menahan emosi.


"Ada kok nak Vano ambil saja di dapur. di kulkas juga kalo mau apa apa ambil saja sendiri. Anggap rumah kamu sendiri ya." Ucap mama Dita ramah.


"Vindya makasih sudah memaafkan kesalahan papa yg gagal menjadi kepala keluarga." Ucapan papa Biantara membuat Vindya merasa canggung.


"Sudah lah pa, kita lupain masalah itu dan focus untuk kesembuhan papa. Vindya gak mau papa sakit lagi." Ucap Vindya dengan memeluk mertuanya itu.

__ADS_1


"Kak bisa kita bicara sebentar?" tanya Vindya yg hanya mendapat anggukan kepala sebagai jawabannya.


Affandi mengajak Vindya ke kamarnya di lantai dua. Affandi menutup pintu kamar bahkan mengunci pintu kamar itu. Vindya kaget dan herang dengan kelakuan suaminya ini. Vindya merasa bahwa ini bukan suaminya, Vindya berfikir kembali. Seposesif inikah suaminya sebenarnnya.


"Kenapa kunci pintunya kak?" Tanya Vindya lirih.


"Biar kamu gak lari lagi dari kakak. kakak sayang sama Vindya bukan untuk mempermainkan Vindya. Tapi tulus dari hati. Vindya maafin kakak ya..." Kata Affandi sambil memeluk Vindya yg kala itu tak menolaknya lagi.


"Iya kak Vindya sudah maafin kakak tapi Vindya butuh waktu untuk sendiri. Maaf Vindya belum bisa menjadi seorang istri yg baik untuk kakak. Tunggu dua tahun lagi Vindya akan tinggal bareng kakak lagi." Ucap Vindya yg kini membalas pelukan suaminya.


"Vindya.... kakak gak jadi kuliah di Jerman." Ucapan Affandi mengagetkan Vindya dengan reflek melepaskan pelukan suaminya itu.


"Kenapa kak...? bukankah kuliah di Jerman impian kakak?" tanya Vindya.


" Papa masih dalam masa pemulihan jadi kakak mutusin buat mengambil alih tanggung jawab papa. sekaligus mengurus cafe. Kakak akan kuliah di Univ di sini saja. Kebetulan sudah di terima. Kakak bisa terus bersama Vindya meski tak serumah."Kata Affandi menjelaskan yg kini sudah duduk di sisi ranjang.

__ADS_1


"Kak kita kan gak pernah pacaran. gimana kalo kita ulang masa pacaran itu? Vindya juga masih sekolah dan kakak juga masih kuliah. rasanya gak terlambat terlambat amat deh kalo kita macaran... iya sih kita sudah nikah." Kata Vindya di sambut dengan senyuman oleh Affandi yg menunjukkan kesetujuannya.


__ADS_2