Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Tempat terindah tlah kau tinggali


__ADS_3

Pemakaman Mentari di lakukan keesokan paginya. Banyak yang mengantarkan Mentari ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Mustafa terlihat datang dan seperti orang yang sangat kehilangan.


Rekan-rekan gurunya pun ada yang menanyai dan dengan tegas Mustafa mengaku jika Mentari adalah jandanya. Banyak yang tak percaya, bahkan beberapa dari mereka hanya menganggap itu hanya bualan.


Mentari di makamkan di dekat rumah orang tuanya, di kuburan keluarga lebih tepatnya. Setelah mengubur, para guru di minta untuk jangan pulang dulu. Orang tua Mentari meminta untuk ikut mengaji pada malam hari, jika ada waktu di alamat yang sudah di berikan.


Mustafa merasa heran, kenapa bukan di rumah orang tuanya? Apa Mentari ikut dengan saudaranya di alamat tadi. Fikiran Mustafa berkeliaran kemana mana, namun segera di tepisnya sendiri.


Malam harinya banyak yang datang ke rumah Fariz untuk mengaji, termasuk Mustafa. Kedatangan para tamu di sambut langsung oleh Fariz dengan wajah sembabnya. Beberapa orang di kenal oleh Mustafa sebagai teman sesama guru. Bebeapa orang tidak di kenal oleh Mustafa, mungkin itu warga sekitar.


“Pak Fariz sabar ya, terima dengan iklas. Biar Mbak Mentarinya gak berat ninggalin keluarganya.” Itulah sepenggal kata yang di dengar oleh Mustafa dari beberapa bapak-bapak yang datang untuk mengaji.


Tak tahan lagi akhirnya Mustafa bertanya pada bapak di sampingnya, mungkin beliau tetangga sekitar.


“Maaf pak, Mentari itu siapanya lelaki itu ya?” Tanya Mustafa.


“Oh, dia suaminya. Padahal baru semingguan lo mereka menikah, kasihan sekali nak Fariz. Lah bapaknya siapanya Mentari?” Tanya balik bapak itu.


“Saya gurunya,” jawab singkat dari Mustafa.


Mustafa masih tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya. Kaget itu sudah pasti, jandanya meninggal dengan status istri dari siswanya. Selesai mengaji, Mustafa tidak lagsung pulang. Karena diriya masih penasaran dengan cerita yang di dengarnya.


Setelah semua tamu pulang, akhirnya Mustafa berani mendekati Fariz yang terlihat membereskan sampah gelas plastik dari air mineral.


“Bapak, belum pulang? Apa mau nginep di sini? Ini sudah malam pak,” Fariz menawari guru BK nya tersebut.


“Ah tidak. Aku hanya mau menanyakan status Mentari yang bisa di ngajiin di sini,” tanya Mustafa yang tak tahan lagi untuk tidak kepo.


Tapi belum sempat Fariz menjawab, WIna muncul dari belakang. Wina dengan wajah sembabnya menyuruh untuk Fariz makan dulu karena suaminya belum sempat makan dari tadi.


“Sayang makan ya,” satu kalimat Wina yang membangkitkan emsi dalam diri seorang Mustafa.


“Fariz, aku mendengar kalau Mentari itu istrimu. Dan apa ini? Tanah Mentari masih basah dan kamu sudah memasukkan wanita untuk menggantikan istrimu yang bari tadi siang di makamkan?” Amarah Mustafa meledak merasa tak terima, orang yang paling di cintainya mendapat lelaki yang seperti ini.


“Kamu lagi, bukannya Mentari itu teman kamu? Kenapa kamu tega melakukan hal ini terhadap suami teman kamu sendiri?” amarah ustafa tak bisa di kendalikan lagi. “apa karena Mentari mengetahui hubungan kalian makanya dia bisa seperti ini?” Tuduh Mustafa yang tak tau apa-apa.


Kemarahan Mustafa, rupanya memancing orang-orag yang ada di dalam rumah untuk keluar.


“Jangan sembarangan kamu menuduh orang. Tuan!” kini Revan yang menjawab omongan Mustafa.


“Anda ini siapa, saya hanya menanyai anak didik saya,” Jawab Mustafa yang mengatas namakan profesinya.


“Saya adalah papa dari murid yang anda tuduh,” jawab Revan dengan suara nyarinya.


“Oh, pantas saja. Saya lihat anda ini orang terpandang, tapi kenapa membiarkan anaknya memiliki kelakuan yang tak seharusnya seperti ini?” Mustafa kembali meninggikan nada suaranya.


“Sudah, saya akan jelaskan pak. Dan saya gak perduli lagi mau di keluarkan atau di pertahankan di sekolahan. Saya menikahi Mentari setengah jam sebelum menikahi Wina. Di hari, jam, tempat dan penghulu yang sama. Saya menikahi mereka berdua karena mereka berdua yang meminta di lakukan bersamaan. Dan kenapa saya menikahi Mentari dan Wina bersamaan? Itu karena Mentari ataupun Wina hanya mau saya nikahi bersamaan bukan satu persatu. Orang tua Mentari meminta untuk saya menikahinya dulu karena beliau tak mau keduluan dengan kejadian ini. Sebelum mentari merasakan kebahagiaan bersama saya.” panjang lebar Fariz menceritakan kisah mereka.


Mustafa keluar dengan langkah lemasnya. Fariz tak tega melihat gurunya yang sedikit patah hati. Fariz meminta ijin pada Wina untuk mengijinkan Mustafa menginap di rumah mereka.


“Pak, tinggalah di sini beberapa hari. Aku tahu bapak sangat mencintai Mentari, tapi takdir berkata lain pak. Kita kehilangan Mentari di usiannya masih sangat muda.” Bujuk Fariz agar gurunya itu tak pulang dalam keadaan yang terguncang.


Tatapan kosong yang di miliki oleh Mustafa membuat semua prihatin, termasuh Revan. Revan mengetahui kebenaran siapa lelaki itu dari Wina putrinya.

__ADS_1


“Papa pernah memiliki dua istri, tapi papa tak pernah mencintai istri pertama papa. Sekarang kamu menjadi madu di antara suamimu dengan istrinya. Papa minta maaf padamu nak,” Revan tak pernah berfikir jika karma itu ada.


Karma itu nyata, tapi tidak tertuju padanya. Putri kecilnya yang di lahirkan oleh wanita tercintanya. Harus merasakan hidup di madu oleh lelaki yang di cintainya.


Sungguh tak dapat di terima oleh akal sehat milik Revan. Penyesalan yang hadir sangat terlambat itupun membuatnya semakin menyesalinya. Seharusnya Revan melarang pernikahan itu, bukan malah mendukung karena kasihan.


“Sudah lah pa, kehadiran Mentari adalah keinginan Wina. Fariz juga sangat menyayangi Wina, tak pernah sekalipun dia menelantarkanku. Apalagi perhatian dia sungguh tertuju padaku,” ucap Wina yang sedikit berbohong.


Fariz merupakan orang yang sangat tanggung jawab. Dirinya tak pernah membedakan satu istri dengan yang lainnya. Ketika Fariz menyuapi WIna, maka dia juga menyuapi Mentari. Begitupun perhatian yang dirinya berikan, sebisa mungkin tidak berat sebelah.


Fariz memang bukanlah lelaki yang sempurna, bahkan jauh dari kata sempurna. Tetapi dirinya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istri istrinya.


Malam ini Mustafa tidur di kamar Mentari dan Wina di minta Fariz untuk menemaninya tidur. Rasa sepi yang di rasa oleh Fariz, sungguh tak mengijinkan WIna untuk pergi meninggalkan dirinya.


Pagi menyapa Fariz dengan kehampaan yang mendera. Fariz melihat ke sampingnya namun tak mendapati sang istri tidur di sampingnya. Fariz berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi, Fariz turun ke lantai dasar untuk mencari istrinya.di dapur Fariz hanya menemukan sang ibu dan juga Vindya istri dari ayahnya.


“Bunda, kapan nyampek sini? Maaf Fariz baru bangun,” Fariz segera mencium tangan Vindya yang tengah membantu memasak.


“Ah gak apa apa sayang, Bunda baru saja datang juga. Kamu yang tabah ya sayang, kasihan WIna kalau kau terus larut dalam kesedihanmu.” tutur Vindya yang memikirkan perasaan WIna, salah satu istri dari Fariz.


“Iya Bunda, Fariz berusaha untuk iklas. Oh iya, mana WIna sekarang?” Tanya Fariz yang akhirnya memeiliki kesempatan untuk menanyakan keberadaan istrinya.


“Tadi dia nyuci di belakang, gak tau sekarang. Coba kamu susulin ke sana ghih,” perinta ibu Fariz.


Setelah mengatakan ya aku akan menyusulnya, Fariz benar-benar menyusul Wina. Di lihatnya dari kejauhan, Wina tengah mencuci kain bekas mandi almarhumah Mentari.


“Tak salah aku memilihmu. Kamu itu pemilik hati malaikat di samping iblis sepertiku Wina,” guman Fariz yang tak akan di dengar oleh istrinya karena jarak mereka lebih dari lima meter.


“Fariz, ngagetin aja,” WIna memukul pelan legan suaminya.


“Kenapa? Kamu takut Mentari kembali lagi? Bahkan dia masih tidur di kasurnya,” itulah kata Fariz yang membuat istrinya itu memeluk ketakutan.


“Fariz, seberapa baiknya Mentari meninggal. Tapi percayalah ketika sia kembali, itu bukandia lagi. Melainkan setan dan aku takut itu,” terang Wina yang sunggu merasa takut akan hal itu.


Fariz mengetahui seberapa besarnya rasa takut yang di miliki istriya, sehingga dia menghentikan obrolan itu. Fariz memilih membantu Wina dengan mulut diam dan memperhatikan betapa tulusnya Wina menerimanya.


“Wina, apa kau tak akan menyesal nantinya kalau terus bertahan dengan ku?” Tanya Fariz yang merasa iba kepada suaminya.


“Gak usah ngomong macem-macem. Aku mencintaimu tak memandang siapa kamu. Tapi aku mencintaimu tulus, namun aku egois yang tak mau kau tinggalkan. Aku tak sanggup jika itu terjadi,” ucap Wina yang kini sudah menyelesaikan menjemurnya.


“Aku yakin, di rumahmu. Kau tak pernah mengambil pekerjaan seperti ini, aku bisa merasakan itu dari halusnya tanganmu,” Fariz memegang tangan Wina yang halus bak pantat bayi, tapi kini harus terkena panasnya ditergen.


“Sudahlah, aku sudah memilih untuk menikah. Jadi aku harus mulai belajar untuk hal ini,” ucap Wina yang sedikit dewasa.


“Pak Mustafa sudah bangun?” Tanya Fariz yang mengingat gurunya yang kini tengah patah hati.


“Pak Mustafa udah pulang subuh tadi,” Jawab Wina.


“Jam berapa kau bangun sayang?” tanya Fariz yang kaget istrinya yang biasaya bangun siang kini bisa bangun subuh.


“Aku itu terbiasa bangun subuh untuk salat subuh. Tapi selama sama kamu ini aku jadi malas,” cibir Wina yang membuat Fariz merasa begitu miris dirinya.

__ADS_1


“Aku tak bisa salat Wina, ataupun mengaji. Maukah kau mengajari ku?” Fariz menundukkan kepala di dapan Wina karena malu.


“Siap laksanakan sayangku,” Wina mengangkat kepala suaminya yang tertunduk malu.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah setelah berbicara banyak di belakang. Idham sudah duduk di pangkuan sang mama dengan senyuman manisnya. Tertawa menunjukka gusinya yang masih merah pada siapa saja yang mengajak bicara.


“Idham, sini sama kakak,” Wina mengulurkan tanganya pada lelaki kecil yang masih belum kuat mengangkat kepalanya sendiri.


“Jangan kau pegang Idham sebelum kau mencuci tanganmu,” cegah Fariz yang membuat semua bertanya tanya.


“Wina kan habis memegang kain yang di pakai memandikan almarhumah, pamali kalau langsung memegang bayi. Idham itu masih belum tau yang mendatanginya itu mahluk nyata atau tak nyata,” jelas ibu Fariz.


“Oh, maaf,”


Wina akhirnya ke kamar mandi dan memilih untuk membersihkan diri. Mengingat sedari dia bangun, hanya mencuci muka saja dan menggosok gigi. Selesai mandi, Wina keluar dari kamarnya dan bergabung di meja makan.


“Mbak Bian, bang Satya kapan pulang?” Tanya Fariz.


“Sudah di jalan tadi pas embak berangkat ke sini. Pasti abangmu akan langsung ke sini Riz,” jawab Bian sambil memakan sarapannya.


“Untung ya mbak, bikan Fariz yang di kirim ke Bandung. Jaraknya sih gak terlalu jauh, tapi kesibukannya yang tak akan bisa di tinggal,” ibu Fariz menimpali,


“Iya bu, aku juga kekeh gak ikut kemarin. Coba aku ikut sudah pasti aku menyesal seumur hidupku,” ucap Bian.


Fariz memang orang yang tak pernah mau diam, seperti dirinya masih ikut di rumah Bian. Kini Fariz mengganti pot untuk bunga yang di tanam oleh Mentari. Menata ulang kamar mentari dan menyisihkan barang barang istrinya itu.


Setelah menata ulang, Fariz menutup semua prabot dengan kainputih. Fariz tak menginginkan adanya bayangan Mentari disana. Hanya foto pernikahan mereka bertiga saja yang masih bertengger di atas tempat tidur.


Aku tak menyesali mengenalmu, akupun tak menyesali sempat memilikimu meski hanya sebentar. Aku hanya menyesali tak mengetahui perpisahan kita yang memang hanya tinggal menghitung hari.


Maaf aku tak bisa memberikan kebahagiaan yang lebih dari yang kamu dapatkan. Kamu berhak bahagia, aku harap kamu lebih bahagian di sisi Tuhan. Cintaku terhadapmu bukanlah cinta sesaat dan lekas menghilang.


Mentari, percayalah masih banyak orang yang mencintaimu dan tulus menyayangimu. Aku bukanlah satu satunya yang menyayangimu, tapi aku satu di antara dua orang yang beruntung mendapatkanmu. Aku pernah menciummu dan menjadikanmu halal untukku sentuh adalah hadiah terindah dari kehidupan.


Mentari, jangan pernah melupakan aku dan tunggu aku di sana. Aku berjanji akan belajar mengaji dan mengirimimu doa terbaikku untukmu. Ucapan Fariz dalam hati dengan memandangi kamar Mentari yang kini telah sepi di tinggalkan oleh pemilikya.


Fariz menutup pintu kamar itu dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Wina yang kini tengah bermain dengan Idham di kamarnya, membuat Fariz menghayal. Fariz membayangkan jika dirinya datang dari kantor dan mendapati kedua istrinya bersama anak anak mereka.


Serakah memang, tapi mau di kata apa lagi jika Fariz membayangkan yang indah dengannya juga. Dia belum pergi jauh atau mungkin tak akan pernah pergi dari hatinya yang paling dalam. Ya…. Fariz memang lebih mencintai Mentari dari pada Wina.


Meski seperti itu kenyataanya, Fariz masih berusaha untuk tidak membedakan mereka berdua. Kasih sayang yang di berikan Fariz sama besarnya kepada kedua istrinya.


“Apa kamu mau memiliki anak juga?” Tanya Fariz mengagetkan WIna.


“Setiap wanita itu pasti menginginkannya, terutama seorang istri. Aku masih ingat dengan harapan Mentari yang kepingin memiliki anak perempuan yang cantik sepertinya darimu,”


DEG


Jantung Fariz seakan di pukul dengan palu godam. Mendapatkan serangan dadakan seperti ini, bisa membuatnya tumbang kapan saja.


Fariz mempehatikan Idham setelah memperhatikan Wina sang istri. Wina itu manja, meski tak semanja Nurul. Dia bahkan tak tau cara menyapu dan tugas seorang istri lainnya.


Ini semua karenadarah sang mama mengalir deras padanya. Di tambah dengan kasih sayang sang papa yang tak mengijinkan menyentuh alat alat rumah tangga.

__ADS_1


Pernah suatu saat, Wina merasa sangat lapar sekali. Dirinya mencoba memasak mie instan tapi yang ada, Wina hampir membakar darur dan rumah mewahnya. Itulah Wina, si gadis manja yang menikah dengan Fariz dari kalangan menengah.


__ADS_2