
Bel jam masuk pun berbunyi, Vano yg sedari tadi duduk di bangku Nadin pun berpindah ke bangkunya sendiri. Nadin masuk ke dalam kelas, namun mengacuhkan Vano.
"Nad, bisa gitu si gunung es manja manjaan. Gue kira gak bakalan bisa." Ucap Maria mengagetkan Nadin yg setaunya tadi kelas kosong saat dirinya dan Vano duduk bareng
"Lo tau dari mana? Lo ngintip ya?" kata Nadin curiga.
"Enak aja lo ngomong. tadi gue mau ambil buku fisika soalnya sudah janjian sama Rani di perpus. Eh pas gue mau masuk ke kelas kalian malah mesra mesraan kan malu gue masuk." jelas Maria.
"Ya elo sih kenapa gak masuk aja sih."
"Malu gue situ kaya nya lagi pewe di manjain si pangeran gunung es ganteng." Goda Maria.
"Udah ah pak Yusuf udah dateng tu." Ucap Nadin sembari menoleh ke arah bangku Vano.
Sedangkan di kelas Vindya, sedikit ramai di karenakan guru Biologi sedang cuti istrinya melahirkan. Vindya mencoba mengerjakan soal yg di tugaskan terkaget karena merasa rambutnya di pegang seseorang. Arief mencoba membenarkan anak rambut yg menutupi pipi Vindya.
"Sorry habisnya wajah cantik lo terhalang. kan jadinya gak puas gue liatnya." Kata Arief sambil membenarkan rambut Vindya.
"Maaf bung uang bekal saya habis jadi gak punya receh." Canda Vindya buat Arief tertawa lebar.
"Hahaha gimana jadi lo Modif si item?" Arief kembali bertanya dengan mengambil makanan yg Vindya bawa dari rumah.
"Kayanya enggak deh Rief.... bokab gue gak ngizinin. eh ngafe yuk nanti di cafenya kak Affandi."
"Boleh tu... Ajak Riska juga sama Ridge ya biar rame." Kata Arief setuju.
"Siap.... tugasnya di kerjain di sana saja ya."
"Iya, Ridge sudah mau nanti ketemuan di sana ya. gue ganti baju dulu gak nyaman pakek baju seragam." Arief menunjukkan ponsel miliknya.
"Siap."
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Vindya bergegas ke parkiran karena dia tengah di tunggu oleh suami tercintanya. Saat di parkiran Vindya berpapasan dengan Nadin dengan wajah di tekuk dan tak menyapanya. Ini merupakan hal yg gak biasa baginya. Vindya kenal Nadin seorang yg ramah tapi kali ini dia bener bener telah mengacuhkannya.
"Nadin kenapa Van....???? Di tekuk gitu mukaknya. Kalian berantem?" Tanya Vindya saat Vano datang di parkiran.
"Ngambek." Jawabnya singkat.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tadi gue ngasih umpama ke dia." ucapan Vano menggantung membuat Vindya geregetan.
"Yg jelas ngomong nya woe. Umpama apaan?" Vindya menoyor kepala adiknya.
"Umpama kalo aku nikah sama cewek lain terus undang dia apa dia mau dateng." Ucap Vano sambil memainkan kakinya.
"Terus apa jawab pacarmu dek?" Kini Affandi yg penasaran.
"Dia jawab datang lah sambil bawa goloknya jaka sembung...." Vindya dan Affandi langsung tertawa lepas....
"Hahahahaha terus dia ngambek ninggalin elo dek?" Tanya Vindya makin penasaran
"Endak... sebelum itu dia bilang kalo ketauan gue selingkuhin dia. bakalan di mutilasi burung gue. masa depan ini malah di pakek maenan." Vano jadi cemberut.
"Hahahaha Vind jangan kaya Nadin ya.... gue minta ampun. jangankan di mutilasi barang gue, di mutilasi hubungan aja gue gak pengen." Affandi yg habis tertawa lepas langsung merayu sang istri.
"Hmmm kalo punya kakak yg di mutilasi terus gimana nasib calon anak kita nanti kak?" Ucap Vindya polos membuat Vano dan Affandi berpandangan.
"Panas tau lama banget di tungguin sih. Gak tau orang haus apa." Nadin datang dengan omelannya.
"Kirain lo ngambek terus ninggalin gue Nad." Vano kebingungan.
"Ngambek sih ngambek, masak iya lo tega ngebiarin gue pulang sendiri. peka dong lo jadi cowok." Nadin yg tubuhnya lebih kecil dari Vano membuat dia berlindung di balik tubuh bongsor Vano dari sinar matahari.
"Lo haus?" Tanya Affandi dan Nadin cuma ngangguk membenarkan pertanyaan kakak ipar dari pacarnya itu.
"Cafe gue yuk gue kasi gratis buat lo. Khusus gue sendiri yg racikin minumannya." Affandi menawari Nadin yg memang belum pernah di lihatnya berkunjung ke cafenya.
"Hayuk kalo gratisan mah."Nadin langsung menaiki motor gede milik Vano.
Affandi dan Vindya lebih dulu sampai di parkiran mall di mana cafe itu berada. Vindya dengan bangga menggandeng lengan suaminya melangkahkan kakinya menuju cafe. Di dalam Cafe ternyata sudah ada teman teman Vindya tengah duduk lesehan di tempat favorit mereka. Vindya dengan santai menyapa teman temannya. Tangan Vindya masih bertengger di lengan Affandi saat menyapa teman temannya. Pandangan sinis tertuju ke arah tangan Vindya. Merasa sesak mungkin yg membuat aura itu semakin mendung.
Arief merasa tidak senang dengan adanya Vindya yg menggandeng tangan Affandi. Arief yg memiliki rasa suka pada Vindya membuatnya menyumpah serapah di dalam hati.
"Hallo kakak kakak kami dataaaangggg." Teriak Vano.
__ADS_1
"Lo bisa gak jangan brisik kaya di hutan aja." Affandi menegur Vano.
"Ini Vano kan...?" Tanya Riska.
"Iya dia Vano. gak pa pa kan gue ajak. oh iya kenalin dia Vano adik sematawayang gue. dan yg cantik itu Nadia ceweknya." Vindya mengenalkan Vano dan Nadia ke teman teman sekelasnya.
"Oh adek lo... " Ucapan Arief menggantung.
"Iya."
"Eh ini beneran Vano yg terkenal gunung esnya kelas 10 itu gak sih?" Tanya Riska penasaran.
"Gunung es?" Tanya Vindya.
"Iya kak Vano itu kalo di sekolah jangan kan teriak teriak kaya barusan. di ajak ngomong aja jawabnya iya sama enggak doang yg keluar. senyum aja harus Nadin paksa." Jelas Nadin.
"Apa.... Lo jaim banget dek." Kata Vindya gak percaya.
Affandi datang dengan membawa minuman racikannya sendiri untuk teman teman Vindya dan untuk Nadin saat yg lain lagi membicarakan kejaiman Vano.
"Kenapa Vano?" Sambil membagikan minuman Affandi penasaran.
"Masak Vano jaim kak. hmm yg ada ya kalo di rumah suka maen di ketek gue. Sok sok an lu Van." Sambil mengacak rambut Vano.
"Bisa gak sih jangan bukak kartu. Kak Fandi coba kasi tau Vindya kalo tidur nyari ketek juga kan?" Vano geregetan membuat Vindya menoyor adiknya.
"Vindya ya....??? Kalo tiduuurrr gimana ya.... lupa gue. Udah lama gue gak pulang Van." Ucap Affandi yg membuat Arief berfikir bahwa Affandi kakak dari Vindya dan Vano dan mengembangkan senyum di bibirnya.
Arief merasa bahwa masih ada kesempatan untuk dirinya memdekati gadis pujaan hatinya.
"Kayaknya Vindya kalo tidur sering ngoceh deh...." Kata Arief yg sedikit mengingat ngingat.
"Kok lo tau Rief?" Tanya Ridge.
"Pernah waktu camping dia ikut mobil gue terus ketiduran. eh dianya ngoceh gak jelas tapi matanya merem." Ucapan Arief membuat Vinyda memerah.
"Nah tu aib lo, lo bongkar sendiri. bukan gue ato kak Fandi ya nyet." ucapan Vano di sambit gelak tawa yg ada di sana.
__ADS_1