Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Kedatangan Mentari


__ADS_3

Wina berada di ruangan di mana suaminya terbaring. Entah apa yang membuatnya tak ingin bangun hingga saat ini. Luka di kepalanya memang termasuk parah, namun dengan dirinya mampu bertahan hingga saat ini pun sudah bisa di bilang suah keajaiban.


Tangan Wina tak terdengar, hanya saja air matanya yang turun sudah seperti air terjun GIT GIT di Bali. Meski berada di musim panas, tetap mengalir dan tak pernah mati. Wina menggenggam tangan Fariz dengan rasa bersalahnya.


“Maafkan aku Fariz, aku tak pernah bisa mengerti kamu. Aku hanya menginginkan apa yang aku pikirkan, dan tidak sama sekali memikirkan kamu. Aku menyesal gak bisa mengerti apa yang kamu pikirkan selama ini,” lirih namun menyentuh, Wina menggenggam tangan Fariz dengan lembut.


Membelai tangan yang biasanya lelaki itu gunakan untuk membelai rambut lembutnya. Wina kembali merutuki dirinya yang sudah sangat egois terhadap suaminya. Suaminya itu masih kecil tapi dia bisa berfikiran dewasa dengan memberikan semua kebutuhannya.


Sekalipun Fariz tidak pernah membeiarkan dirinya menyentuh pekerjaan yang memang tak pernah di lakukan. Fariz seperti mengetahui seperti apa dirinya sebelum menikah dengan suaminya. Wina merasa malu dengan Fariz, yang selalu bekerja tak kenal waktu demi dirinya.


“Fariz, cepatlah kau sadar aku tak akan meminta lebih lagi darimu. Aku sadar, kaulah seharusnya prioriasku bukan kekayaanku. Kaulah seharusnya pemilkku bukan aku yang memilikkimu. Tolong sembulah, buka matamu. Aku tak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya,” Wina mencium tangan yang sudah terlihat pucat dan sedikit membengkak akibat saluran infus yang tak lancar.


Wina menunggui Fariz dengan masih mengenaan sragam sekolahnya. Wina tak mau meninggalkan suaminya sedetikpun. Ibu Fariz merasa terharu dengan apa yang di lakukan menantunya ini. Emosi yang tadi meluap kini sudah meguap entah kemana. Wanita paruh baya Ini memang tak pernah bisa untuk marah terlalu lama.


Bian menyarankan untuk janda satu anak itu pulang dulu ke rumah. Wina bukanlah orang jahat yang harus di khawatirkan ke beradaannya dengan suaminya. Ibu itu mengiyakan setelah memaksa menantunya untuk mengisi perutnya dengan tangannya sendiri.


“Ibu maafkan WIna yang tak tau apa yang seharusnya Wina dahulukan,” itulah kata penyesalan yang terlontar dari sang menantu pada mertuannya.


“Sudah jangan lagi membahas masalalu, hanya akan membuat emosi saja. Yang terpenting sekarang, jangan lagi kamu mengulang ke salahan yang sama di masa depan. Ingat, Fariz itu bukan orang kaya yang bisa memberika kesempurnaan seperti kamu sebelum kamu menikah,” tutur mertua yang tak menginginkan rumah tangga anak dan menantunya itu terjadi apa apa.


Ibu Fariz berpamitan pada menantunya untuk pulang sebentar. Namun Wina mengatakan untuk malam ini, biar dirinya saja yang menjaga sang suami. Mertua itupun setuju dan pulang bersama dengan majikannya.


Malam semakin laut dan suasana juga semakin mencekam. Wina rupanya tak mampu lagi menahan kantuk. Perlahan Wina berjalan ke arahsofyang ada di ruangan itu. Membaringkan diri dan menutup mata.


Samar samar Wina melihat Mentari dan Fariz masuk kedalam ruangan itu. Selayaknya kamar sendiri mereka berada datang dengan bergandengan tangan lalu tidur di ranjang itu berdampingan. Wina ingin membuka matanya namun seperti ada yang menahannya.


Tubuh Wina terasa sangat berat dan tak mampu berbuat apa apa selain menyaksikan saja. Wina menangis di dalam tidurnya, merasa seperti tak berguna dalam ketidak berdayaannya.


Wina hanya mampu menutup mata semakin dalam, hingga sebuah sentuhan membangunnya.


“Wina, bangun.” Baskah yang bekerja di rumah sakit itu pun membangunkan adik sepupunya.


“Baskah, apa kamu yang menangani Fariz?” Tanya Wina yang terlihat kaget jika sepunya lah yang menangani suaminya.


“Iya, tapi pihak keluarga melarangku untuk mengabaimu. Satu satunya cara untuk memastikan dia harus sembuh ya dengan aku mengambil alih penanganannya.” jawab Baskah.


“Iya, terima kasih kak. Kenapa kakak pagi pagi begini ke sini?” Taya Winayang sertinya tak mengetahui apa apa.


“Tadi suamimu sempat terhenti detak jantungnya. Setelah dua jam penanganan, ni suamimu sudah bisa di pindahkan di ruang rawat biasa.” jelas Baskah yang membuat Wina terkejut


“terus bagaimana sekarang Fariz kak? Kenapa gak membangunkan Wina?” pertanyaan yang membuat Baskah sedikit terkejut.


“Apa kamu tak merasakan bahwa sedari tadi kamu itu di pindahkan dari ruang ICU ke sini? Bahkan susterku membangunkan kamu berkali kali lo,” ucap Baskah terkejut.


Wina menggeleng kepala sperti tak mengetahui apa apa. Wina jadi teringat dengan apa yang di lihatnya semalam. Apa yang di lihatnya itu nyata? Atau hanya mimpi belaka?


Wina melihat ke arah suaminya yang sudah tak mengenakan kabel kabel lagi di tubuhnya. Bahkan untuk bernafas, sudah tidak menggunakan alat bantu pernapasan. Detak jantung yang sudah normal dan juga nafas yang sudah teratur seper orang tengah tertidur saja.


Wanita itu mendekati suaminya dan membisikkan namanya untuk memanggilnya pulang.


“Fariz pulanglah sayang, aku kangen sama kamu. Aku gak bisa tidur tanpa kamu, bohong sekali kalo aku bahagia tinggal di rumah papa,” Air mata wanita itu kembali menetes mengingat kejadian papanya menamparnya.


Tanpa perlawanan atau pembelaan, suaminya menerima dengan senang hati. Wina meraba pipi yang pernah ada tanda tangan papanya namun sudah menghilang. Sakit dan perih saat meraba pipi suaminya dan membayangkan itu.

__ADS_1


Gerakan kecil di tunjukkan pada dokter yang menemani istrinya. Baskah membelalakkan matanya, kembali dokter itu menyuruh Wuina memanggilnya. Membiskkan nama suaminya dan memintana untuk kembali.


Benar saja, setelah panggilan Wina yang ke tiga. Mata yang sudah seminggu lebih itu terpejam kini sudah ada pergerakan seperti ingin melawan. Melawan untuk membuka matanya.


Baskah langsung mengubungi susternya untuk memantu menormalkan keadaan pasien. Tak berapa lama, beberapa suster datang dengan membawa beberapa peralatan yang di perlukan dokter. Wina menunggu di samping Fariz, yang seharusnya keluar. Namun Baskah memerlukan sepupunya itu untuk tetap memanggil nama suaminya tepat di kupingnya.


 Mata Fariz kini sudah terbuka sempurnya. Mencoba mengenali apa yang ada di depannya. Wanita cantik yang ada di sampingnya dan terus memegang tangannya.


Orang tua tunggalnya dan juga majikannya sudah berada di dalam ruangan itu. Kabar yang di sampaikan oleh Wina melalui saluran ponselnya pun membawa mereka semua ke rumah sakit. Satu persatu rupanya sudah di kenali oleh lelaki yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.


“Mentari mana?” pertanyaan yang terlontar membuat dokter dan yang lainnya terkejut.


Apa ada yang salah dengan memori laki laki ini? Wina menangis dengan menahan sakit di dalam dadanya. Mengingat kembali jika hanya ada wanita lain yang ada di ingatan suaminya.


“Sayang, Mentari sudah meninggal,” ibu Fariz membisikkan dengan lembut.


“Gak mungkin Bu, kemarin Mentari mengantar ku. Aku bahkan melihat Wina tidur di sofa,”


DEG


Apa yang di lihat Wina itu nyata? Tapi, kenapa dirinya tak bisa membuka mata atau bangkit dari tidurnya? Siapa yang menahannya? Sesosoh siluet hitam yang terasa sangat besar memegangi tangan, pundak dan juga kedua kakinya.


Apa itu sebuah kenyataan? Namun, kemana dia membawa kesadaran Wina saat semua orang berusaha untuk membangunkan wanita itu?


Wina mundur perlahan dengan sedikit memaksa ingatannya. Apa benar Mentari selaku istri dari suaminya itu mengajaknya pergi? Terus kenapa dia mengantar lelaki itu kembali, jika memang menginginkan suaminya?


Begitu banyak pertanyaan yang ada di benak WIna, namun tak sanggup untuk di ungkapkan. Wina keluar dari ruangan dan mencoba mencari ketenangan di salah satu sudut taman yang ada di rumah sakit.


Baskah melihat adik sepupunya duduk termenung dengan tatapan kosongnya. Baskah mendudukkan diri di samping Wina yang melamun, entah apa yang di lamunkan.


“Kakak percaya gak kalau misalnya aku bisa melihat roh?” tanya Wina yang sedikit ragu dengan apa yang di lihatnya semalam.


“Jangan berfikir lebih. Apa yang kamu lihat mungkin saja itu benar, tapi mungkin juga itu hanya imajinasi kamu,” ucap Baskah yang tak membenarkan atau menyalahkan apa yang di katakan Wina.


“Semalam, aku melihat Mentari menggandeng Fariz untuk tidur di ranjang rumah sakit dan dia ikut tidur di samping Fariz. Ingin aku bangun dan memeluk Mentari, namun ada bayangan hitam besar yang memegangi aku. Menahan aku untuk tidak bangkit, sejak saat itu terjadi aku sudah tidak mengingat apa apa lagi. Dan terbangun oleh kakak,” cerita detail Wina membuat Baskah sedikit merinding, namun tak di tunjukannya.


Melihat sesosok gadis cantik dengan membawa rangkaian bunga mawar sedang melambai padanya. Wina membalas lambaian tangannya karena merasa kenal dengan wanita itu sebelum menghilang.


Menghilang? Iya, gadis itu tiba tiba lenyap setelah terlihat asap melewati gadis itu.


“Kau mengenalnya?” Tanya Baskah membuat kaget Wina.


“Kakak melihatnya juga?” tanya Wina penasaran.


“Gadis membawa buket bunga itu sering aku lihat dia duduk di antara keluarga Faris,” ucap Baskah tanpa sadar.


“Dia Mentari. Meninggal beberapa bulan lalu,” sekujur tubuh Baskah langsung merinding tanpa tau apa yang membuat bulu bulu halus itu terangkat.


“Win, sepertinya udaranya semakin dingin. Lebih baik kita masuk ke dalam saja.” Baskah mengajak Wina masuk.


Seperti tau apa yang di rasa oleh kakak sepupunya pun, Wina ikut bersama dengan Baskah. Ini sungguh tidak masuk akal dan juga tak mampu di terima oleh akal sehatnya. Nalar yang tak sampai ke jalur halus seperti itu.


Baskah pamit untuk pulang terlebih dulu, entah apa yang di rasa saat ini. Sungguh ini tidak pernah di pelajari di manapun. Bahkan dirinya lebih sering mematahkan apapun yang berhubungan dengan mahluk tak kasat mata itu.

__ADS_1


Sedangkan Wina bergabung dengan keluarganya dan juga suaminya yang sudah bisa tersenyum. Wina ikut bahagia dengan kesadaran sang suami. Amarah yang pernah di tunjukkan pada Fariz sebelum kejadian pun menjadi sebuah penyasalan baginya.


“Fariz, maafkan aku,” Wina meminta maaf dengan bersujud di samping suaminya.


“Sudah, aku tau kamu mau yang terbaik buat aku. Aku gak nyalahin kamu sayang, sudah sekarang kamu bangun. Sini duduk di samping ku,” Fariz seperti ingin bangun namun di tahan oleh Satya dan Bian.


Wina menurut dengan apa yang di mau oleh suaminya.


“Iya Wina, kalau ada masalah jangan sampai orang tua kamu tau. Sebisa mungkin kamu harus selesaikan berdua dulu. Kasian suamimu,” ujar Satya yang menasehati suami istri itu.


Seperti seorang abang yang menyayangi adiknya, Satya membantu Fariz dari dirinya tak tau apa apa soal pekerjaan.


***


Setelah selama satu minggu pemulihan, akhirnya Fariz pulang ke rumahnya yang berada di kawasan elit. Wina dengan sabar dan telaten merawat Fariz, Revan yang tadinya sempat emosi pun meminta maaf. Hanya terbutakan oleh kasih sayangnya untuk sang putri tercintanya.


“Fariz juga akan melakukan hal yang sama untuk hal seperti ini pa. Jangan membebani diri papa dengan hal sepele ini,” ucapan dewasa Fariz yang memposisikan diri di diri Revan.


Mertuanya pun semakin yakin jika putrinya tidak salah pilih. Revan akan berusaha melepas tangan untuk masalah rumah tangga kedua pemuda pemudi ini.


Hari berikutnya, Fariz sudah masuk sekolah. Di sekolahan Wina dengan telaten merawat sang suami. Meski kelas mereka berbeda, namun saat istirahat atau pulang sekolah mereka selalu bersama.


Saat duduk di kantin sendirian, Fariz di datangi gadis cantik pemilik tinggi badan seratus enam puluh tujuh. Duduk di samping Fariz dengan sedikit mencondongkan diri pada lelaki yang baru saja keluar rumah sakit.


“Lama kita gak ketemu ya?” gadis itu memulai perbincangan.


“Iya kak, aku baru sembuh,” jawab Fariz.


“Kamu sakit apa? Ya sudah besok aku bawain buah buat kamu. Jangan jajan sembarangan ya,” pesan Sifa yang terlihat sangat panik mendengar lelaki itu baru sembuh.


“Iya kak, terima kasih. Tapi maaf, saya pergi dulu takut pacar saya marah karena ada kakak di sini,” jawab jujur Fariz.


Tanpa mendengar jawaban dari gadis itu pun, Fariz langsung menyusul WIna. Fariz itu memang tak terlalu mengerti untuk merayu wanita. Tapi entah bagaimana wanita wanita itu sudah seperti logam berada di dekat magnet. Maunya nempel terus, susah untuk melepasnya.


Dari kantin menuju ke kelas, Fariz dan Wina bertemu dengan Mustafa yang tak mengenakan seragam seperti biasanya. Wina melihat guru BK nya itu hanya mengenakan kaos dengan celana jins dan sepatu ketnya.


Terlihat tampan sih, tapi sangat berbeda dengan kebiasaan dia saat mengajar. Wina menanyai kenapa tak berseragam, namun lelaki itu malah menyodorkan kertas undangan kepada Fariz dan WIna.


Di bacanya dengan seksama, di sana tercetak dengan jelas nama Almas Baganta dan juga Mustafa Arby. Tanggal yang tercantum sebagai hari akad nikah mereka adalah tiga hari kedepan. Kaget dan juga tak percaya, gurunya dan juga sepupunya yang masih menyimpan misteri dengan suaminya, akan melangsungkan pernikahan.


“Mana kak Al?” Tanya WIna yang masih belum percaya sepenuhnya.


“DIa sedang di pingit, sudah seminggu ini dia di pingit keluarganya,” Jawab Mustafa.


“Apa kalian saling kenal?” Tanya Fariz yang masih tak mengerti hubungan bak benang kusut.


Semua saling terhubung, namun masih belum pasti di mana ujungnya. Fariz tersenyum bahagia untuk teman satu malamnya dan juga guru yang pernah menjaga almarhum istrinya.


“Tapi aku ucapkan selamat, aku dan Wina akan datang pak,” ucap Fariz sambil memeluk lelaki yang selalu mengandalkan dirinya.


“Harus, aku mau menunjukkan betapa cantiknya istriku padamu,” ucap bangga Mustafa yang juga tak mengerti cerita apa yang terjalin di antara calon istrinya dengan muridnya itu.


Almas memang pernah bercerita sekilas, tapi tak semua di ceritakan. Hati WIna seperti menangkap gelagat tak enak dari Mustafa. Apa pak Mustafa itu mengetahui adanya hubungan antara calon istrinya dengan muridnya.

__ADS_1


Entahlah. Hanya Tuhan yang tau.


Wina sudah tak mau mengambil pusing lagi masalah kakak sepupunya dengan suaminya. Toh sebentar lagi kakaknya itu sudah mau menikah dengan gurunya. Wina melanjutkan jalannya bersama Fariz menuju ke kelas.


__ADS_2