
Arkan menenangkan Bian di bahunya, dengan mengusap lembut air mata yang membasahi pipinya.
“Tau enggak, lu itu melakukan hal terbodoh di dunia?” Tanya Arkan mengaketkan Bian.
“Mmm?” Bian menegakkan kepalanya mendengar peryataan teman yang beberapa hari ini menemaninya.
“Iyalah, kamu itu wanita bodoh yang gue kenal. Gitu aja mewek!!” Arkan mengambil minumannya yang tinggal setengah. “Harusnya elu itu bahagia, tanpa atau dengan mereka,” ucap Arkan berdiri sebelum mengulurkan tangan pada teman wanitanya.
“Bener juga ya, buat apa juga gue sedih sedih? Sedangkan mereka bahagia.” Bian mengelap air matanya dan berdiri menyambut uluran tangan Arkan.
“Hey stupid girl! Lap ingus lu, jijik gue” Arkan melempar sapu tangannya.
“Suek lu! Siniin baju lu,” ucap Bian sedikit berteriak karena Arkan sudah jauh di depannya.
Satya melihat sekilas Bian yang tengah berlari mengejar lelaki yang pernah di ciumnya. Satya merasa terbakar hatinya melihat kejadian itu.
“Satbang!!!” umpat Satya yang di dengar oleh keempat orang yang tengah duduk bersamanya.
“Ada apa sayang?” Tanya Ratna mengagetkan ketiga orang yang ada di depannya.
“Gan apa apa kok,” Jawaab Satya santai dan kembali fokus pada makanan yang ada di piringnya.
“Sayang?” Tanya Sasa yang masih belum terima dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Benar, ternyata mereka bertiga belum tau apa apa, dengan apa yang sedang terjadi di antara kedua orang di depannya. Nurul berpindah duduk di samping Satya dan langsung memeluknya.
“Apa apaan kamu Nurul?” Ratna ternyata adalah tetangga sekaligus teman kecil nurul.
“Kamu yang apa apaan Ratna. Aku sudah menceritakan semua teman temanku, terus kenapa kamu masih mengganggu teman temanku?” Nurul memeluk Satya dengan erat di antara Ratna dan Satya duduk.
“Satya, jelaskan sekarang!! apa yang terjadi di antara kalian?” Tanya Michael
“Seperti yang kalian tau jika gue emang menjalin hubungan dengan Ratna.” Satya pergi meninggalkan mereka setelah mengelurkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
Satya seperti orang yang sangat kacau. Melihat keakraban istrinya dengan teman lelakinya. Satya memacu ,obilnya dengan kecepatan sangat kencang.
Jalanan lengang membuat Satya lebih cepat sampai di rumahnya. Satya rupanya lebih dulu santai dari pada Bian yang menumpang pada mobil Arkan dengan kecepatan standart.
“Pinter banget ya!! sudah mulai berani buat jalan dengan lelaki bukan suaminya.” Celetuk Satya yang masih duduk di dalam mobil menunggu Bian pulang.
“Jangan di pikir cuma anda saja yang berani main api tuan. Saya pun bisa memberi luka seperti yang anda berikan. Jadi impas kan? Anda dan saya sama sama tidak saling mencintai, buat apa di pertahankan?” kata Bian yang semakin berani.
“Maumu apa sekarang?” Tanya Satya yang hanya ingin istrinya kembali kepadanya.
__ADS_1
“Sama seperti apa yang kamu mau,” Jawab Bian sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Di depan Vindya dan Affandi, Bianbersikap biasa saja. Seperti tak terjadi apa apa antara dirinya dengan sang suami.
Bian masuk ke dalam kamar setelah membantu mertuanya sebentar di dapur. Bian mengambil baju kotor yang ada di keranjang kamar mandinya.
Bian bersikap seperti biasa layaknya seorang istri yang mengerjakan pekerjaan rumahnya. Menyiapkan air mandi untuk suaminya, juga memberi pelayanan di meja makan.
Satya merasakan hal ini sungus membuatnya geram dan tak bisa menahan lagi.
“Bunda, Satya ada sebuah rahasia yang di tutupi. Satya….”
“Satya ingin mengajak liburan bersama di puncak pas liburan semesteran.” sahut Bian memotong ucapan Satya.
Suasana kembali hening seperti semula. Hanya suara denting sendok dan garpu beradu di atas piring. Setelah selesai merapikan meja makan juga mencuci piring bekas makan bersama, Bian kembali ke kamar.
Di kamar, Satya sudah menunggunya untuk salat isya’ bersama. Bian langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudu sebelum menyusul suaminya.
Selesai salat isya’ Satya menahan Bian yang hendak beranjak dari duduk selepas berdoa.
“Izinkan aku seperti ini untuk sebentar saja.” Satya menidurkan kepalanya di pangkuan Bian.
Sedetik, dua detik, sejam dua jam. Satya ternyata tertidur di dalam pangkuan Bian. Satya yang tertidur pulas membuat Bian kehilangan rasa di kakinya akibat kesemutan.
Sesekali Satya mengigau dengan menyebut namanya dan meminta untuk tidak pergi meninggalkannya. Bian bingun dengan apa yang ada di dalam hati Satya, Dirinya ataukah wanita itu.
Satya bangun dari tidurnya, kepalanya masih terasa pusing dan seperti ada beban di hatinya. Satya melihat ke arah istrinya dengan tatapan iba.
Sesetia ini istriku, tapi aku malah menyelingkuhinya dengan wanita lain yang baru saja aku kenal. Wanita ini memang tidak cantik atau mempesona, tapi dia sangat manis. Dan satu hal yang membuatku kagum, dia sangat polos dan juga setia.
Aku harus bisa mengakhiri hubunganku dengan Ratna. Menghadirkan wanita lain di saat jenuh itu merupakan hal terbodoh dalam rumah tangga.
“maafin aku ya sayang, sakit kakinya? Abang gendong ke kasur ya,” ujar satya yang langsung menggendong istri tersayangnya.
“Aku mau wudu dulu,” Bian berusaha untuk bangun, namun sakit di kakinya membuatnya terjatuh dari atas tempat tidur.
“Kamu tayamum aja sayang, Abang imamin dari sini. Sama saja kok,” ucap Satya penuh dengan perhatian yang membuat Bian seperti ketakuta sendiri.
“Makasih sayang,” Bian serasa kangen dengan kata sayang yang dulu sering di ucap sebelum munculnya orang ke tiga di antara mereka.
Selesai salat dubuh bian kembali meletakkan kepalannya di pangkuan sang istri.kali ini tidak untuk tidur, melainkan untuk bermanja. Seperti kembali menemukan suami yang tersesat di hati orang ketiga pun, Bian tidak menyia nyiakan kesempatan untuk mengikat kembali suaminya.
“Adek masih ngantuk bang,” satu ucapa manja terlontar dari bibir Bian di sambut baik oleh Satya.
__ADS_1
Bian tidur kembali di pelukan suami sahnya. Di saat Bian tidur dengan lelapnya, Satya menghapus semua kontak Ratna di dalam ponselnya. Menghapus semua pesan atau apapun yang berhubungan dengan Ratna.
Bahkan Satya mengatakan pada sahabat sahabatnya untuk sementara ini menjauhi dirinya dulu. Satya mengungkapkan semua alasannya kepada ketiga orang yang selama ini setia mendampinginya.
“Bun, Bian baru bisa tidur subuh ini. Biarkan dia tidur dulu,” ucap Satya yang menghampiri Bundanya membuat sarapan.
“Kamu itu kenapa membuat mantu Bunda gak tidur?” Tanya lembut Vindya dengan nada menggoda.
“Bunda, sebenarnya Alwa mau jujur sama Bunda. Tapi Bian melarang Satya untuk berkata jujur semalam,” ucap Satya yang membuat Vindya penasaran.
“Kamu mau jujur apa sama Bunda?” tanya Vindya membelai lembut kepala putra semata wayangnya.
“Tapi janji Bunda gak akan beranggapan lain terhadap Alwa juga Bian." Pinta sang putra yang kini sudah mengajak duduk bundanya di sofa.
“Awalnya, malam sebelum kejadian Alwa memukuli Bian Bun, saat itu Alwa mengaku jika sedang tergoda oleh pesona orang ketiga.” Betapa terkejutnya Vindya mendengar apa yang di tuturkan putranya.
“Bian merencanakan sesuatu yang membuat Alwa naik pitam dan hampir menceraikannya, Jika Ayumi tidak datang di saat yang tepat. Setelah kejadian itu, Alwa masih berhubungan dengan wanita itu Bunda. Bian seakan tutup mata, hingga, kejadian kemarin sore membuat Alwa sadar akan kebahagiaan yang di berikan lelaki lain untuk Bian membuat Satya sakit hati Bunda.” Satya tidur di pangkuan Vindya.
“Sekarang kamu harus tau Alwa, menggantikan posisi istri dengan wanita lain yang baru saja kamu temui itu bukan perkara mudah. Mungkin Bian terlihat muda dia tertawa lepas seperti yang kamu lihat kemarin. Tapi coba tanya lagi pada hatimu, apa kamu merasa bahagia sudah menyakiti hati istrimu? Bian pun sama, bahkan selama hampir sebulannan ini dia tak terlihat tersenyum. Bian terkesan pendia, kamu tau apa alasannya? Karena dia kehilangan suami yang seharusnya melindunginya dan juga membahagiakan dirinya. Tapi yg ada malah kamu sebagai suaminya tengah merajut mimpi dengan wanita baru. Dan kenapa kamu malah terluka jika kamu melihat istrimu tertawa dan bercanda pada lelaki lain sedangksan kamu sendiri tidak bisa melakukan itu? Hal itulah yang di lakukan Bian, mengalah demi melihatmu tersenyum. Kembalilah nak pada istrimu, tinggalkan wanita itu. Dia gak baik buat mu,” Tutur Vindya dengan lembut mengusap kepala Satya.
“Ya sudah Bunda, Alwa kembali ke kamar. Alwa mau menghabiskan waktu yang terbuang kemarin Bunda,” Satya bangun dari tidurnya dan berniat untuk kembali ke kamar.
Di kamar, Satya langsung memeluk Bian yang tengah tidur terlelap. Memanjakan istrinya yang hampir sebulan ini terbuang. Satya sadar jika selama ini dirinya telah banyak berbuat dosa pada sang istri. Satya ikut tidur di sampung istrinya.
Jam sudah menunjukkan di angka sembilan siang, dan Bian baru saja membuka mata. Bian sudah di suguhkan dengan kemanjaan sang suami yang tak mengijinkannya bangun.
“Gak usah bangun, Abang masih ngantuk sayang.” Satya mengeratkan pelukannya pada Bian.
Dengan senyuman, Bian berusaha untuk melepaskan pelukan Satya. “Abang masih ngantuk tapi Adek udah laper sekali yang,” Satya melepaskan pelukannya dan ikut bangun bersama istrinya.
Saat keluar dari kamar, Bian tak medapati siapapun di rumah selain makanan yang sudah tersedia di atas meja. Bian merasa malu pada mertuanya karena sudah bangun siang dan sekarang sudah langsung sarapan.
“Bunda di mana?” Tanya Bian ketika panggila telfonnya sudah tersambung.
“Bunda lagi ke Bali dengan Ayah, lagi ada pertemuan selama seminggu di Bali.”
“Kok Satya gak ada bilang sih Bun?” Tanya Bian yang penasaran.
“Bunda lagi bulan madu ini sayang, besok kalo pulang Bunda beliin oleh oleh deh,” Suara cekikikan sang mertua lelakinya pun terdengar di balik sambungan telephonnya.
“Ya sudah Bunda, selamat bersenang senang deh.”
Bian memutus sambungan teleponnya. Dan kembali pada suaminya yang kini tengah bermanja padanya. Bian sangat menikmati waktu bersama saat ini, bisa bermanja dan juga melupakan masalah yang terjadi di antara mereka. Melupakan jika kini sang suami telah tergoda oleh wanita lain.
__ADS_1
Ingin rasanya untuk teriak dengan mengatakan, Aku bahagian saat ini!!! Bian tersenyum membelai lembut rambut suami yang kini tidur di panguannya.