
Malam telah datang dan mengharuskan Almas untuk menjalankan kewajibannya. Menjadi seorang DJ adalah impian dia setelah mendengarkan cerita papanya dulu. Tapi kali ini Almas datang tak sendirian seperti biasanya.
Almas di antar oeleh Mustafa yang sudah menjemputnya tadi di apartemennya. Setelah bercerita begitu banyak, Almas dan Mustafa sepakat menghabiskan malam rabu mereka dengan minuman yang membuat mereka lupa sesaat.
Melupakan masalah yang di rasa sangat menyesakkan dada. Masalah mereka berhubungan dengan satu orang yang sama, yaitu Alfarizi. Lelaki yang pernah memiliki dua istri dakam sehari, namun hanya berjalan selama beberapa minggu saja.
Saat ini Almas tengah menenggak minuman yang selalu menemaninya di malam malam hampanya. Bersama dengan sahabat lamanya, Almas memesan minuman yang sangat memabukkan itu dengan jumlah tak wajar.
“Fa, kita pindah ke apartemen gue aja gimana? Gue takut teler di mari, bisa di cincang sama papa nanti,” ucap Almas yang masih terkesan lancar namun kesadaran sudah tak lagi penuh.
“Lu masih kuat emangnya?” Tanya Mustafa yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.
“Kau menantang ku hai lelaki yang suka bertapa seperti namanya?” Almas mendekatkan diri pada lelaki berstatus duda itu.
“Ok, ok. Aku akan mengikutimu. Tapi kalau terjadi sesuatu jangan pernah menyalahkanku,” ucapan orang yang setengah sadar memang selalu tak bisa di prediksi.
Tapi percayalah jika apa yang keuluar dari orang yang mabuk itu adalah sebuah kejujuran. Mungkin orang membenci pemabuk, tapi mereka itu hanya ingin melepaskan sejenak beban yang ada di pundaknya.
Jarak Wing dengan apartemen mewah milik Almas tidaklah jauh. Sehingga mereka tak harus berlama lama di jalan raya. Yang membuat mereka lama itu hanya cara jalan mereka yang srandang srendeng di lorong apartemen.
Menyanyi nyanyi gak jelas, bahkan mereka juga sesekali mengetuk pintu penghuni apartemen lainnya. Almas merasa mabuk kali ini adalah mabuk yang paling berkesan. Bersama orang yang pernah mengisi hatinya namun meninggalkannya tanpa jejak.
“Kita sudah sampai, kamu mau apa sekarang?” Tanya Almas yang masih memiliki kesadaran hampir penuh.
“Aku mau makan kamu, boleh?” Bisik Mustafa yangkini sudah menciumi leher Almas.
Orang yang paling berbahaya bukanlah dia yang sudah mabuk berat. Tetapi dia orang yang masih memiliki sedikit kesadarannya.
Karena rasa panas dari alkohol yang membakar di dalam mampu membangkitkan birahi. Napsu yang biasanya mampu di kendalikan oleh seorang guru BK ini. Kini harus menyerah dengan minuman yang membakar dadanya.
__ADS_1
Rasa panas yang Almas rasakan juga membangkitkan gairah dalam diri wania yang hampir menikah namun gagal. Pernikahan yang di atur oleh keluarga dari Toni, Opa kandungnya. Hampir menghancurkan masa mudanya.
Menikah di usia yang baru memasuki umur tuju belas tahun dengan orang berumur empat puluh tahun. Hal itu di gagalkan oleh Mustafa yang menjadi sahabat gila dari Almas sewaktu sekolah menengah.
Mustafa saat itu berjanji untuk menikahi Almas, hanyalah ucapan sekilas yang segera di lupakannya. Namun rupanya itu terus membekas pada Almas. Karena setelah kejadian itu, Almas mulai menumbuhkan rasa yang lain di dalam hatinya.
Waktu berlalu dengan cepat dan membuat janji itu terlupakan. Meninggalkan Almas yang menunggu harapan yang tak pernah terealisasi. Hingga dirinya megikat dirinya dengan berondong beda usia lima tahun darinya.
Ciuman Mustafa semakin memburu dan menuntut gadis itu untuk membalas. Permainan lidah tak terelakkan, bahkan mereka saling ******* dalam keadaan berdiri.
Seakan tak ada lagi hari esok mereka berdua saling menghabiskan apa yang telah terlihat oleh mata. Ciuman beralih ke seluruh tubuh Almas yang tak berbeda jauh dari tubuh mustafa. Perlahan dan pasti, Mustafa menggiring gadis yang sudah terbui dalam lautan cintanya ke tempat tidur.
Mustafa menidurkan Almas sebelum memandangnya. Senyuman yang terbit di bibir lelaki itu, membuat Almas terpesona dan makin hilang kendali.
Di bukanya baju yang membalut tubuh indahnya. Dari balik baju itu terlihat pemandangan mengagumkan yang tersembunyi.
Keadaan setengah sadar Mustafa, membuatnya semakin menggila. Tak menunggu lama, lelaki itu sudah bermain di bukit teletubies milik sahabat lamanya.
Pagi yang cerah sudah terlewati oleh mereka berdua. Hangatnya pelukan dan juga hembusan nafas dari Mustafa membuat Almas terbangun dari mimpinya. mimpi nyata yang ia alami bersama sahabat lamanya. bergerak sedikit menjauh karena masih tak percaya jika ini adalah sebuah kenyataan.
Mustafa merasa ada sesuatu yang bergerak menjauhinya pun mencoba membuka mata. Desiran rasa yang aneh ketika dirinya mendapati Almas ada di depannya. Matanya seakan tak mampu menyimpan rasa malu lagi pun kembali tertutup.
Almas tau jika lelaki jika pagi menjelang sudah pasti bereaksi. Hal itu di katehui karena dirinya pernah beberapa kali melakukan itu di pagi hari dengan sepupunya sendiri, Agas. Bahkan dialah yang mendapatkan keprawanan gadis ini.
“Maafkan aku. Aku akan segera melamarmu, kalau perlu aku akan menikahimu hari ini juga,” ucap Mustafa yang menenangkan gadis di depannya.
“Janji kamu gak akan melanggar janjimu lagi,” Almas menunduk.
“Gak akan lagi,” Mustafa pun mencari baju-bajunya yang ia lempar entah kemana.
__ADS_1
Almas memakai seprei untuk membungkusnya sendiri dan berjalan ke kamar mandi. Memandang punggung putih yang terlihat mulus pun membuat Mustafa kembali menegang. Masih tak mengenakan bajunya, Mustafa menyusul Almas di kamar mandi.
Almas yang terbiasa tak mengunci pintu pun membuat lelaki itu masuk kamar mandi dengan mudahnya. Melihat Almas sudah berada di bawah guyuran air yang keluar dari shower di atas kepala gadis itu. Mustafa langsung memeluk dan menciumi punggung yang sudah menggodanya tadi.
“Apa yang kau lakukan Fa?” Tanya Almas yang sudah tak tahan menahan gelinya sentuhan lelaki itu.
“Aku ingin merasakanmu dalam keadaan sadar sepenuhnya. Ijinkan aku merasakannya,” Mustafa mengibah dengan sedikit tersengal-sengal.
“Nikmati sesukamu, aku milikmu hari ini bebz,” desah Almas yang semakin membangkitkan getaran yang ada di dalam diri Mustafa.
Lampu hijau sudah menyala, dan kini Mustafa tak membuang waktu lagi. Setiap sentuhan yang di rasakan membuatnya tak tahan untuk tidak mendesah.
Tangan halus yang tadi hanya bertumpu pada dinginnya dinding kamar mandi. Kini sudah berpindah pada paha dan juga tengkuk lelaki yang menciumi lehernya dari belakang. Mencium tak berhenti hanya di satu tempat.
Di bawah guyuran air hangat membuat suasana semakin memanas. Licinnya sabun yang di gosokkan pada wanita itu seakan membantunya mencapai apa yang inginkan. Perang pagi hari di bawah derasnya guyuran air pun berakhir ketika kepuasan sudah di dapatkan oleh kedua orang itu.
Mustafa keluar setelah Almas menyuruhnya untuk meninggalkan dirinya sendiri untuk sementara. Mustafa akhirya menemukan semua bajunya yang berserakan di lantai. Almas keluar kamar mandi dengan penampilan rapinya.
“Fa, gue lupa ada meeting jam sepuluh, dan sekarang sudah jam sembilan. Bisakah kau mengantarku ke cafe papa yang di daerah X?” Almas kini sedang menata rambut basahnya dan memoles sedikit wajah mulusnya.
“Apapun sayang,” tak di sangka jika Mustafa memanggilnya sayang.
Menikmati pelukan Mustafa membuatnya semakin tenang. Pelukan yang tak pernah berani dia impikan, kini di dapatnya tanpa di minta.
Mujur banget sih lu Al, hihihi sayang. Ngimpi apa semalem, eh gak ngimpi tapi mabok. Almas ertawa di dalam hati namun hanya senyuman kecil yang di tunjukkan pada lelaki yang baru saja memanggilnya sayang.
Mustafa meminta ijin kepada kepala sekolah untuk tidak masuk kerja. Dengan jujur Mustafa mengaku jika dirinya telat bangun.
Kejujuran Mustafa memang tidak bisa di ragukan lagi, tapiada beberapa yang tak suka padanya. Terutama Abigil, guru matematika. Entah apa perkaranya teman kuliahnya di Singapura itu membencinya.
__ADS_1
Hari ini Almas di antar bahkan di tunggui oleh Mustafa hingga selesai meeting.