
“Banyak cara untuk mencintaimu dan banyak cara juga untuk membencimu. Aku gak menutup kemungkinan suatu saat aku akan membencimu sebesar aku mencintaimu. Tapi yang aku tau sekarang, aku sangat mencintaimu. Tetaplah bersamaku, mendampingiku, dan juga melangkah bersamaku. Aku bukan orang yang bisa melumurimu dengan kebahagiaan seperti orang tuamu, tapi aku akan berusaha untuk terus membahagiakanmu. Jangan pernah kamu meninggalkan aku meski hanya sedetik dari dalam hidup. Kebahagiaanku hanya saat aku bersamamu, hidupku sempurna karena adanya kehadiranmu dalam hidupku. Jika kamu meninggalkan aku, maka aku sudah tidak akan sempurna seperti saat ini. Kehilangan itu hal yang wajar, terutama karena kita sama sama tidak mengetahui kehadirannya. Tapi yakinlah perpisahan kita akan membuatnya sedih, menunggu kita di surga nanti.”
Satya memohon pada istrinya yang terus meminta untuk ikut pulang kedua orang tuanya. Kehilangan yang membuatnya terluka sedalam ini. Bian tak bisa menganggap ini tak terjadi begitu saja, karena dia sangat menginginkan kehadiran bayinya.
“Tapi aku tidak bisa menjadi istri yang baik dan juga calon ibu yang baik,” Tangis Bian pecah mengingat akan kehilangan calon bayinya.
“Kalau kamu menganggap gak baik sebagai istriku sekarang, terus aku apa? Aku sering menyakitimu, tapi aku masih mau adanya kamu di samping ku. Aku memang lelaki egois, tapi aku akan berusaha membuatmu untuk tetap tersenyum dan aku akan membahagiakan kamu. Tolong jangan tinggalkan aku. Atau gini saja, aku akan ikut denganmu tinggal di rumah orang tuamu untuk sementara waktu. Tolong jangan meminta pisah dari aku, jujur aku katakan jika tak sanggup hidup tanpamu.”
Satya masih membujuk istrinya agar tak meminta pisah darinya. Kedua orang tua pun terharu dengan perjuangan Satya.
Begitu besar rasa cinta yang di miliki Satya pada Bian membuat istrinya luluh. Bian akhirnya mau menyetujui usul Satya yang tinggal sementara waktu di rumah orang tuannya.
“Ya sudah, aku gak minta untuk pisah. Tapi aku mau tinggal sementara di rumah papa sama mama,” ucpap Bian lirih.
“Apapun permintaan kamu sayang,” Satya tak segan memeluk istrinya di depan keempat orang tua mereka juga kakak kembar Zahara dan Zahira.
“Aku malu,” cicit Bian pada Satya yang di dengar oleh semua orang.
“Hilih, malu. Padalan demen dia,” goda Zahara kakak pertama Bian.
Akhirnya mereka pindah tempat tinggal di rumah orang tua Bian. Dengan membawa sekoper penuh baju dan juga buku buku mereka yang di perlukan. Sedangkan untuk berkas berkas yang penting bagi Satya di tinggal di rumah orang tuanya.
Satya berfikir, dengan dirinya kerja di rumah Ayah dan Bundanya akan menjadi obat kangen bagi kedua orang tua yang hanya memiliki seorang putra.
“Satya, Papa boleh bertanya?” tanya Darmawan saat tengah berkumpul bersama setelah seminggu perpindahan Satya di rumahnya.
“Silahkan Pa,” Jawab sopan Satya dengan menikmati teh hangat buatan istri tercintanya.
“kenapa kamu mau ikut dengan istrimu pindah ke rumah mertuamu?” Tanya Darmawan to the point.
“Jawabannya simple pa, seorang anak harus berbakti peda orang tuannya. Tapi suatu saat orang tua akan meninggal karena usia. Anak, juga akan meninggalkan kita saat sudah menikah. Tetapi istri atau suami, tidak akan meninggalkannya dalam keadaan apapun. Sepasang suami istri akan bersama duduk di depan teras menikmati teh hangat menunggu kedatangan cucu dan juga anaknya. Karena Satya ingin merasakan hal itu bersama Bian maka, Satya mengalah demi menghindari kata perpisahan.” jawab Satya membuat senyuman Darmawan mengembang dengan pemikiran menantu pertama dari anak terkecilnya.
“Hahaha pandanganmu terhadap pernikahan sendiri itu seperti apa?” Tanya Darmawan lagi.
“Gak tau Pa, yang jelas ketika aku hanya ingin melindungi apa yang ingin aku lindungi. Aku gak mau kalau ada yang merebut Bian saat itu. Makanya Satya mau menjadikan Bian milik Satya selamanya,” ucap Satya yang membuat Darmawan kaget dengan jawaban menantu yang di bangga banggakannya.
“Apa? Jadi kamu menikahi putriku tanpa Cinta?” Tanya Darmawan lagi.
“Benar,”
“Terus, jika suatu saat kamu jatuh cinta dengan wanita yang lain bagaimana nasip putri saya?” Tanya Darmawan yang memikirkan putinya.
“Putri Papa bisa membuatku lumpuh jika hal itu terjadi,” jawab malu malu Satya berhasil membangunkan tawa seluruh keluarga.
“Seperti itu kamu gak mau di bilang mencintai anak papa?” Darmawan kembali bertanya, namun kali ini dengan gelak tawa yang masih mengembang di bibir yang bagian atasnya tertutup kumis tebalnya.
“Satya gak tau kalua itu yang di sebut Cinta, yang Satya tau hanya gak mau terpisah dari Bian sedetik pun. Kapok,” jawab Satya tegas.
“Kapok? Apa pernah terjadi?” Tanya Risma penasaran.
Wanita sedikit gemuk dengan hijap menutupi kepalanya angkat bicara, setelah mendengarkan pengakuan menantunya. Wanita yang suka mengenakan daster ini rupanya memiliki tingkat kepo yang hampir menyamai Bundanya.
“Iya Ma, pernah Satya kepincut sama cewek lain. Ya Bian bales dong dengan deket ma cowok,” jawab Bian dengan santainya.
“Hahaha, mau ngulang lagi?” Tanya Risma dengan gelak tawanya.
“Enggak Ma, kapok.” Satya menangkupkan kedua tangannya memohon pada mertuanya dan juga istrinya.
Suasana yang di bangun Satya dan juga Bian pun tak jarang membuat tawa orang rumah pecah. Sedangkan di sisi lain, Vindya sangat merindukan hari hari dimana dirinya memasak di temani dengan menantunya.
__ADS_1
“Yah, sepi juga ya gak ada Bian sama Satya,” ucap Vindya saat menikmati sinetron azab di layar televisi bersama sang suami.
“Iya, biasanya Bian yang suka rame berkomentar kalo menantunya di sakiti sama mertua jahatnya,” jawab Affandi merangkul istrinya.
“Yah, apa Bunda jahat ya sama menantu? Kaya yang di sinetron sinetron itu Yah?” Tanya Vindya dan Affandi hanya tersenyum akan perasaan istrinya.
Suasana sepi yang di rasa Vindya membuatnya terus berfikir lebih.
Di tempat Satya dan Bian pun juga merasa kangen saat bersama dengan keluarga yang baru semunggu di tinggalkannya.
“Bang, besok kita nginep di rumah Bunda yuk. Kangen juga Adek dengan masakan Bunda,” ucap Bian pada suaminya yang tengah sibuk dengan tugas tugas kuliah yang semakin hari semakin banyak.
“Tapi besok Abang ada presentasi di kampus, pasti pulangnya telat.” masih fokus dengan layar datar di depannya, Satya menjawab ucapan Bian.
“Iya, Adek pulang sendiri. Tapi Abang nyusul ‘kan?” Tanya Bian dengan manja memeluk suaminya dari belakang.
“Pasti,”
Setelah menyelesaikan tugasnya, Satya mengajak tidur Bian untuk menyambut esok hari. Seperti biasa saat pagi menyapa. Bian dan Satya mengawali hari dengan salat subuh berjamaah.
Selama seminggu Risma mengamati putri kecilnya yang selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Kebiasaan yang tak pernah di lakukan sebelumnya. Setahun setengah lebih ternyata membawa perubahan yang sangat besar pada putrinya.
Selama hampir sembilan belas tahun bersama hidup di rumah yang sama. Risma bahkan tak pernah melihat Bian bangun kurang dari jam delapan pagi.
Duduk di meja makan, Satya selalu menemani Bian dengan laptop dan berkas berkasnya. Setelah selesai membuat sarapan, Satya membantu Bian untuk menata di meja makan sebelum bersiap untuk pergi ke kampus maupun ke cafe.
“Gak menyangka, si manja bisa juga memanjakan suaminya ya Pa,” ucap Risma pada suaminya yang selama beberapa hari ini mengintip diam diam dari balik pintu kamarnya yang sejurus dengan meja makan dan dapur.
“Affandi sama istrinya mungkin juga melakukan hal yang sama, Ma. Affandi yang papa kenal dulu orangnya keras sama seperti Satya, tapi papa belum pernah tau jika dia sama dengan Satya, Bucinnya.” Bisik Darmawan pada istrinya agar tak terdengar oleh anak dan menantunya.
“Papa kenal Bucin juga?” Tanya Risma penasaran dari mana suaminya mengenal kata kata gaul anak sekarang.
“Kamu bikin sarapan apa?” Tanya Risma setelah puas memperhatikan secara sembunyi sembunyi.
“Bikin sayur bayam sama sambel tomat ma. Satya pengen sarapan berat katanya,” ucap Bian sambil menyiapkan piring berisi ayam goreng dan tempe goreng di meja makan.
“Suamimu mana?” Tanya Risma yang sudah tidak melihat menantunya di ruang makan.
“Lagi mandi ma, tadi katanya berangkat pagi ada kuis,” Bian menyiapkan nasi di atas piring lengkap dengan lauk paunya.
“Itu mau di bawa kemana?” Risma menunjuk piring yang di bawa putrinya.
“Ini untuk Satya ma, Bian suapi sambil bersiap biar gak telat” Bian meninggalkan kedua orag tuannya yang masih mematung mendengar apa jawaban dari putrinya.
“Pa, apa mama gak salah dengar? Bian menyuapi suaminya makan?” Tanya Risma dengan segala pikirannya.
“Papa juga gak percaya ma. Gimana kalau kita intip aja mereka?” usul Darmawan yang mulai ketularan kekepoan sang istri.
Kedua pasangan suami istri yang terbilang tak muda lagi pun mengintip putri dan menantunya. Di dalam kamar Risma dan juga Darmawan melihat pemandangan yang sangat mengejutkan.
Ketika menantunya tengah bersiap kesana kemari. Putrinya dengan telaten menyuapi sang suami dengan mengikutinya dari belakang, hingga selesai bersiap dan sarapan pun sudah habis.
Satya keluar dengan terburu setelah berpamitan pada mertua dan istrinya.
“Nanti kamu pakai mobil yang satunya saja,” ucap Satya sebelum meninggalkan Bian di depan pintu rumah besarnya.
Bian kembali ke meja makan dan gabung dengan kedua orang tuanya untuk sarapan. Di tengah tengah sarapan Risma tak tahan lagi menahan rasa penasarannya lagi.
“Bian, Mama mau tanya sama kamu. Jawab jujur ya,” Risma mengawali pertayaannya.
__ADS_1
“Mama mau tanya apa? Ya silahkan saja, selama Bian masih bisa menjawab ya Bi jawab la,”
“Kamu selalu menyuapi suamimu kalau sarapan?” Tanya Risma yang mendapat tatapan tajam dari sang suami tercinta.
“Emang kenapa , Ma? Bian melakukan hal itu?” Tanya Zahira yang sedikit tak suka dengan keberadaan adik dan suaminya.
“Gak cuma sarapan saja ma, tapi di saat Satya gak sempat makan ya pasti Bian suapin ma. Satya itu punya sakit maag parah makanya Bian mengalahi menyuapinya dari pada harus menemaninya di rumah sakit.” Jelas Bian membuat Mamanya mengerti kenapa putri manjanya melakukan hal itu.
“Bian… Bian, seharusnya Satya yang memanjakan elu. Bukannya elu yang manjain dia, jadi istri kok ***** sih,” ucap Zahira tak suka dengan apa yang di lakukan oleh Bian adiknya.
“Wajar lah kak, Bian melakukan itu kan karena Satya suami Bian,” Jawab Bian yang masih dengan senyuman di bibirnya.
“Elu itu cantik Bi, pintar masak. Jadi gak sulit mendapatkan lelaki yang lebih dari suamimu itu. Pandu lebih kaya dan juga ganteng tapi elu malah milih kentang burik.” Sahut Zahira lagi yang membuat Bian tersulut emosi.
“Kenapa kak Zahira membandingkan Satya dengan Pandu? Mereka itu jauh berbeda kak!! Pandu itu orang yang suka mempermainkan apa yang menjadi milik Satya. Dan aku adalah salah satu korban yang berhasil di selamatkan oleh Satya. Istrinya pandu saat ini adalah pacar pertama Satya yang di ambil prawannya saat mereka masih pacaran. Dan asal kaka tau, Satya itu lelaki baik pertama dan satu satunya yang Bian temui di dunia ini selain papa.” kini air mata telah mengalir di pipinya.
“Sepertinya memang salah Bian pulang ke rumah ini. Terutama mengakui orang munafik sepertimu sebagai kakak. Terima kasih sudah membuka mata gue tentang siapa gue di rumah ini.” Bian berusaha pergi dari ruang makan yang tadinya hangat berubah mejadi mencekam.
“Dan untuk apa lagi kamu bertemu dengan Bang Fais?” Zahira menghentikan langkah Bian yang baru beberapa langkah menjauh dari meja makan.
“Aku gak…”
“Menggodanya kembali?” Tanya Zahira dengan nada tak suka.
“Gue gak menggodanya kak, sumpah” Bian mencoba untuk meyakinkan kakak keduannya.
“Bian, Kakak menerima kembali pertunangan kak Fais dan bulan depan akan menikah,” Zahira mengatakan dengan tegas apa yang di sembunyikan oleh kedua orang tuanya dari Bian.
“Kakak harap kamu bisa menjauh dari Fais dan tolong jangan menggodaya kembali. Pertemuan kalian dua tahun yang lalu gak kakak anggap, jadi bersikap baiklah mulai saat ini!” tegas Zahira yang kini pergi meninggalkan Bian.
“Silah kalian lakukan semuanya tanpa Bian lagi. Mulai hari ini Bian akan pulang kerumah di mana seharusnya Bian tinggal!” emosi Bian memuncak dan mengemas semua baju dan juga barang yang di bawanya dari rumah mertuannya pulang.
“Sayang, ini juga rumah kamu. Mau kemana lagi kamu akan pulang?” Tanya Risma menyusul Bian ke kamar.
“Rumah yang sebenarnya untuk seorang istri adalah di mana suaminya tinggal, bukan di mana istriny tinggal.” Jawab Bian sinis terhadap Mamanya.
“Maafin kakakmu ya sayang,” Risma mulai merasa sedih akan perpecahan yang selama ini di hindari.
“Sudah lah Ma, gak usah bahas ini sekarang. Bian mau pulang sekarang,” Bian menenteng koper besar miliknya.
“Kalau sudah keluar itu inget dengan kata katamu kalau kamu akan tetap tinggal di sana dan TIDAK kembali lagi ke sini.” Zahira menekankan kata tidak pada adiknya.
“Aku selalu menjadi orang yang komit dengan perkataanku. Dan ingat satu hal nona Zahira\, Bukan aku yang mendekati calon suamimu. Tapi lelaki Ba*gs*t itu yang menjebakku!!” Bian berlalu meninggalkan rumahnya dengan mengendarai mobil yang di dapat Satya terakhir kali balapan liar.
Di jalan Bian mengabari apa yang terjadi pada suaminya, satya.
“Ya sudah langsung aja ke kampus, ada kuliah pagi kan?” Tanya Satya santai mencoba menenangkan istrinya.
“Iya tapi Adek belum mandi Bang,” dalam isak tangisnya Bian mengingat jika dirinya masih belum mandi.
“Biar adek gak mandi, masih tetep wangi kok. Cantiknya gak berkurang sama sekali malahan. Adek tinggal poles dikit aja pipinya sama itu air matanya jangan di liatin ke yang lain.” Pungkas Satya sebelum mengakhiri sambungan telfonnya.
“Abang bisa aja buat Adek seneng,” ucap Bian dalam perjalanan ke kampus.
Setelah tiba di parkiran kampus. Satya sudah menunggu Bian di parkiran, menyandar di mobil yang di bawanya.
“Udah cantik kok, sini cium dulu,” Satya menyambut istrinya agar tak merasa dirinya sendirian dalam keadaan yang seperti saat ini.
“Makasih ya, Abang selalu ada buat adek,”
__ADS_1
“Inilah yang harus di lakukan seorang suami.”